Little Alisandra

Little Alisandra
13. Great Hero and Survivors 2




"Kyaaa ... Sandraaa!!!"


Mobil Bianca semakin terapit. Sandra pun mengeluarkan semua tubuhnya hingga kini ia merangkak di atap mobil.


"Dasar gila!!! Apa yang kau lakukaaann!!"


Sandra tak menghiraukan teriakan Bianca. Ia mencengkeram pinggiran lubang sunroof sebelum mengayunkan tubuhnya hingga kakinya berputar menendang satu pengendara di sebelah kiri yang hendak menyerang Bianca.


Buk!


Tendangannya lumayan kuat hingga mobil itu sedikit oleng menyerempet trotoar. Sandra mengayunkan lagi kakinya pada mobil di belakang. Ia lalu merayap menguatkan pegangannya di atap mobil, kemudian memukulkan tongkat golf pada salah satu pria yang menyembulkan kepala berusaha menembaknya.


Buk! Dor!


Tembakan itu meleset. Sandra merunduk saat tambakan-tembakan lain datang mengarah padanya. Dengan berani ia mengarahkan kakinya hingga bertumpu pada mobil di sebelahnya. Perlu usaha cukup keras sampai akhirnya ia berhasil merebut satu senjata dari mereka.


Dor!


Sandra menembak si pengendara yang baru ia rebut pistolnya hingga mobil itu oleng dan pada akhirnya menabrak beton pinggir jalan.


Dor! Dor! Dor!


Akh!


"Sandra are you okay?!" Bianca berteriak dari dalam karena mendengar teriakan Alisandra.


Tak lama ia mendapati gadis itu menjatuhkan diri dari lubang sunroof. Sandra meringis menyentuh lehernya yang berdarah karena baru saja tergores peluru.


"Yaaakkk ... Alisandra, you crazy?! Oh, sial, kapan ini selesai?! Kyaaa!!!"


Mengabaikan luka di lehernya, Sandra kembali fokus pada mobil-mobil yang masih mengikuti mereka. Bianca membelokkan mobilnya saat menemui tikungan. Ia tidak ingin mengambil resiko balapan di jalan raya yang umum dilewati orang.


Jalan kali ini lebih sempit dan hanya muat untuk dua kendaraan. Bianca semakin memacu mobilnya penuh saat mobil-mobil sialan itu tak henti mencari celah memepetnya.


Sandra menurunkan kaca jendela di sampingnya yang berada di bagian penumpang belakang. Dengan ahli ia menyembulkan lagi setengah tubuhnya keluar, lalu menembaki orang-orang jahat itu penuh perhitungan.


Dor!


Tembakan Sandra tepat mengenai salah satu mobil. Peluru itu menembus kaca di depan si pengemudi hingga tewas. Mobil itu berguling dan langsung meledak di tengah jalan.


Sisa dua mobil yang mengejar mereka. Satu mobil mengejar hingga beriringan dengan mobil Bianca. Hal itu Sandra manfaatkan untuk melesatkan peluru ke jendela si pengemudi, namun kali ini ia kurang beruntung karena si pengemudi berhasil mengelak dan membalas tembakannya.


Dor!


"Akh!"


Alisandra berhasil menghindar, tapi kini tubuhnya tergelincir hampir jatuh ke aspal. Beruntung Sandra segera berpegangan pada badan mobil si penjahat.


"Sial!" desisnya merutuk.


"Sandraaa!!!" Dan si cerewet Bianca langsung heboh mengetahui tubuh sahabatnya kini melintang di antara dua mobil. Ia berusaha memepetkan mobil miliknya pada lawan, takut Sandra terjatuh andai dua mobil itu merenggang.


"Aku baik-baik saja!!!" teriak Sandra sembari meringis mengeluarkan segenap kekuatan untuk menopang tubuhnya.


"Akh!" Satu kaki Sandra terpeleset dari jendela mobil Bianca. Ia berusaha menaikkan lagi kakinya namun sulit karena mobil si pengemudi Benz yang ia pegangi seolah sengaja membuat jarak dari mobil biru milik Bianca.


"Kyaa ... Sandraaa!!!"


Bianca berteriak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena satu mobil lain di sebelah kirinya kini mulai aktif menyerang, bahkan dengan tembakan. Jika terus seperti itu kaca mobil Bianca yang anti peluru bisa tembus juga.


Sandra yang mengetahui sahabatnya dalam bahaya pun berusaha bertahan. Dengan sekuat tenaga ia menaikkan tubuh ke atas mobil.


Berkali-kali gagal karena ternyata sangat sulit. Sepertinya ia harus lebih rutin olahraga agar tubuhnya lebih ringan lagi.


Sandra tak menyadari bahwa si pengemudi mengulurkan tangannya keluar jendela, ia mengarahkan pistol ke arah Sandra hendak menembaknya.


"Sandraaa!!! In front of youuu!!!" Bianca berusaha mengingatkan.


Sandra menoleh dan terhenyak melihat moncong pistol itu mengarah padanya. Ia sendiri tak bisa balas menembak karena kedua tangannya sibuk berpegangan.


Tepat saat si pria hampir menarik pelatuknya, sebuah tembakan melesat dari belakang Sandra, melewati tubuhnya dengan sangat tipis hingga ia bisa merasakan gerakan cepat peluru itu sebelum menancap sempurna di kepala si pengemudi.


Dor!


Mobil itu kehilangan kendali, pun Sandra semakin berpegangan saat tahu mobil tersebut hendak mengarah ke sebuah jurang. Mobil yang dikendarai si penembak tadi melaju cepat menghampiri Sandra.


"Sandra! Come on!" teriak Harley.


Benar, pria itu adalah Harley. Dia yang baru saja menyelamatkan Sandra dari situasi terjepit.


Mengabaikan keterkejutannya, Sandra dengan cepat meloncat memasuki pintu mobil yang sudah Harley buka.


Brak! Brak! Duaarr!!!


Mobil itu pun meledak memasuki jurang. Nafas Sandra terengah di sebelah Harley. Ia menutup pintu mobil di sampingnya dengan kasar.


Belum selesai Sandra menenangkan diri, Harley menyerahkan pistol lain padanya. Gadis itu pun mengerti. Ia langsung berpindah ke kursi penumpang belakang, membuka pintu sebelah kiri lebar-lebar dan mengambil posisi berjongkok dengan satu lutut bertumpu di lantai mobil.


Sandra menyipitkan mata mengarahkan pistolnya ke luar. Dan tepat saat Harley memutar posisi mobilnya beberapa meter di depan mobil Bianca, Sandra menarik pelatuk, menembakkan pelurunya ke arah si pengemudi Benz yang berusaha menyerang Bianca dengan serbuan tembakan hingga membuat kaca anti pelurunya hampir pecah.


Dor! Dor! Sreeett ... Brak! Brak! Duarr!!


"Kyaaaa!!!" Bianca kontan menghentikan mobilnya saat mobil di sebelahnya terguling melewati pembatas jalan dan jatuh ke sebuah sungai di bawah.


Hening. Kini yang bisa Sandra dengar hanyalah suara nafasnya yang memburu. Ia pun ambruk kelelahan di kursi belakang. Harley segera menolehkan kepalanya guna memeriksa keadaan gadis itu.


"Are you okay?" tanyanya cemas. Bukan main, Harley benar-benar panik, dan semakin panik menemui situasi gawat yang dialami Sandra dan Bianca tadi. Beruntung ia bisa mengejar tepat waktu. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada kedua gadis remaja itu.


"Aku hampir saja mati melihatmu dalam bahaya," bisik Harley lelah.


Sementara Sandra, ia berbaring menatap langit-langit mobil, sambil berusaha menetralkan nafasnya yang terengah.


Sandra tak bicara apa pun, bahkan berterima kasih pun tidak. Ia justru bangkit dan beranjak keluar menghampiri mobil Bianca yang terdiam.


Tok tok tok.


Sandra mengetuk pintu mobil Bianca yang kacanya sudah hampir pecah. Sedikit lagi kaca itu terkena serangan, tamat sudah riwayat sahabatnya.


Bianca membuka pintu mobilnya dengan kondisi tubuh masih lemah. "Sandraaa!! Hiks! Hwaaaa!!"