
Rumah si penyihir ambruk dalam seketika. Gorila putih sudah menjangkau jendela sedetik sebelum pohon itu menyentuh tanah dan ikut merobohkan rumah itu. Melihat hal ini, tentu saja penyihir menjadi murka.
"TIDAAAAAAKKKK!!?"
Penyihir bodoh itu berusaha lari menyelamatkan rumah dan perinya yang sedang ia masak di dalam. Tentu saja itu percuma. Sementara penyihir sedang panik karena rumahnya, Peri Jung yang menggendong Peri Lisa segera menhampiri Peri Jisoo. Lalu mereka terbang menjauh. Mereka bergegas keluar dari area hutan agar si penyihir tidak bisa mengejar mereka.
Kunang-kunang yang tadinya mengikuti Peri Lisa juga ikut terbang menjauh bersama dengan Peri Jisoo dan Peri Jung. Sementara Peri Lisa jatuh pingsan karena ketakutan.
Sementara rumah penyihir sudah ambruk dan rata dengan tanah. Si penyihir masih berusaha mencari Peri Lisa yang dikiranya masih terikat di pohon ajaibnya. Penyihir meraung-raung marah. Dan suaranya masih terdengar bahkan saat rombongan Peri Jung sudah keluar dari hutan.
Keputusan mereka untuk kabur adalah jalan paling bijak yang bisa mereka lakukan saat itu. Bagaimanapun kekuatan mereka tidak akan cukup untuk mengalahkan penyihir Black Lady itu. Ditambah lagi Peri Jisoo juga sedang terluka. Selama perjalanan, Peri Lisa terbangun dari pingsannya akibat angin kencang yang menyapu seluruh permukaan kulitnya. Ya, dia sedang terbang memang. Peri Lisa pun terkejut.
"Turunkan akuuu!! Turunkan akuuu!!"
Peri Lisa masih tidak menyadari bahwa Gorila Putih yang sedang menggendongnya ini sesungguhnya adalah Peri Jung. Peri Jisoo yang ada di gendongan tangan satunya pun segera berusaha menenangkan Peri Lisa.
"Tenanglah Peri Lisa.. Kita akan baik-baik saja.."
Melihat Peri Jisoo juga ada dalam dekapan mahluk putih yang terlihat menyeramkan itu membuat Peri Lisa semakin panik. Ia tak benar-benar mendengarkan kata-kata Peri Jisoo akibat sapuan angin yang sangat kencang.
Setelah Peri Jung merasa sudah cukup aman, ia memperlambat terbangnya dan segera mendarat ke tanah. Melihat hal ini, Peri Lisa baru menyadari keanehan lainnya. Bagaimana bisa seekor gorila bisa terbang? Apakah ia adalah komplotan si penyihir? Apakah ini tipuan? Apa yang sedang terjadi?
Seekor tupai berwarna putih menyelinap keluar dari balik bulu-bulu sang gorila. Ia sengaja tetap bersama Peri Jung untuk menuntun mereka keluar dari pusaran sihir Black Lady. Peri Lisa mengenalinya.
"Kau tupai yang menjadi jubahku bukan?"
Si tupai hanya mencicit dan kemudian meringkuk nyaman dalam genggaman tangan gorila yang besar itu.
"maafkan aku sudah membuatmu terkejut.."
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku Peri Jung"
Mata Peri Lisa membelalak kaget. Wajah kaget Peri Lisa sangat lucu. Bahkan matanya yang besar ternyata bisa menjadi lebih besar lagi. Lalu, perlahan tubuh gorila putih itu berubah kembali menjadi wujud Peri Jung yang sesungguhnya.
Dan secara ajaib, kunang-kunang yang sedari tadi mengikuti mereka juga perlahan mulai berubah menjadi peri kembali. Sepertinya, dengan keluar dari lingkaran sihir akan dapat mematahkan sihir dari Black Lady itu. Mereka semua saling berangkulan karena berhasil terbebas dari penyihir mengerikan. Mereka juga mengucapkan terima kasih pada Peri Jung.
"Baiklah, kalian semua bisa kembali ke negeri kalian masing-masing.." Peri Jung tersenyum dan segera saja rombongan peri itu mulai memisahkan diri untuk kembali ke keluarga dan teman mereka masing-masing.
Namun masih ada seorang peri laki-laki yang terlihat sangat kurus menatap ke arah Peri Jung.
"Jeongmal-gomawo-yo, Peri Jung" Peri itu mendekap erat tubuh Peri Jung. Tentu saja Peri Jung menerima pelukan persahabatan itu. Mungkin dia sudah sangat lama tersekap di sana. Pasti sangat menyenangkan jika kau akhirnya bisa kembali ke rumah.
Beralih ke Peri Lisa yang masih menatap Peri Jung di hadapannya.
"Hei, apakah kau juga ingin dipeluk seperti dia? Goda Peri Jung pada Peri Lisa.
"Tentu saja tidak!" Peri Lisa menjawab dengan sedikit berteriak karena kaget dengan tawaran Peri Jung barusan.
"Aku senang kau baik-baik saja.."
Ah. Peri Lisa hampir melupakan keberadaan Peri Jisoo. Ia langsung menoleh dan segera memeluknya.
"Aku juga senang kau baik-baik saja. Dan terima kasih juga.."
Peri Lisa mengucapkannya dengan penuh ketulusan pada Peri Jisoo. Lalu mereka berdua tersenyun, tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Sementara Peri Jung bingung, bagaimana wanita bisa seperti itu?!
"Oh ya, kita harus segera pulang. Ada sesuatu hal yang kamu harus tahu, segera.."
"Apa itu?"
"Ini sangat penting sekali. Menyangkut dirimu, keberadaanmu. Saudara kembarmu telah datang."
"Saudara kembar?? Aku memiliki saudara kembar??"
"Mungkin. Yang jelas dia sangat mirip denganmu. Aku yang baru pertama kali bertemu dengannya saja langsung mengira bahwa itu kamu. Hanya saja rambutnya pirang dan dia lebih pendiam."
"Darimana dia? Mungkinkah...?"
Peri Jisoo hanya menatap sendu ke arah Peri Lisa. Ia tahu betul apa yang sedang Peri Lisa pikirkan. Ia sendiri tidak bisa berbuat terlalu banyak. Yang dia tahu, mereka harus segera pulang. Peri Jisoo tidak ingin ada keributan apa pun.
"Baiklah, kita pulang saja sekarang. Misi juga sudah selesai, memang sudah saatnya kita pulang."
Peri Lisa mengatakan semuanya dengan ceria. Ia tersenyum manis pada Peri Jisoo. Peri Jisoo pun tersenyum kembali sama manisnya seperti Peri Lisa.
"Aku pasti akan merindukan kalian.." Kata Peri Lisa pada Peri Jung dan tupai putih yang meringkuk nyaman di lengan Peri Jung.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku.." Ujar Peri Lisa kembali. Kemudian ia mulai berani untuk menatap langsung ke arah mata Peri Jung. Dan ia tersenyum. Sementara jantung Peri Jung sendiri sudah berdetak sangat kencang.
"Bisakah kita bertemu kembali setelah ini? Peri Jung tersipu menatap Peri Lisa. Wajah hingga telinganya sudah semerah tomat tapi sorot matanya menuntut dan penuh harap pada Peri Lisa.
"Tentu saja"
Setelah acara pamitan sudah selesau. Peri Lisa dan Peri Jisoo bergegas pergi. Peri Jung menahan langkah Peri Lisa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia membuat bunga kristal dan diletakkan di atas rambut Peri Lisa yang indah. Hiasan kepala berbentuk bunga itu menempel dengan manis di kepala Peri Lisa.
"Indah sekali..." Ujar Peri Jisoo.
"Terima kasih Peri Jung." Ia mengucapkannya dengan diiringi senyuman yang manisnya tidak terkalahkan. Sebenarnya dia penasaran seperti apa penampilannya pada saat ini. Ia hanya bertanya pada Peri Jisoo bagaimana detail tiara di kepalanya.
Peri Lisa dan Peri Jisoo berpisah jalan dengan Peri Jung. Mereka saling tersenyum dan melambaikan tangan. Semoga semua baik-baik saja. Demikian harapan dalam hati mereka bertiga.
*****