
"Kau masih ingin melihatnya?" Lisa bertanya dengan nada jahil.
"Melihat apa?" Jungkook benar-benar tidak mengerti apa maksud Lisa, hingga dia mengingat sesuatu.
"Ah.." Wajah Jungkook memerah seperti tomat. Dan lihat wajah Lisa yang semakin tengil itu. Sepertinya Lisa sangat suka menggoda Jungkook. Lalu Lisa tiba-tiba terpikirkan suatu hal.
"Kau tidak melihatnya saat aku tidak sadar kan? Kau tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan bukan? Katakan kau bukan orang yang seperti itu?" racau Lisa dengan paniknya.
"Anio..," Jungkook menggeleng tak kalah panik dengan Lisa. Bagaimana ia bisa dituduh seperti itu. Bahkan terpikir pun tidak. Ia juga sudah lupa jika Lisa tidak mengingatkannya. Bukankah segala keajaiban yang ia lihat sudah merupakan bukti paling kuat. Lisa masih menatap Jungkook dengan wajah penuh curiga.
"Jangan berbohong!" Lisa meremas tangan Jungkook kuat sekali.
"Walau kau sakit ternyata kau masih memiliki tenaga yang sangat kuat," ujar Jungkook segera melepaskan tangannya dari genggaman Lisa. Ia lalu mengibaskan tangannya yang telah memerah. Lisa melihat kesungguhan Jungkook. Ia menunduk.
"Baiklah, aku percaya." ucap Lisa lirih. "Terimakasih telah menjagaku Jungkook.." tambah Lisa.
"Anytime.." Jungkook tersenyum lembut.
Dokter yang menjadi penanggung jawab Lisa di rumah sakit memasuki kamar. Jungkook bangkit untuk menyambutnya.
"Halo Lisa. Perkenalkan aku dokter Namjoon. Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Aku merasa jauh lebih baik, dokter,"
"Apakah kepalamu masih suka sakit?"
"Tidak. Aku baik-baik saja,"
Sang dokter tersenyum. Ia seperti mencentang beberapa catatan yang ada di tangannya. Lalu menyerahkannya kepada suster di sampingnya.
"Aku akan memeriksamu untuk meastikan, jika semua hasilnya baik, maka kau bisa pulang sore ini,"
Lisa mengangguk. Dokter Namjoon pun segera melakukan prosedur pengecekan kesehatan Lisa. Semuanya, hasilnya normal. Dokter Namjoon pun tersenyum puas.
"Bagus Lisa, kau sangat kuat. Sepertinya kau sudah pulih sepenuhnya. Maka kau bisa pulang sore ini,"
"Benarkah?!! Terimakasih dokter.." Lisa hampir melompat kegirangan.
"Hati-hati Lisa, atau kepalamu akan pusing lagi," dokter Namjoon nampak khawatir. "Syukurlah kau memiliki pacar yang sangat baik, aku melihat dia dengan sabar dan telaten merawatmu.." Dokter Namjoon menambahkan kesaksiannya. Jungkook hanya menunduk malu, pipinya merona merah karena disebut sebagai pacar Lisa.
"Pacar??" Lisa merasa asing dengan kata tersebut.
Melihat tanggapan Lisa, Jungkook segera mengalihkan perhatian dokter Namjoon. Ia takut Lisa akan bertanya hal-hal yang akan dianggap aneh oleh dokter Namjoon. Bisa saja dokter Namjoon akan berubah pikiran karena menganggap Lisa masih linglung.
"Apakah urusan administrasi nya sudah bisa saya selesaikan sekarang dok?" Jungkook segera mengalihkan topik.
"Oh ya, tentu bisa. Kau bisa ke ruang administrasi sekarang.." Jawab dokter Namjoon. "Baiklah Lisa, selamat untuk kesembuhannya, jaga kesehatan ya. Saya pamit.." Tambah dokter Namjoon.
Jungkook menarik nafas lega. Lisa melihat aneh terhadap sikap Jungkook.
"Jung, ada apa? Kau terlihat gugup," tanya Lisa cemas.
"Gak apa-apa Lisa. Ini handphone kamu, sebaiknya kamu mengabari orang tuamu jika kamu sudah bisa pulang sore ini, aku akan ke ruang administrasi,"
"Emm, baiklah.." Lisa masih merasa aneh.
***
"Aaahhh aku sangat merindukan kamar iniiii..." Lisa merebahkan tubuhnya di kasur yang spreinya terasa dingin karena lama ditinggal.
"Syukurlah sayang.. Malam ini Lisa ingin makan apa? Biar Eomma masakin buat Lisa,"
Ibu Lisa mengusap kepala anaknya dengan lembut. Hati Lisa menghangat. Keputusannya untuk tetap menjadi manusia adalah pilihan yang tepat. Ia tidak akan sampai hati membiarkan hati kedua orang tuanya yang sudah sangat baik ini hancur. Sedangkan Ibu Peri telah memiliki Peri Lalisa. Lisa pun memeluk erat ibunya.
"Eomma, Lisa rindu.."
Sang ibu membalas pelukan anaknya dengan lebih erat. Air mata bahagia mengalir dari keduanya.
"Bagaimana dengan makan malam samgyetang?"
Meskipun Lisa tidak mengerti apa itu, ia percaya dengan masakan ibunya. Ia pun mengangguk dengan penuh semangat. Senyum merekah dari wajah Lisa, matanya memancarkan binar bahagia.
"Ajaklah Jungkook untuk makan malam bersama malam ini. Ibu tinggal ke dapur dulu ya," pamit ibunya sambil mencium kening Lisa.
Lisa meraih handphonenya untuk mengabari Jungkook tentang makan malam.
***
Lisa memakai dress biru tua selutut dengan lengan panjang. Terdapat aksen putih yang bergambar bunga daisy pada bagian kerahnya. Kerut-kerut di kedua lengan Lisa membuatnya semakin manis. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang ia biarkan tergerai begitu saja. Dengan kaos kaki putih di atas mata kaki membuat penampilan Lisa nampak manis dan muda. Lisa kembali mematut dirinya di cermin full body-nya.
"Lisa, itu Jungkook sudah menunggu di bawah. Kau tidak akan turun?" Ibu Lisa melongok dari pintu kamar.
"Ya, tentu saja. Anak Eomma pun sangat cantik malam ini.."
"Apakah malam-malam sebelum ini Lisa tidak cantik?"
Ibu Lisa memukul kepala Lisa pelan. Ia terlampau gemas. Tentu saja anaknya selalu cantik. Bahkan menjadi semakin cantik setiap harinya. Ia merasa senang, Lisa semakin banyak tersenyum sekarang.
"Turunlah, kasian Jungkook nungguin,"
Lisa mengangguk dan segera melesat menuju ruang tamu. Ia berlarian seperti anak kecil. Senyumnya merekah, tidak luntur meski sedikit saja. Ia ingin segera menunjukkan penampilannya pada Jungkook. Apakah Jungkook akan suka?
"Hai..." Lisa menepuk bahu Jungkook dari arah belakang.
Jungkook yang sebelumnya nampak asyik dengan game-nya pun segera menoleh dan harus terkejut oleh kecantikan Lisa.
"Jung....." dahi Lisa mengerenyit heran.
"Ah, ya.. Lisa.. Hai.." jawab Jungkook dengan gugup.
"Bukankah dress ini sangat cantik?" Lisa sedikit berputar untuk memperlihatkan betapa cantiknya ia malam ini.
"Ya, sangat cantik.." jawab Jungkook sangat lirih. Ia masih terpana.
Lisa sedikit kesal melihat Jungkook hanya bengong saja begitu.
"Baiklah, aku memang tidak terlalu cantik. Pulanglah!" usir Lisa kesal.
"Begitu saja kau sudah marah?" Jungkook meraih sesuatu dari kantong celananya. Sebuah gelang dengan hiasan bintang dan bulan.
Jungkook meraih tangan Lisa. Ia sedikit menyingkap lengan baju Lisa untuk memberi sedikit ruang bagi gelangnya. Dengan penuh kasih, ia memakaikan gelang itu pada lengan Lisa. Lisa terpana mendapatkan hadiah dan perlakuan yang sangat manis dari Jungkook. Hatinya berdebar sangat keras.
"Kau sangat cantik malam ini, Lisa. Dan ini akan membuatmu menjadi sempurna," Jungkook menggenggam erat jemari Lisa. Pandangan matanya yang lembut menatap mata Lisa. Pipi Lisa pun merona. Melihat itu Jungkook hanya tersenyum. Ia mengusap pipi gembil itu dengan lembut.
"Bagaimana jika kita pacaran Lisa?" Jungkook menatap manik Lisa yang berubah penuh tanda tanya.
"Pacar?" kata ini lagi. Apa itu pacar? Jungkook tertawa kecil melihat respon Lisa.
"Pacar adalah seseorang yang akan kau izinkan untuk menggigit pipimu yang menggemaskan ini," Jungkook bercanda sambil mencubit gemas pipi Lisa.
"Yang benar saja?!!!" tentu saja Lis sangat terkejut dengan arti pacar itu. Memangnya siapa yang akan mengizinkan orang lain untuk menggigit pipinya.
Jungkook menjadi semakin jahil. Ia tidak berusaha untuk meluruskan kesalah pahaman itu dan semakin membumbuinya.
"Bahkan ayah dan ibumu, sebelum menikah, mereka pasti juga berpacaran, Lisa. Itu bukan hal aneh!" jawab Jungkook berpura-pura serius.
"Kau membohongi ku lagi,"
"Tidak. Lagian kapan aku membohongimu?"
"Aku akan menanyakan pada ibu," ancam Lisa.
"Tanyakan saja," jawab Jungkook geli.
"Eommaaa," Lisa segera berlari menuju ibunya. Persis seperti anak lima tahun yang ingin pergi mengadu. Terlihat sangat lucu.
"Ada apa ini?" Ayah Lisa yang tiba-tiba muncul menghentikan kegaduhan yang Lisa dan Jungkook buat. Lisa segera menanyakan hal mengenai 'pacar' itu kepada ayahnya.
"Tentu saja, ayah dan ibu berpacaran sebelum menikah. Itu adalah masa-masa yang indah," jawab Ayah Lisa sambil membayangkan keindahan masa mudanya.
"Yang benar saja ayah??!" Lisa sungguh sangat kaget. Ibunya yang memasuki ruangan menjadi heran.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" Ibu bertanya pada semuanya.
"Eomma, apakah Eomma dan Appa benar-benar pacaran?"
" Ya. Tentu saja. Ada apa?" Ibu Lis menjawab dengan santai. Jungkook menahan tawanya. Baginya ini sangat lucu.
"Apakah tidak sakit?" Lisa masih penasaran.
"Sakit?" Ibunya merasa heran.
Jungkook merasa tidak tahan. Ia pun tertawa terpingkal. Tentu saja yang lain meras heran. Jungkook pun menjelaskan bahwa ia sedang mengerjai Lisa. Lisa yang merasa dipermainkan pun mengejar Jungkook.
"Apakah mereka pikir mereka masih balita? Bermain seperti itu," Ayah Lisa hanya menggeleng.
"Justru aku melihat mereka sangat serasi. Ya kan??" Ayah hanya mengangguk setuju.
*****