Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Dua Puluh



"Eomma, bagaimana caramu mengendalikan benda ini? Eomma memiliki ilmu sihir?" Lisa tak habis-habisnya merasa penasaran karena ibunya bisa membuat sebuah benda maju terus dan berada di sebuah jalanan lurus dengan sangat tenang.


"Kau mengajak Eomma bercanda?" ibu Lisa tertawa. "Kau terbiasa membawanya sendiri. Entah ada apa denganmu hingga ingin Eomma yang mengendarainya," ujar ibunya tenang.


"Oh, tidak!" pekik Lisa dalam hati. Ia merasa kebingungan setengah mati. Dirinya masih direpotkan dengan persoalan adaptasi mengenai rumah barunya, kini ia harus berhadapan dengan yang dinamakan kampus dan kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya bisa mengendarai benda ajaib ini! Kalau sapu terbang, ia pernah melihat sesosok peri mengendarainya, tapi benda besar kotak seperti ini? Bagaimana mengendarainya?


"Nah, kita sudah sampai.." ujar ibunya. Belum sempat Lis memikirkan hal-hal selanjutnya, ia sudah dikejutkan lagi oleh kata-kata ibunya.


Ibu Lisa turun lebih dulu dan setelah beberapa menit Lisa tidak turun-turun juga. Ternyata ia sedang kebingungan bagaimana caranya ia bisa keluar dari benda ini? Ia merasa tersekap.


"Tolooongg, Eomma, Tolooongg.." Lisa berteriak sambil menempelkan wajahnya di kaca depan. Wajah Lisa ketakutan. Ibunya melongo dengan heran.


"Ayolah, Lisa, hentikan bercandanya. Kau membuat Eomma bingung," ibunya membuka pintu mobil Lisa dan memandangi anaknya yang bertingkah aneh.


"Turunlah," ujar Ibunya.


"Ku pikir Eomma akan meninggalkanku.." Lisa berkata dengan nada cemas. Dalam otaknya, ia langsung merekam bahwa bila ia hendak keluar dari benda ini lagi, ia harus membuka salah satu sisi yang sepertinya berfungsi sebagai pintu.


"Eomma rasa kau terlalu mengalami tekanan dan trauma yang hebat dalam kepergianmu kemarin. Kau diapakan? Apakah kau diculik?" tanya ibunya mulai panik.


"Tidak, Eomma. Aku hanya masih merasa terkejut saja.." elak Lisa. Ibunya memandanginya dengan tatapan curiga.


"Kau sudah sampai kampusmu. Eomma tidak akan menemanimu lago. Eomma akan berbelanja kebutuhan rumah dan akan menjemputmu sekitar jam makan siang." ujar ibunya mengusap rambut Lisa. Matanya tertuju pada sesuatu di rambut putrinya.


"Hiasan rambutmu cantik sekali," puji ibunya menatap bunga kristal yang menempel di rambut indah putrinya. Lisa tersipu.


"Siapa yang memberikannya?" ibunya menatap curiga. Bagaimana Lisa menjawabnya? Ia tidak biasa berbohong dan kini ia harus selalu berbohong mengenai keadaan dirinya yang sebenarnya. Lisa menatap ke sekeliling. Tempat bernama kampus ini mulai ramai dan banyak orang berlalu lalang. Lisa terkejut menatap seseorang.


"Itu dia yang memberikannya padaku, Eomma! Sampai jumpa lagi saat makan siang.." Lisa sebenarnya tidak tahu kapan waktu makan siang itu yang dimaksud ibunya. Lisa segera kabur dari ibunya ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Ia mengejar orang otu dengan sangat antusias.


Ibunya menatap kepergian putrinya dengan kebingungan. Putrinya sudah memiliki kekasih? Ini benar-benar mengejutkan. Selama ini putrinya tidak tampak dekat dengan siapa pun. Ah, itu bisa ditanyakan nanti. Ia pun segera berbalik menuju mobilnya kembali.


"Peri Jung!" Lisa menepuk pundak seseorang yang dikiranya adalah Peri Jung. Tidak disangka Peri Jung adalah peri yang ditukar seperti dirinya juga. Ini benar-benar takdir yang hebat.


"Siapa kau?" seseorang yang dikira Lisa adalah Peri Jung menoleh dengan wajah kebingungan. Lisa yang ganti melongo. Jadi, dia bukan Peri Jung?


"Ah kau jangan pura-pura tidak mengenalku di sini. Kau yang memberikan hiasa rambut ini padaku," ujar Lisa dengan percaya diri sambil menyentuh salah satu sisi kepalanya. Orang di depannya semakin tertegun.


Lisa menilik dirinya sendiri. Apakah pakaiannya tampak aneh? Harusnya tidak. Ia tentu saja memakai baju-baju milik Lalisa selama dirinya ada di dunia manusia. Dengan perasaan ragu, ia pun mulai melangkah memasuki gedung yang benar-benar nampak asing sekali di matanya. Ia mungkin harus banyak bertanya pada orang sekitarnya.


Untung saja para peri bunga diajari menulis dan membaca. Mereka sedikit banyak meniru cara-cara manusia bersosialisasi. Tapi, walaupun Lisa bisa membaca, akan sangat membutuhkan waktu lama untuk mengenal dan mempelajari banyak hal dalam waktu singkat. Lisa membulatkan tekad, ia harus bisa!


***


Lisa menemukan ruang untuk mengurus berkas-berkas perkuliahannya. Ibunya telah menyuruhnya untuk ke ruangan ini dan itu. Lisa mencatat semua instruksi ibunya agar tidak terjadi kesalahan. Karena ia mengambil cuti begitu lama, ia harus mengambil kelas tamabahan untuk mengejar ketertinggalannya mulai besok.


Sesuatu berbunyi dari dalam tasnya.Lisa menyadari itu sebagai alarm dari ibunya. Katanya ia kemarin pergi kemah begitu saja tanpa membawa ponsel sehingga ia sulit dilacak. Lisa mengambil benda kotak pipih dan menempelkannya begitu saja ke telinganya.


"Eomma," sapa Lisa dengan keras sehingga orang-orang memandangnya.


"ponselmu terbalik," seseorang tertawa melihat Lisa sambil berkomentar.


"Terbalik?" tanya Lisa pada dirinya sendiri dan menatap ponselnya. Semalam ia sudah coba memperhatikan benda seperti ini yang dipakai ibunya. Bagaimana cara menggunakannya ya? Lisa merasa bodoh sekali. Benda itu terus saja berbunyi.


Seseorang meraih ponsel itu dan menyentuh layar dengan icon berwarna hijau lalu menyerahkannua pada Lisa. Peri Jung! Peri Jung menyuruh Lisa berbicara setelah ponsel ada di tangan Lisa kembali.


"Eomma," kali ini Lisa berbicara lirih, ia malu sekali dengan kejadian tadi. Ia berbicara sambil memandangi Peri Jung yang langsung berlalu begitu saja.


"Apakah kau sudah selesai? Eomma akan menunggumu di parkiran. Atau kau ingin Eomma menjemputmu nanti saja?" tanya ibunya di telepon.


"Apakah ini sudah jam makan siang?" tanya Lisa sambil memandang ke sekeliling. Ia melihat sebuah benda bulat besar tertempel di dinding, ada angka-angka yang tertera di sana. Ada benda semacam jarum yang bergerak-gerak. Benda apakah itu?


"Ya, apakah kau tidak lapar? tanya ibunya lagi. Lisa mengangguk saja tanpa menjawab. Ia berjalan keluar gedung menuju tempat saat tadi pagi ia berpisah dengan ibunya. Dilihatnya Peri Jung menghampiri benda yang mirip dengan yang tadi dikendarai oleh ibunya.


"Wah, jadi kau juga bisa mengendalikan benda ini.." puji Lisa sambil mendekat ke seseorang yang dikiranya Peri Jung.


"Apa maksudmu?" tanya orang itu dengan wajah semakin heran. Gadis ini aneh sekali. Seperti baru pertama kali mengenal kecanggihan tekhnologi.


"Kau dari planet mana?" pertanyaan itu sebenarnya penuh dengan nada ejekan tapi Lisa menangkapnya berbeda. Ia sama sekali tidak merasa bahwa itu hanyalah sebuah pertanyaan sarkas.


"Aku dari negeri bunga! Kau sendiri dari mana?" Lisa menjawab riang dan mengulurkan tangannya pada seseorang yang mirip sekali dengan Peri Jung yang sudah melongo di hadapan Lisa.


*****