Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Episode Tiga Puluh Sembilan



Dunia perkuliahan Lisa telah berjalan normal kembali begitu Lisa telah pulih. Lisa pun sudah hampir melupakan kedatangan Ibunda Peri-nya. Ia sangat sibuk akhir-akhir ini. Ada banyak hal yang perlu ia kerjakan. Tugas, praktikum, persiapan quis dan lainnya. Jadwalnya sedang sangat padat.


Saat sedang memilah materi sebagai bahan quis yang akan diadakan esok hari, Lisa sekilas melihat benda putih berbulu yang nampak menggemaskan.


Betapa terkejutnya Lisa ketika bola-bola bulu itu menggelinding ke arahnya. Terdengar suara 'pop' dari kerling-kerling mata yang mulai muncul pada bola-bola tersebut. Lisa pun hampir memekik dibuatnya.


Tupai-tupai salju!


Sebuah dering telepon mengalihkan perhatian Lisa dari Tupai-tupai salju yang telah berbaris rapi menatap Lisa. Mata mereka mengerjap lucu. Sangat menggemaskan.


"Halo,"


"Aku di bawah sayang,"


"Naik saja ke kamarku Jung,"


Lisa mematikan sambungannya. Para tupai salju masih setia menunggunya dengan mata yang berkedip-kedip lucu. Lisa meneliti tupai-tupai itu. Tidak ada yang aneh sama sekali. Tidak ada tanda-tanda surat atau benda apa pun yang mungkin sengaja dikirim kepadanya dari dunia peri.


"Jadi, kalian mengunjungiku dalam rangka apa?" Lisa heran sendiri.


Pintu kamar terbuka perlahan. Nampak Jungkook sedang menghampiri Lisa diam-diam. Dia melihat Lisa dengan wajah penuh kebingungan sedang menatap kekosongan. Terkadang tangannya seperti sedang mengangkat dan meneliti sesuatu. Tapi, ia tidak tahu itu apa. Jungkook tidak bisa melihatnya.


Lisa menoleh karena telah merasakan kehadiran Jungkook di kamarnya. Ia tersenyum dan menyapa seadanya. Lisa masih disibukkan dengan tupai-tupai salju.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Jungkook merasa Lisa semakin aneh.


"Jung, apakah kau tidak bisa melihat mereka?" Lisa menatap Jungkook sebentar, sebelum kembali meneliti tupai salju satu per satu.


Jungkook mengerenyitkan dahi. Memangnya ada siapa lagi selain mereka berdua? Jungkook mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Ia bergidik ngeri.


"Lisa, tolong jangan bercanda," Jungkook memegang pundak Lisa dengan mata yang masih mengawasi kanan dan kirinya. Cengkramannya terasa sedikit kuat bagi Lisa.


Lisa tersadar jika, mungkin saja, Jungkook tidak bisa melihat tupai-tupai salju ini. Ia menepuk dahinya pelan sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada Jungkook.


"Jadi apa yang dilakukan tupai-tupai itu?" Jungkook nampak lebih tenang dari sebelumnya.


"Tidak tahu," Lisa mengedikkan bahunya, cuek. "Apa yang membawamu ke sini, oppa?" Lisa mencoba menggoda Jungkook.


Dipanggil dengan sebutan 'oppa', telinga Jungkook memerah. Ia merasa senang sekaligus berdebar.


"Lisa-ya, apa yang kau inginkan?" Jungkook menabahkan diri. Ia coba menggoda balik dengan melakukan gerakan yang mencurigakan.


"Jungkook, apa yang ingin kau lakukan?! Yaaa, Jungkook..!" Lisa gugup karena Jungkook semakin mendekat, seolah ingin menerkamnya.


"Yang ingin ku lakukan adalah menerkammu... Auuu..." Jungkook mengaum gemas sambil menggelitik pinggan Lisa tanpa ampun.


Lisa terkikik geli. Ia berusaha melepaskan diri tapi Jungkook terlalu kuat baginya. Lisa terus berteriak minta dilepaskan. Namun, tentu saja Jungkook tidak akan menuruti permintaan kekasihnya. Mereka tertawa bersama, sambil kadang berpelukan tanpa sengaja. Tupai-tupai salju yang terlupakan itu pun menatap aneh pada Lisa sebelum akhirnya menghilang dengan kerling cahaya di sekitarnya.


***


Jungkook melihat Lisa telah menghembuskan nafas lebih dari sepuluh kali pun ikut merasa khawatir. Mereka sedang ada di perpustakaan keluarga Jungkook. Jungkook berinisiatif untuk membuat minuman hangat untuk membantu Lisa lebih rileks.


Secangkir jasmine tea hangat dengan irisan lemon didalamnya. Aroma harum teh melati dengan sedikit aroma citrus membuat Lisa menoleh. Aromanya sangat menenangkan. Sepertinya itu enak.


"Apa ini?" Lisa menerima cangkir itu dari Jungkook.


"Minumlah.. Ini akan membantumu menguraikan benang kusut di kepalamu," Jungkook mengusap kepala Lisa lembut.


Lisa meminun teh hangat itu. Matanya terpejam, menikmati aroma citrus yang menyegarkan. Beban pikiran sedari kemarin serasa menguap begitu saja. Lisa menyesap lagi tehnya. Ia melupakan keberadaan Jungkook. Ia ingin begini saja saat ini. Ia lelah berpikiran hal-hal yang masih jadi misteri.


Jungkook mengamati Lisa. Ia sungguh cantik. Begitulah pikir Jungkook. Wajar saja, ia adalah peri. Ah. Bukan. Bukan lagi. Lisa adalah manusia, seperti dirinya. Jungkook kembali resah. Ia ingat cerita Lisa soal kunjungan dari duni peri. Apakah Lisanya akan dibawa ke dunia yang tidak ia tahu itu lagi? Apakah Lisa akan meninggalkannya?


***


Di sebuah bukit yang ditumbuhi berbagai jenis bunga yang berwarna-warni, ada seorang peri yang sedang duduk sendiri sambil memainkan flute yang sempat dibawanya dari dunia manusia. Suara flute yang meliuk merdu, disertai semilir angin musim semi yang sejuk, menambah pemandangan menjadi semakin indah.


Peri Jung duduk diantara rimbunnya bunga poppy yang berwarna jingga. Bunga ini bisa jadi sangat beracun, namun itu tidak akan berlaku bagi para peri. Maka Jungkook santai saja menikmati hari bersama dengan Peri Lalisa.


"Hari pernikahan sudah sangat dekat, sepertinya kau tidak gugup sama sekali," Peri Jung segera membuka percakapan begitu Peri Lalisa meletakkan flute-nya.


"Aku gugup, tentu saja. Justru karena itulah aku memimkan flute ini," Peri Lalisa menjawab dengan senyuman yang manis.


"Ah, namanya flute. Kau dapat darimana?" Peri Jung penasaran. Di dunia peri tidak ada benda semacam ini. Benda ini bisa mengeluarkan suara yang begitu merdu, ia merasa sangat kagum


Peri Lalisa menahan tawanya melihat Peri Jung yang begitu takjub. Ia senang, pada akhirnya perasaannya berbalas. Ia tidak salah memilih. Peri Jung sangat baik juga menyayanginya.


Mereka berbincang ringan. Peri Jung juga diajari untuk meniup flute oleh Peri Lalisa. Ia merasa gembira bisa menghabiskan waktu bersama orang yang dia sukai di tempat yang begitu indah.


"Bagaimana dengan tupai-tupai saljumu? Apakah sudah ketemu?" Peri Lalisa menanyakan hal yang sempat merisaukan mereka beberapa hari yang lalu.


"Ya, mereka tiba-tiba saja sudah ada di rumah pada sore harinya," Peri Jung menjelaskan. "Padahal kita telah mencari mereka, berkeliling hutan, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka," Peri Jung menambahkan.


"Ya, itu sangat aneh memang," Peri Lalisa tidak mengerti kemana mereka menghilang.


"Oh ya, apakah kau akan mengundang Peri Lisa? Ah maksudku Lisa," Peri Jung sudah terbiasa untuk memanggil Peri Lisa.


"Entahlah, aku khawatir itu akan membahayakan Lisa. Bagaimana menurutmu?" Peri Lalisa bertanya dengan mata sendu. Bagaimana hari besarnya harus ia rayakan tanpa saudara kembarnya itu.


Peri Jung ikut menggaruk kepalanya yang bahkan sama sekali tidak gatal. Sudah lumrah ketika ada hari bahagia, kita ingin melewati hari itu bersama orang-orang yang penting bagi kita. Peri Lalisa dan Lisa telah berbagi orang tua yang sama. Tentu saja muncul kedekatan spesial, semacam chemistry, atau semacamnya. Begitu pula antara Lisa dan Peri Lalisa.


*****