
Sesosok mahluk besar berwarna putih kehijauan terus bergerak demgan amat lambat. Matanya yang bulat nyalang menatap ke sana kemari. Ia sedang mencari mangsa. Ia terus merangsek berharap ada korban yang akan masuk perangkap besarnya, menangkupnya dan menelannya.
"Aku lapar," ujar seseorang peri cantik berambut panjang, warna coklat bergelombang dan berponi sambil menunjukkan wajah yang letih dan lesu.
Karena tubuh mereka sedang lemah, sayap di punggung mereka ikut lemah. Mereka tidak bisa terbang dan hanya bisa berjalan kaki di cuaca yang sangat dingin, yang ikut membekukan sayap mereka.
"Kau ini. Tubuhmu memang lebih besar dariku, pantas saja selera makanmu luar biasa sekali."
Seorang teman disebelah peri cantik berponi tersebut sedang menggerutu. Sedangkan peri yang tadi berkata lapar hanya terkikik geli.
"Hmmm, aku juga lapar... Hahaha...!!!"
Kedua peri itu langsung meloncat kaget karena mendengar suara yang membuat bulu kuduk langsung merinding dan meremang. Dan... Suara itu dekat sekali!
Beberapa detik kemudian.
"Kena kau!"
Peri bernama Lisa langsung melompat dengan dada berdegup kencang mendengar suara yang terdengar mencekik itu. Ia langsung tersadar bahwa saat ini mereka sedang dalam bahaya besar! Ia lalu dengan cepat menolehkan pandangannya pada peri rekannya.
"Tolooooong..! Tolong aku, peri Lisaaaaaa!!"
"ASTAGA! Siluman Sawi!" Teriak Peri Lisa dengan wajah pucat pasi.
Peri Lisa yang masih terkejut tambah terkejut. Ia memandang cemas pada tema seperjalanannya. Otaknya memutar, mencari cara menyelamatkan temannya tersebut.
Peri Jisoo, temannya telah terjebak. Tidak sengaja kakinya tadi menginjak salah satu helai daun Siluman Sawi dan siluman itu langsung menangkup tubuh Jisoo yang tidak siap akan serangan. Siluman itu telah menangkup tubuh Jisoo dan mengurungnya sehingga hanya sedikit wajahnya saja yang terlihat.
Peri Lisa gemetar. Ia rasanya hendak lari saja dari tempatnya berdiri. Mereka tidak memikirkan kemungkinan bahaya yang datang mengancam karena kepanikan pun sedang melanda wilayah dan desa mereka. Mereka adalah dua utusan yang berjalan jauh untuk sebuah tujuan.
"Lakukan sesuati, Peri Lisa!"
Peri Jisoo berteriak memelas. Wajahnya hampir tenggelam dalam daun-daun sawi yang lebar itu. Tubuh Siluman Sawi juga terus menggeliat maembuat Peri Jisoo juga sulit untuk memanjat keluar.
"HAHAHA! AKU SANGAT LAPAR! BERUNTUNG SEKALI AKU DAPAT MAKANAN HARI INI!"
Ucapan itu membuat Peri Lisa menjadi gentar. Dalam kondisi lapar seperti ini, otaknya tidak dapat berpikir. Ia langsung saja membayangkan hal terburuk; bahwa Peri Jisoo akan habis dimakan siluman itu dan dirinya harus kabur sebelum ikut dimakan dan ia akan menyelesaikan misi ini sendirian. Tidak bisa! Tidak mau!
"Apa yang harus aku lakukan?" Peri Lisa berpikir keras. Rasanya ia benar-benar ingin lari saja dan melarikan diri dari kenyataan ini.
"Peri Lisa! Cepatlah!"
Peri Jisoo terus berteriak hampir putus asa karena melihat Peri Lisa hanya terus berdiri dengan bingung dan tidak segera menolongnya. Dia bisa mati kalau begini.
Ah, tapi Peri Lisa memang terlalu lembut untuk melakukan sesuatu yang berbahaya. Awalnya Peri Jisoo merasa ragu untuk mengajak Peri Lisa menjadi partner dalam misi ini. Tapi, tidak ada pilihan lain bagi Peri Jisoo, karena hanya Peri Lisa yang mau mendapinginya menjalankan misi ini. Peri yang lain sudah merasa putus asa, tapi Peri Lisa berbeda. Walau hatinya sangat lembut, ternyata ia memiliki kemauan dan tekad yang kuat dan penuh dengan semangat. Tapi, bagaimana dengan isu yang beredar di desanya bahwa Peri Lisa adalah seorang peri pengganti? Peri Jisoo sejenak mengabaikan hal itu untuk saat ini.
Peri Lisa teringat bahwa ia memiliki pisau di kantung kanannya. Ibunya yang memaksa Peri Lisa untuk membawanya. Ibunya khawatir mengingat anak berharganya tidak terbiasa di luar dan takut menghadapi hal-hal yang berbahaya di luar desa.
Pisau! Benar pisau. Peri Lisa meraih pisau kecil di kantung pinggangnya. Hmm. Diapakan?Apakah dia harus menusuk-nusuk Sikuman SIluman Sawi yang besar dengan pisau ini?
Peri Jisoo mendadak teeingat kampung halamannya, ayah dan ibunya, saudara-saudaranya. Dan ia ingin menangis. Ia tak sempat menuliskan salam perpisahan melalui surat yang ditulis di atas lembaran kulit kayu dengan pena batu sungai berwarna putih. Ia berpikir akan selamat dalam misi ini. Tapi ternyata ia hanya menjadi santapan siluman jelek ini.
Peri Lisa melangkah ragu mendekati Siluman Sawi. Siluman Sawi tampaknya terganggu dengan bobot tubuhnya sendiri. Ia menyadari mata pisau sedang tertuju ke arahnya.
"Siluman, aku juga lapar! Bagaimana kalau kita bertukar?!"
Suara Peri Lisa terdengar sedikit bergetar. Ia memang sedang sangat ketakutan. Tapi ia nekat melakukannya demi Peri Jisoo. Mendengar hal itu, Peri Jisoo berteriak-teriak dari dalam tangkupan lembaran daun sawi.
"Apa maksudmu dengan bertukar?!"
Siluman Sawi masih tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Peri Lisa. Sedangkan Peri Jisoo meronta-ronta di dalam lembaran daun itu. Meskipun usaha Peri Jisoo hanya membuat tubuhnya semakin kelelahan, tapi hanya itu usaha terakhir yang bisa dilakukannya selain berdoa.
"Peri Lisa..! Kau ingin menukarku..??!!"
Peri Jisoo sepertinya salah paham dengan pernyataan Peri Lisa sebelumnya. Hal ini memberikan ide baru bagi Peri Lisa. Perdebatannya dengan Peri Jisoo yang akan membuat Siluman Sawi lengah. Siluman Sawi tidak akan menyadari sampai dia bisa menyelamatkan Peri Jisoo.
"Diam!!!" Peri Lisa membentak Peri Jisoo. Peri Jisoo terdengar semakin putus asa. Sedangkan Peri Lisa sendiri berkonsentrasi pada apa yang diam-diam dilakukannya pada Siluman Sawi. Dan untuk Siluman Sawi sendiri, ia tertawa-tawa melihat pertengkaran dua sahabat tersebut. Merasa puas berhasil memakan satu peri. Dan berencana akan menangkap yang satunya lagi setelah peri dalam lembaran daunnya berhasil ia cerna.
"Hei, Peri kecil, kau akan menjadi santapanku selanjutnya!"
Siluman Sawi terkekeh menyebalkan. Dia memang sangat bodoh. Bisa tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Peri Lisa padanya.
"Kau mendekat-dekat denganku begini, apakah kau sedang tidak sabat untuk menyusul temanmu?!"
"Ah baiklah.. setelah aku selesai ******* temanmu ini, akan segera datang giliranmu.." Siluman Sawi terus melanjutkan celotehnya meremehkan. Hal ini justru dimanfaatkan oleh Peri Lisa. Ia sengaja membiarkan Siluman Sawi terus meremehkannya dan tetap tidak menyadari usaha penyelamatannya.
Sementara Siluman Sawi terus mengejek mereka berdua. Irisan pisau Peri Lisa sudah hampir sampai ujung daun sawinya. Lembaran daun sawi itu sudah hampir putus hingga Peri Jisoo terbebas.
"Sudah kubilang, aku juga lapar! Dan untuk mahluk yang sedang kelaparan, tentu apa saja akan dia lakukan. Apalagi baru saja kau membuatku makin marah!!!" Peri Lisa tiba-tiba saja menebaskan pisaunya ke lembaran daun sawi tersebut.
"Apa yang kau lakukan??!!!!"
Siluman Sawi terkejut dia sudah kehilangan lembaran daunnya yang menangkup Peri Jisoo. Peri Jisoo yang sudah terbebas segera berlari bersama Peri Lisa menjauh dari jangkauan daun-daun sawi yang mulai bergerak-gerak ke sembarang arah.
"Hei Sawi!! Ku pikir kau akan berdarah.."
"Mana ada sawi yang berdarah? Aku hanya bergetah. Kau mendekatlah kemari!!! Kau makananku..!!!!"
Siluman Sawi terus saja berteriak memanggil dua peri yang sudah berlari semakin jauh meninggalkan dia. Tanpa Peri Lisa sadar, bahkan ia masih menyeret satu lembar daun sawi yang sangat besar bersamanya. Tentu saja ia melakukan itu karena terlalu panik.
Peri Jisoo mulai mengetahui apa yang Peri Lisa lakukan saat dekapan Siluman Sawi perlahan mulai mengendur. Sekuat tenaga ia melakukan apa saja yang bisa membantu Peri Lisa. Peri Jisoo memang sangat pintar, ia sudah bisa langsung paham strategi Peri Lisa tanpa harus dijelaskan.
Terdengar Siluman Sawi masih merengek kelaparan dari kejauhan. Dia meraung-raung ribut. Masih mengharapkan Peri Lisa dan Peri Jisoo kembali padanya. Hei jangan harap siluman jelek!! Kami sudah sangat bersusah payah!
*****