
"Aku dari Pulau Mogu-mogu," ujar seseorang itu usil.
"Mogu-mogu? Baru kali ini aku mendengarnya," Lisa mengangguk-angguk. Orang di depannya lantas tertawa. Gadis ini lugu dan polos sekali, mau tidak mau ia menjadi sangan tertarik.
Pulau Mogu-mogu tentu saja tidak ada. Pulai yang tidak ada, tidak bernama atau belum diberi nama makanya disebut pulau Mogu-mogu.
"Kau ingin berkunjung ke sana?" tanya orang itu.
"Tentu saja" Lisa menjawab dengan antusias. Akan menyenangkan sekali bisa pergi ke tempat baru bersama dengan Peri Jung.
"Namaku Joen Jungkook, Siapa namamu?" tanya orang itu lagi.
Lisa mengerutkan kening. Ternyata nama asli Peri Jung adalah Joen Jungkook.
"Haruskah kita berkenalan lagi? Di dunia peri namaku adalah Peri Lisa. Tapi, di dunia manusia namaku adalah Lalisa. Tapi kau panggil saja aku Lisa" ujar Lisa sambil tersenyum manis.
"Apa maksudmu?" Jungkook tertawa geli. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya masih saja heran.
"Aku tidak tahu kau kehilangan ingatanmu atau bagaimana, tapi jelas kau sepertinya tidak mengingatku sama sekali. Kita sudah pernah bertemu dan berkenalan. Kita berjalan dan terbang bersama. Kita mengalahkan monster salju bersama-sama, kita makan lumut es juga bersama-sama, kau bahkan menyelamatkanku dari seorang penyihir jahat...,"
"Cukup! Aku rasa kau terlalu banyak membaca buku dongeng," Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini bukan cerita dongeng!" Pekik Lisa memelas. Tapi, Jungkook sepertinya tidak memperdulikannya. Ia sudah masuk ke dalam benda yang menurut Lisa adalah benda ajaib.
"Sebaiknya kau pulang dan minum obatmu nona Lisa. Anyong." Jungkook berpamitan dan menghidupkan mesin mobilnya. Mobilnya mulai mundur sedikit dan meninggalkan Lisa yang berdiri terpaku sendirian.
"Gadis yang sungguh aneh," gumam Jungkook sendirian di dalam mobil. Ia terus menatap gadis yang masih berdiri diam terpaku di tempatnya semula dari kaca spionnya.
"Bagaimana bisa ia sampai menggunakan ponsel terbalik?" Jungkook tertawa geli.
"Peri Jung? Aku Peri Jung?" Jungkook menatap wajahnya di cermin lalu tertawa geli.
***
Di siang hari yang cukup hangat karena sejak pagi Lisa hanya berada di dalam rumah, ia mengikuti ibunya menuju dapur dan membuka lemari es. Ibunya ingin memasak sesuatu dan Lisa sekedar ingin tahu.
Di dunia manusia ternyata kau memiliki hari libur. Libur untuk pergi kuliah, libur bekerja dan kau bisa melakukan hal-hal atau kegiatan yang kau sukai. Hari itu disebut hari minggu. Teman-teman barunya banyak yang mengucapkan "happy weekend!" yang dijawab Lisa dengan senyuman.
Dalam dunia peri, semua hari mereka bukan untuk bekerja. Menaburkan bibit bunga, memupuk bunga dan menjaganya dari serangan hama buka dianggap sebagai pekerjaan atau kewajiban. Mereka menganggap kegiatan itu adalah kegiatan bersenang-senang. Mereka terus melakukan hal itu setiap hari sepanjang hidup mereka.
"Ini apa?" tanya Lisa pada ibunya, tangannya lalu menunjuk pada kotak berwarna putih yang ditatapnya tadi. Ibunya tersenyum merasa heran karena Lisa tidak tahu itu kotak apa.
"Tentu saja itu es krim. Tidak sempat dimakan karena musim dingin keburu datang. sudah kadaluwarsa belum ya?" Ibunya menarik kotak es krim dari dalam kulkas dan mengecek barisan tanggal kadaluwarsanya. Lisa hanya diam membisu.
Es krim? Berarti itu adalah sesuatu yang dingin? Lalu, apa itu kadaluwarsa? Benak Lisa berputar-putar karena bingung dan bertanya-tanya.
"Masih bisa dimakan, ternyata kadaluwarsanya masih lama," ujar ibunya lagi.
"Aku ingin memakannya," Ucap Lisa sidorong oleh rasa penasaran. Ibunya menoleh padanya.
"Lidahmu akan membeku memakan es krim di cuaca dingin," ibunya berkomentar. Ia melihat putrinya lalu tertawa. Tidak biasanya putrinya menjadi hobi makan seperti ini.
"Aku pernah makan lumut es di cuaca dingin dan lidahku tidak apa-apa Eomma," ujar Lisa. Ibunya mengerutkan kening.
"Lumut es?" ujar ibunya terheran-heran. Lisa hanya mengangguk. Tapi akhirnya Ibu Lisa menyerahkan kotak es krim pada Lisa.Lisa segera membukanya dan mengambil sendok untuk memakan krim halus nan dingin itu. Lisa menyendok es krim rasa vanilla yang lembut itu dan memakannya.
"Masittaaaaaaa," ujarnya senang. Ibunya hanya dapat tertegun memandanginya.
Sorenya, Lisa membersihkan bunga-bunga di tamannya yang tertutup salju. Ia membersihkan pot-pot bunga dan menambahkan tanah serta pupuk. Bunga-bunga yang sangat cantik itu kini terlihat segar kembali karena tangan Lisa yang terampil.
Ibu perinya memberikan cairan ajaib dalam botol kaca yang bisa menumbuhkan bibit bunga dalam waktu semalam
Tentu saja karena Lisa tidak memiliki kemampuan seperti peri bunga lainnya yang bisa menumbuhkan bunga hanya dengan menyentuh bijinya. Lisa membutuhkan cairan ajaib itu untuk merawat bunga-bunganya.
"Peri Lalisa meninggalkan bunga-bunga ini untuk dirawat. Aku jadi merasa tidak terlalu kesepian." Lisa tersenyum sendiri. Tentu saja ia sangat merindukan rumah. Tapi, rumah itu bukan rumahnya lagi. Ia juga rindu pada sahabatnya, Peri Jisoo. Dan terlebih lagi, karena menyentuh salju, ia jadi merindukan Peri Jung. Ia menghela napas.
Dalam pikirannya, dunia manusia lumayan menyenangkan. Walaupun Lisa belum sepenuhnya bisa beradaptasi karena banyak hal yang tidak atau belum ia ketahui, sejauh ini perasaannya baik-baik saja. Ini adalah dunianya yang sebenarnya, yang seharusnya ia tinggali sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Dan hidup sebagai peri adalah kesalahan. Namun, menjadi peri juga sangat menyenangkan, walaupun menjadi manusia pun juga gak kalah menyenangkan.
Malam harinya ketika Lisa sudah di kamar dan sendirian. Lisa duduk merenung di meja belajar milik Peri Lalisa. Ia sedang berpikir, untuk mempelajari dunia manusia sepenuhnya. Ia harus banyak belajar. Ia harus banyak berlatih. Banyak membaca buku. Sudah cukup lama ia tidak membaca buku yang bisa memuaskan dahaga akan rasa ingin tahunya.
Lisa begitu saja menarik sebuah buku dari rak buku di meja belajar. Lisa langsung tertegun melihat sampulnya. Ya ampun, ini buku soal dunia peri! Lisa segera tertarik untuk membuka dan membacanya. Ia lalu membawa buku itu ke dekat jendela dan duduk di kursi yang ada di sana. Sambil sesekali memandangi bukit dari kejauhan, ia membuka buku itu.
Dalam banyak legenda, peri diceritakan sering menculik bayi dan meletakkan pertukaran bayi peri yang cacat, sesosok pria atau wanita muda. Penculikan ini bisa terjadi sementara waktu atau bisa juga selamanya.
Jadi selama ini Peri Lalisa telah mempelajari asal usul dirinya sendiri? Lisa bergumam dan memandangi bukit yang berada di kejauhan. Ia seperti melihat sesuatu seperti berkelebat. Lisa berusaha menajamkam pandangannya. Wajah dan tatapannya melembut ketika ia tahu siapa yang sedang berada di bukit itu.
*****