
Layaknya musim semi yang indah, hati Fumiko berbunga menatap seorang pria yang tengah memakan lahap roti hangat di hadapannya.
Pria berbaju loreng itu baru saja menolong Fumiko dari sekelompok orang yang hendak menyerangnya. Dengan begitu gagah berani ia melumpuhkan semua pria seorang diri.
Fumiko terkesima. Ia terpesona oleh keberanian pun paras lelaki itu yang menggoda dan rupawan. Penampilan kotor serta kucelnya seragam yang ia kenakan, tak menghalangi pancaran karisma dari lelaki tersebut.
Badannya tinggi dan tegap. Fumiko menebak dia adalah tentara asing dari suatu negara.
"Sekali lagi ... terima kasih karena sudah menolongku." Fumiko membuka suaranya pelan, menggunakan bahasa Inggris. Ia tidak mungkin bicara menggunakan bahasa Jepang saat tahu pria di hadapannya bukanlah warga dari negara tersebut.
Pria yang sejak tadi hanya diam tak acuh itu pun bergumam sebagai respon. Ia sibuk melahap semua roti yang beberapa saat lalu Fumiko belikan sebagai bentuk rasa terima kasih.
"Kamu ... sepertinya seorang prajurit?" tanya Fumiko hati-hati.
Pria itu mengangguk. "Amerika," beri tahunya tanpa diminta.
Fumiko senang. Dengan begitu ia pun memberanikan diri mengulurkan tangan, menyebutkan nama bermaksud untuk berkenalan. "Fumiko. Siapa namamu, Tuan?"
Suara Fumiko yang manis dan malu-malu berhasil membuat pria itu mendongak dan berhenti makan. "Paul," ucapnya datar.
Siapa sangka, sentuhan tangan mereka saat berjabat tangan merupakan awal dari sebuah hubungan panas antara keduanya.
Bermula dari sorot mata penuh makna, Fumiko maupun Paul tak kuasa menahan rasa ketertarikan satu sama lain.
Paul yang saat itu tengah menjalankan sebuah misi dari negaranya, sama sekali tak mengira akan dipertemukan seorang wanita lugu namun seksi di Yokohama.
Fumiko Yamada, dia seorang nona muda dari pengusaha terkaya di Jepang. Manis, lembut, menggairahkan. Itulah definisi Fumiko bagi Paul Ijackson.
Keduanya larut dalam hubungan panas yang membara, hingga lama-lama rasa cinta saling mengikat keduanya. Barangkali hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga Yamada, mereka tetap menjalaninya secara rahasia.
"Aahh ... Paul ... hhh ... hhh." Fumiko terengah menikmati hujaman pria asing itu di pusat intimnya. Mereka tengah bercinta di sebuah ruang rahasia yang ada di markas tentara yang terletak di pinggiran kota Yokohama.
Tentu saja Fumiko yang menghampiri pria itu secara diam-diam. Meski Paul sudah melarang karena hal tersebut beresiko, Fumiko tetap kekeh menemuinya di markas.
Paul menggeram rendah mendekap tubuh Fumiko dari belakang. Tangan besarnya membekap mulut wanita itu agar tak begitu keras saat bersuara.
Alhasil mereka hanya saling beradu nafas sampai percintaan selesai dan pelepasan melanda menerbangkan keduanya.
Paul menciumi Fumiko dengan mesra, pun wanita itu menikmati remasan tangan kasar Paul di kedua buah dadanya yang sekal. Pria itu berbisik lirih di telinga Fumiko. "Jangan lakukan ini lagi. Ke depannya, biar aku yang menemuimu di pusat kota. Tindakanmu memasuki daerah terpencil ini terlalu berbahaya."
Fumiko hanya bisa mengangguk. Mereka pun semakin sering melakukan pertemuan di kota. Menyewa sebuah motel, dan jalan-jalan ke beberapa tempat dengan sedikit penyamaran.
Yang Fumiko tidak sangka-sangka adalah hubungan mereka akan diketahui lebih cepat oleh ayahnya. Akihiro Yamada yang merupakan pemimpin sebuah organisasi Yakuza dibuat murka saat mengetahui putri satu-satunya telah jatuh cinta pada seorang tentara asing.
Lelaki itu mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menyerang Paul Ijackson. Tidak sampai mati, hanya babak belur sebagai bentuk ancaman bagi Fumiko yang keras kepala tak ingin melepas prajurit Amerika itu.
"Otosan, ampuni dia, Otosan. Aku mohon jangan sakiti Paul, Otosan. Aku sangat mencintainya ... tolong jangan sakiti dia ... hiks. Jangan bunuh Paul, Otosan ... aku mohon ... hiks."
Bagi orang Jepang, berlutut dan bersujud pada seseorang adalah sesuatu yang sangat memalukan, karena melibatkan harga diri yang dijatuhkan sampai ke dasar. Pengaruhnya pun begitu besar. Akan tetapi Fumiko tidak perduli, ia melakukannya untuk Paul Ijackson yang saat itu terancam sekarat di tangan anak buah Yamada.
"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan, Fumiko?!" Akihiro berteriak marah mendapati sang putri berlutut mencium kakinya, hanya untuk membela seorang prajurit asing rendahan.
"Dia musuh kita, Fumiko! Dia musuh kita! Dia datang ke negara ini untuk memata-matai organisasi kita! Dan kau bisa-bisanya terlena dengan kisah cinta menjijikan bersamanya?! Apa kau yakin kau tidak gila?!"
Fumiko menggeleng. Ia menangis, namun juga bersikeras dengan hatinya. Fumiko tetap menginginkan Paul, tak perduli hubungan terlarang itu ditentang keras oleh Yamada, pun organisasi di bawahnya. Yakuza.
Fumiko yang putus asa mengajak Paul untuk lari begitu ada kesempatan. Mereka kabur, melarikan diri dari negara Jepang, pun Paul dengan sukarela meninggalkan kemiliteran untuk hidup berpindah-pindah bersama Fumiko yang menjadi buronan keluarga.
Mereka menikah dengan sangat sederhana di sebuah kota di Amerika. Tidak ada perayaan apa pun, hanya hitam di atas putih yang menegaskan bahwa mereka sepasang suami istri yang secara sah tercatat dalam hukum negara.
Pun karena hal itu Fumiko mendapat kewarganegaraan baru, mengikuti Paul yang sejatinya merupakan warga asli Amerika.
Lantaran kehidupan mereka dipenuhi kerahasiaan, keduanya kerap berpindah-pindah tempat tinggal, menghindari anak buah Yamada yang rupanya belum berhenti mengejar dua sejoli itu.
Hingga dua tahun lamanya mereka pun dikaruniai seorang anak laki-laki. Kebahagiaan meliputi hati Paul maupun Fumiko. Hidup mereka menjadi jauh lebih cerah dengan kehadiran sang buah hati. Hasil percintaan mereka yang penuh dengan tantangan.
Namun itu hanya berlangsung selama lima tahun. Karena tahun berikutnya kemalangan kembali menyerang Fumiko, saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang suami tewas dengan cara mengenaskan.
Paul Ijackson ditemukan tak bernyawa dengan beberapa bagian tubuh yang terpisah. Di sebuah ladang gandum yang menjadi tempatnya mencari nafkah.
Hati Fumiko yang lembut serasa ikut tercabik-cabik. Ia histeris, menutup kedua mata putranya yang hanya bisa mematung dengan raut bingung.
"Mama, Papa kenapa?"
Betapa Fumiko hampir gila dengan pertanyaan polos sang putra. Pun jiwanya semakin terguncang saat ia diseret paksa untuk kembali ke negara asalnya. Jepang.
"Harley, jika suatu saat Mama mati, kamu harus melarikan diri."
Ucapan Fumiko yang terdengar putus asa menyentak mental Harley yang masih kecil. Ia tidak tahu apa pun, ia tidak mengerti masalah apa yang terjadi antara orang dewasa di sekitarnya.
Harley hanya bisa menurut ketika seorang pria yang mengaku sebagai kakek, dan meminta untuk dipanggil Ojichan. Juga segenap pelatihan keras yang diterapkan padanya.
Harley kecil yang polos harus bertahan di tengah gempuran rasa lelah dan sakit. Lelah karena dipaksa menguasai berbagai macam ilmu beladiri yang sungguh membuat siapa pun ingin mati. Sakit karena menerima hukuman saat kemampuannya dianggap kurang.
Berlatih beladiri menggunakan samurai asli, pisau asli, dan berbagai senjata lain yang juga asli. Jiwa Harley benar-benar ditempa habis-habisan, hingga pada akhirnya sang mama meninggal, Harley menepati janjinya untuk melarikan diri dari neraka mengerikan itu.
Hal itu pula yang mempertemukan Harley dengan seorang wanita baik hati. Wanita dengan raut wajah dingin yang menolongnya dari tumpukan salju di saat badai.
Dia adalah Sandra Willis. Rautnya yang tanpa ekspresi mengingatkan Harley pada semua luka yang telah ia dan ibunya terima dari keluarga Yamada.
Sandra Willis pula, yang melatihnya menjadi pria kuat, memberinya pendidikan yang layak, serta segala sesuatu yang belum pernah Harley dapatkan sebelumnya.
Kasih sayang. Meski wanita itu kadang berlaku kejam, tapi Harley tetap bisa merasakan perasaan lembut yang tersembunyi di hatinya. Bagaimana pun, Sandra Willis adalah seorang ibu yang juga menderita karena keluarganya.