Little Alisandra

Little Alisandra
42. An Accident



Kali ini Sandra akan merutuk karena jumlah siswa dalam setiap kelas di sekolahnya tidaklah banyak.


Di luar fasilitas elite bertaraf internasional, sama sekali tak menjamin mereka semua memiliki adab. Minimnya kepercayaan guru pada murid-muridnya yang nakal, membuat Sandra harus terjebak di ruang peralatan sekarang.


Tentu ia tidak sendiri. Sandra ditemani beberapa yang memang bisa dipercaya Ms. Bennet tidak akan melakukan sesuatu yang anarkis selama mengambil barang-barang.


Lupakan para siswa lelaki di kelasnya, mereka semua tidak normal kecuali Azolf yang memang seorang ketua kelas. Ya, setidaknya pria itu tak senakal teman-temannya. Dia hanya nakal jika urusan wanita.


"Hey, aku sudah mendapatkan bagianku. Bagaimana dengan kalian?" Jeff—satu lagi pria normal di kelas Sandra— buka suara. Ia menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk mencari.


"Kalau begitu bawalah ke kelas. Nanti kami menyusul," ucap Azolf memutuskan.


"Oke."


Kini tersisa empat orang di sana, dan sepertinya Glory juga telah menemukan apa yang dibutuhkan. Ia menoleh pada Bianca yang menggaruk kepala sambil berkacak pinggang. "Kau belum menemukannya?"


"Astaga, aku bahkan tidak tahu rupa bendanya bagaimana. Ms. Bennet hanya berkata itu terbuat dari alumunium. Hey, banyak sekali benda berwarna silver di sini. Aku mana tahu alumunium itu seperti apa," keluhnya.


Tak lama sebuah tangan terulur di depan Bianca. Azolf menyerahkan sesuatu mirip seperti apa yang Bianca cari.


"Oh, thanks."


Azolf tak menjawab, ia lantas beralih pada Alisandra yang masih berdiam di belakang ruangan.


"Tumben sekali dia baik padaku, cih," dengus Bianca.


"Kau sudah menemukannya?" Azolf menyerukan tanya pada Sandra yang bergeming seperti kebingungan.


"Iya, tapi ... aku sedikit kesulitan mengambilnya." Sandra menoleh menatap Azolf.


Bianca yang mendengar itu kontan mendekat berniat membantu. "Mana?"


Sandra menunjuk sebuah wadah yang letaknya menjorok di sebuah rak. Masalahnya Sandra tak bisa begitu saja mengambilnya, lantaran satu rak lain menghalangi. Entah untuk apa posisi rak diletakkan seperti itu. Sandra rasa petugas kebersihan selalu memastikan kerapihan semua ruang, termasuk ruang peralatan sekalipun.


Azolf dan Glory turut mendekat. Namun, di tengah raut Sandra yang berpikir ambigu, si ceroboh Bianca dengan seenaknya menjulurkan tangan mengambil benda tersebut. Sementara benda miliknya ia serahkan pada Sandra.


"Aih, susah sekali. Kenapa Ms. Bennet mendadak membuat kita pusing? That fu**ing sh-i-t!" Bianca tiba-tiba merasa kesal pada wanita itu, di luar masalah pribadinya antara Sandra dan Harley tentu saja.


"Apa yang kau lakukan? Kemarilah, biar aku saja." Azolf berusaha menarik tubuh Bianca yang kini sudah menyelip di antara sudut rak yang berhimpitan itu.


"Diamlah kau, buaya darat. Jangan menambah kekesalanku," rutuk Bianca.


"Aku hanya ingin memudahkanmu, bagaimana bisa kau jadi kesal?" balas Azolf, sedikit tak terima dengan Bianca yang tak menghargai niatan baiknya.


Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba Sandra seolah menyadari sesuatu. Ia melirik ke atas, pada rak di belakang tubuh Bianca yang bergoyang-goyang.


"Bi—" Belum sempat Sandra menyelesaikan ucapannya, sesuatu yang ia takutkan pun terjadi.


"Kyaaaa!!"


Suara jeritan Bianca yang disusul benda-benda berjatuhan seketika membuat gaduh ruangan tersebut. Azolf berhasil menahan rak yang hendak rubuh, namun tidak dengan sesuatu yang menimpa Bianca saat ini.


"Bee!!!" Glory yang panik melihat temannya terduduk di lantai lekas berlari mendekati. Sementara Sandra membantu Azolf yang kesulitan membenarkan posisi rak.


"Aaarrggh!! Hiks ... Sakiiitt!! Hwaaa ..."


"Bianca!" Sandra buru-buru menghampiri setelah rak berhasil ditegakkan.


"Jangan sentuh!" Azolf mencegah Sandra yang hendak menyentuh paha Bianca. "Ini asam sulfat," desisnya kemudian.


"WHAT?!" seru Sandra dan Glory serentak. Mereka menatap Azolf yang kini meminta keduanya menyingkir. Bianca yang meraung sama sekali tidak menghiraukan saat Azolf mengangkat tubuhnya, dan dengan cepat berlari keluar ruang peralatan.


Mereka tergesa-gesa menuju ruang kesehatan. Sandra mengikuti Azolf dan Bianca, sementara Glory kembali ke kelas guna melaporkan insiden tersebut pada Ms. Bennet.


***


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Phoebe Bennet yang mendapat laporan mengenai salah satu muridnya kontan memberhentikan jam belajar saat itu juga.


Kini ia berada di ruang kesehatan, di mana Bianca tertidur pulas di atas ranjang setelah diberi obat penenang lantaran syok berat.


Sandra tak sekalipun pergi sejak Bianca diobati. Ia terus berdiri di sebelah Bianca meski gadis itu tak sadarkan diri.


"Bianca mencoba mengambil barang yang hendak kuambil." Sandra membuka suara, matanya menatap lurus pada Phoebe yang kini berwajah khawatir melihat keadaan Bianca.


Wanita itu juga menoleh pada Sandra. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, dan Phoebe bisa melihat adanya keambiguan di mata si murid pintar tersebut.


"Begitu? Oh, astaga, apa yang harus aku katakan pada Tuan dan Nyonya Reese. Kenapa petugas sekolah bisa seceroboh ini? Ini jelas kesalahan kami." Phoebe mengusap kening Bianca penuh iba. Berbeda dengan Sandra yang tak kunjung melepas tatapannya dari sang pengajar. Ia mengamati mantan kekasih Harley itu dengan lekat.


"Tapi aku bersyukur kamu baik-baik saja, Sandra," ujar Phoebe menambahkan.


Entah Sandra yang terlalu perasa, atau Phoebe yang memang sedang kalut memikirkan muridnya. Tapi Sandra sama sekali tak mendengar ketulusan dalam suara wanita itu untuknya.


"Ya, Tuhan masih menyelamatkanku, tapi aku tidak bisa bersyukur karena temanku harus menanggungnya," ucap Sandra datar.


Tak lama kedatangan Azolf di pintu memecah suasana ambigu itu. "Pihak sekolah sudah mengabari orang tuanya. Sebentar lagi ibunya akan kemari."


Phoebe mengangguk. "Baiklah. Aku akan menemui kepala sekolah dulu. Sandra, kamu temani Bianca sampai dia bangun ya? Atau setidaknya sampai Nyonya Reese tiba."


Sandra hanya mengangguk, ia menatap kepergian Phoebe dengan pandangan rumit.


"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" Azolf bertanya ketika ia mendekat. Pemuda itu mengamati Bianca untuk sesaat. "Andai aku bisa menariknya lebih cepat." Ia berucap dengan nada suara terdengar bersalah.


Sandra turut menoleh melihat Bianca. "Bukan salahmu. Memang seharusnya aku yang mengambil benda itu. Bianca tidak akan akan seperti ini jika tidak membantuku."


Hening, Azolf menoleh, pun sesaat rautnya nampak berpikir. "Sudahlah, mungkin memang seharusnya begini. Ada baiknya juga kau selamat," ucapnya berusaha bijak.


Ia lalu memperhatikan paha Bianca yang kini terbalut kasa. "Hanya saja, musibah ini pasti berat untuknya. Bianca seorang entertain, tentu tubuh menjadi aset paling berharga dalam menunjang penampilan."


Azolf benar, walaupun sebetulnya kondisi Bianca bisa diatasi dengan operasi, untuk memulihkan bekas luka bakar tersebut, tapi pemulihannya akan lama. Terlebih, gadis itu sedang terlibat dalam sebuah projek film.


Ini pengalaman pertama yang akan menentukan karir Bianca di dunia hiburan ke depannya.


Sandra akan sangat merasa bersalah jika kejadian ini berdampak buruk pada hal tersebut. Karena, jika kecurigaan Sandra benar, mungkin sejak awal kemalangan ini memang ditujukan untuknya.