
Di Negeri Peri Bunga sedang digemparkan karena kedatangan Lalisa. Saat di perbatasan Negeri, beberapa peri yang melihat Lalisa datang terkejut karena mereka tidak melihat Peri Jisoo. Ada kekhawatiran yang menyebar bahwa Peri Jisoo mungkin tidak selamat dalam misi itu. Tapi tidak ada satu pun yang berani menanyai Lalisa. Bagaimana pun mereka semua pernah menolak untuk membantu Peri Jisoo dalam menyelesaikan misi. Ada perasaan bersalah dalam hati mereka yang membuat mereka tidak bertanya tentang jalannya misi. Menurut mereka, biarlah Raja atau orang tua Peri Jisoo dan Peri Lisa saja yang bertanya. Mereka yang memang harus tahu perkembangan misinya.
Ibu Peri Lisa pun akhirnya juga mendengar desas-desus kepulangan Peri Lisa yang sendirian. Tanpa ia tahu bahwa itu bukan anak yang dikenalnya. Ibu Peri Lisa tergopoh-gopoh menuju perbatasan negeri demi menyambut anaknya yang sudah menempuh bahaya sekian lama. Ada raut kelegaan yang terpancar di wajahnya yang masih sangat cantik.
"Sayang.."
Langkah Lalisa terhenti. Di hadapannya ada seorang Ibu Peri yang terasa dekat dengannya. Dia hanya memandangi wajah cantik ibu peri itu tanpa ekspresi. Tapi di dalam hati Lalisa, ia sudah sangat yakin bahwa yang berdiri di hadapannya ini adalah ibu kandungnya.
Ibu peri cantik itu berjalan perlahan menghampiri Lalisa yang masih mematung. Ada air mata dengan pancaran mata yang dipenuhi kasih sayang sedang memandang ke arah Lalisa. Hal itu menyakitinya. Karena dia sangat sadar, sesungguhnya tatapan penuh sayang itu bukan ditujukan untuknya.
Lalisa hanya menunduk. Ia menangis. Makin lama ia semakin sesenggukan tanpa bisa lagi ia tahan. Tangisnya membuat Ibu Peri terkejut. Apakah terjadi sesuatu hal yang buruk? Ibu Peri pun mulai khawatir. Ia pun segera menghampiri Lalisa dan memeluknya penuh sayang. Hal itu membuat Lalisa merasakan hatinya semakin pedih. Ia tidak tahu, bagaimana cara memulai semua pertanyaannya.
Di rumah Ibu Peri, Lalisa duduk bersimpuh. Ia kelelahan setelah menangis sekian lama. Ibu kandungnya yang masih belum menyadari apa yang terjadi sedang membuat minuman teh madu hangat agar Lalisa bisa segera membaik.
Lalisa termenung selagi menunggu teh madu buatan Ibu Peri. Dia sedang berpikir apakah yang akan dia tanyakan akan menyakiti Ibu Peri yang terlihat sangat lembut itu?
"Sayang.. Ini minum dulu teh madu kesukan kamu. Kamu pasti sangat lelah setelah menyelesaikan misi yang berat ini.."
Lalisa menerima teh madu itu dan menyesapnya. Ini adalah pertama kalinya ia meminum minuman ini. Tapi bagaimana ini sudah menjadi minuman kesukaannya.
Setelah menyesapnya sedikit, Lalisa berpikir, yah mungkin ini memang akan menjadi minuman kesukaannya. Jika saja dialah yang tinggal di sini sejak lama. Andai pertukaran itu tidak pernah terjadi. Lalisa termenung cukup lama. Ibu Peri dengan setia menemaninya dan membelai punggungnya sangat lembut.
"Ibu.."
"Sesungguhnya aku bukan Peri Lisa yang kau kenal.."
Pernyataan dari Peri Lisa langsung mengejutkan Ibu Peri. Ia menutup mulutnya dengan linangan air mata yang sudah mulai menggenang di kelopak matanya. Pikirannya melalang jauh menuju peristiwa dua puluh tahun.
"Apakah..? Apa...?"
Ibu Peri kembali terduduk lemas di lantai rumahnya. Lalisa sedikit iba melihat Ibu Peri yang tampak anggun dan cantik, kini terlihat menua dengan cepat. Lalisa trenyuh juga melihatnya. Bagaimana pun dia adalah Ibu Kandungnya. Dan di Negeri Peri Bunga ini, entah bagaimana telah memnculkan berbagai emosi yang memang seharusnya dia miliki. Tidak seperti saat di dunia manusia yang terasa sangat asing baginya. Hal itu sangat menyiksa.
"Maafkan aku.. Maafkan aku.."
Ibu Peri menangis sesenggukan dan terus meminta maaf pada Lalisa. Lalisa menghampirinya dan menggenggam erat tangan Ibu Peri. Ia berusaha menenangkan Ibu Peri, meski pun sebenarnya dia tidak tahu harus berbuat apa
"Ibu.. Jadi, kau benar adalah ibuku?"
Ibu Peri meraih tangan Lalisa. Ia mengamati jari jemari Lalisa yang utuh, cantik dan tidak berlebih. Ibu Peri pun heran. Karena seharusnya ada satu jari lagi di sana. Ia mulai tidak mengerti. Apakah dia putri kandungnya? Atau apakah ada yang salah?
Lalisa mengerti apa yang sedang Ibu Peri pikirkan. Ia menjelaskan apa yang terjadi pada jarinya. Bahkan ia masih membawa potongannya bersama dia.
"Di dunia manusia, hal ini bahkan bukan masalah sama sekali.."
***
Kepulangan Lalisa yang dianggap sebagai Peri Lisa telah terdengar di telinga Raja Negeri Peri Bunga. Tentu saja Raja merasa kesal, bagaimana bisa seorang peri yang ditugaskan misi tidak langsung memberikan laporan kepadanya? Raja pun segera mengajak beberapa bawahannya untuk mendatangi rumah Peri Lisa dan Sang Ibu.
BRAKKK..!!
Sontak Lalisa dan Ibu Peri tersentak mendengar pintu terbanting dari luar. Ibu Peri segera menghapus air matanya. Ia melihat Raja Negeri Peri Bunga sedang memasuki rumahnya. Ia tidak ingin masa lalunya diketahui oleh Raja. Akan berakibat buruk baginya dan anak-anaknya. Dengan tangan gemetar, Ibu Peri meminta Lalisa untuk bersembunyi di kamar. Lalisa hanya memandang kepergian Ibu Peri yang akan menemui Raja.
"Apakah aku juga harus menemui Raja? Apakah akan menjadi masalah?"
Lalisa sendiri yakin, bahwa Raja kemari karena sudah mendengar rumor tentang kedatangannya. Seperti peri yang lain, ia yakin, Raja juga salah mengira bahwa dia adalah Peri Lisa. Tak ingin membuat masalah yang lebih besar, Lalisa pergi ke salah satu kamar terdekat untuk bersembunyi.
"Dimana anakmu?!"
"Maaf Baginda, Saya sendiri juga belum bertemu dengannya.."
Ibu Peri menunduk dalam. Namun di dalam hatinya, Ibu Peri meyakinkan diri bahwa dia memang belum bertemu Peri Lisa semenjak kepergiannya menyelesaikan misi. Dia tidak berbohong. Bukankah Raja menanyakan keberadaan Peri Lisa?
"Tidak mungkin! Aku sudah mendengar bahwa Peri Lisa sudah pulang..!!"
"Sungguh Raja.. Hamba belum bertemu dengan Peri Lisa.."
Ibu Peri menjadi ragu kembali. Bagaimana pun, kedatangan Lalisa sudah diketahui oleh banyak Peri lainnya. Dan saat kepulangan Peri Lisa kelak, hal itu akan menimbulkan pertanyaan yang lain lagi. Ibu Peri sungguh kalut. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana nanti menjelaskan semuanya.
"Ah.. Raja.. Anda di sini.. Saat ini Peri Lisa dan Peri Jisoo sedang menunggu Anda di istana.."
Seorang pengawal istana terlihat ngos-ngosan mengejar Raja hingga di sini. Namun sesungguhnya hal itu juga tak membuat Ibu Peri merasa lega, bagaimana pun, masalahnya masih belum terselesaikan sepenuhnya.
"Ahhh.. Rupanya kau berkata yang sesungguhnya. Maafkan aku. Apakah kau mau ke istana bersamaku? Kita akan menyambut kepulangan anakmu.."
Senyuman Raja membuat Ibu Peri semakin merasa takut. Bagaimana jika akhirnya rahasianya terbongkar? Bagaimana caranya menyelamatkan anak-anaknya?
Ibu Peri mengangguk menyetujui untuk pergi ke istana bersama Raja. Ia harus bertemu dengan Peri Lisa sesegera mungkin.
"Raja, Saya akan hadir ke istana bersama Anda. Namun izinkan Saya untuk bersiap sebentar.."
Ibu Peri pergi ke dalam untuk mencari Lalisa. Ia hanya ingin berpesan agar Lalisa tetap bersembunyi dahulu. Ia berjanji akan memberikan penjelasan dan jalan keluar untuk semua pertanyaan dan kerumitan masalah yang ia sebabkan ini. Lalisa hanya bisa setuju dengan perkataan ibu kandungnya ini. Dia akan di sana hingga ibundanya kembali.
*****