Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Tujuh



Sejak kecil Lalisa adalah gadis yang pemurung dan jarang sekali tersenyum. Saat usianya masih kecil, ketika ibunya terkena pisau atau ayahnya terjatuh, Lalisa akan tertawa terpingkal-pingkal. Ibunya dulu merasa ngeri karena Lalisa suka sekali melihat darah. Lambat laun, kedua orang tuanya mulai mencoba menerima keadaan Lalisa yang berbeda. Fisik anak itu sebenarnya cantik dengan rambut pirang yang indah. Hanya saja, jempol tangannya memang kelebihan satu. Tapi, sepertinya hal itu tidak pernah mengganggu Lalisa.


Lalisa sangat menyukai bunga. Seperti memiliki bakat alami, Lalisa sangat pandai merawat bunga. Jika hari ini ia menanam bibit bunga, maka keesokan harinya bibit mulai bertunas. Sungguh menakjubkan. Dan akhirnya, Lalisa pun setuju katika ibunya menyarankan dirinya untuk masuk kuliah jurusan pertanian.


***


Peri salju akhirnya tersadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh seseorang. Pastilah seorang manusia karena saat ini ia sedang menginjak daerah manusia. Ia tak sadar telah terbang sejauh ini dan harus dilihat oleh manusia. Ia pasti akan mendapat hukuman kalau ketahuan pemimpin rombongannya. Sekilas ia melihat manusia yang memperhatikannya. Ia sangat cantik dengan rambut pirang. Peri Salju segera terbang menjauh agar tak terlihat gadis cantik itu lagi.


"Chakkaman!" Lalisa berteriak. Tapi, terlambat. Peri Salju itu telah terbang menjauh.


Hatinya langsung diliputi perasaan kesedihan. Peri itu sangat mengagumkan. Ia menatap jempolnya yang berlebih. Apakah secara tidak sengaja peri itu melihat kecacatannya, lalu menghindarinya?


Lalisa menunduk sedih. Ia telah merasakan perasaan yang lain di hatinya setelah menatap peri salju itu. Kenapa ia menyukai peri? Kenapa ia tidak bisa menyukai satu manusia pun yang ada di sekitarnya? Bahkan kedua orang tuanya? Lalisa bertanya-tanya sendiri. Ia menatap jempolnya sekali lagi. Mungkin, jika jempol berlebih ini dibuang, ia akan mendapat kesempatan bertemu dengan peri salju yang tampan itu lagi.


Dokter telah berhasil memotong bagian jempol berlebih dari jemari Lalisa. Lalisa merasa sangat ringan tapi sekaligus juga merasa aneh karena ada yang hilang dan tidak biasa. Tapi, nanti ia pasti akan mulai terbiasa, batinnya.


"Kau tidak berdarah." Ujar seorang dokter merasa keheranan.


Wajah Lalisa menampakkan wajah biasa-biasa saja, sama sekali tidak ada kengerian di wajahnya. Walaupun gadis itu dibius ringan, tidak ada kengerian saat dokter membedah jempolnya. Lalisa bahkan memerhatikannya dengan seksama.


"Mungkin darahku membeku, dokter," ujar Lalisa santai. Dokter menelan ludah. Ia merasa linglung seketika.


"Ya, mungkin darahmu membeku di daerah jempol yang dibuang," sahut sang dokter tidak mau ambil pusing. Yang penting tugasnya mengoperasi sudah selesai dan ia tidak harus berlama-lama bertatapan dengan gadis yang memiliki pancaran mata yang aneh ini. Ia merasa lega.


"Kapan aku boleh pulang?"


"Besok kau sudah boleh pulang. Luka itu akan mengering dalam dua sampai tiga hari," ujar dokter. Lalisa pun mengangguk. Ia merasa baik-baik saja. Menatap perban yang menutup bekas jempolnya yang dibuang.


"Apakah jempolnya boleh kusimpan?" tanya Lalis lagi. Pertanyaan itu sungguh sangat membuat dokter merasa lain.


"Sebenarnya, aturan rumah sakit selalu menyimpan bukti pembedahan untuk diteliti lebih lanjut. Tapi akan ku ajukan kepada kepala rumah sakit apakah kau boleh menyimpan jempolmu." Ujar sang dokter menjadi sedikit gugup dan berkeringat.


"Ne," ujar dokter itu lagi singkat.


***


Dua hari kemudian, perban di jempol Lalisa susah dibuka dan tidak ada bekas apa-apa. Lalisa merasa takjub. Sore ini ia kembali duduk dekat jendela. Menantikan sang pangeran pujaan tiba. Ia duduk termenung memandang semua area yang memutih. Sebenarnya Ia tidak suka salju. Itu membuat tanaman bunganya banyak yang mati dan tidak bisa bertahan. Lalisa bahkan hampir kehilangan taman bunganya yang kini memutih tertutup salju. Tapi, karena salju pulalah ia bisa melihat lelaki pujaannya. Ah, ini benar-benar membingungkan.


Sampai larut malam, sosok yang ditunggunya tak kunjung datang. Lalisa merasa hatinya begitu sedih dan menderita. Ia harus melakukan sesuatu untuk membunuh rasa kesepiannya. Punggungnya terasa sakit lagi, tapi Lalisa menahannya dan mengabaikan perasaan itu.


Ia menghidupkan gadget canggihnya dan mulai berselancar di dunia maya. Ia penasaran akan sesuatu. Dan, ia sangat tertarik pada hal baru ini.


Konon katanya dalam dunia peri, setiap akan mulai tumbuh sayap, peri akan merasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terlebih pada punggungnya. Sayap itu akan tumbuh saat usia bayi peri beranjak lima tahun. Sayap hanya akan tumbuh di cuaca yang mendukung dan memungkinkan sayap agar bisa tumbuh. Sayap peri yang tidak tumbuh dalam masa itu akan diberi sayap implan oleh orang tuanya, atau dengan kata lain ditanam agar tumbuh. Itu rasanya akan lebih menyakitkan karena punggung akan disayat terlebih dahulu dan kemudian ditanam sayap dari kedua orang tua si bayi peri.


Lalisa terpana membaca informasi itu. Tanpa sadar ia menyentuh punggungnya yang sering sakit. Ia semakin tertarik untuk membaca informasi lainnya yang terkait.


Changelling adalah sebutan untuk bayi peri yang cacat. Peri peremouan sering melahirkan anak-anak peri yang cacat. Mereka lalu pergi ke dunia manusia dan menukarnya dengan bayi manusia yang sehat lalu meninggalkan bayi cacatnya. Saat changelling tampak seperti bayi manusia, ia tidak memiliki karakteristik emosional yang sama dengan manusia pada umumnya. Changelling merasa senang ketika musibah dan kesedihan terjadi di sekitarnya.


Kini Lalisa tidak hanya terpana, tapi membelalakkan matanya. Tangannya sedikit gemetar membaca informasi itu. Ia yang sangat senang jika hal-hal buruk terjadi di sekitarnya tiba-tiba kini merasa sangat sedih untuk dirinya sendiri. Ia sulit sekali menelan ludahnya sendiri.


Apakah ia adalah changelling? Putri peri yang dibuang? Entah kenapa ia merasa benar-benar begitu. Rambut pirang, jempol berlebihan, tidak bisa tersenyum atau tertawa karena hal gembira, selalu senang melihat hal-hal yang menyedihkan, punggung yang selalu nyeri dan sakit, tidak bisa berdarah. Ia mengabsen segala hal yang ada pada dirinya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang changelling.


Ia cacat!


Lama sekali Lalisa merenung. Ia tidak bisa menyayangi kedua orang tuanya sebagaimana mestinya. Selalu ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan kenapa ia sendiri harus setengah membenci kedua orang tuanya yang sangat memperhatikannya.


Berarti ini bukan dunianya! Ia tidak bisa tinggal di tempat yang memang bukan dunianya! Lalisa mencoba berpikir lagi. Apakah bukan karena kebetulan dia memang seorang anak yang aneh dan berbeda? Atau seperti kata kedua orang tuanya, bahwa ia hanyalah anak istimewa dan tidak ada yang salah dengan hal itu? Bukan karena dia changelling dan semacamnya. Lalisa mendesah.


*****