Little Alisandra

Little Alisandra
16. Bad Discovery Symbol



Gibran Wiranata tak henti mengamati benda di tangannya. Sebuah pisau berbentuk bintang yang berhasil ditemukan, dan penyebab pasti pecahnya jendela anti peluru di mansion.


"Ck, mereka tidak mungkin hanya amatiran biasa jika punya benda seperti ini," decak Gibran.


Pisau tersebut baru saja selesai diteliti oleh tim khususnya, dan mereka memang menemukan panel tak biasa di sana, yang diduga sebagai bagian terkuat hingga bisa menghancurkan lapisan anti peluru di kaca.


"Ah, sial."


Nick yang sudah sampai di Amerika hanya bisa diam ikut berpikir. Ia juga turut penasaran, karena sepertinya masalah kemarin ada hubungannya dengan penyerangan Romanjaya lima tahun silam.


"Tuan, saya sudah berkali-kali melihat berkas penelitian dari Narendra, tapi sampai saat ini belum ada satupun yang saya mengerti. Ah, atau si bodoh itu yang tidak becus?" ucap Nick, sembari menyindir Narendra yang tidak ada di sana. "Dia terlalu sibuk bercinta dengan istrinya."


Gibran sama sekali tak menanggapi. Ia justru mengernyit dengan mata menyipit melihat pisau bintang itu di tangannya. Gibran mengamatinya dengan lebih teliti hingga ia yakin apa yang dilihatnya memang benar sebuah simbol.


"Nick, kemarilah."


Nick yang masih betah mengoceh sontak menoleh. "Ada apa?"


Gibran tak menjawab. Ia hanya terus mengamati benda di tangannya hingga membuat Nick penasaran dan menghampiri lelaki itu.


"Apa yang Tuan lihat?"


Gibran menggosok matanya sebentar. "Ah, mataku belum buram meski usiaku empat puluh lebih."


"Empat tujuh," celetuk Nick mengingatkan.


Gibran mendelik. "Siapa yang memintamu memperjelasnya?"


Meringis, Nick hanya bisa menggaruk hidung. "Apa yang Tuan lihat?" Lebih baik ia segera mengalihkan topik tentang umur.


Gibran pun kembali memusatkan perhatiannya pada sebuah simbol samar yang tercetak di bagian paling dalam sisi luar pisau.


Simbol tersebut tergambar seperti lingkaran yang memiliki ukiran rumit. Harus benar-benar teliti untuk bisa memahami bentuk sebenarnya dari gambar itu.


"Apa ini? Apa ekor rubah?" Nick turut mendekatkan wajahnya untuk melihat. "Aw!" Sedetik kemudian ia meringis saat Gibran menyingkirkan kepalanya sedikit kasar.


"Menyingkirlah, sialan. Kau lebih tidak becus dari Narendra," desis pria itu kejam.


Nick pun akhirnya diam meski ia sangat penasaran. Padahal Gibran sendiri yang memintanya mendekat.


"Ini angka delapan," bisik Gibran serius. "Lalu ini apa?"


Lama mereka terdiam, hingga tiba-tiba Nick terperanjat. Seolah memahami sesuatu ia dengan cepat mendekat lagi ke arah Gibran. Nick ikut menyentuh pisau unik di tangan tuannya, dan mengamati dengan seksama simbol yang tadi ditunjukkan. "Ah, aku baru paham. Yang seperti ekor ini angka sembilan."


"Sembilan? Kau yakin?"


Nick mengangguk cepat. "Aku pernah melihat logo angka sembilan yang hampir mirip seperti ini. Tapi bukan ekor rubah."


"Sembilan, ya?" gumam Gibran, tanpa sadar ikut membenarkan. "Dan ini, apa ini huruf B?"


Nick pun hanya menghela nafas, ia melirik sekilas pisau bintang itu yang tergeletak. Lalu tiba-tiba saja Gibran kembali mengambilnya.


"Wait. Ini bukan huruf B. Ini sepertinya angka tiga? Bodoh, kenapa aku tidak terpikirkan dari tadi?"


"Delapan, sembilan, tiga," ucap Gibran lagi, menyebutkan satu-persatu angka tersebut.


"Delapan, sembilan, tiga?" Nick mengernyit. "Apa itu?"


"Delapan, sembilan, tiga. Oh, s-h-i-t!" bisik Gibran menyadari sesuatu.


Nick menatap lelaki itu heran. Ia menunggu apa yang hendak Gibran suarakan dari isi pikirannya.


"Delapan, sembilan, tiga. Yattsu, ku, san. Dalam bahasa Jepang, ini bisa berarti sebuah nama. Yakuza," ucap Gibran. "Kau ingat sejarah Yakuza? Nama mereka diambil dari ketiga angka itu."


"Y-yakuza?" Nick terperangah.


Gibran mendongak serius. "Apa sebelumnya kita pernah menyinggung salah satu kelompok dari mereka?"


Nick berpikir sesaat namun kemudian ia menggeleng. Belum sempat membuka mulut, Gibran sudah beranjak dari kursinya dengan tergesa, lalu berjalan keluar ruangan sambil mengotak-atik ponsel menghubungi seseorang.


Sontak Nick pun mengikuti pria itu yang kini memasuki lift dan mulai bicara.


"Naren, kirimkan foto yang dulu pernah kau tunjukkan padaku," ucap Gibran cepat.


Namun kening pria itu langsung berkerut begitu mendengar suara Narendra dari seberang sana. Sampai-sampai Nick pun ikut penasaran, hingga tiba-tiba saja Gibran berteriak marah dan kesal. "Berhentilah mendesah, sialan!!! Cepat kirimkan sekarang juga!!"


"Aah ... sudah kuduga dia memang sedang bercinta," gumam Nick, seolah bangga celetukan asalnya justru tepat sasaran. "Aku jadi merindukan istri dan putriku," lanjutnya berbisik pelan, takut didengar Gibran.


"Sial." Gibran menutup ponselnya. "Jika benar Yakuza, apa yang mereka mau dari kita? Atau, ada sesuatu yang mereka incar dari kita? Tapi apa? Siapa?"


"Kita harus memastikan apa simbol itu sama seperti simbol yang pernah Narendra temukan," lanjutnya lagi.


Mereka keluar begitu pintu lift terbuka. Berbeda dari putra-putrinya yang tinggal di penthouse. Untuk bisa berada lebih lama di Amerika, Gibran membeli apartemen secara dadakan tak jauh dari Rochester. Ia masih harus mengawasi perkembangan renovasi mansionnya yang rusak parah.


Nick mengikuti pria itu memasuki mobil. Entah kali ini Gibran mau ke mana. Sang tuan selalu saja bergerak tanpa pemberitahuan.


"Nick, beri tahu anggota kita di Indonesia. Perketat keamanan mansion. Beri juga perlindungan untuk mertuaku. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi," titah Gibran.


Nick mengangguk patuh. "Baik, Tuan."


"Laura bersama Maria, kan?"


"Iya. Ada apa?" sahut Nick bertanya.


"Tidak. Baguslah. Istrimu akan mendapat keamanan juga jika tinggal bersamanya. Kau tidak perlu bingung untuk melindungi siapa."


Nick terdiam. Tak lama ia pun tersenyum, karena Gibran tak hanya memperdulikan keluarganya.