Little Alisandra

Little Alisandra
15. A Small Liar



"Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil peralatan sekolahmu, termasuk buku pelajaran sesuai jadwal. Kamu dan Bianca berangkat saja, aku pastikan barangmu datang tepat waktu."


Sandra bergeming mendengar perkataan Harley. Jadi, lelaki itu minta bertemu untuk membicarakan ini dengannya? Entah kenapa Sandra sedikit kecewa, meski ia juga bingung seandainya Harley tahu alasan ia pergi.


Sandra mengangguk saja. "Oke," ucapnya singkat. Ia bahkan tak sekalipun menatap Harley di depannya, yang justru tak berhenti memperhatikan Sandra dengan lekat.


Sandra bersidekap santai menatap halaman samping rumah Bianca yang ditumbuhi beberapa tanaman hias. Saat ini mereka tengah berdiri di koridor, sampai akhirnya pelayan datang memberi tahu bahwa sarapan sudah siap.


"Tuan, Nona, Mr. Reese meminta kalian untuk segera bergabung di meja makan," ucap si pelayan.


Harley maupun Sandra mengangguk. Sandra berniat mengikuti pelayan itu ketika Harley memanggil namanya. "Sandra."


Sandra berhenti. Ia berbalik kembali menghadap Harley yang seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ragu. Lelaki itu menatap Sandra dengan seksama.


"Why?" Karena sudah hampir sepuluh detik tak ada suara, Sandra pun bertanya. "Apa yang ingin kau katakan, Haly?"


Harley membuang nafasnya panjang. Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap Sandra penuh makna. "Jangan lakukan itu lagi. Membahayakan diri seperti tadi."


Lelaki itu pun maju, melangkahkan kakinya mendekat. Tangannya terangkat menyentuh puncak kepala Sandra dengan halus. "Aku hampir mati melihatmu dalam bahaya."


Harley tersenyum kecil, menepuk rambut Sandra sebelum kemudian beranjak melewati gadis itu yang mematung.


Sandra terdiam, ia perlahan berbalik menatap punggung Harley yang menjauh. Lelaki itu sempat menoleh sebentar dan melempar senyum, lalu mengeluarkan ponsel dan bicara pada seseorang ketika sudah jauh.


Harley ingin privasi. Sandra tahu itu, karena sebelumnya tak masalah jika Harley menelpon di sampingnya, kecuali masalah rahasia menyangkut pekerjaan dari Gibran.


Tapi, melihat Harley barusan, ia tidak seperti sedang bicara dengan sang daddy maupun rekannya yang lain.


"Apa kamu sedang menelpon Ms. Bennet, Haly?" tanya Sandra lirih, memandang datar bayangan Harley yang menghilang ditelan kejauhan.


Sandra mengepalkan tangannya erat, sebelum kemudian masuk memenuhi panggilan makan dari keluarga Bianca.


***


Sepanjang hari Sandra hanya diam. Ia seolah malas bicara, bahkan dengan Bianca sekalipun. Bianca sepertinya paham Sandra sedang dalam kondisi hati yang tidak baik, ia pun membiarkannya dan mengobrol dengan teman-teman sekelasnya yang lain.


"Hey, apa kalian tahu Jiny mau mengadakan party?"


"What party?"


"Entahlah, hanya bersenang-senang, seperti biasa. Kalian mau ikut? Jika iya, jangan lupa bawa baju renang, party-nya diadakan di taman belakang rumahnya yang ada kolam renang. Well, kalian pasti mengerti maksudku." Teman sekelas Bianca itu mengedipkan mata penuh arti.


"Owh, aku sudah tidak sabar. Di sana pasti banyak pria-pria tampan dan panas. Membayangkan aku akan bercinta dengan satu atau dua orang dari mereka membuat pusat intimku berkedut. Ouch, sialan."


"You bi-tch!"


"Hahaha ..."


"Hey, ajak Sandra juga."


Bianca berkedip ketika si teman menepuk lengannya, ia melirik Sandra yang sibuk menyendiri dengan ponselnya. Bianca pun meringis bingung.


"Aah ... lihat nanti saja, hehe." Ia hanya bisa menjawab demikian karena tidak bisa memutuskan, pun Sandra memiliki keluarga yang sangat posesif, tak beda jauh dari Bianca sendiri sebenarnya.


Bel masuk berbunyi. Jam pelajaran kedua pun berlangsung membosankan seperti biasa. Semua siswa hanya menopang dagu dan menatap malas pada guru di depan. Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar serius belajar.


Bianca menoleh pada Sandra di sampingnya. Iseng ia menjulurkan kaki dan menendang pelan sepatu Sandra.


"Sshhh! Hey!"


Sandra menoleh mendengar bisikan Bianca. Ia mengangkat alis guna bertanya, sambil sesekali melirikkan mata pada guru di depan.


"What?" tanya Sandra balas berbisik.


"Kau ada waktu malam ini?"


Sandra mengernyit. "Kenapa?"


"Kau mau ke party?"


"Party?"


"Hm." Bianca mengangguk. "Party di rumah Jiny. Pasti seru. Ayo pergi?"


Sesaat Sandra pun berpikir. Sudah lama sekali Sandra tak pernah ikut pesta-pesta bersama temannya. Pesta terakhirnya saat sweet seventeen berakhir kacau karena kemarahan Gibran. Dan setelah itu Sandra sendiri tak begitu minat menghadiri acara-acara yang dilakukan temannya.


Tapi, kali ini Sandra sedang ingin kebebasan. Namun ia juga takut kejadian dini hari tadi terulang andai ia keluar sendiri bersama Bianca.


Tapi, kalau bawa pengawal pun sepertinya mustahil Sandra akan mendapat izin. Harley pasti tidak memperbolehkannya untuk pergi.


"Bagaimana?" bisik Bianca memastikan. "Kau menginap saja di rumahku. Jangan khawatir, aku akan bawa pengawal untuk menjaga kita. Poppa pasti mengizinkan."


Sandra menoleh pada Bianca yang tampak sangat berharap.


"Lihat nanti saja," putusnya tak jelas.


Bianca pun menyerah. Ia menipiskan bibir berusaha mengerti. "Oke. Beri tahu aku kalau kita jadi pergi."


***


Harley yang tengah bersandar di badan mobil dan menunggu Alisandra keluar, seketika terhenyak saat seseorang tiba-tiba menarik tangannya menjauhi parkiran.


Seseorang itu menyentak Harley ke sebuah dinding di belakang sekolah, lalu menciumnya dengan sangat menggebu.


Namun Harley segera mendorongnya menjauh dengan pelan. "Ini sekolah," ucapnya datar.


Phoebe berdecak. "Kau sulit ditemui. Kita hampir tidak pernah memiliki waktu berdua," ucapnya kesal.


"Tapi pekerjaanku tidak serepot dirimu yang harus stay selama 24 jam. Apa itu tidak berlebihan?"


Harley membuang nafasnya berusaha sabar. "Semua pekerjaan memiliki konsekuensi masing-masing. Jangan samakan pekerjaanmu dan pekerjaanku yang jelas berbeda."


"Tapi kita juga memerlukan waktu. Apa bosmu begitu jahat sampai tidak peduli pada pengawalnya?"


"Jaga mulutmu, Phoebe Bennet," desis Harley tajam, pun mata pria itu kini menghunus perempuan di hadapannya.


Phoebe yang ditatap seperti itu pun seketika ciut dan tergagap. "A-aku hanya menyuarakan apa yang kupikirkan."


"Tidak semua yang kau pikirkan bisa diterima orang lain," tegas Harley. "Aku bekerja atas keinginanku. Sebelum menyetujui perjanjian profesi, aku sudah menerima semua ketentuan yang tertulis, dan aku bertanggung jawab akan itu."


Diam. Phoebe dibuat bungkam dan tak tahu harus bicara apa. Mereka sama-sama tak membuka suara untuk beberapa saat, hingga Phoebe kembali berkata.


"Lalu untuk apa kau menjadikanku kekasihmu? Untuk apa kau mengajakku menjalin hubungan, kalau nyatanya kita sama sekali tak bisa menikmati kebersamaan seperti pasangan lain?"


Perempuan itu mendongak menatap Harley. Harley pun terdiam balas menatapnya. Tak lama ia menarik nafas dalam sambil memijat keningnya sesaat.


"Aku pikir kamu bisa mengerti, tapi ternyata sama saja seperti yang lain," gumamnya seraya membuang muka. "Maaf, karena tak bisa memenuhi ekspektasimu sebagai pasangan. Lebih baik kita sudahi kalau kamu lelah," lanjutnya datar.


Harley lalu beranjak berniat pergi dari sana, namun Phoebe segera menahan pria itu hingga berbalik menghadapnya kembali.


"Oke, aku mengerti. Aku akan coba mengerti. Jangan akhiri hubungan kita," ucap Phoebe menyerah. "Dan aku juga minta kamu bisa lebih menghargai perasaanku walau sedikit."


Harley terdiam menatap wanita itu lekat. "Hem," gumamnya setuju.


Phoebe tersenyum. Ia pun menjinjitkan kakinya mencium Harley lagi, dan kali ini tak ada penolakan. Harley mencoba membalas walau terkesan seadanya.


Entahlah, semua ciuman yang ia rasakan dari wanita manapun terasa hambar.


"Aku merindukan kebersamaan kita saat pertama kali," bisik Phoebe penuh arti. Harley paham ke mana arah pembicaraan wanita itu, dan ia menipiskan bibir sebagai respon.


Di sisi lain, Sandra yang baru mengakhiri kelasnya, diminta guru untuk membantu membawakan peralatan bekas praktek mereka ke ruang penyimpanan. Di ruangan itu pula, Sandra terpaku melihat pemandangan di belakang sekolah melalui jendela. Tubuhnya membatu tak bisa bergerak untuk beberapa saat.


"Sandra, keluarlah, pintunya akan saya kunci!" Seruan dari Mr. Brown berhasil menyadarkan Sandra, hingga ia segera berkedip dan lekas berbalik keluar ruangan tersebut.


Sandra melangkah tergesa dengan nafas terasa berat. Pandangannya sedikit tak fokus, pun otaknya terpaku pada kejadian yang ia lihat barusan.


Ketika sampai di parkiran, Sandra mematung. Ia tak mendapati Harley di sana, itu berarti apa yang dilihatnya memang benar.


"Kau tidak jadi ke toilet dulu? Kenapa cepat sekali?" Bianca yang rupanya belum pulang pun bertanya heran, karena sebelumnya Sandra sempat berkata akan mampir buang air kecil setelah mengantar peralatan.


Sandra tak menjawab. Tak lama ia mendengar suara langkah kaki yang berlari kecil dari belakang.


"Kau sudah keluar? Mau pulang sekarang? Maaf, tadi aku ke toilet dulu." Itu suara Harley.


Tanpa sadar Sandra pun mendengus samar, dan hal tersebut tak luput dari perhatian Bianca yang kini mengerutkan keningnya heran.


Harley jelas-jelas telah berbohong, dan itu membuat Sandra merasa muak.


"Masuklah," ucap Harley, usai ia membuka pintu penumpang belakang di mobilnya untuk Sandra.


Namun tanpa diduga Sandra justru berjalan ke arah Bianca. "Aku akan menginap di rumah Bianca. Kami ada tugas kelompok yang harus dikerjakan."


Suara Sandra yang terdengar dingin membuat Bianca mengangkat alis. Apa pula kerja kelompok? Ia tidak merasa ada tugas kelompok minggu ini.


Bianca menatap bergantian pada Sandra dan Harley, saat itu pula ia tahu ada yang tidak beres antara keduanya.


Harley terdiam, menatap Sandra bertanya-tanya. "Kenapa mendadak sekali?" Ia lalu menatap ke arah Bianca, mencoba memastikan kebenaran alasan Sandra.


Bianca yang ditatap pun langsung gelagapan. "A-ah ... i-iya, itu benar."


Sialan, kenapa Bianca harus ikut-ikutan berbohong? Tapi isyarat mata yang Sandra berikan padanya tak bisa Bianca abaikan. Haish.


Sesaat suasana di antara mereka pun hening. Harley tampak diam berpikir menatap anak majikannya dengan seksama.


"Tapi ..."


"Uncle tidak perlu khawatir. Rumah Bianca tak kalah memiliki penjagaan yang ketat. Aku akan aman," tukas Alisandra.


Harley pun membuang nafas, ia lalu mengangguk dengan pelan. "Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Harley menyetujuinya begitu saja?


Sandra pun mendengus, sedikit tersenyum miring. Ia menatap Harley lama sebelum kemudian membuang muka.


Sandra memutuskan berbalik memasuki mobil Bianca, yang sudah ada supir menunggu mereka di sana. Bianca juga turut masuk ke mobilnya dengan perasaan heran.


"Kamu pasti senang, kan, Haly? Apa setelah ini kamu akan berkencan dengan Ms. Bennet?" dengus Sandra dalam hati.


Mobil yang membawa Sandra dan Bianca pun pergi meninggalkan Harley. Lelaki itu memandang lekat hingga kendaraan tersebut menghilang di antara hiruk-pikuk jalan.


"Jadi tuan putrimu itu mau menginap di rumah temannya?" Tiba-tiba suara Bennet terdengar di belakang Harley. "Itu berarti kita bisa pergi bersama, kan?"


...🍁🍁🍁...





...Si mulut petasanπŸ˜†...