
Ibu Peri sudah sangat lemas. Ia merasa haus. Tenggorokannya terasa lebih kering. Ia berusaha minum, hanya saja air itu seperti melewati padang pasir. Ia sangat gugup.
"Malam ini semua Peri dan bahkan anggota istana akan disibukkan dengan pesta.."
Ibu Peri kembali berhenti. Ia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang lainnya. Matanya bahkan sudah kembali memanas. Air matanya sudah berdesakan di kelopak matanya yang indah. Namun, ia sudah membuat keputusan demi kebaikan bersama.
"Lisa.. Seorang peri yang sejati, jika sudah menumbuhkan sayapnya, maka sudah tidak ada jalan untuk kembali.."
Ibu Peri tercekat oleh kalimatnya sendiri. Air matanya semakin deras. Ia tak mampu memandang wajah anak yang sudah dibesarkan dan disayanginya selama ini.
Peri Lisa terdiam. Ia sudah mengerti arah pembicaraan ibunya. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa setelahnya. Di sebelahnya, Peri Jisoo sedang menggenggam bahunya sangat erat. Ia merasa akan segera berpisah dengan sahabat yang sudah bersamanya dalam suka dan duka. Sedangkan Lalisa, dengan raut wajah yang tak terbaca, ia hanya duduk berdiam diri.
"Nak.."
"Anakku, kau tau bukan? Ibu sangat menyayangimu. Ini semua adalah kesalahan ibu. Namun, ini juga adalah jalan untuk menyelamatkan kita semua. Andaikan bisa ibu saja yang menerima hukuman, maka akan ibu lakukan. Tapi, kau sangat tahu hukum di negeri ini.."
Lisa berlari dan memeluk ibunya. Mereka menangis keras sekali. Ada perasaan rindu yang sudah sangat besar di dalam hati mereka. Bahkan, dia baru saja pulang. Begitulah yang ada dalam pikiran Peri Lisa. Dia masih ingin bersama dengan ibunya. Satu malam lagi. Tidak bisakah?
"Kau harus pergi saat pesta berlangsung. Dengan begitu, tidak akan ada yang menyadari kepergianmu.."
"Ibu.. Tapi ini sudah malam.."
Lalisa membuka suaranya. Ia merasa telah menjadi penyebab segala kekacauan yang sedang terjadi. Ibu Peri hanya menunduk sedih. Ia tidak bisa memikirkan jalan keluar yang lainnya lagi. Ia masih merasa bahwa ini adalah yang terbaik.
"Lalu, kemana Peri Lisa akan pergi? Apakah kalian tidak khawatir? Peri Lisa.. Apakah kau bisa bertahan? Apakah kau akan baik-baik saja?"
Peri Jisoo sudah tidak tahan lagi. Bagaimana pun Peri Lisa adalah sahabatnya. Tentu saja dia mengkhawatirkannya. Dan Peri Lisa juga masih sangat lemah. Bagaimana jika ada penyihir lain yang menculiknya? Ataukah beberapa monster hutan akan menangkapnya? Segala pikiran itu semakin membuat Peri Jisoo ketakutan.
"Peri Lisa bisa kembali ke rumah orang tua kandungnya. Akan ku berikan alamat dan arah jalannya agar kau tak tersesat. Mereka adalah orang yang sangat baik. Aku yakin, kau akan baik-baik saja. Maafkan aku. Aku bukan bermaksud merebut tempatmu."
"Baiklah.. Namun, sebelum pergi, aku akan menceritakan berbagai hal mengenai diriku agar tidak menimbulkan kecurigaan.."
"Terimakasih.."
"Ibu akan meminta izin kepada Raja agar kalian tidak ikut berpesta. Aku akan menggunakan alasan kalian terluka dan harus istirahat. Terutama kau Peri Jisoo, kau butuh perawatan.."
Ibu Peri menepuk punggung Peri Jisoo lembut. Peri Jisoo tersenyun. Dia memang terluka tapi sebenarnya dia merasa baik-baik saja. Dia merasa yang seharusnya dikhawatirkan saat ini justru adalah Peri Lisa.
***
"Raja, sebelumnya Saya mewakili Peri Jisoo dan Peri Lisa ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan Raja dan mengadakan pesta yang meriah ini untuk kami. Namun, Saya harus memohon maaf karena Peri Jisoo dan Peri Lisa nampak sangat lelah. Saya rasa mereka membutuhkan istirahat dan pemulihan. Dan Peri Jisoo juga terluka. Maka Saya, mewakili anak-anak hamba, meminta izin kepada Raja.."
Raja nampak berpikir. Ia memang sudah melihat kondisi mereka yang sudah sangat kepayahan. Dia juga melihat bagaimana sayap Peri Jisoo ada yang rusak. Namun, sesungguhnya Raja mengadakan semua ini adalah untuk Peri Lisa dan Peri Jisoo. Rasanya sangat disayangkan jika pemeran utamanya tidak dapat hadir.
"Ibu Peri, sebenarnya saya sangat menyayangkan jika mereka berdua tidak bisa hadir. Tapi, saya sangat mengerti jika mereka membutuhkan istirahat dan pemulihan. Saya akan mengizinkan mereka untuk beristirahat hingga mereka benar-benar pulih. Namun, pesta ini akan sangat terbuka untuk kehadiran mereka.."
"Baik, terimakasih banyak Raja.."
Ibu Peri segera berpamitan. Ia harus menjaga Peri Lisa dan Peri Jisoo. Sepanjang jalan pulang, ia sambil melihat bagaimana agar bisa melewati gerbang tanpa ketahuan. Dan benar saja, jalanan nampak lengang. Keramaian hanya terpusat di balai istana negeri peri bunga. Hampir semua peri telah berkumpul di sana.
***
Peri Lisa telah selesai menceritakan hal-hal yang perlu Lalisa ketahui. Akan sangat bahaya jika nanti ia ketahuan bahwa dia bukan Peri Lisa yang mereka kenal. Pada saat itu, Ibu Peri telah datang. Ia segera memeluk Peri Lisa lama sekali. Ada perasaan untuk membatalkan semua rencananya. Namun, itu akan sangat tidak aman.
"Ibu, aku akan baik-baik saja.."
Ibu Peri semakin menangis. Mereka berpelukan satu kali lagi. Pelukan yang cukup lama. Begitu pula dengan Peri Jisoo. Ia sudah merasa sangat kehilangan sahabatnya.
"Peri Jisoo, terimakasih sudah menerimaku menjadi temanmu. Aku harap kau tidak marah kepada Lalisa. Jadikan dia temanmu juga, Oke?!"
Lalisa menunduk mendengarnya. Ia merasa serba salah. Ia tidak mengharapkan situasinya akan menjadi seperti ini. Ia tidak tahu bahwa ini akan menjadi begini. Ia hanya tidak terpikir bahwa kehadirannya akan membuat yang lainnya harus pergi demi dia. Namun, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.
"Lalisa, ah tidak, saat ini kaulah Peri Lisa.."
Peri Lisa tersenyum kepada Lalisa. Ia akan berpamitan saat ini juga. Ia ingin pergi saat hatinya masih yakin dengan keputusan ini. Jika dia menundanya, Peri Lisa takut tidak akan sanggup lagi untuk pergi.
"Kau akan menyukai dunia manusia. Kau akan sangat menyukai orang tuamu. Mereka sangat baik. Sungguh. Kau hanya harus mengikuti arah yang sudah kuberikan padamu. Kau akan sampai dengan selamat."
Peri Lisa mengangguk. Ibu Peri akan mengantarnya hingga ke perbatasan hutan. Peri Jisoo dan Peri Lalisa hanya akan mengantar sampai gerbang. Saat ini Peri Jisoo sudah sangat lemah, Ibu Peri khawatir itu justru akan membahayakan Peri Jisoo sendiri.
Sebelum pergi, Ibu Peri harus mengambil sayapnya yang ia tanamkan pada punggung Lisa. Ya, dia memang bukan seorang peri. Rasanya memang benar jika dia hanya dipanggil Lisa saja.
Ibu Peri menangis sedih ketika ia menyayat punggung Lisa demi membuang sayapnya itu. Selayaknya seorang manusia, ia berdarah banyak sekali. Melihat hal itu, Lalisa mengusap jemarinya. Ia mengingat kejadian operasi pengangkatan ibu jari yang berlebih di dunia manusia. Ia menarik napas panjang. Ya, dia adalah seorang peri dan orang di depannya inilah yang manusia.
Dengan cekatan Ibu Peri menjahit luka itu dan memberikan berbagai obat-obatan. Lisa sudah meminum semacam ramuan obat untuk mengurangi rasa sakit. Dan Ibu Peri telah memberikannya beberapa botol sebagai bekal perjalanannya. Akhirnya saat perpisahan telah tiba. Lisa harus segera kembali ke dunia manusia.
*****