Little Alisandra

Little Alisandra
23. Stay for a While



Sandra berjalan tergesa keluar gedung apartemen. Ia berdiri di depan lobi sambil mengedarkan mata ke sana kemari, mencari keberadaan Harley yang entah menghilang ke mana.


"Kalian lihat Harley?" Sandra akhirnya bertanya pada salah satu pengawal yang merupakan anak buah Gibran. Mereka memang berjaga di lantai atas maupun bawah.


"Saya lihat Sir Harley berlari ke pos penjaga, Nona."


"Pos penjaga?" tanya Sandra memastikan. Si pengawal mengangguk yakin.


"Benar, Nona."


"Harley sampai lari ke sana untuk apa?" gumam Sandra pelan.


Ia pun lekas melanjutkan langkahnya ke area depan. Pos penjaga sedikit jauh hingga Sandra harus berjalan kaki beberapa menit. Tiba di sana, lagi-lagi Sandra berhenti menoleh ke sana kemari, mencari bayangan Harley yang sekiranya bisa ia temui.


"Ke mana dia pergi?" bisik Sandra.


Di sisi lain Harley masih berhadapan dengan Phoebe. Ia membuang nafas kasar melepas cengkramannya di bahu wanita itu. Harley menegakkan tubuh menatap jalanan yang sesekali dilewati kendaraan.


Harley menyugar rambut ketika Phoebe mencoba memanggilnya. "Harley ..."


"Kamu tahu apa yang paling tidak kusukai dalam hubungan?" Harley menoleh menatap Phoebe. Phoebe pun balas menatapnya meminta maaf. "Wanita yang terlalu ingin tahu kehidupan pasangannya," lanjutnya, berbisik datar. "Itu sangat tidak nyaman, Ms. Bennet."


Phoebe menggigit bibir khawatir. "Tapi, Harley. Bukankah wajar kita saling mengetahui kehidupan masing-masing? Itu memang sudah seharusnya terjadi di antara kita sebagai pasangan."


Harley menggeleng. "Tapi tidak dengan menguntit. Mau kau lakukan pada siapa pun itu akan sangat mengganggu, Ms. Bennet. Tidak hanya aku, lelaki lain pun pasti akan meninggalkanmu jika sikapmu demikian."


"Harley!" Phoebe berseru pelan. Ia mulai kehilangan kendali saat nafasnya tak beraturan. Phoebe menatap Harley dengan tegas. Ia sudah jauh-jauh dari Rochester kemari, tapi respon Harley sungguh membuatnya kecewa.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? Sudah satu bulan. Kita sudah satu bulan menjalin hubungan, tapi kamu masih kerap bersikap tak acuh padaku. Apa kamu pernah merasa simpati sedikit saja pada perasaanku? Dan yang paling penting, apa kamu pernah sekali saja mencintaiku, Harley?" Phoebe menuntut jawaban. "Apa tujuanmu mengajakku berpacaran?"


Hening. Harley maupun Phoebe saling menatap tanpa suara. Phoebe mati-matian menahan hatinya yang tertusuk melihat sorot mata Harley yang bahkan tak beriak.


Satu hal lagi, sampai saat ini Phoebe masih tak menemukan cinta di mata pria itu.


"Lebih baik kamu pulang," ucap Harley tajam.


"Aku baru saja sampai, Harley. Aku sudah jauh-jauh kemari untuk menemuimu. Aku lelah," keluh Phoebe.


"Aku akan minta driver-ku untuk mengantarmu kalau begitu." Harley hendak beranjak. Namun Phoebe segera menahan pergerakannya.


"Harley, please ..." mohon Phoebe. "Please, biarkan aku menetap lebih lama bersamamu di sini. Sekali ini saja."


"You crazy?" desis Harley tajam.


Namun Phoebe tak gentar. Ia memegangi lengan Harley dengan kedua tangannya erat. "Kamu bahkan tidak menawariku minum, Harley. Kamu bahkan tidak bertanya apakah aku lapar atau tidak? Aku ke sini karena kamu. Apa tidak ada sedikit pun simpati untukku?"


Harley membuka mulutnya, mengeluarkan nafas seperti dengusan. "Kau pikir siapa dirimu, Ms. Bennet?"


"Aku pacarmu," tegas Phoebe. "Aku pacarmu, Harley. Kenapa kamu mengusir pacarmu alih-alih membawaku mampir?" lanjut Phoebe menantang.


Belum sempat Harley bersuara, tiba-tiba suara seorang gadis mengejutkan mereka berdua. Terlebih Harley yang tubuhnya langsung menegang di tempat.


"Benar, Harley. Kenapa kamu tidak menjamu pacarmu di rumah kita?"


Harley menoleh. Sandra tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada pagar beton tinggi yang menjadi pembatas area gedung.


Gadis itu melipat tangan menatap mereka santai. Ia juga sesekali menunduk memainkan kukunya yang diwarnai purple oleh Bianca di sekolah siang tadi.


Tak mendengar jawaban dari kedua manusia di pinggir jalan itu, Sandra kembali mendongak menatap mereka yang kini berhenti berdebat.


Harley menelan ludah sembari melepas paksa cengkraman Phoebe di tangannya. Ia menghampiri Sandra dengan raut bingung.


"Kenapa kamu di sini? Bukankah sudah kubilang jangan keluar tanpa seizinku? Itu berbahaya, Sandra," ujar Harley setengah berbisik. Ia memperhatikan sekeliling dengan waspada.


Alih-alih menimpali, Sandra justru tak berhenti mengarahkan pandangan pada Phoebe. Wanita itu menatap mereka berdua bergantian. Terlebih pada Harley, dalam sekali lihat saja Sandra bisa tahu wanita itu tengah patah hati.


Sandra menoleh pada Harley. "Kenapa kamu tidak membawa Ms. Bennet masuk, Harley? Dia pacarmu sekaligus guruku," ucapnya santai.


"I'm sorry, Sandra?" Harley mengernyit tak mengerti.


Sandra menegakkan tubuhnya dari tembok. Ia berkata sekali lagi sebelum berbalik dan melangkah santai melewati pos keamanan. "Bawalah Ms. Bennet ke penthouse kita. Aku cukup tersanjung melihatnya jauh-jauh kemari menemui pacarnya."


...🍁🍁🍁...


...Si berondong yang suka sama emak²🤭...



...Ini si om-om yang disukai bocil🤣...



...Ini si bocil posesif dan cemburuan😌...



...Ini ibu guru yang bikin Sandra uring-uringan 🤭...