
"Woaaah ... sambal cumi!" Allison berseru girang begitu ia membuka koper milik Gabriel yang bukan hanya berisi rendang saja, melainkan ada beberapa lauk khas Indonesia yang semuanya dikemas dalam bentuk toples.
"Uncle memang the best! Dia paling mengerti apa yang kuinginkan. Tidak seperti Daddy. Huh, pria banyak aturan itu hanya perduli pada Mommy." Allison tersenyum senang memeluk toples-toples itu. Namun ia juga menggerutu mengingat ketidakacuhan Gibran padanya.
Alisandra yang mendengar diskriminasi itu pun menyahut datar. "Kau pikir sepatu yang sekarang kau pakai bukan dari Daddy? Berhenti membandingkan. Daddy banyak mengatur karena sayang pada kita."
Allison mendelik. "Tumben kakak membela Daddy? Bukankah kau juga sering dihukum olehnya?"
Alisandra membuang nafas. Ia menutup botol berisi infused water yang baru saja diminumnya, lalu melenggang keluar dapur tanpa sekalipun menghiraukan Allison.
Hal itu membuat Allison mendengus. Ia lupa kalau Alisandra adalah titisan Gibran kedua. Sifat tegaan dan tak acuh itu, dari siapa lagi kalau bukan menurun dari Gibran Wiranata?
"Huh, dilihat dari mana pun, Mommy tetap yang paling baik." Allison kembali sumringah saat berkutat dengan isi koper Gabriel yang penuh lauk Nusantara. "Oohhh anak-anakku. Dante, take my kids to the car!" titahnya pada Dante, yang langsung dituruti pria jangkung itu.
Sementara di sisi lain, Alisandra yang hendak kembali ke balkon, terdiam sejenak melihat Gabriel dan Harley yang duduk bersisian di sofa. Kedua lelaki itu membelakangi Sandra yang berdiri di ambang pintu geser.
Sandra tidak bisa melihat ekspresi mereka, tapi ia bisa menebak bahwa yang dibicarakan merupakan hal serius.
Seolah menyadari kehadiran Sandra, Harley lekas beranjak dari sisi Gabriel. Ia berbalik dan sempat beradu pandang dengan Sandra yang menatapnya penasaran.
Gabriel yang melihat Harley berdiri pun segera mengerti. Wajahnya dengan cepat menghangat saat menoleh pada sang keponakan. "Sudah dapat airnya?"
Sandra mengangguk, menunjukkan botol di tangan. "Hm." Matanya mengikuti Harley yang masuk melewatinya. "Kau mau ke mana?"
Harley berhenti, ia melirik sebentar pada Gabriel yang tak lepas memperhatikan mereka, lalu pada Sandra yang menunggu jawaban. "Minum," ujarnya singkat, lalu pergi.
Padahal Sandra hendak menawarkan botol di tangannya. Lama Sandra menatap punggung Harley yang menjauh, hingga suara kekehan Gabriel berhasil mengalihkan perhatian Sandra dari pria itu.
"Sweetheart, apa kau sudah punya pacar?"
Sandra menggeleng pelan. "Belum. Kenapa?" Ia mendekat dan duduk di sebelah sang paman, yang langsung merangkulnya begitu bersandar.
"Kau tidak iri melihat teman-temanmu berkencan? Ayolah, Manis, kau sudah tujuh belas tahun."
Sandra memutar matanya malas. "Daddy akan berubah jadi Moru jika aku pacaran."
Apa yang dikatakan Sandra tidak salah. Gibran sangat posesif, baik itu pada istri maupun anak. Jika Maria sudah terbiasa dengan kegilaan suaminya, maka Sandra dan Allison pun secara otomatis beradaptasi dengan perangai ayah mereka.
Menyadari hal itu, Gabriel Wiranata tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak. Sesekali ia menggeleng, seolah mengejek sikap kakaknya yang menurutnya begitu kampungan.
"Hahaha ... oke, aku tidak akan bertanya seberapa kunonya dia. Hahaha ... oh, astaga, aku bahkan diam saja melihat Orion berciuman dengan teman sekelasnya. Ya Tuhan, daddy-mu itu hidup di jaman apa sebenarnya?" ujar sang paman geli, sembari tertawa dan menggeleng-geleng.
Sandra hanya mengendik tidak tahu. Jujur saja, ia tidak begitu masalah dengan sikap posesif daddy-nya, karena Sandra juga tak ada niat menjalin hubungan dengan pria mana pun.
Bahkan setelah Harley menolaknya, Sandra tidak yakin ia bisa menyukai pria lain.
***
Malam harinya mereka sudah kembali ke Toronto. Penthouse yang biasanya memang sepi, entah kenapa terasa lebih sepi ketika Sandra terbangun dan memasuki dapur.
Sandra haus, ia lupa bawa air minum ke kamar. Alhasil meskipun malas, Sandra harus mengambil sendiri kebutuhannya tersebut.
Ia mengernyit sekaligus bertanya-tanya dalam hati. Apa pelayan lupa mematikan semua lampu?
Karena penasaran Sandra pun meletakkan gelasnya di meja bar, lalu memilih memeriksa ke sana. Lorong itu mengarah pada dua ruangan berbeda. Ruang olahraga dan latihan seni beladiri, yang sering Harley atau Dante gunakan untuk melatih Sandra maupun Allison.
Kedua ruangan tersebut didominasi kaca transparan hingga terlihat dari luar. Dan Sandra tahu, bahwa ruang olahraga sedang kosong. Tidak ada siapa pun di sana, pun lampu kedua ruangan itu sama-sama padam.
Beralih dari ruang olahraga, Sandra kini mendekati ruang latihan yang letaknya berseberangan. Ia melongokkan kepala, mengintip ke dalam melalui pintu kaca.
Meski remang dan gelap, Sandra masih bisa melihat sebuah pergerakan di dalam sana. Siluet tubuh kekar dan tinggi itu tengah meliuk-liuk mengayunkan senjata di tangan. Gerakannya sangat gesit dan memukau. Sampai-sampai, Sandra tidak sadar berdecak saat menyaksikannya.
Dalam sekali lihat pun Sandra sudah tahu bahwa itu adalah Harley.
Sedang apa dia di sana? Kenapa belum tidur?
Pelan tapi pasti, Sandra mencoba membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Kini ayunan dan gerakan senjata itu terdengar jelas di telinga Sandra.
Kakinya yang tak mengenakan sandal pun mendekat, berjinjit perlahan hingga ia tiba di belakang Harley.
Sandra mengamati lekat punggung lebar Harley yang terkesan liat. Otot-ototnya meregang setiap kali lelaki itu membuat pergerakan. Tubuhnya yang tak memakai atasan membuat Sandra bisa melihat dengan jelas keringat yang mengkilap di permukaan kulitnya.
Harley hanya mengenakan celana bahan panjang berwarna hitam yang Sandra lihat seharian ini. Itu berarti Harley belum mandi. Ia juga melihat adanya kemeja yang tersampir di tempat senjata.
Menelan ludah, Harley terlihat begitu menawan meski dalam kondisi ruangan yang remang sekalipun.
Sandra tak bisa mengelak bahwa pikiran-pikiran tak senonoh itu terkadang datang. Ia gadis normal dan masih dalam masa pubertas. Tentu saja, alasan lainnya karena ia menyukai Harley.
Harley memiliki tinggi lebih dari seratus delapan puluh, lebih tinggi dari ayahnya yang memang standar orang-orang Asia. Melihat Harley dalam kondisi seperti itu, wajah Sandra pun memanas dan berkeringat.
Sial, ini terlalu menggoda.
Terlalu larut dalam lamunan dan kekagumannya pada tubuh Harley, Sandra terkesiap saat tiba-tiba saja ayunan pedang itu mengarah padanya, dan berhenti tepat di samping leher.
Tentu saja, tubuh Sandra mematung dengan nafas terhenyak. Ia melirik pelan mata pedang yang mengkilap di lehernya, lalu menaikkan pandangan hingga bertemu tepat dengan mata tajam Harley. Entah sejak kapan lelaki itu berbalik, pun jarak mereka hanya terpaut sekitar satu meter atau lebih.
Bergerak sedikit saja, leher Sandra pasti terluka.
"Sedang apa kau di sini?" Suara Harley terdengar dingin. Sandra sampai menggigil mendengarnya. Ini tidak seperti Harley yang biasa berinteraksi dengannya. Harley di depannya kini tampak asing.
"H-Haly ..."
Cresss.
Sandra memejamkan mata saat rasa perih itu datang mengiris lehernya. Detik berikutnya denting senjata yang menghantam lantai terdengar, disusul Harley yang langsung mendekat dan secara refleks menyesap leher Sandra.
Belum lepas rasa terkejutnya dari luka, kini Sandra dibuat terpaku oleh hisapan bibir Harley yang terasa hangat dan panas.
Mommy ... aku harus sedih atau senang? Jerit Sandra dalam hati.