
Untuk pertama kalinya Jungkook melihat keanehan dan kengerian yang seperti ini. Ini terasa seperti mimpi buruk. Perasaan kalutnya membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih. Sayup-sayup ia mendengar Lisa meminta tolong padanya. Hatinya kelu. Apakah ini Lisa? Apakah benar potongan-potongan ini adalah Lisa?
Jungkook nekad untuk menarik hal aneh yang ada di hadapannya itu. Tangan Jungkook yang besar dan kokoh menggenggam tangan Lisa yang terulur dan menariknya secara perlahan. Tubuh itu mulai lengkap, dimulai dari bahu, kepala, dan wajah itu, ya itu adalah Lisa. Ini adalah Lisanya. Apa yang terjadi? Inikah batas dunia peri dan dunianya? Ajaib! Jungkook antara lega dan takjub melihat keajaiban di depan matanya.
Akhirnya tubuh Lisa berhasil keluar dari pintu dimensi. Lisa nampak sangat pucat dan lemah. Nafasnya tersengal. Kepala Lisa masih terasa sangat berat. Ia terlihat sangat kacau. Jungkook memegangi tangan Lisa yang dingin dan meletakkan kepala Lisa di pangkuannya.
"Lisa..." Jungkook memanggil dengan lembut sambil mengelap dahi Lisa yang penuh dengan keringat. Wajahnya begitu pucat. Lisa sudah pingsan karena tak tahan dengan rasa sakitnya.
Jungkook menggendong Lisa menuju pinggir hutan. Terdengar banyak suara gemeresek di sekitarnya. Jungkook sempat merasa takut, apakah itu binatang buas? Bukankah beberapa saat yang lalu hutan ini masih terasa sangat hening dan aneh?
"LISAAA.. JUNGKOOK..!!" terdengar teriakan yang memanggil nama mereka berdua. Apakah itu tim pencari dari orang tua Lisa?
Jungkook mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Ia melihat bayangan orang-orang yang bergerak menyusuri hutan.
"Kami di sini.. Cepat tolonglah, Lisa pingsan.." Jungkook yang sudah nampak sangat kusut menghampiri petugas.
Ia merasa sangat lega. Paling tidak akan ada pertolongan pertama yang dapat menyelamatkan Lisa.
***
"Lisa, kau sudah bangun?" Jungkook melihat kelopak mata yang mengerjap karena tidak siap dengan banyaknya cahaya yang masuk ke korne matanya.
"Apakah aku pingsan?"
"Ya, kau sudah pingsan selama dua hari,"
"Begitu lama? Dimana ayah dan ibu?" Lisa melihat kekanan dan kekiri namun tidak melihat orang tuanya.
"Ayahmu ke kantor, sedangkan ibumu baru saja kuminta pulang pagi ini. Beliau sudah menjagamu selama hampir dua hari tanpa istirahat dengan benar. Aku khawatir beliau akan sakit,"
"Terimakasih, Jungkook.." Lisa tersenyum tulus. Ia menyukai orang yang tepat bukan?
Jungkook tiba-tiba menyentil dahi Lisa pelan. Lisa melotot. Ia merasa, ia harus menarik pikirannya tentang menyukai orang yang tepat.
"Kenapa kau mematikan ponselmu?!! Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya kami?!! Semua orang sibuk mencarimu," ujar Jungkook dengan gemasnya. Ia sungguh sangat khawatir.
"Ponselnya mati. Lagian kau pikir dunia peri memiliki sinyal kah?!!" sahut Lisa lemah tapi jengkel karena dipukul dahinya.
"Apakah kau baik-baik saja? Apakah masih sakit? Apa yang kau rasakan?" Jungkook terdengar sangat khawatir. "Aku sangat mencemaskanmu, dan aku tidak ingin kehilangan kamu, Lisa-ya," Jungkook menambahkan.
"Maafkan aku," ucap Lisa lirih. "Ah!!!" Lisa tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.
"Apakah orang tuaku bertanya tentang bagaimana dan kenapa aku menghilang? Apa yang kau katakan pada mereka?" Lisa terlihat cemas. Ia bahkan sampai duduk di ranjang rumah sakitnya. Ia tidak peduli dengan pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya karena bangun dengan cepat begitu.
"Hei tenanglah. Kepalamu akan sakit jika kau bergerak tiba-tiba begitu.." Jungkook berusaha menidurkan tubuh Lisa kembali. "Mereka tidak bertanya banyak. Aku memberitahu mereka bahwa kita camping dan kau sempat tersesat, lalu aku mencarimu. Lagipula polisi yang mencarimu juga menemukan tendaku. Alasan itu sangat masuk akal bukan?" terang Jungkook.
"Keteranganmu membuatku merasa seolah aku ini adalah penjahat."
"Kau berjanji tidak akan pergi lagi bukan? tanya Jungkook.
" Hmmmm...," Lisa hanya menjawab dengan gumaman. Ia merasa lapar dan ingin makan sesuatu.
"Kau lapar?"
"Wahh?!! Apakah kau bisa membaca pikiranku?" Lisa takjub. Bagaimana bisa Jungkook menebak pikirannya dengan sangat akurat begitu. Jungkook tertawa lepas.
"Logika gadis manis. Kau sudah tidur selama dua hari. Akan aneh kalau kau tidak lapar. Mau ku belikan sesuatu?" Jungkook masih tertawa.
"Nasi padang.."
Mwo..??!!!" Jungkook kaget.
***
Lisa dirawat di rumah sakit selama beberapa malam untuk memastikan bahwa Lisa telah benar-benar pulih. Goncangan hebat yang Lisa alami selama di dunia peri memberikan ketegangan syaraf yang akan membuatnya merasa sakit kepala terus menerus. Kedua orang tua Lisa pun mulai melarang keras anaknya untuk berkemah. Sudah dua kali Lisa pamit untuk kemah, dan dua kali pula anaknya hampir hilang. Lisa hanya mengiyakan. Lagian tidak akan ada lagi acara kemah-kemahan di hutan lagi.
"Jungkook, tolong kedepannya pastikan Lisa untuk tidak akan berkemah lagi. Ibu percayakan Lisa padamu," ujar Ibu Lisa.
Jungkook tentu saja merasa seperti sedang kejatuhan bulan. Berat, tapi hatinya brcahaya karena teramat riang. Ia akan menjadi satpam Lisa yang baik, hingga nanti diangkat menjadi suami. Hehe.
Jungkook sedang memandangi Lisa yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Hari ini ia datang pagi-pagi sekali. Ia membawa satu kantong penuh roti, susu juga buah untuk Lisa.
Merasa sedang diawasi, Lisa terbangun. Ia tenang begitu melihat Jungkook lah yang ada di sampingnya.
"Kepalamu masih pusing?" Jungkook mengusap lembut kepala Lisa. Lisa menggeleng pelan.
"Kapan aku bisa pulang?" Lisa menunjukkan wajah jengah karena terlalu lama di rumah sakit.
"Mungkin hari ini. Kemarin dokter bilang kau hanya memerlukan satu kali pengecekan lagi. Hanya untuk memastikan bahwa kau benar-benar sudah sembuh. Mau sarapan? Ada banyak roti di sini," Jungkook mendudukkan dirinya di samping Lisa. Dengan telaten ia merapikan segala makanan yang ia bawa, lalu mengambil satu roti keju kesukaan Lisa.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Jungkook penasaran. Rasanya pertanyaan ini sudah bisa ia tanyakan mengingat Lisa juga sudah mulai sembuh. Lisa pun tersenyum.
"Akan ku ceritakan setelah aku kenyang," Lisa mengerling jahil. Jungkook sangat gemas dengan gadis di hadapannya ini.
Jungkook duduk dengan posisi terdekat dengan tubuh Lisa. Ia menggenggam tangan Lisa. Ia membelainya dengan sangat lembut. Tanpa sadar Jungkook sudah menitikkan air mata.
"Syukurlah.. Syukurlah kau kembali dengan selamat.. Syukurlah.." Jungkook semakin mengeratkan genggamannya. Waktu itu ia sangat takut. Ia tidak tahu bagaimana hidupnya tanpa Lisa. Ia lega. Ia telah menggenggam tangan seseorang yang sangat berharga di hatinya. Ia sudah sangat lega.
Melihat itu Lisa ikut menangis terharu. Ternyata kehadirannya bisa sangat berarti bagi seseorang. Ia senang karena orang itu adalah Jungkook. Seseorang yang diam-diam telah menguasai hatinya.
*****