
Bagaimana cara Lalisa membuktikan tentang semua yang mengganjal di pikirannya? Ya, bagaimana cara ia membuktikan bahwa ia bukan changelling atau bahwa ia benar-benar seorang bayi peri yang dibuang? Oh, memikirkannya saja tiba-tiba membuat perasaan Lalisa seperti tercabik. Karena ia bayi peri yang cacat maka akhirnya ia pun dibuang oleh kedua orang tuanya. Memangnya kenapa jika ia cacat, bahkan hanya jempolnya saja, bukankah itu bisa dibuang? Atau mungkin mereka tidak tahu cara membuangnya seperti yang dilakukan di dunia manusia yang sekarang ini ditinggalinya?
"Lalisa, kau tidak ingin makan?" Suara ibunya memanggil dari luar kamar dan suara langkah kaki pun terdengar mendekat. Lalisa segera mematikan gadgetnya dan langsung menarik selimut, memejamkan mata dan pura-pura tidur.
"Kenapa kau tidak makan dulu -baru tidur-...," Ketika ibunya membuka pintu, ia melihat anak gadisnya yang sudah nampak terlelap. Ibunya mendekatinya. Entah kenapa Lalisa tidak begitu menyukai aroma ibunya. Terlalu menyengat. Sepertinya itu dari parfum yang digunakan ibunya. Atau memang karena hidungnya yang terlalu sensitif.
Ibunya mengelus kepala Lalisa secara perlahan. Kemudian karena tidak ingin mengganggu tidur putrinya, ibunya segera beranjak keluar kamar lagi dan mematikan lampu ruangan Lalisa. Lalu, ibu Lalisa pun menutup pintu. Mata Lalisa langsung terbuka.
"Dia sudah tidur?" Tanya ayah Lalisa dari luar sana.
Terdengar ibunya menyahut, "mungkin ia masih kelelahan sehabis operasi.."
"Gadis itu selalu kuat dan tidak pernah takut pada apa pun."
"Dia memang anak yang istimewa.." Ibunya mengakhiri pembicaraan mereka berdua.
Lalisa tercenung. Aku bukan anak kalian! Dengusnya. Ia sama sekali tidak merasa bahwa orang tuanya adalah orang tuanya. Mungkin itulah sebabnya. Karena ja memang bukan anak dari mereka. Ia berasal dari dunia lain di luar dunia manusia. Seandainya saja ia bisa bertemu dengan sosok peri salju itu dan menanyakan banyak hal padanya, mungkin ia bisa sedikit mengerti sesuatu. Peri Salju telah membuka jalannya untuk mengetahuinya. Lalisa bertekad mencari sosok peri salju itu!
Ia mengangguk sendirian dalam gelap. Ia akan mencari dan menemukan peri salju itu dan bertanya padanya. Ia pasti akan memperoleh setidaknya sesuatu yang berguna dan mencerahkan kebingungannya. Lalisa lalu berusaha memejamkan mata dan tidur betulan.
***
Raja negeri Peri Salju menyambut kedatangan Peri Jung dengan suka cita.
"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Dan, siapa itu yang datang bersamau?" tanya sang raja pada Peri Jung sambil menatap Peri Lisa yang kedinginan.
"Ambilkan mantel peri untuk tamu kita.." ujar sang raja pada para pelayan setia yang berdiri patuh di belakangnya. Salah satu pelayan langsung terbang mundur untuk memenuhi titah sang raja.
Peri Lisa terkagum-kagum pada istana negeri peri salju yang semuanya terbuat dari salju dan es yang mengkristal berkilau indah. Di negeri peri bunga, ia juga tentu saja memiliki istana. Tapi, Peri Lisa sendiri jarang ke sana karena tidak sembarangan orang bisa masuk istana. Istana di negerinya terbuat dari jutaan pohon dan tangkai-tangkai pohon yang semuanya dipenuhi bunga warna warni. Ada telaga dan danau yang indah di istana itu. Bahkan air terjun pun mengalir megah di tengah istana.
Tapi, menyaksikan betapa berkilaunya istana negeri peri salju, membuatnya semakin terpana dan terpesona. Sesosok peri memyerahkan mantel istimewa berbulu hangat pada Peri Lisa. Peri Lisa dengan hati-hati memakainya dibantu Peri Jung. Ia merasa tersipu malu saat itu. Sedetik kemudian ia merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya.
"Aku merasa geli memakai mantel ini," bisik Peri Lisa sambil menjaga nilai-nilai kesopanannya di hadapan sang raja yang menatapnya. Tubuh Peri Lisa merasa benar-benar tergelitik sampai ia ingin tertawa karena kegelian.
"Nanti kau akan mulai terbiasa," ujar sang raja sambil tersenyum. "Itu bukan mantel biasa, itu adalah kumpulan tupai salju putih yang memiliki bulu lebat."
Peri Lisa terperangah. Ia melirik mantelnya. Ya ampun! Benar! Mantelnya memilik mata yang berkedip di sela-sela bulunya yang begitu putih bersih dan lebat. Peri Lisa masih terheran-heran bagaimana sekumpulan tupai bisa dijadikan mantel?
Peri Lisa nanti akan meneliti lebih lanjut tupai-tupai yang setia menempel pada tubuhnya sekarang ini. Rasanya hangat namun sedikit geli karena hewan itu suka menggeliat-geliat kecil.
"Maksud kedatangan saya adalah, secara khusus... Saya diutus oleh Negeri Peri Bunga untuk memohon pada baginda Raja untuk menyelamatkan negeri kami. Negeri kami tidak bisa bertahan jika ditutupi salju. Semua tumbuhan akan mengering dan semua bunga akan mati. Kami tidak sanggup lagi kehilangan bunga-bunga kami yang beberapa jenis sudah amat langka...," Peri Lisa menjelaskan dengan nada yang sangat enak di dengar. Semua perhatian peri tertoleh padanya.
"Jadi, kami memohon kemakluman Baginda Raja untuk tidak menurunkan salju di negeri kami...," Peri Lisa menutup penjelasannya.
Sejenak sang Raja memandang Peri Jung lalu tampak berpikir.
"Lalu, kau bertemu dengan Peri Jung lalu meminta bantuannya untuk mengantarkanmu kemari?" tanya sang raja.
"Betul, baginda. Bahkan Peri Jung pula yang menyelamatkan hamba dari monster salju."
"Sebenarnya dialah yang menyelamatkanku karena pedangku sempat terjatuh saat melawan monster itu dan Peri Lisa yang menusuk monster itu hingga hancur berkeping-keping," sahut Peri Jung cepat. Peri Lisa tidak menampik hal itu.
"Monster Salju?!" Kalian bertemu dengan Monster mengerikan itu?!!" Raja tampak terkejut.
Peri Lisa menggumam dalam hati. Apakah itu berarti dirinya tampak hebat?
Sang Raja bertepuk tangan dan yang lain pun mulai mengikuti. Semua warga bertepuk tangan untuk Peri Jung dan Peri Lisa.
"Kalian hebat! Monster Salju adalah monster yang kejam dan banyak menjadikan peri sebagai korbannya. Terima kasih atas kerja keras kalian! Dengan ini aku menyatakan bahwa salju tidak akan turun di negerimu!" titah sang raja disambut tepukan tangan yang lebih riuh lagi. Wajah Peri Lisa semakin cerah dan ia menatap Peri Jung dengan tatapan penuh terimakasih. Peri Jung hanya mampu tersenyum.
Lalu, Peri Lisa langsung teringat sesuatu.
"Gawat! Aku lupa kalau Peri Jisoo masih kutinggalkan! Aku harus segera pergi," gumamnya sendiri.
"Ada apa, Peri Lisa? Kau tidak ingin tinggal sementara di sini dan menghadiri jamuan kami?" tanya sang raja.
"Hamba sangat ingin, Baginda Raja. Tapi hamba masih memiliki hal penting lain yang harus hamba lakukan. Hamba ingin sekali berkunjung lagi kemari dan menghadiri jamuan anda. Hamba sendiri sebenarnya sangat penasaran."
"Apa yang membuatmu tidak bisa?"
*****