Little Alisandra

Little Alisandra
36. Talks



"Uncle El?!" Sandra berseru tak menyangka melihat keberadaan seseorang di depannya.


Gabriel Wiranata tersenyum lebar sambil merentangkan tangan, bersiap menyambut Alisandra ke dalam pelukan. "Hello, Sweetheart? How are you?"


Tak butuh waktu lama untuk Sandra berlari dan melompat pada sang paman. Gabriel tertawa senang mendekap Alisandra yang memeluknya seperti koala. Ia menciumi kepala Sandra penuh sayang.


"Kau sangat merindukanku rupanya. Jika daddy-mu melihat ini, dia akan iri. Haha ..."


"Uncle, kau ke mana saja? Aunty Valen juga lama tak ada kabar. Apa Daisy kecil membuat kalian lupa padaku?" rengut Sandra dengan bibir mengerucut.


Gabriel lagi-lagi terkekeh. "Jangan cemburu, Sayang. Bayi kecil sama sekali tak mengurangi rasa sayang kami padamu. Kami hanya belum sempat bertemu kalian. Kau tahu, kan, bibimu butuh pemulihan selama beberapa bulan untuk bisa bepergian."


Sandra mencebik sembari melepas pelukan. Ia tak menolak saat Gabriel merangkul lehernya dan mengacak rambutnya pelan. Lelaki itu mengajak Sandra ke balkon. Suite room yang ditinggalinya sementara selama di Amerika.


"Uncle, kau sendirian? Kenapa tidak menginap bersama Daddy saja?" Sandra bertanya ketika mereka sudah duduk di sebuah sofa.


Harley yang sedari tadi diam tak berhenti mengekor, dan kini berdiri beberapa meter sembari mematik rokok.


"Uncle ada bisnis di Houston, sekalian mampir kemari untuk bertemu denganmu dan Allison. Terlalu jauh jika harus ke Toronto, jadi Uncle minta Harley untuk mengantarmu ke sini. Tapi Allison sepertinya masih di sekolah? Dante bilang seperti itu," jelas Gabriel. "Dan untuk daddy-mu, tadi kami sempat bertemu di perjamuan. Dia sedang buru-buru, jadi tidak bicara lama."


Kening Sandra berkerut. Allison masih di sekolah? Ia kira sudah pulang.


"Kalian ada satu pertemuan?" Menyadari Gabriel sempat bertemu ayahnya, Sandra pun penasaran. Ia memang kurang tahu mengenai jadwal pekerjaan sang daddy. Yang ia tahu lelaki itu sangat sibuk meski di hari libur.


"Hem." Gabriel mengangguk santai. Ia bersandar sambil minum sesuatu yang sepertinya berupa alkohol. Sandra ingin minta, tapi hunusan mata Harley membuatnya urung.


Harley, pria itu menumpukan tangan di balkon dengan asap rokok mengudara di sekitarnya. Dia terlihat tak acuh, tapi sebenarnya mengawasi Sandra dengan ketat.


"How's aunty?" Sandra memilih mengalihkan topik. Ia tidak bisa lama-lama menatap Harley. Ia benar-benar butuh pengalihan untuk tak terus mengagumi pria itu.


"Baik. Ia sibuk mengurus Daisy sekarang."


"Orion?"


"Si sulung sedang sibuk untuk persiapan olimpiade."


Sandra mengangguk paham. "Allison juga sibuk dengan club basketnya. Syukurnya Daddy tak perlu marah-marah gara-gara musik."


Gabriel tertawa hingga kepalanya mendongak. Ia menggeleng geli mengingat ketidaksenangan Gibran terhadap jenis musik yang Allison sukai.


"Daddy kalian terlalu kuno. Harusnya dia tak perlu sampai begitu. Membatasi kemampuan anak juga tidak baik," ujarnya berdecak.


Sandra hanya mengangkat bahu tak peduli. Tak lama kedatangan dua orang yang ditunggu pun mengalihkan semua atensi.


"Yuhuuu ... buddies! How's you all, huh? Oh my god! Aku merasa terhormat karena kalian semua menungguku. Woho!"


Tidak ada yang memiliki mulut paling berisik selain Allison. Sandra sampai memutar matanya malas sambil membuang muka. Sementara Gabriel tertawa geli geleng-geleng kepala.


"Siapa juga yang menunggunya?" gumam Sandra mencibir.


Allison bersama Dante. Keduanya mendekat, dan Allison langsung meloncati punggung sofa yang diduduki Gabriel hingga kini ia berada tepat di samping sang paman. Dante? Tentu saja pemuda itu memilih menghampiri Harley yang sedang merokok.


"Oh, Ya Tuhan. Sepertinya sebentar lagi musim panas. Tubuhku gerah sekali," sungut Allison, mengibas-ngibas kerah jersey di lehernya. Ia juga merebahkan kepala di pangkuan Gabriel.


"Itu karena kau baru saja main basket, Boy." Gabriel terkekeh menatap keponakannya.


"Ya, mungkin begitu. Ah, sial, aku benci kegiatan melelahkan ini."


"Unfortunately, your dad really like it very much."


"Yeah, damn it. Dan kenapa aku harus ikut hobinya? Hey, aku ingin bernyanyi, bukan melatih otot, oke?"


"Melatih fisik juga penting, Boy." Gabriel nampak tak setuju.


Sementara Allison kembali mendengus. "Harley sudah cukup menyiksaku dengan latihan. Saking kuatnya aku selalu tidak sengaja mematahkan tulang temanku."


"Hahaha ..."


Gerutuan Allison selalu menjadi penghibur tersendiri bagi Gabriel.


"Mommy-mu pasti semakin resah jauh darimu, haha."


"Of course, dia selalu menelponku setiap jam hanya untuk mengingatkan agar aku tak berbuat ulah."


"How's little Daisy? Rasanya aku rindu bunga kecilku itu. Tapi aku tidak ada waktu menengoknya." Allison merengut.


Berbeda dengan Sandra yang kerap cemburu dengan bayi mungil itu, Allison justru gemas ingin menciuminya lagi dan lagi. Mungkin karena dia anak bungsu. Perasaan ingin memiliki adik begitu besar ketimbang Alisandra yang sudah merasakan.


Dulu Alisandra senang, tapi setelah tahu punya adik tak seseru itu, ia jadi kesal sendiri. Terlebih adiknya tipe cerewet seperti Allison.


"Daisy sedang belajar merangkak. Bukankah bibimu sering berbagi video?"


"Ya, tapi aku belum puas jika belum menciumnya."


Gabriel tertawa mengusap rambut Allison yang berantakan. "Jika kau bukan keponakanku, mungkin aku akan mengira kau menyukai bayiku. Jangan terlalu sering menciuminya, aku khawatir kau jatuh cinta padanya."


Entah kenapa perkataan Gabriel seolah menyindir seseorang. Tak pelak matanya melirik Harley yang masih berdiri tak acuh di samping Dante. Pria itu membelakanginya sembari merokok. Tapi Gabriel tahu pasti, pria itu mendengar ucapannya barusan.


"Omong kosong. Aku menyukai wanita seksi, bukan balita gendut yang pakai diapers," sungut Allison.


Sudut bibir Gabriel melengkung membentuk sebuah senyuman. "Baguslah."


Ia lalu beralih menatap Sandra yang sibuk dengan ponsel, pun Allison yang masih uring-uringan karena gerah.


"Pergilah ke dapur. Ada infused water di sana. Siapa tahu bisa meringankan dahaga kalian," ucap Gabriel pada keduanya. "Kalian baru selesai latihan, pasti butuh yang segar-segar. Ayo, tunggu apa lagi? Dante, temani mereka."


Mendapat titah tersebut, Dante pun beranjak. Begitu pula Alisandra yang memang merasa haus sejak tadi.


"Boy ..." Gabriel menegur Allison yang masih asik berbaring di pahanya. "Uncle punya rendang. Kalau tidak mau, Uncle bawa lagi ke Indonesia," tambahnya, membuat Allison segera bangkit dengan mata berbinar.


"Rendang?!"


Gabriel mengangguk sembari mengulum senyum.


"Okay! I like this! Rendang, i'm comiiing ..."


Gabriel terkekeh, menggeleng melihat keantusiasan Allison terhadap makanan Indonesia itu. Anak itu berlari cepat, melesat mendahului Sandra dan juga Dante, sampai-sampai mereka terkejut karena Allison menyenggol Sandra hingga hampir jatuh.


"Sialan anak itu," desis Sandra kesal.


Dante turut berlari karena khawatir Allison terjerembab. Anak itu kadang ceroboh jika sedang semangat. "Tuan Muda!"


"Tuan Muda, Tuan Muda, Tuan Muda." Alisandra mencibir geli sambil menghentak kaki.


Gabriel yang sempat menoleh ke belakang pun tertawa. Sementara itu, Harley mematikan rokok dan hendak menyusul ketiganya.


Namun panggilan Gabriel membuatnya berhenti seketika.


"Harley, aku ingin bicara denganmu."


Harley menoleh. Pun keduanya saling pandang cukup lama, dan Harley tahu Gabriel akan membicarakan sesuatu yang serius.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


...Harley Ijackson...




...Allison Wiranata...



...Gabriel Wiranata (bayangin aja umurnya udah agak tuaan ya gais)...



...Dante Sahores...



...Itu si Koko lagi ama cewek, anggap aja Maria ya gais. Jangan cemburu pliiisss๐Ÿ˜ญ...