Little Alisandra

Little Alisandra
11. Lost and Ran Away



"Aku akan segera kirimkan beberapa pelayan kemari. Sedikit sulit untuk memilih mereka. Beberapa memilih mengundurkan diri, beberapa lainnya masih mengalami trauma. Mungkin aku akan kirimkan Laila dan Robert terlebih dulu," ucap Gibran, saat ia turun dari lantai dua, usai melihat anak-anaknya.


Harley yang masih duduk di ruang tengah dengan televisi menyala pun mendongak. Ia hanya mengangguk sebagai pertanda menyetujui keputusan Gibran.


"Kau tidurlah. Aku tidak mau terjadi masalah pada anak-anakku seandainya kau menyetir sambil mengantuk. Malam ini Dante kemari, ia akan kembali mengantar Allison seperti biasa. Jadi kau bisa fokus pada Alisandra saja. Kau tidak mungkin mengantar jemput keduanya sementara jadwal belajar mereka tak selalu sama meski satu yayasan," lanjut Gibran.


"Oke," sahut Harley singkat. Ia berdiri ketika tahu Gibran akan segera pergi. "Tuan tidak menginap?"


Gibran yang tengah berjalan melewati Harley, seketika berhenti. Ia menoleh melirik pengawal pribadi putrinya itu. "Aku membutuhkan tempat paling privasi untuk menghubungi istriku," ujarnya, sambil mengedipkan satu mata.


Nampaknya Harley mengerti apa yang Gibran maksud. Ia mendengus samar sambil tersenyum kecil. Mungkin, Gibran dan Maria adalah pasangan paling romantis di antara banyaknya pasangan yang Harley kenal.


Gibran mengendik sebelum melanjutkan langkahnya. "Tidak perlu mengantarku sampai bawah. Istirahatlah, anak buah kita sudah bergantian berjaga."


Lelaki itu kemudian pergi. Sosoknya menghilang begitu pintu lift tertutup, mengantarnya ke lantai dasar dari gedung apartemen ini.


Harley membuang nafas. Ia membereskan botol serta gelas bekas mereka minum, mematikan televisi lalu melangkah ke arah dapur. Harley membuang botol kosong tersebut ke tempat sampah, ia juga mencuci gelas dan menyimpannya kembali ke tempat semula.


Selepas itu Harley pergi ke kamarnya yang ada di lantai bawah, berniat tidur seperti apa yang diperintahkan Gibran. Ia akan bangun sebelum langit terang untuk mengantar Alisandra ke sekolah.


***


Pagi hari datang, dan yang pertama kali Harley lihat saat keluar kamar adalah Allison yang sedang menyantap sosis di ruang tengah. Anak itu duduk setengah berbaring nampak serampangan di sofa, dengan mata mengarah pada televisi yang menyala.


"Aahh ... astaga, mataku tidak bisa diajak kerja sama. Ini merepotkan, aku tidak bisa terus seperti ini. Bangun terlalu pagi hanya untuk berangkat sekolah," rutuknya pelan, pun sorotnya sayu dan terkantuk-kantuk.


"Tuan Muda sudah mandi?" Harley bertanya sembari berjalan ke arah dapur. Ia melewati televisi besar yang sedang Allison tonton.


"Uncle tidak lihat aku pakai seragam? Kalau bukan karena Daddy yang mengancam akan memblokir rekeningku, aku tidak akan serajin ini mandi di pagi buta. Hey, langit bahkan masih gelap, astaga ... aku merasa hidup di jaman Majapahit, bangun dini hari untuk memulai aktifitas. Apa aku juga harus menumbuk beras?"


Harley hanya mendenguskan senyum mendengar celotehan si bungsu Allison. Ia yang sudah berada di dapur dengan cekatan menyiapkan bahan makanan. Harley akan terus memasak sebelum Gibran mengirimkan pelayan. Tugasnya jadi berlipat-lipat karena harus mengurus ini itu.


Beberapa menit kemudian aroma masakan pun tercium. Allison bahkan sampai mengendus-endus masuk ke dapur. "Hey, Uncle. Aku tidak tahu kau pintar memasak," celetuknya sambil bersandar di meja marmer yang mengkilap. Kepalanya miring, melongok ke arah teflon berisi makanan yang mengepul.


Harley tersenyum sambil menggoyang-goyang teflon tersebut, hingga wanginya semakin tercium membuat perut lapar.


"Aku melajang bukan berarti tidak bisa memasak. Hal-hal seperti ini sudah biasa kulakukan sejak tinggal sendiri," dengus Harley.


Allison mencebik dengan kedua alis terangkat. "Apa kau tidak berniat menikah, Uncle. Kurasa umurmu semakin hari semakin tua."


Harley terkekeh. Celetukan Allison benar-benar membuatnya geleng kepala. "Semua manusia bertambah tua setiap hari, Tuan. Termasuk Anda sekalipun," balasnya mencibir.


Allison mendengus. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau berniat menikah, Uncle?"


Harley menghela nafas. "Kenapa kalian terus bertanya soal menikah?" ujarnya sambil lalu.


"Memang siapa yang sebelumnya bertanya?" Allison mengernyit. Dengan iseng ia mencomot secuil masakan Harley di teflon. "Aw, panas!"


Melihat itu Harley berdecak dan menggeleng. Jelas panas, kompornya saja belum dimatikan.


"Your Dad," ucap Harley, menjawab pertanyaan sebelumnya. Ia mematikan kompor listrik yang dipakainya untuk memasak, lalu menuang masakan tersebut ke atas piring.


Harley lalu berkutat dengan bahan masakan selanjutnya untuk dibuat.


"Ah ... i see." Allison mengangguk-angguk. Matanya tak berhenti mengamati tumis beef di piring. Perutnya mendadak lapar dan keroncongan. Tapi tak lama ia pun berkedip. "Apa kau bertemu daddy? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" Perhatiannya beralih pada Harley yang sudah mulai kembali memasak.


"Semalam Tuan kemari. Kita bicara sebentar soal pelayan dan Dante yang akan segera ditugaskan di sini."


"Aahh ... begitu rupanya," sahut Allison tak begitu peduli.


Selesai memasak dan menghidangkan makanan di meja, Harley bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia akan bersiap mengantar anak-anak karena sepertinya Dante belum tiba.


"Makanlah dulu, aku akan membangunkan kakakmu," ucap Harley, dan dengan cepat melesat meninggalkan ruang makan.


Allison hanya mengangkat bahu tanpa menjawab. Tanpa Harley suruh pun ia sudah asik menyantap makanan.


Di sisi lain, Harley yang sudah rapi dengan pakaian formal serba hitamnya, menaiki tangga menuju kamar Alisandra. Ia juga memasang earpiece di telinga sebelah kanannya.


Gadis itu sudah bangun?


"Nona, apa kau di dalam?" Harley mengetuk pintu walk in closet yang tertutup. Ia tak mendengar suara apa pun di kamar tersebut, seolah-olah pemiliknya memang tidak berada di sana.


Tiba-tiba Harley terdiam. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku dan mengotak-atiknya dengan cepat. Sederet tulisan-tulisan kecil yang tidak akan dimengerti orang awam pun muncul sebagai informasi di sana.


Tubuh Harley seketika menegang saat membuka pintu geser ruang pakaian dengan kasar. Ia bergegas masuk memastikan. Alisandra memang tak ada di sana, pun di kamar mandi.


Ia segera berlari keluar dengan wajah kaku. Kakinya yang berderap menuruni tangga sempat membuat Allison yang baru selesai sarapan terheran.


"Uncle, ada apa denganmu? Why did you run like that?"


Nafas Harley berburu, ia bahkan tidak berhenti untuk sekedar menjawab. "Kakakmu hilang. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu ke sekolah."


Sontak Allison pun berdiri, kali ini wajah anak itu terlihat serius.


Harley nampak tergesa menekan tombol lift. Tepat ketika pintu besi itu terbuka Dante terlihat di sana. Hal yang membuat Harley merasa bersyukur karena ia tak perlu repot menghubungi anak buahnya yang lain untuk mengantar Allison.


"Ada apa dengamu?" Dante turut bertanya.


Harley terengah-engah menepuk pundak Dante, sekaligus mendorong lelaki itu untuk segera keluar dari lift. "Sandra hilang. Kau antarlah Allison ke sekolah."


"Apa?" Dante terkejut.


Tapi Harley tak ada waktu untuk menjelaskan. Ia dengan cepat menekan tombol hingga pintu lift menutup menelan keberadaannya.


Allison mendekat ke arah Dante. "Kakakku hilang? Kenapa aku tidak tahu? Kapan dia pergi? Astaga, kenapa dia hobi sekali berkeliaran sendiri?"


Dante menoleh pada sang tuan muda. "Entahlah," jawabnya pendek. "Tuan Muda juga sering seperti itu," ujarnya melanjutkan.


Allison mendengus. "Setidaknya aku tahu keadaan sekarang sedang tidak baik-baik saja. Oohh ... astaga, kalau mommy tahu dia pasti sudah jantungan."


Anak itu tidak sadar bahwa dirinya sendiri seringkali membuat orang tuanya kesal.


Di sisi lain, Harley memarahi semua anak buahnya yang berjaga di bawah. Ia jadi penasaran apa yang Alisandra lakukan sampai bisa melewati para pengawal di depan lobi. Mustahil para penjaga tak mengenali gadis itu saat keluar.


"Apa tidak ada satupun dari kalian yang melihat?"


Semua bodyguard menggeleng. Mereka juga terkejut saat Harley memberi tahu Alisandra tak ada di penthouse.


"Sial!" rutuk Harley. Ia rasa hanya membuang waktu bertanya pada mereka. Harley dengan cepat memasuki mobilnya meninggalkan gedung apartemen tersebut, hingga kendaraan itu berpacu membelah jalanan sepi di bawah langit gelap dini hari.


Berbekal ponsel dan peralatan canggih lain di mobil, Harley diburu waktu untuk menemukan Alisandra.


"Kenapa kamu selalu membuatku khawatir, gadis kecil?" bisik Harley cemas.


"Apa yang akan kau lakukan di luar sana? Ini Kanada, bukan Amerika tempatmu tinggal."


Harley benar-benar dibuat tak habis pikir. Ia berpikir Sandra tak akan macam-macam karena gadis itu sedang sakit, ditambah kejadian tempo hari masih meninggalkan kewaspadaan.


Tapi ternyata Harley salah. Sandra jauh lebih nekat dari yang ia duga.


"Aku berharap kamu tidak mengalami sesuatu yang buruk, Alisandra."


...🍁🍁🍁...