
Bersama ibunya, Lisa sedang sibuk di dapur. Lisa tampak riang dan tertawa-tawa. Sudah lama sekali ia tidak memasak karena berbagai macam kesibukan soal adaptasi lingkungan dan lainnya. Kini ia senang bisa kembali ke hobi lamanya yang lain, yaitu memasak.
"Eomma, biar aku yang membuat kimchi-nya." Seru Lisa begitu antusias.
"Kau yakin bisa membuatnya?"
Lisa meangangguk dan menjawab dengan mantap. Tentu saja ia bisa membuatnya, itu adalah kegiatan favoritnya. Lisa mulai meratakan bumbu pedas ke lembaran-lembaran sawi dengan perasaan senang. Ibunya memperhatikan sambil memotong-motong sayuran untuk isi kimbab. Ia begitu heran dengan tangan Lisa yang tampak cekatan dan begitu terampil.
Tanpa sadar, Lisa tersenyum geli ketika mengingat pengalamannya memotong daun monster sawi. Benar-benar mendebarkan.
#Kau banyak berubah setelah pulang kemah. Eomma rasa banyak hal yang telah kau pelajari selama kepergianmu." Lisa hanya tersenyum.
"Ne. Aku belajar banyak hal selama kepergianku, Eommaaaa," Lisa melihat ke arah ibunya dengan cengiran cantiknya. Lisa merasa sangat senang bisa memasak bersama ibu kandungnya.
"Dulu, kau bahkan tidak mau menginjak dapur. Kau tidak suka makan sayuran, tidak suka makan nasi, tidak suka makan roti. Aku bahkan jarang sekali melihatmu makan dengan lahap," cerita ibunya.
"Ah..!! Ya, aku telah menyadari bahwa kebiasaan lamaku tidak akan baik buatku. Bukankah begitu ibu?" Lisa tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.
Lisa membatin bahwa ternyata peri lalisa sungguh sangat tersiksa ketika menjalani peran sebagai manusia. Lisa menunduk. Ia berpikir, mungkin memang tidak seharusnya dia kembali ke dunia peri. Bisa saja, kehadiran nya akan mengganggu kebahagiaan Peri Lisa bersama ibu kandungnya.
"Anak eomma sudah bertambah dewasa rupanya.." Ibu mengelus lembut rambut Lisa sembari tersenyum bangga.
Lisa tersenyum dan memeluk ibunya erat. Ia tidak ingin berpisah lagi. Merekalah keluarga Lisa yang sesungguhnya. Dengan memiliki ibu sebaik ini, tentu saja ia tidak akan rela untuk meninggalkannya. Lagipula, di sisinya inilah ibu kandungnya. Seseorang yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Walaupun sang ibu tidak membesarkan dan merawatnya, tapi itu bahkan bukan salahnya sama sekali. Ia merawat Peri Lalisa dengan baik. Jika pun peri Lalisa tidak bahagia, itu murni hanya karena rasa sakit yang amat sangat yang diderita oleh Peri Lalisa. Lisa merasa sangat menyayangi wanita di hadapannya.
Namun, hal itu masih belum bisa menghapus rasa rindu Lisa kepada Peri Jung. Tapi, apakah kebersamaannya dengan peri jung cukup sepadan untuk ditukar dengan kebahagiaannya memiliki seorang ibu yang begitu baik dan sangat perhatian ini? Ditambah lagi, ia juga tahu bahwa Peri Lalisa juga menyukai Peri Jung. Apakah dia akan merusak kebahagiaan kembarannya begitu saja?
"Eomma," Ujar Lisa sambil membersihkan sisa-sisa bumbu yang menempel pada sarung tangan yang dikenakannya. Ibunya menoleh.
"Terimakasih karena telah melahirkanku," Ucap Lisa dengan tulus sambil memandangi ibunya.
Ibunya terlihat cukup terkejut dengan pernyataan putrinya yang sepertinya diucapkan dengan begitu hati-hati dan dalam.
"Kau ini bicara apa..." Ucap ibunya sembari tertawa menutupi rasa harunya.
"Aku sungguh-sungguh. Aku bahagia bisa memiliki ibu seperti Eomma," jawab Lisa sambil memeluk ibunya.
"Kau membuat Eomma ingin menangis, Lisa."
Ibunya mengusap sudut matanya yang berair menggunakan ujung celemek yang dipakainya. Lisa memeluk sang ibu sekali lagi. Mereka pun menangis sekaligus tertawa bersama.
"Apakah yang selama ini menjemputmu itu adalah pacarmu?" tanya ibunya begitu acara haru mereka berakhir.
"Bukan eomma. Dia hanya temanku. Tapi, dia memang sangat baik padaku."
"Eomma lihat dia sangat menyukaimu Lisa. Dan jika memang ia menyukai dan menyayangimu, Eomma akan dengan senang hati memanggilnya menantu.." goda ibunya. Lisa malah tertawa dan tersipu.
Ayah Lisa memandangi kegiatan ibu dan anak itu audah sejak lama. Ia hanya mampu tersenyum haru. Ia bahagia sekali, Lisa nampak jauh lebih ceria ketimbang Lisa yang dulu. Bagaimana pun kemurungan Lisa dahulu menjadi beban pikiran tersendiri bagi sang ayah.
***
"Aku sangat kecewa mendengarnya," keluh Jungkook dengan mata yang masih tertutup, tapi telinganya dengan awas mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Lisa.
"Kita masih bisa bertemu di kampus," Lisa tertawa menanggapi kekecewaan Jungkook.
"Tentu saja! Lagipula ada sesuatu hal yang ingin aku konfirmasi mengenai dirimu." ujar Jungkook mengingat pikiran yang telah mengganggunya sejak kemarin. Ia masih ragu untuk mengungkapkan hal itu pada Lisa. Tapi, ia tidak mau menunggu lagi. Ia harus membuktikannya.
"Apa itu?" Lisa menyimak dengan serius.
"Akan kuberitahu jika kita sudah bertemu," Ujar Jungkook, Lisa hanya mengiyakan.
"Sun-bae-nim," Lisa berkata lagi.
"Sudah lama kau tidak memanggilku seperti itu," Jungkook merasa curiga.
"Apakah kau tau asal-usul mengenai orang tuamu?" tanya Liaa hati-hati. Entah kenapa pikiran itu mengusik hatinya.
"Tidak. Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Apakah kau tidak ingin mengetahuinya?"
"Tentu saja tidak. Lagipula mereka sudah tiada. Aku dilahirkan sebatang kara. Menurut panti asuhan yang merawatku, ibuku meninggal saat melahirkanku dan ayahku meninggal karena sakit."
"Kau pernah menengok makam mereka?" Lisa teringat beberapa hari yang lalu orang tuanya mengunjungi makam nenek, yaitu mendiang ibu dari ayahnya. Dari situ Lisa mengetahui soal makam, dan juga Lisa mengerti bahwa orang yang sudah mati masih bisa dijenguk.
"Tidak, maksudku belum pernah. Kenapa kau sangat tertarik dengan hal itu?"
"Jika kau membutkan teman untuk menemanimu berziarah, aku mau." jawab Lisa tegas.
Jungkook terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu dimana makam kedua orang tuanya. Tapi, ia bisa menanyakan pada pihak panti asuhan yang merawatnya.
"Mereka pasti rindu padamu," Lisa berkata lagi dengan lemah lembut membuat Jungkook terdiam dan hanya memikirkan ide menjenguk mendiang orang tuanya adalah ide yang baik.
"Baiklah, aku memang harus berbakti kepada mereka." ujar Jungkook. "Terimakasih sudah mengingatkanku Lisa." Tambahnya lagi.
Lisa tersenyum lalu berpamitan dan menutup sambungan telepon mereka. Ia tidak bisa membayangkan bahaimana Jungkook yang tidak bertemu lagi dengan kedua orang tua kandungnya. Apakah ia benar-benar baik-baik saja? Apakah ia tidak rindu?
Jungkook terdiam. Gadis itu benar-benar menakjubkan. Selain aneh, lugu dan lucu, ia juga baik dan sangat perhatian. Ia sangat bersyukur dapat mengenal sosok seperti Lisa.
Jungkook melihat jam di meja nakas di sampingnya. Ia tertegun, ini masih sangat pagi. Apa yang sedang dilakukan Lisa? begitu pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Ia masih bisa tidur, paling tidak, hingga dua jam kedepan.
"Lisa kau kelewat rajin" gumam Jungkook sebelum kembali terlelap.
***