
Penthouse | Toronto, Ontario, Kanada.
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam dari Rochester, akhirnya mereka tiba di Toronto. Meski harus melintasi perbatasan negara antara Amerika dan Kanada, namun untuk saat ini tempat tersebut yang dianggap paling aman oleh Gibran.
Lelaki itu tidak mungkin membiarkan Sandra dan Allison tetap berada di New York setelah kejadian beberapa jam lalu. Dan mungkin saja, kedua remaja itu harus pindah sekolah demi efektivitas waktu.
Harley menyesap rokok dan menghembuskan asapnya hingga mengudara. Matanya menatap hamparan lampu yang menyala. Danau Ontario tampak jelas di bawah sana, memantulkan cahaya indah sebagai refleksi dari sejumlah bangunan tinggi yang mengelilinginya.
Ketenangan Harley terganggu oleh suara langkah kaki yang mendekat. Harley menoleh, dan ia mendapati Alisandra berdiri di belakangnya. Gadis itu kemudian mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya, turut menumpukan tangan di pembatas balkon yang terbuat dari kaca.
Mata Alisandra ikut memperhatikan penampakan kota di bawah mereka. Ia tak mengatakan apa pun, hanya sesekali menghela nafas sambil menikmati angin yang berhembus mengusik anak rambutnya.
"Kenapa belum tidur?" Harley bertanya. Ia mematikan rokok yang dihisapnya dan membuang puntung tersebut dengan cara melemparnya ke tong sampah tak jauh dari mereka.
Alisandra menggeleng. Ia tampak tenang, namun juga seperti tengah berpikir.
"Tidurlah. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum berangkat sekolah," titah Harley. "Atau kau berubah pikiran, Nona?" Ia menoleh. "Ibumu akan senang jika kau istirahat saja di rumah."
Alisandra menggeleng. "Aku tidak mau meninggalkan ujian."
Harley tak bicara lagi. Ia tak bisa mengubah keputusan Alisandra. Meski terkadang nakal dan banyak tingkah, tapi gadis itu cukup disiplin dan ambisius mengenai nilai.
Mereka sama-sama terdiam. Malam berangsur pergi, dan kini sudah dini hari. Alisandra lalu menoleh pada Harley, memperhatikan lelaki itu dengan seksama.
Harley yang merasa diperhatikan pun ikut menoleh menatap gadis itu. "Ada apa?"
Sandra tak menjawab, namun tangan rampingnya terulur menyentuh mantel coat yang masih melekat di tubuh Harley.
Harley menunduk melihat tangan Alisandra di sana. Ia lalu menahan pergerakan Alisandra yang hendak menyibak kain tersebut. "Apa yang mau kau lakukan?"
Sandra mendongak. "Kamu terluka, kan, Haly?" tanya gadis itu pelan.
Harley terdiam. Ia tidak tahu kenapa Alisandra tiba-tiba bertanya demikian.
"Tidak," jawab Harley. "Istirahatlah. Kamu perlu energi sebelum besok mengikuti ujian," lanjutnya lagi, melepas tangan Alisandra dari mantelnya.
Namun memang dasar gadis itu keras kepala, bukannya menuruti Harley, ia malah menyibak cepat mantel lelaki itu hingga menampilkan kemeja di dalamnya.
Alisandra mengamati kemeja hitam yang membalut pas tubuh atas Harley. Ia menyentuhkan jarinya di sana, meraba perut hingga dada, bahkan sampai merogoh ke punggung.
Harley menghela nafas panjang mendapati itu. Matanya terpejam sebentar melihat apa yang dilakukan Alisandra.
"Nona," panggilnya menunduk.
Sandra mendongak. "Jelas-jelas kau terluka karena melindungiku dari pecahan kaca tadi."
"Hanya luka kecil, tidak perlu dikhawatirkan. Aku akan mengobatinya nanti."
Sandra menggeleng. "Aku akan mengobatimu. Kau akan kesulitan mengobati yang di belakang."
Entah sudah berapa kali Harley membuang nafas. Alisandra dan kengototannya sangat sulit dihindari.
"Kau harus istirahat," ujar Harley.
"Aku tidak akan bisa istirahat kalau kau belum diobati," kekeh Sandra.
"Nona," lelah Harley dengan suara datar.
"Kau tidak boleh membantah majikanmu, Haly."
"Oke, kamu menang, little girl," putus Harley pada akhirnya.
Sandra tersenyum puas. Ia menarik Harley masuk, mereka meninggalkan balkon dan kini berakhir di kamar Alisandra.
Harley berdiri diam menunggu gadis itu mengambil kotak obat. Ia melepas mantel yang dipakainya, lalu melemparnya ke arah sofa di sana.
"Bukalah kemejamu, Uncle."
Harley berbalik. Alisandra tengah sibuk melihat-lihat obat dan berbagai macam salep serta antiseptik di sana. Ia pun melepas satu persatu kancing, lalu menyibak kemeja tersebut hingga meninggalkan tubuhnya.
Sandra yang menemukan cairan pembersih luka dan baru saja mendongak hendak mulai mengobati, malah terpaku tak bergeming. Gadis itu tak berkedip melihat tubuh atas Harley yang terbuka.
"Kenapa diam?" tegur Harley.
Alisandra pun mengerjap dan tanpa sadar menelan ludah. Ia yang tadi begitu ngotot ingin mengobati Harley, malah dibuat kikuk sendiri melihat otot-otot lelaki itu yang menonjol.
Padahal ini bukan pertama kali Sandra melihat Harley topless. Bertahun-tahun tinggal bersama tentu banyak hal yang sudah diketahui Sandra dari Harley.
Perlahan Sandra mendekatkan kakinya hingga berhenti tepat di depan lelaki gagah itu. Ia mengangkat tangannya pelan menyentuh sejumlah luka gores di perut Harley, menyekanya dengan kapas yang sudah dibasahi oleh cairan pembersih.
Ia juga beralih ke belakang punggung Harley dan melakukan hal serupa. Mengoleskan antiseptik, lalu sebuah salep yang bisa mempercepat penyembuhan.
Selesai dengan semua itu, Sandra tak lantas berpindah dari tempatnya. Harley yang tidak lagi merasakan pergerakan di belakang pun menoleh, melihat Alisandra yang betah terdiam menatap punggungnya.
"Sudah selesai?" Harley bertanya.
Sandra mengerjap seolah tersadar, ia pun menjawab sambil balas menatap Harley. "Kau punya banyak bekas luka. Dari dekat, semuanya lebih jelas. Sebelumnya aku hanya melihat tubuhmu sekilas," ucap Sandra pelan.
Harley tak membalas ucapan Sandra, ia memakai lagi kemejanya, lalu mengancingnya hingga rapi kembali.
"Sudah selesai, kan? Istirahatlah," ucap Harley.
"Kau mau ke mana?" Sandra bertanya pada Harley yang sudah berada di ambang pintu hendak keluar.
Lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. "Aku akan tetap di sini menjaga kalian."
Harley tahu, Sandra khawatir dirinya pergi jauh dari penthouse ini. Ia tentu tak akan melakukan itu, di saat semua penghuni masih diliputi kekhawatiran.
"Oh, oke," gumam Sandra. Ia tak menahan lagi kepergian Harley dari kamarnya. Sandra lantas bergeming, tak perduli pada waktu yang terus beranjak mendekati pagi, nyatanya mata Sandra tak kunjung bisa terpejam.
***
Sebelum langit benar-benar terang, Sandra dan Allison sudah harus berangkat ke sekolah. Perjalanan dari Toronto ke Rochester tentu memakan waktu tidak sedikit, hal yang memungkinkan mereka terlambat jika tak cepat-cepat bersiap.
Allison yang biasanya masih malas-malasan di jam seperti ini, mengerucutkan bibir karena terpaksa bangun dan mandi. Sang mommy sama sekali tak memberi kelonggaran, ia menyeret Allison dan mengguyur remaja lelaki itu di pagi buta, membuat kantuknya hilang dalam seketika.
Dengan penuh keengganan, Allison berjalan mendekati mobil, di mana Harley sudah duduk di kursi kemudi siap mengantar mereka. Sandra sendiri sudah berada di belakang kursi penumpang, ia memutar matanya malas ketika Allison masuk dan duduk di sebelahnya.
Harley menoleh ke belakang. "Sudah siap?"
"Cepatlah, Uncle. Aku kan kembali ke kasurku kalau kau banyak bertanya," sahut Allison tak bertenaga. "Aahh ... sial. Kurasa ini akan menjadi hari terburukku di sekolah," lanjutnya menggerutu.
Allison menoleh ke arah sang kakak. "Apa kau tidak tidur semalaman? Haish, lihatlah matamu yang hitam itu. Bukankah kau biasa menggunakan make up?"
Bukan hanya Sandra, Harley pun turut melirik melalui kaca spion mendengar pertanyaan Allison tersebut. Ia memperhatikan Sandra yang diam bersidekap di belakang dengan tudung jaket menutupi kepala.
"Aku akan menggunakannya di sekolah nanti," sahut Sandra.
Harley pun melajukan mobil meninggalkan gedung apartemen. Maria tak mengantar anak-anaknya sampai bawah, karena hal tersebut dilarang oleh Gibran.
"Tuan menyarankan kalian untuk pindah sekolah. Tapi keputusan tetap di tangan kalian," ucap Harley di sela perjalanan.
Alisandra maupun Allison tak ada yang menjawab. Keduanya nampak sama-sama tak bersemangat membahas topik tersebut.
Harley pun membuang nafas, ia tahu dua remaja itu masih lelah setelah kejadian semalam. Jadi, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk berdiskusi.
...🍁🍁🍁...