
Ternyata perjalanan ini begitu tidak mudah, penuh dengan bahaya. Peri Lisa sama sekali tidak menyangka bahwa usaha untuk menyelamatkan desanya sama dengan menyerahkan nyawanya sendiri. Pantas saja banyak peri yang memilih tidak pergi dan menunggu saja kehancuran mendatangi mereka.
Peri Lisa membuka bekalnya dan mulai mengunyah sawi yang berbumbu garam dan bubuk pedas rasa kari. Peri Jung mengamatinya.
"Kau mau?"
Peri Lisa bertanya pada Peri Jung. Peri Jung masih memandanginya dengan heran
"Aku hanya makan lumut es"
"Lumut es?"
Peri Lisa nampak heran dengan perkataan Peri Jung. Peri Lisa langsung penasaran seperti apa bentuk makanan dari Peri Salju. Mungkin sesuatu yang keras dan dingin.
"Nanti akan kutunjukkan. Biasanya ia tumbuh di dalam lubang kayu cemara putih.."
"Apakah rasanya enak?"
"Dingin dan manis"
Peri Jung tersenyum melihat keingintahuan Peri Lisa yang tinggi. Sedangkan Peri Lisa mengangguk-angguk saja atas semua penjelasan dari Peri Jung. Ia hampir bisa memakan semua makanan, kecuali yang beracun tentu saja. Tapi, disaat peri lainnya salah makan jamur yang membuat perut merek terasa mual dan kepala mereka menjadi pusing, Peri Lisa yang ikut memakan jamur tersebut tetap merasa baik-baik saja. Ia sendiri heran dengan keadaan itu, menurutnya, mungkin karena ia memiliki stamina tubuh yang bagus.
Sekarang mari kita lihat keadaan Peri Jisoo yang ditinggalkan oleh Peri Lisa. Peri Jisoo merasa lebih baik setelah banyak beristirahatdan setelah mengunyah daun tapak kaki kuda. Dalam kunyahannya, ia mulai merasa cemas karena Peri Lisa tidak juga kembali setelah meninggalkannya begitu lama. Ia berniat menyusul Peri Lisa. Ia harus menyelesaikan misi ini. Misinya dengan Peri Lisa.
Peri Jisoo juga sedang memikirkan alternatif lain. Haruskah ia meminta bantuan negeri peri matahari? Di sana ia mengenal beberapa peri. Letaknya sangat jauh sekali dari tempatnya berada, bahkan lebih jauh dari negeri peri salju. Ia harus berbelok ke kiri dan lurus menuju padang yang luas dan tandus. Ia bisa mati kehausan di daerah itu. Tapi, negeri peri matahari tentu saja bisa membantu desanya.
Jika salju dari negeri peri salju terlanjur menutupi desamya, ia tinggal meminta negeri peri matahari
meminjamkan matahari yang mereka punya dan melelehkan salju-salju. Tapi, resiko terbesarnya, mereka bisa-bisa ikut terbakar karena panasnya dan tentu saja bunga-bunga akan ikut mengering. Penduduk negerinya pun sementara harus mengungsi terlebih dahulu dan itu artinya sama saja mereka akan tinggal di wilayah yang bersalju juga. Peri Jisoo mendadak bingung.
Penduduk Negeri Peri Bunga hanya bisa bertahan di iklim yang sejuk nan tropis. Mereka bukan penduduk Negeri Peri Salju yang bertahan di iklim dingin atau penduduk Negeri Peri Matahari yang bisa bertahan di iklim yang sangat panas. Bisa saja setelah salju mereka akan menghadapi kemarau panjang karena negeri peri matahari memainkan perannya. Kenapa negerinya harus mengalami hal seperti ini?
Peri Jisoo tidak memyadari bahwa bahaya akan mengintai dirinya setelah memasuki hutan yang sudah ditutupi salju. Ia terbang dengan sangat lambat dan udara yang dingin ikut membuat matanya berkabut.
***
"Nona Lalisa, apakah kau sudah siap dioperasi?" tanya seorang dokter bedah sambil duduk di sebelah gadis cantik yang sejak tadi hanya diam. Gadis bernama Lalisa menatap mata sang dokter dan mengangguk. Sang dokter merasa tatapan itu sangat mengintimidasi dan mematikan. Entah kenapa.
"Ibumu bisa menunggu di luar. Operasi akan berjalan cepat. Mungkin hanya lima belas menit. Kau tidak akan merasakan sakit." Sang dokter menjelaskan sedikit prosedur operasi. Ibu Lalisa turut mengangguk-angguk.
"Aku tidak perlu dibius," Ujar Lalisa datar. Dokter cukup tercengan mendengar pernyataan itu. Pembiusan lokal tetap akan dilakukan, itu sudah salah satu prosedur operasi.
Kemudian gadis cantik itu pun memasuki ruang operasi. Ibunya menggenggam tangan Lalisa yang dingin.
"Kau akan baik-baik saja" Ibunya menatap anak gadisnya dengan tatapan lembut.
"Aku tahu, Eomma tidak perlu khawatir" dengan wajah yang tetap datar, Lalisa mengangguk.
Lalisa memasuki ruang bedah. Jempolnya yang kebanyakan akan dibuang satu sehingga ia akan memiliki jari yang normal. Kenapa ibunya tak membuang kelebihan jempol ini sejak dulu? Bukankah lebih mudah jika dilakukan sejak dulu?
"Kau tak pernah mau membuang jempol itu sejak dulu. Kami selalu berusaha membujukmu tapi kau tak pernah mau. Kami tak mau memaksamu." Ayahnya pernah berkata seperti itu.
Mungkin karena perasaannya kini berbeda. Ia ingin sempurna. Sejak sore itu. Sore bersalju yang membuatnya menatap jendela yang berembun berlama-lama. Ia merasa dirinya aneh. Ia merasa berbeda dan ia tidak tahu siapa dirinya. Lama sekali Lalisa merenung sampai ia melihat sesuatu bergerak denga. lincah dan memiliki sayap! Oh, indah sekali!
Lalisa langsung membuka jendela dan melihat sesosok pemilik sayap itu terbang sambil mengayunkan tangannya. Dari tangannya itu berjatuhanlah butiran-butiran salju yang lalu hinggap di pepohonan, bebatuan. tanah dan semua lalu tampak memutih. Apakah ia peri salju? Lalisa tertegun. dan, wajah penabur salju itu sangat tampan rupawan walaupun wajahnya putih dam pucat. Ia tidak sadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh Lalisa.
Tatapan Lalisa tidak bisa lepas dari peri salju yang terus terbang ke sana kemari. Ia menatap sayapnya yang putih dan bergerak perlahan. Lalisa meraba punggungnya. Setial saat bagian punggungnya sering merasa sakit dan ia sangat tersiksa dengan keadaan itu. Seperti ada yang ingin menembus punggungnya dan ingin keluar secara paksa. Lalisa ingin sesuatu itu menembus punggungnya sekalian ketimbang ia harus merasakan sakit yang menyayat ketika serangan itu tiba. Lalisa tidak tahu apa, tapi ia tahu ia berbeda.
Di saat gadis lain gemar tersenyum dan tertawa karena cerita-cerita lucu, ia sama sekali tidak merasa hal itu pantas untuk ditertawakan. Tapi, saat temannya jatuh dari ketinggian lantai empat di sekolahnya, Lalisa secara mencurigakan tertawa senang saat teman yang lain menceritakannya. Akibat hal itu, Lalisa dituduh bahwa dia lah yang mendorong temannya itu jatuh. Lalisa tetap tertawa dan mengatakan bahwa itu bukan dirinya. Semua orang menatapnya dengan heran.
Menurut Lalisa, sangat lucu bahwa temannya itu mencoba terbang dari atas gedung sementara ia tidak punya sayap. Lalisa tidak mengerti apa itu percobaan bunuh diri. Jadi menurutnya, sangat lucu karena itu kesalahan temannya sendiri yang bermain-main di atap gedung. Lalu, pihak sekolah melaporkan kejadian itu kepada kedua orang tua Lalisa dan menyarankan Lalisa untuk dibawa ke psikiater. Kedua orang tua Lalisa lalu tersinggung.
Lalisa bukannya tidak waras, hanya anak yang memiliki pikiran istimewa daripada anak lainnya. Yang sesungguhnya, kedua orang tuanya memang sedang menutupi hal yang sebenarnya. Bahwa Lalisa memang gadis yang istimewa dan berbeda.
*****