Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Lima



Peri Jung tampak membopong tubuh Peri Lisa. Ya ampun! Tubuh ini ternyata cukup berat. Peri Jung hampir saja terhuyung karena tidak menyangka bobot tubuh Peri Lisa akan seberat ini.


"Kau kuat melakukannya?" Tanya Peri Lisa tanp maksud mengejek.


"Tentu saja!" Pekik Peri Jung. Mukanya bersemu merah. Tapi, tidak ada semburat apa pun yang tampak di pipinya. Peri Jung berharap pipinya bisa memerah, tapi ia tahu itu tidak mungkin terjadi. Kulitnya sudah beku sejak ia dilahirkan. Tentu saja karena ia keturunan peri salju.


Dengan susah payah, Peri Jung membawa Peri Lisa terbang. Dengan kecepatan rendah dan benar-benar di luar kemauan Peri Lisa.


"Kalau seperti ini, kita akan sampai tahun depan."


Peri Lisa memberikan komentar. Ia tahu bobot tubuhnya berat karena ia banyak makan. Tapi, dengan tubuh sekeras batu, apakah Peri Jung benar-benar tidak bisa membawanya terbang lebih cepat?


"Mian, tapi kau benar-benar berat," Ujar Peri Jung dengan malu.


"Turunkan aku! Kita jalan kaki saja!" Ujar Peri Lisa, Peri Jung bersikeras membawanya terbang.


"Ada masalah yang gawat jika aku membiarkanmu berjalan."


"Oh ya? Apa itu?" Tanya Peri Lisa hampir menggerutu.


"Monster Salju."


"Mon-monster salju?!!" Pekik Peri Lisa bergidik.


"Ya. Karena salju telah turun, maka monster salju akan segera bangun. Ia bisa melahapmu." Ucapan Peri Jung tentunya tidak main-main. Ada kesungguhan terpancar pada mata peri tampan ini.


Monster salju memang benar adanya. Monster itu berdiam di sisi bebatuan gunung. Para Peri Salju pun sangat takut pada keganasan monster salju. Tebing-tebing tampaknya hanyalah tebing salju biasa Hal itu sulit disadari bahkan oleh para peri salju sendiri. Tebing es salju itu sebenarnya merupakan kamuflase. Mulut monster itu sedang membuka lalu akan menangkap siapa saja yang masuk ke perangkap mulit mereka.


"Setelah Siluman Sawi, sekarang ada monster salju?!"


"Siluman Sawi?" Peri Jung ganti bertanya. Lalu dengan singkat Peri Lisa menceritakan bentuk dan kisah yang ia alami bersama Peri Jisoo tentang Siluman Sawi tersebut.


"Siluman yang bisa dimakan. Menakjubkan! Aku takut kau akan berubah menjadi sayuran karena kau memakan bagian tubuh siluman itu."


"Matanya saja yang siluman. Sedangkan yang membungkus tubuhnya hanyalah sayuran raksasa.."


Ia mulai tidak gentar soal monster salju.


Aku bingung. Kenapa kalian menurunkan salju kalau hanya akan membangunkan monster?" Tanya Peri Lisa ingin tahu.


"Hmm. Karena dunia butuh didinginkan dari kekeringan." Ujar Peri Jung berusaha menjelaskan dengan singkat. Karena memang hanya itukah yang ia tahu.


"Tapi, negeriku tidak kekeringan." Bantah Peri Lisa. Ia masih dibawa terbang oleh Peri Jung yang tangannya semakin pegal saja.


"Tapi, negeri lain kekeringan. Dan ini sudah menjadi musim yang ditentukan." Balas Peri Jung. "Kita harus hati-hati" Bisik Peri Jung kemudian.


Mereka sudah sampai di tebing-tebing curam. Karena tangan Peri Jung pegal sekali, ia pun menurunkan Peri Lisa dari gendongannya.


"GROAAAARRRGGHHHH!!!"


Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, sebuah mulut sebesar pintu masuk goa menganga di depan mereka. Peri Jung segera melompat mundur dan menarik tangan Peri Lisa.


Mereka melihat satu sosok putih sebesar gorila tapi berwarna putih salju mulai melepaskan diri dari dinding tebing dan berdiri dengan marah di hadapan mereka.


"Kau tidak bilang bahwa monter itu bisa memisahkan diri dari tebing" Bisik Peri Lisa ketakutan.


"Ssttt, aku juga baru pertama kali melihatnya. Kau tahu aku baru saja ditugaskan, jadi aku juga baru tahu.."


Peri Jung dengan siap siaga segera menarik pedang dari pinggangnya. Peri Lisa bergidik ngeri.


Monster salju yang berteriak-teriak marah sejak tadi mulai mendekati Peri Lisa dan Peri Jung.


"Kau mundurlah, aku akan menghadapinya!" Ujar Peri Jung memberi perintah pada Peri Lisa. Peri Lisa langsung mundur ketakutan. Ia berdiri di tempat lapang. Kalau ia merapat ke tebing yang lain, bukan tidak mungkin tubuhnya akan langsung ditelan oleh kawanan monster salju yang lain. Tubuhnya semakin dingin dan ia mengingat Peri Jisoo yang ia tinggalkan. Hidupnya kini bergantung pada Peri laki-laki yang tampak amatiran ini. Sungguh menyedihkan.


Pedang Peri Jung menebas kesana kemari. Beberapa tebasan pedangnya mampu memangkas tubuh monster salju itu. Peri Lisa mulai yakin karena ternyata Peri Jung mahir memainkan pedang. Ia menatap dengan cemas pertarungan Peri Jung melawan es raksasa itu.


Saat Peri Jung lengah, Monster Salju itu memukul telak tangan Peri Jung dan pedangnya pun terlepas. Peri Lisa berteriak. Monster Salju itu akan dengan mudah mengalahkan Peri Jung. Peri Lisa mau tak mau tidak bisa tinggal diam. Peri Jung mulai dihajar oleh Monster Salju yang mengamuk itu. Monster itu memukul bahu Peri Jung dan memukul tubuhnya sampai terdorong mundur.


Peri Lisa berhasil mengambil pedang Peri Jung yang tergeletak. Pedang itu cukup berat ternyata. Kalau pedang itu saja sudah cukup berat apalagi ditambah Peri Jung yang harus menggendongnya tadi? Peri Lisa berpikir.


Saat Monster Salju terus memukul mundur Peri Jung, Peri Lisa dengan sekuat tenaga menusuk bahu Monster Salju itu dari arah belakang. Tertancap. Lalu, tangan Peri Lisa kesulitan menahan pedang itu. Monster es itu hendak berbalik. Dengan kekuatan penuh, Peri Lisa menggeser pedangnya dan mengarahkannya ke bawah seperti ia membelah sawi dengan pisau. Pedang terlepas dari tangannya Peri Lisa dan ia jatuh terduduk.


Moster Salju sudah berbalik ke arahnya. Peri Jung berteriak ketika Monster itu hendak menyerang Peri Lisa. Peri Lisa hendak menutup matanya, menantikan ajal yang sudah mendekat. Setelah menutul mata, ia mendengar sesuatu seperti roboh.


Tubuh monster salju terbelah menjadi dua. Roboh menjadi kepingan dan butiran salju di hadapan Peri Jung dan Peri Lisa.


"Kau hebat sekali!!"


Peri Jung mrmberikan pujian kepada Peri Lisa. Peri Lisa semakin lemas. Mereka berdua sangat kelelahan. Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


"Apakah masih ada monster-monster lainnya?"


Peri Lisa bertanya dengan nada yang khawatir. Ia merasa jika ada monster lagi yang muncul, maka dia tidak akan punya tenaga lagi untuk melawannya.


"Selama berada di area terbuka, aku rasa kita aman.."


"Syukurlah.."


Peri Lisa mendesah lega. Melihat kekhawatiran Peri Lisa perlahan menghilang, Peri Jung tersenyum senang. Entah sejak kapan, dia merasa tidak ingin membuat Peri cantik disebelahnya merasa kahwatir lagi. Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan langkah tertatih dan kelelahan. Tapi terdengar mereka berbincang hangat. Tentu saja hal itu akan sangat meringankan sisa perjalanan yang harus mereka tempuh demi untuk bertemu dengan raja negeri peri salju.


*****