
Semuanya berbeda. Mereka tak lagi sama. Sandra tahu hal ini akan terjadi bilamana ia mengungkapkan isi hatinya pada Harley.
Harley, pria itu nampak sedikit menghindari Sandra, sekalipun ia berusaha terlihat biasa saja. Tapi Sandra bisa merasakan kecanggungan antara mereka. Harley kerap kali menjaga jarak, pun interaksi mereka lebih banyak diliputi keseganan.
Sandra sedih tentu saja. Mungkinkah ia telah membuat kesalahan, dengan mengungkapkan perasaannya pada Harley?
"One, two, three, four, five, six, seven, eight! Bravo!"
Sandra hanya bisa bergeming mengamati teman-teman ekskulnya yang tengah berlatih cheerleader. Mereka sedang mencoba koreografi baru yang terbilang cukup ekstrim bagi sebagian orang. Kaki Sandra masih dalam masa pemulihan usai terkilir, jadi ia hanya bisa menonton dan ikut gerakan-gerakan yang terbilang ringan.
Hari sudah mulai sore, dan Sandra ingin cepat-cepat pulang karena tubuhnya mulai kehilangan banyak energi. Ditambah pikiran mengenai Harley, Sandra rasanya ingin mengubur diri sendiri untuk menyembunyikan perasaan malu.
"Oke, latihan kali ini sampai di sini saja. Jadwal berikutnya kita sudah harus bisa menyempurnakan formasi." Suara pelatih menginterupsi menimbulkan sorak senang semua anggota.
Rupanya bukan hanya Sandra yang sudah ingin pulang, mereka pun sama. Para siswi itu bubar setelah membereskan tas dan barang bawaan. Sandra ikut keluar dari ruang latihan, mencangklong tas ransel merah mudanya dengan langkah tak semangat.
Masih menggunakan seragam ekskulnya, Sandra berjalan pelan di sepanjang koridor.
"Sandra, kami duluan!"
Sandra hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi beberapa temannya yang kini berlari mendahuluinya. Sementara dirinya tetap bertahan dengan langkah gontai, terlihat lelah dan malas.
Ia berbelok di salah satu koridor, berniat mampir ke toilet sebelum ke parkiran. Tapi langkahnya mendadak berhenti ketika melihat dua orang yang sedang bicara di persimpangan antara toilet pria dan wanita.
Dalam keadaan hati yang seperti ini, kenapa Sandra harus melihat kebersamaan Harley dan Phoebe Bennet? Lagi?
Sandra mematung sesaat, ia pun memilih menepi sebelum mereka menyadari kehadirannya di sana.
Entah apa yang sedang mereka perdebatkan. Sandra tak begitu mendengar suara mereka. Tapi Sandra bisa melihat ketegangan di antara keduanya. Terutama Harley. Mungkinkah Phoebe memaksa Harley untuk memperbaiki hubungan, seperti saat wanita itu menyusul ke Toronto?
Tak jadi ke toilet, Sandra memutuskan langsung ke parkiran saja. Menunggu Harley yang entah kapan selesai bicara dengan Ms. Bennet. Sandra tidak mau menjadi penguping, ia tidak kuasa menahan hati andai keduanya berinteraksi lebih intim.
Sudah cukup Sandra sakit hati karena Harley tak merespon ungkapan perasaannya.
Berdiri menyandar di samping mobil, Sandra sesekali mengamati suasana sekolah yang mulai sepi. Hanya ada segelintir orang yang berangsur pulang.
Bermenit-menit Sandra menunggu Harley, ia tidak menyadari seseorang mengamatinya menggunakan teropong dari atas gedung.
Sampai kemudian Sandra melihat Harley keluar dari koridor yang mengarah ke toilet. Pria itu berjalan menghampiri Sandra yang segera menegakkan tubuh. Sandra melirik sejenak ke arah munculnya Harley tadi. Ia tak melihat Phoebe Bennet. Mungkin mereka sengaja tak keluar bersamaan, karena tahu dirinya menunggu di sini.
Mengingat wanita itu membuat Harley ingin menghela nafas sepanjang-panjangnya. Phoebe tak terima mengenai hubungan mereka yang tak sebaik dulu. Menurutnya Harley tidak adil karena memutuskannya secara sepihak. Tapi bagi Harley yang tidak menyukai gangguan, memutuskan hubungan dengan Phoebe Bennet adalah hal yang benar.
Jika dibiarkan terlalu lama, wanita itu akan menjadi penghalang dalam pekerjaan maupun setiap langkahnya. Benar, di mata Harley, Bennet tak jauh beda dari pengganggu.
Sebenarnya bukan hanya itu, ada alasan lain mengapa Harley memutuskan hubungan dengan Phoebe Bennet, pun alasan mengapa ia menjadikan wanita itu sebagai kekasih.
Sandra tentu tahu Harley baru saja dari mana. Ia melihat sendiri lelaki itu bertemu mantan kekasihnya di persimpangan lorong toilet. Tapi Sandra memilih bungkam dan pura-pura tak menyadari apa pun.
"Haly—"
"Kamu pasti lelah. Ayo pulang?" Harley mengambil tas Alisandra, kemudian menuntun gadis itu memasuki mobil. Mereka meninggalkan sekolah, tanpa tahu Phoebe melihat kepergian mobil mewah itu dari kejauhan.
Sepanjang jalan di isi keheningan. Berkali-kali Sandra melirik pria di sampingnya, tapi Harley tetap fokus pada jalanan di depan mereka. Atau sengaja terlalu fokus agar ia tak melihat Alisandra?
Sandra menunduk menatap jarinya yang bertaut di atas paha. Seragam cheerleader masih melekat di tubuh rampingnya, pun rambutnya masih terikat tinggi. Hal itulah yang membuat Harley tiba-tiba menyeletuk. "Antingmu hilang satu."
Suara pria itu terdengar datar. Sandra sempat terperanjat sebentar sebelum menyentuh telinga kirinya yang masih terpasang anting. Kemudian Harley berkata lagi. "Sebelah kanan."
Benar saja. Saat Sandra menyentuh telinga kanannya, di sana kosong. Bagaimana Harley tahu anting sebelah kanan yang hilang, sementara pria itu menyetir di sebelah kiri? Dan lagi, bukankah sedari tadi Harley sama sekali tak meliriknya?
"Ah, pasti jatuh saat latihan," ujar Sandra gugup.
Baru setelah itu Sandra mendapati Harley menoleh. "Apa kakimu sudah baikan? Sebaiknya jangan terlalu dipaksakan ikut latihan."
Harley kembali melihat ke depan. Sandra tak hentinya mengamati wajah lelaki itu dari samping. Hatinya berdesir mendapati seberapa tampan Harley di usianya yang matang. Tapi Sandra kembali menelan pil pahit, saat mengingat lelaki itu menolak perasaannya meski dengan cara tidak langsung.
"Aku hanya latihan ringan," ucap Sandra pelan. Ingin ia kembali menanyakan tantang ungkapan hatinya kemarin, tapi sepertinya Harley enggan membahas masalah tersebut.
Di samping Sandra yang bimbang, Harley justru diam-diam melirikkan matanya pada spion maupun rear-vision di depan. Matanya terlihat awas meski sikapnya terbilang santai. Sandra bahkan tak menyadari kewaspadaan lelaki itu.
Barulah saat mobil tidak mengarah ke jalan yang semestinya, Sandra menoleh dan bertanya heran. "Haly, kita mau ke mana?"
Pasalnya lelaki itu melewati perlintasan menuju mansion, di mana helikopter milik Gibran kerap terparkir di sana menunggu mereka pulang.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," jawab Harley.
"Siapa?"