Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Empat Belas



Peri Lisa sedang terikat di atas pohon aneh yang tumbuh di dalam rumah penyihir Black Lady. Pohon itu tumbuh lurus dan di bagian bawahnya berada di kuali besar yang sedang mendidih. Jadi, setiap menit pohon itu akan bertambah pendek karena bagian bawahnya termasak, dan tentu saja Peri Lisa juga semakin mendekat ke bibir kuali. Black Lady mulai merapa mantra.


"Pengorbanan tubuh peri gadis akan menyempurnakan ramuan ini agar aku bisa hidup abadi. Peri gadis dan pohon abadi akan membuatku cantik dan abadi. Hahaha,"


Suara tawa serak dari penyihur itu menggema memenuhi ruangan. Burung gagak hitam berkoak-koak seakan mengamini perkataan si penyihir. Ia bertengger tenang di atas ranting yang ada di rumah penyihir itu.


Peri Lisa berusaha membebaskan diri dari ikatan yang membelenggunya. Sulit sekali melenturkan tubuhnya dari ikatan tali kayu yang kuat ini. Semakin ia mencoba untuk mengecilkan tububnya agar ikatan semakin renggang, maka tali itu akan semakin kencang membelitnya. Tubuhnya sudah semakin mendekat pada bibir kuali raksasa. Ia seharusnya menuliskan pesan terakhir saja pada Peri Jung dan Peri Jisoo, sekalian minta dikirimkan salam perpisahan ke ibunya di negeri peri bunga.


Peri sejati bisa mengubah dirinya menjadi hewan atau pohon dan semacamnya jika dalam keadaan terdesak. Tapi, Peri Lisa tidak bisa. Ia tidak bisa menyamar. Keberadaannya akan tetap seperti ini. Tiba-tiba ia merasa sedikit sedih. Ia merasa firasatnya selama ini benar, bahwa dia memang bukan peri. Apalagi peri sejati. Apa gunanya hidup sebagai peri jika ia sama sekali tidak memiliki kekuatan sebagai peri selain hanya sayap buatan pemberian ibunya ini? Peri Lisa menghela napas dan mulai pasrah jika nasibnya akan berakhir seperti ini.


"Siapa pun ibu yang melahirkanku ke dunia, aku berterimakasih padanya karena aku sempat hidup dan berbahagia walaupun kebahagiaan itu terasa semu. Aku akan sangat bahagia jika bisa melihat wajahmu, Eomma. Tapi, karena aku tidak bisa, aku berharap bisa bertemu denganmu nanti di surga." Bisik hati Peri Lisa dengan perasaan sangat sedih.


***


Prang...


Tiba-tiba gelas yang dipegang ibu Lalisa terjatuh. Perasaannya menjadi sangat was-was. Entah kenapa dia merasa ada seseorang yang memanggilnya dan membutuhkannya. Tapi ia tidak tahu siapa. Lalu ia teringat putrinya.


"Oh, putriku.. Apakah kamu baik-baik saja nak?"


Ibu Lalisa merapikan pecahan gelas agar tidak melukai orang. Lalu ia masuk ke kamar Lalisa dan memandangi foto yang terpajang di dinding kamar itu. Putrinya yang sangat cantik.


"Pulanglah, nak. Kami telah mencarimu kemana-mana, tapi dimana kamu sebenarnya? Bagaimana kau bisa menghilang begini? Ada apa denganmu nak?"


Ia dan suaminya telah mencari keberadaan Lalisa selama seminggu ini, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Lalisa. Seolah putrinya menghilang secara ajaib dan misterius. Tidak ada jejak, petunjuk atau pun saksi mata yang dapat mereka temukan.


Dimensi waktu dunia manusia dan dunia peri memang berbeda. Sepertinya Lalisa baru pergi satu hari, tapi setelah ia memasuki dunia peri, keadaan menjadi berubah drastis. Kepergian Lalisa yang baru sehari bagi Lalisa, tapi ternyata sudah seminggu bagi orang tuanya.


***


Peri Jung sudah berubah menjadi seekor beruang putih. Ia mengendap-endap mendekati rumah penyihir yang telah ditunjukkan oleh tupai-tupai salju. Peri Jung telah meminta para tupai untuk kembali ke Negeri Peri Salju. Ia tidak ingin para tupai itu terluka. Hal itu tentu akan membuat Peri Lisa jadi merasa bersalah.


Peri Jisoo sendiri tidak bisa berubah karena kesehatannya yang belum pulih seratus persen. Rencana Peri Jung, ia akan mengalihkan perhatian penyihir itu dengan bantuan Peri Jisoo. Dengan Peri Jisoo yang menampakkan wujud aslinya, itu akan mempermudah untuk menarik perhatian penyihir itu. Sudah sangat dikenal di negeri para peri jika penyihir hanya tertarik dengan peri. Akan sulit untuk mengalihkan perhatian penyihir dengan mahluk hidup lainnya.


Dengan sedikit gemetar Peri Jisoo mengetuk pintu rumah penyihir, tepat ketika Peri Lisa sudah memejamkan mata dan pasrah dilumerkan oleh air mendidih di bawahnya. Peri Lisa sudah merasakan uap panas yang sudah terasa sangat dekat pada kaki-kakinya yang terikat kuat.


"Siapa yang berani menggangguku saat aku akan membaca mantra terakhir?!"


Peri Jung sudah menyelinap melalui jendela belakang yang terbuka. Ia tidaj ingin membuang waktu. Ia tahu, ia harus cepat atau Peri Jisoo juga akan berada dalam bahaya.


Pintu pun terbuka.


"Halo.."


Peri Jisoo menatap ke arah penyihir. Selama sepersekian detik ia sempat merasa gentar. Mata penyihir berkilat menyeramkan. Ia menelan ludah kasar. Otak pintarnya berpikir keras.


"Aku jauh-jauh datang kemari untuk menawarkan diri.."


"Apa maksudmu?!"


"Peri yang ada di dalam rumahmu, bukan peri sejati. Ia adalah seorang peri palsu yang ditukar. Dan aku adalah peri yang asli."


Peri Jisoo berusaha mengulur waktu. Ini adalah strateginya agar Peri Jung memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan Peri Lisa. Ia akan memikirkan jalan keluar untuk dirinya sendiri nanti.


"Hehehe, benarkah?!"


Penyihir ini tentu tidak akan mempercayai perkataan Peri Jisoo begitu saja. Bahkan keserakahannya membuat dia berpikir untuk memasak keduanya. Tentu saja dua peri akan lebih mengenyangkan dan manfaatnya bisa double bukan. Ia menang banyak, demikian khayalnya riang.


Peri Jisoo mengangguk mantap. Ia sudah membulatkan tekad untuk menyelamatkan Peri Lisa. Bagaimana pun, Peri Lisa juga sudag menyelamatkan dirinya dari Siluman Sawi sebelum ini.


"Kau pikir aku bisa kau bodohi, peri kecil?!"


Si penyihir sudah bersiap mengayunkan tongkatnya untuk melumpuhkan Peri Jisoo. Peri Jisoo yang sudah menyiapkan diri atas serangan penyihir segera menghindar. Sambil berdoa, ia masih berusaha untuk mengulur waktu.


Peri Jung menggunakan usaha terbaiknya untuk bergerak cepat. Ia naik ke atas loteng, dengan cepat dia sudah berada di sebuah lubang di tengah rumah. Ia menjulurkan tangannya yang kokoh, berusaha meraih pohon yang menjadi pijakan Peri Lisa. Peri Lisa mendongak dan berteriak. Ia terkejut karena ada seekor Gorila yang terlihat ingin menerkamnya. Tentu saja Peri Lisa tidak tahu bahwa itu adalah Peri Jung yang menyamar. Diliputi perasaan yang takut, Peri Lisa nampak pasrah dengan ajalnya.


Mendengar teriakan dari dalam rumahnya, si penyihit memicingkan matanya ke dalam rumah. Peri Jisoo mengambil kesempatan ini untuk ikut menyelinap. Ia bersembunyi agak jauh agar ia tidak tertangkap.


Rupanya Black Lady adalah seorang penyihir yang bodoh. Keserakahannya membuat dia tetap ingin menangkap Peri Jisoo dan mengabaikan teriakan Peri Lisa. Tapi Peri Jisoo sudah menghilang dari pandangannya. Namun ia tetap terkekeh. Dia yakin bisa menemukan Peri Jisoo melalui penciumannya.


Sementara Peri Jung sudah berhasil menarik pohon aneh tersebut. Ia berusaha meraih Peri Lisa dan melepaskan ikatan sihirnya dari pohon. Setelah Peri Lisa berhasil terlepas, Gorila putih itu berusaha menggoyangkan pohon besar itu dengan keras. Dengan cepat Peri Jung melompat turun dari loteng. Sambil melompat, ia menendang pohon sekali lagi sebagai tumpuan agar tidak jatuh ke bejana yang berisi air mendidih di bawahnya. Akibatnya pohon besar itu roboh dan membuat bangunan rumah penyihir ikut ambruk.


*****