Little Alisandra

Little Alisandra
48. Quietly Watched



"Koko?" Maria menghampiri Gibran di ruang kerja. Lelaki itu seperti termenung memikirkan sesuatu di kursinya.


Maria mendekat, kemudian melesakkan tubuhnya di pangkuan Gibran. Hal tersebut membuat Gibran langsung membuat jarak dari meja, serta menutup laptopnya yang masih menyala. Tangannya melingkar di pinggang Maria dan menahannya agar tidak jatuh.


"Ada apa? Kenapa terbangun?" tanya Gibran, seraya merapikan rambut panjang Maria yang sedikit berantakan. Sudut bibirnya tersungging miring mendapati sang istri tak mengenakan apa pun di balik kimono tidurnya.


Dengan sengaja Gibran menggigit puncak dada Maria yang tercetak jelas pada kain sutera lembut itu, membuat si empunya melenguh meremat pundaknya yang juga mengenakan jubah tidur.


"Kau membuatku tegang lagi, Plum," bisik Gibran sensual. Ia sedikit melirik ke atas guna melihat Maria. Sementara lidah dan mulutnya asik bermain di atas permukaan payu-dara, membuat kain yang melapisinya basah dan kian mencetak bagian paling sensitif itu.


"Koko, kita baru selesai melakukannya beberapa jam lalu," ujar Maria, berusaha menjauhkan kepala sang suami dari dadanya.


"Bagiku itu sudah lama," jawab Gibran santai, tanpa menghiraukan protesan Maria. Ia terus mengulum bagian kiri dan kanan secara bergantian. Maria mendongak menahan erangan, pun ia merasakan sendiri, sesuatu yang ia duduki membesar dan mengeras di bawah sana.


"Koko sengaja melakukan ini agar aku tidak bertanya-tanya, kan? Aw! Jangan keras-keras gigitnya!" jerit Maria pelan. Ia merengut menatap Gibran yang tersenyum, sementara tangannya mengusap payu-dara yang sakit akibat gigitan lelaki itu.


"Sudah kubilang, aku sudah tidak tahan."


"Kau berusaha mengalihkan perhatianku," elak Maria. Matanya menoleh ke arah meja. "Katakan, apa yang ada di balik laptop itu? Kau sedang mencari sesuatu?"


"Tidak ada," jawab Gibran santai. Kedua tangannya mengusap halus sisi pinggang Maria.


"Lalu kenapa Koko menutupnya tiba-tiba saat aku datang?"


"Tidak ada apa pun, Plum. Bukan hal yang penting." Gibran berusaha menjelaskan dengan nada sabar.


"Bohong!" Wanita itu menatap Gibran tajam. "Koko tidak sedang selingkuh, kan? Biar aku lihat, Koko pasti menyembunyikan sesuatu di sini. Apa Koko sedang melihat foto wanita telanjang di sini? Atau justru Koko sedang dirty chat dengan seseorang?" Maria meraih cepat laptop Gibran dan membukanya. Namun sesaat kemudian, ia terdiam dengan kening berkerut dalam.


Tidak sesuai prasangka buruknya barusan, layar laptop itu hanya menunjukkan layar hitam beserta tulisan-tulisan kecil yang tidak Maria mengerti.


Ia mengerjap, lalu menoleh pada Gibran yang kini tertawa tanpa suara. "Sudah kubilang tidak ada apa pun."


Gibran menatap Maria sambil tersenyum. Ia mengusap sudut bibir wanita itu yang berkerut. "Jangan cemberut. Bagaimana mungkin aku dirty chat dengan wanita lain, sementara pikiranku selalu penuh dengan bayangan lekuk tubuhmu?" bisiknya menyeringai tipis. "Kamu selalu menjadi fantasiku di mana pun aku berada, Plum."


"Terlebih saat kamu marah, libidoku meningkat berkali-kali lipat, kau tahu? Jadi, Sayang, berhenti memasang raut begini kalau tidak mau habis sampai pagi."


Suara Gibran membuat Maria merinding. Nafas pria itu yang menerpa tengkuknya secara tidak langsung menyayat pertahanan yang semula tidak goyah.


"Aku sedang hamil. Koko tidak bisa berbuat seenaknya." Susah payah Maria bicara sambil menelan ludah. Apalagi saat merasakan ujung lidah Gibran menari pelan di sela lehernya.


"Oh ya? Tapi kamu sudah cukup tidur. Terhitung sudah 8 jam, dan kini hari sudah berganti, kamu pasti akan tidur lagi siang nanti," bisik Gibran tak mau kalah. Bibirnya mengecup keras leher Maria hingga meninggalkan ruam kemerahan yang gelap. "Ah ... wangi buah dan bunga ini membuatku gila."


"Koko hentikan! Aku belum selesai bertanya!" seru Maria kesal.


"Bertanyalah. Aku akan menjawab apa pun yang kamu tanyakan, dengan syarat menikmati tubuhmu di atas meja ini." Sejurus kemudian Gibran mengangkat tubuh sang istri ke atas meja kerjanya. Ia membuka paha Maria hingga kimono wanita itu menyingkap, menampilkan celah indah yang sudah basah di sana.


"Koko!"


"Aku akan menjawabmu, Plum," ucap Gibran sekaligus menekan. Ia tak membiarkan Maria memiliki pilihan selain menerima penyatuan yang saat ini Gibran lakukan perlahan.


Lelaki itu melepas tali jubah tidur miliknya, dan rupanya ia pun tak memakai apa pun di baliknya. Dengan mudah Gibran menyatukan pusat tubuh mereka yang sudah sangat siap. "Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan. Waktumu dimulai dari sekarang, Plum."


"Owh ... you make me crazy, Baby." Gibran mengerang tertahan merasakan pusat tubuh Maria melingkupinya dengan hangat.


Sementara Maria meringis tanpa bisa menawar. "Koko ..."


"Katakan," titah Gibran yang mulai bergerak.


Maria menggigit bibir dengan mata terpejam. Bagaimana ia bisa bertanya jika caranya seperti ini.


Licik. Gibran selalu licik sedari dulu.


"Server," jawab lelaki itu santai. Matanya tak lepas mengikat Maria dalam pandangan. Bibirnya tersenyum kecil penuh kemenangan, melihat sang istri yang mulai pasrah dan kewalahan.


"Server apa?!" seru Maria kesal. "Ini tidak adil. Kau jangan menjawab setengah-setengah sementara aku kesulitan untuk fokus bertanya! Akh!"


Menurunkan kepalanya, Gibran mencium leher Maria, pun satu tangannya meremas dada, sementara satunya lagi menahan paha wanita itu agar tetap terbuka.


"Pelaku yang menyerang mansion kita di Rochester," jelas Gibran. Tubuhnya terus bergerak menghujam Maria.


"Dan siapa mereka?" tanya Maria dengan nafas terengah.


"Hanya sekelompok orang tidak penting yang mengincar ajudan kita. Arrghh!" Rahang Gibran mengencang merasakan nikmat dari gerakannya.


"Akh, maksudmu ... Nick?"


"Bukan."


"Harley?"


"Yes! Oh, sial, kamu sangat nikmat, Sayang!"


Maria tidak tahan. Ia semakin kesulitan mengeluarkan kalimat kecuali erangan dan lenguhan. Gibran terlalu membuatnya mabuk. Pria itu benar-benar tahu cara menghentikan keingintahuan Maria.


"K-kenapa Harley?"


Gibran tak langsung menjawab. Ia seolah sengaja membuat Maria bertanya di waktu yang tidak pas, tepat ketika mereka sama-sama mengejar pelepasan.


"Akh, Koko!"


"Shhtt ... Stop it. Jangan bicarakan pria lain. Kali ini aku akan cemburu karena ternyata bajingan itu sangat kaya. Oh, sial!


Kaya? Siapa yang kaya? Harley? Maria tak bisa berpikir lagi karena gelombang itu semakin dekat.


Gibran mempercepat gerakannya, ia juga sekaligus hati-hati supaya tak menyakiti perut Maria. Hingga puncak itu datang, meluluhlantakkan segala konsentrasi di antara keduanya.


"Argh! Hhh ... Hhh ..."


Gibran mendekap Maria saat mereka sama-sama mencapai pelepasan. Dengan nafas yang saling bersahutan, Gibran mendapati sang istri tergeletak lemah di atas meja. Wanita itu hampir tertidur dengan peluh berhamburan, tak jauh berbeda dengan tubuh Gibran yang juga basah meski pendingin ruangan masih menyala.


"Lelah?" Gibran bertanya serak sambil mengusapi wajah Maria dari keringat. "Sudah cukup pertanyaannya. Masih ada waktu untuk tidur kembali. Ayo?"


Merapikan pakaiannya juga milik Maria, dengan tanpa persetujuan ia membawa wanita itu kembali ke kamar. Merebahkannya di atas ranjang dan menyelimutinya hingga nyaman.


Sejenak Gibran terdiam, duduk seraya mengamati wajah selembut rembulan yang kini terlelap dengan nafas yang mulai teratur. Ia tersenyum hangat mengusap pipi sang istri. Matanya menyorot rumit, pun rautnya seperti berpikir akan sesuatu.


"Sebenarnya alasanku pulang bukan hanya karena kehamilanmu, Plum. Tapi, cukup aku saja yang tahu. Kamu mungkin akan membencinya jika tahu yang sebenarnya."


Kali ini tatapannya menerawang ke arah jendela. Gorden yang tidak tertutup membuat cahaya lampu dari luar membias, memecah kegelapan kamar dalam suasana remang.


"Aku tidak akan ikut campur, Harley. Aku tahu kamu bisa menyelesaikan konflik keluargamu sendiri," bisik Gibran lagi.


Ia memang diam saja selama ini. Meski tahu penyebab meledaknya pesawat beberapa tahun lalu, yang menewaskan Romanjaya Wiranata, ia tak lantas mengatakannya pada siapa pun.


Ia ingin melihat sejauh mana Harley mampu bergerak tanpa dirinya, dan sehebat apa anak didik Sandra Willis yang ternyata seorang Yakuza.