
Peri Lisa sedang menimbang jawabannya atas pertanyaan sang raja. Ia takut jika menyinggung sang raja.
"Hamba meninggalkan teman seperjalanan hamba di belakang. Hamba harus segera menyusulnya," ujar Peri Lisa. Ia melepas kalung bunga yang selalu dipakainya sebagai identitas keperiannya, lalu hendak menyerahkan kalung itu pada sang raja.
"Maafkan hamba tidak membawa apa-apa untuk baginda raja. Terimalah tanda mata ini sebagai tanda kehadiran hamba. Kalung ini diberikan oleh ibu hamba. Di dalamnya, kalung ini memiliki kekuatan menumbuhkan bunga dengan percikan air di dalam bandul ini yang tak pernah kering," Peri Lisa lalu menyerahkan kalungnya. Ia bisa meminta ibunya untuk membuatkannya lagi.
"Aku merasa sangat tersanjung dengan pemberianmu. Aku terima dengan senang hati," ujar sang raja. Peri Jung memerhatikan wajah rajanya yang begitu gembira.
"Bagaimana dengan mantel ini?" tanya Peri Lisa beralih pada Peri Jung.
"Gunakan saja sebagai penghangat. Tupai itu akan kembali dengan sendirinya kemari jika kau melepaskannya," ujar salah satu peri pelayan dengan tersenyum. Peri Lisa masih takjub dan mengangguk-angguk. Ia segera berpamitan pada sang raja. Peri Jung kembali menemaninya berjalan keluar area istana.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu lagi. Aku ingin sekali mengantarmu, tapi raja sudah menitahkan aku untuk segera bergegas menuju daerah lain yang belum bersalju." Ujar Peri Jung.
Oh tidak apa-apa. Kau sudah sangat membantuku," Peri Lisa tersenyum.
"Kau tidak ingin menyicipi lumut es dulu?" Tawar Peri Jung. Ia tidak ingin berpisah begitu cepat dengan Peri Lisa. Peri Lisa langsung tertarik.
"Apakah aku bisa memakannya?" Tanya Peri Jung.
"Tentu saja!" Peri Jung segera mengajak Peri Lisa untuk mendatangi pohon cemara putih yang terdekat dengan mereka. Peri Jung mengambil lumut berwarna putih kemerahan dan menyerahkannya pada Peri Lisa.
Peri Lisa langsung mencoba memakan lumut es yang diberikan Peri Jung. Matanya mengerjap karena sensasi dingin yang memenuhi rongga mulut dan tenggorakannya hingga kepalanya terasa sedikit pening. Meski begitu rasanya sangat meyegarkan. Ia belum pernah memakan sesuatu yang begitu dingin seperti ini.
"Benar! Dingin dan manis!" Peri Lisa mencoba mendeteksi rasa yang kini hadir di salam mulutnya.
"Dan itu bisa menyembuhkan sayapmu yang berlubang," Peri Jung melirik sayap Peri Lisa yang perlahan mulai membaik dengan ajaib. Peri Lisa berteriak kegirangan.
"Menakjubkan!" Pekik Peri Lisa senang. "Rasanya benar-benar enak dan menyejukkan. Seperti sirup bunga Rosella." Peri Lisa pun mulai terbang dan diikuti Peri Jung disisinya.
"Wah, aku malah tidak tahu rasanya sirup bunga rosella"
"Seperti inilah rasanya! Mirip. Hanya saja lumut es rasanya dingin sekali. Kapan-kapan akan ku bawakan untukmu," ujar Peri Lisa. Peri Jung nampak senang.
"Apakah itu artinya kita akan bertemu lagi?" Tanya Peri Jung penuh harap.
"Tentu saja! Kita sudah berteman bukan?" Peri Lisa tertawa manis sehingga membuat Peri Jung semakin mabuk kepayang. Mereka lalu terbang merendah dan menapakkan kakinya di bumi.
"Aku harus cepat. Peri Jisoo pasti sudah cemas menungguku," Ujar Peri Lisa berpamitan dengan teman barunya.
"Aku harap temanmu baik-baik saja dan kau bisa secepatnya mengunjungiku. Atau kalau tidak, aku yang akan mengunjungimu," Peri Jung tersenyum.
"Ku rasa kau memang harus berkunjung," Senyum Peri Lisa membalas Peri Jung.
Kemudian mereka pun berpisah. Setelah tubuhnya hangat dan setelah ia memakan lumut es tadi, Peri Lisa semakin merasa lebih bertenaga. Ia merasa sangat lincah dan bahagia. Peri Jung masih memandangi kepergian Peri Lisa dari kejauhan. Merasa kehilangan.
"Hati-hati, Peri Lisa," bisiknya sendirian. Ketika Peri Jung hendak berbalik menuju negerinya lagi, barulah ia teringat sesuatu.
"Astaga! Aku benar-benar seperti pernah melihat wajah Peri Lisa sebelumnya. Tapi, dimana ya?" Peri Jung berpikir keras. Ia merasa tidak asing dengan wajah Peri Lisa. Ia pasti telah melihat wajah Peri Lisa sebelumnya. Tapi, ia sulit sekali mengingatnya.
***
Sementara Peri Jisoo kini sedang terbang dengan penuh semangat namun tiba-tiba ia menabrak sesuatu dan langsung terjatuh.
"Aduh, ya ampun, demamku kumat lagi," Peri Jisoo menggerang karena panas yang menyerang. Sepertinya sayapnya rusak karena ia jatuh dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ya, bagaimana pun tidak ada jatuh yang menguntungkan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya sesosok mahkuk di hadapan Peri Jisoo. Peri Jisoo meneliti suara itu Sekelilingnya terasa panas, ia seperti berhalusinasi. Wajah yang bercahaya datang mendekat. Peri Jisoo mengerjapkan mata.
"Pe-peri Matahari?!" Tanya Peri Jisoo kaget.
"Wah, kau langsung mengenali kami dari panas tubuh kami," ujar peri itu yang sedang terbang dalam rombongan.
"Kau pasti peri bunga, karena kau harum sekali," ujar Peri Matahari yang memiliki pendar cahaya merah di sekelilingnya. Peri Jisoo yang tadi kedinginan kini merasa lebih hangat dan bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang semakin lama semakin panas.
"Sayapku sepertinya patah," guman Peri Jisoo.
"Maafkan karena aku yang menabrakmu. Aku Peri Taehyung, siapa namamu?"
Peri Jisoo langsung berdebar. Astaga, Peri Taehyung! Dia adalah putra mahkota dari Negeri Peri Matahari. Pantas saja dia terlihat tampan dan gagah sekali. Terlebih dari itu cahayanya paling berbeda dengan peri lain yang ada di sekitarnya. Cahaya yang dimilikinya lebih banyak dominan warna merah.
"A-aku Peri Jisoo," Peri Jisoo mencoba bangkit berdiri dibantu Peri Taehyung.
"Sepertinya aku harus mengantarkanmu pulang ke negerimu dan mengobati sayapmu yang terluka," ujar Peri Taehyung.
Peri Jisoo tersipu lagi.
"Aku sedang menunggu temanku di sini. Kami berpisah karena aku kelelahan, ia melanjutkan perjalanan sedangkan aku menunggu di sini. Kami sedang melakukan sebuah misi," cerita Peri Jisoo.
"Misi apa?" tanya Peri Taehyung sambil terbang di sekitar Peri Jisoo. Ia memerintahkan peri lain untuk menunggu.
"Kami hendak meminta kepada Negeri Peri Salju untuk tidak menurunkan salju ke negeri kami. Hal itu akan menyulitkan kami," Peri Jisoo menjelaskan
"Oh, itu. Salju bahkan sudah menutupi Negeri Peri Matahari sejak kemarin. Tapi, mereka juga tahu bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Dalam beberapa hari, salju dan es akan mencair dan menjadi mata air panas di negeri kami. Kami sama sekali tidak masalah dengan salju," ujar Peri Taehyung.
Tentu saja, tubuh mereka panas sekali. Apalagi jika seluruh peri penduduk negeri berkumpul menjadi satu, mungkin mereka bisa membakar negeri mereka sendiri, pikir Peri Jisoo.
"Tubuh kami bisa hangat, memanas dan panas sekali. Maka dari itu kami bisa bertahan dalam musim salju sekali pun," jelas Peri Taehyung lagi.
"Aku sempat berpikir untuk meminta bantuan pada negeri kalian, tapi aku takut kalian malah akan membakar bunga-bunga kami. Oleh sebab itu, lebih baik meminta para Peri Salju untuk tidak menurunkan salju di negeri kami. Kami rasa itulah yang terbaik," ujar Peri Jisoo.
"Apakah kalian berhasil?" tanya Peri Taehyung.
"Aku tidak tahu sampai aku bertemu dengan temanku lagi," ujar Peri Jisoo.
*****