
Melihat kegundahan Lisa, Peri Jisoo hanya tersenyum sendiri. Ia berpikir tentu saja Lisa akan merindukan Peri Jung, bagaimana pun juga mereka telah melalui banyak hal bersama-sama.
"Aku mungkin memang tidak tahu banyak mengenai Peri Jung. Tapi, aku rasa dia akan selalu mengingatmu." ujar Peri Jisoo sambil megenggam tangan Lisa. Lisa hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengingat mimpinya tentang Peri Jung beberapa bulan yang lalu.
"Ah..!! Aku hampir melupakan sesuatu hal yang penting." Teriak Peri Jisoo tiba-tiba.
"Apa itu?" Lisa hanya mengernyit heran atas tingkah Peri Jisoo yang mendadak terlihat sangat antusias.
"Aku dan Peri Taehyung berencana untuk menikah." Peri Jisoo mengatakannya dengan wajah yang merah padam. Ia tampak tersipu malu.
"A-apa?!" Lisa tampak kaget namun tercetak senyuman yang sangat lebar di mulutnya. Matanya semakin berbinar mendengar berita yang membahagiakan ini. "Bagaimana kalian... Maksudku, bagaimana caramu bertahan di sisi Peri Matahari? Bukankah akan sangat panas?" Tanya Lisa dengan lugunya.
"Lumut es membantu banyak. Dengan memakannya akan membantunya mengontrol energi panasnya agar tidak terlalu menyengatku." Jelas Peri Jisoo. Lisa hanya mengangguk-angguk.
"Apakah pernikahan peri dari jenis yang berbeda itu diperbolehkan?" tanya Lisa. Dulu, jauh di lubuk hatinya, ia pernah berharap bahwa ia bisa hidup bersama dengan Peri Jung yang dingin.
"Tentu saja diperbolehkan. Karena masih sesama peri. Yang dilarang adalah pernikahan antara peri dan manusia. Itu akan melahirkan bayi yang cacat dan jahat," jelas Peri Jisoo lagi tanpa sadar membuat wajah Lisa diliputi awan mendung.
"Aku mengerti..." ujar Lisa. Barulah Peri Jisoo tersadar.
"Mian... Bukan maksudku menyakiti perasaanmu, aku tidak tahu jika kau...." Peri Jisoo seperti kehabisan kata-kata. Ia paham bahwa patah hati tidak pernah terasa mudah. Peri Jisoo hanya bisa menggenggam erat tangan Lisa. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda bahwa ia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa," Lisa tersenyum.
"Kau masih merindukannya? Masih menyayanginya?" tanya Peri Jisoo memandang sahabatnya dengan perasaan iba. Lisa tidak menggeleng atau mengangguk. Hanya tersenyum.
"Jika kau bersedia menjadi peri selamanya, tentu saja kau akan bisa bersama dengan Peri Jung," Peri Jisoo mengibur Lisa. Itulah tujuannya kemari.
Lisa masih terpekur. Menjadi peri selamanya? Hmm... Ia memang senang berad di Negeri Peri Bunga. Tapi, di sini juga menyenangkan. Ia merasa seperti benar-benar pulang ke rumah. Meskipun terkadang ia merindukan ibu perinya dan tentu teman-teman peri lainnya. Namun di sini ia memiliki keluarga yang sesungguhnya. Ayah dan Ibunya sangat menyayangi dirinya. Keraguan Lisa masih terus bertambah. Lisa juga sangat mendambakan ia bisa hidup dengan Peri Jung yang tampan dan baik hati, tapi di sini...
"Jika kau bersedia, kau bisa ikut denganku sekarang juga," Peri Jisoo menyadarkan Lisa dari lamunan. Lisa menoleh pada sahabat perinya.
"Aku tidak tahu. Sepertinya aku akan mempertimbangkan hal itu terlebih dahulu..." ucal Lisa pelan. Peri Jisoo yang sekarang menjadi tertegun. Ia pikir Lisa akan denga serta merta menyetujui ide sang raja dan dengan segera Lisa akan ikut kembali ke negeri peri bunga bersamanya.
"Kau tampaknya bahagia hidup di dunia manusia.." ujar Peri Jisoo menebak-nebak. Lisa hanya tersenyum.
"Kau sudah memiliki seseorang yang kau sukai di sini?" tanya Peri Jisoo. Kalau jawabannya adalah ya, maja pertanyaan selanjutnya akan terjawab dengan jelas.
"Kalau begitu kau harus memperjuangkan cintamu dan siapa yang mencintaimu." saran Peri Jisoo. "Peri Jung, sudah sangat jelas dia lebih menyukaimu. Dia tidak menyukai Peri Lalisa." ujar Peri Jisoo lagi.
Lisa tampak mendesah. Peri Jisoo benar. Apakah Peri Jung akan dengan mudah merubah perasaannya kepada orang lain? Meskipun mereka baru sebentar bersama, tapi ia cukup mengenal Peri Jung. Rasanya sulit membayangkan Peri Jung menjadi pria yang dengan mudahnya melupakan wanita yang ia sukai.
"Aku merasa telah menjadi beban saudara kembarku sendiri," Lisa tertawa sedih. Ia merasa sangat bingung.
"Lisa, waktuku tidak banyak. Aku sudah menyampaikan amanat yang dititahkan Sang Raja. Aku akan segera kembali ke Negeri Peri Bunga. Jika kau sudah mempertinbangkannya dan memilih keputusan untuk tetap menjadi peri, kau bisa memanggil namaku tiga kali di depan bunga dimana aku tadi muncul dan aku akan segera datang lagi," ujar Peri Jisoo segera bergegas berdiri.
Lisa turut pula berdiri. Ia memandu Peri Jisoo menuju bunga matahari lagi. Tubuh Peri Jisoo mulai menyusut lagi dan mengecil jadi sebesar kupu-kupu di tangan Lisa. Kemudia Lisa mengembalikan Peri Jisoo ke dalam kelopak bunga matahari dan kemudian Peri Jisoo pun menghilang meninggalkan suara gemerincing yang indah.
Lisa masih tertegun sendirian di taman bunganya yang indah. Ia harus memilih. Raja Negeri Peri Bunga sudah berbaik hati padanya. Ini adalah kesempatan baginya untuk memutuskan masa depan mana yang dipilihnya. Ya, paling tidak sekarang dia memiliki pilihan. Lisa menghela napas.
***
Peri Jisoo telah tiba di gerbang Negeri Peri Bunga. Ia disambut oleh Ibu Peri dan Peri Lalisa. Muka mereka nampak penuh tanya sekaligus ada harapan yang besar.
"Mana Lisa? Apakah ia tidak ikut denganmu? Apakah kau gagal menemuinya? Apakah kau tidak salah alamat?" Ibu Peri memberondong pertanyaan kepada Peri Jisoo. Peri Jisoo memakluminya. Ia tahu jika Ibu Peri sangat merindukan putri yang telah di besarkannya selama hampir dua puluh tahun.
Sambil tergopoh dan digandeng oleh Peri Lalisa, Ibu Peri berusaha menghampir Peri Jisoo yang masih berjarak satu meter dari tempatnya. Mulutnya tak berhenti bertanya hingga ia menerima jawaban dari Peri jisoo.
Peri Jisoo meraih tangan Ibu Peri dan segera memapahnya menuju pondok terdekat agar beliau dapat beristirahat. Ibu Peri pasti sudah lama menunggunya di gerbang ini. Peri Lalisa hanya mengisyaratkan agar Peri Jisoo dapat memaklumi sikap ibunya. Bahkan Peri Jisoo belum sempat istirahat setelah perjalanannya yang cukup jauh.
"Aku berhasil bertemu dengan Lisa ibu. Dia sangat cantik. Tapi, dia tidak ikut denganku.."
"Apakah Lisa menolak? Apakah Lisa tidak akan kembali kepadaku? Apakah dia tidak ingin bertemu denganku?" Ibu Peri segera memotong perkataan Peri Jisoo. Ia merasa sedih.
"Lisa hanya belum memutuskan apakah ia akan kembali atau tidak. Dia sedang mempertinbangkannya."
"Apakah Lisa tidak merindukanku?" Ibu Peri mulai terisak.
"Kenapa dia tidak ingin bertemu denganku?" Akhirnya Ibu Peri benar-benar menangis.
Peri Jisoo menjadi bingung karenanya. Ia bahkan tidak tahu apakah Lisa benar-benar tidak akan kembali. Semuanya masih tidak pasti.
*****