Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Sepuluh



Peri Jisoo merasa sedikit aneh. Jika negeri peri matahari merasa tidak masalah dengan salju. Lalu kenapa meraka bisa sampai di sini? Bukankah ini sudah terlalu jauh dari negeri mereka?


"Kalau boleh tahu, kalian sendiri hendak kemana?" tanya Peri Jisoo sedikit heran.


"Kamk sedang mencari tumbuhan lumut es. Ayahku terkena serangan sakit lambung dan obat di negeri kami tidak dapat menyembuhkannya. Menurut kepercayaan kuno, jika obat-obatan di negeri sendiri sudah tidak mempan, maka kau harus mencari obat ke negeri lain," cerita Peri Taehyung.


"Lumut es? Itu berarti kalian akan pergi ke negeri peri salju?" tanya Peri Jisoo girang.


"Ya, begitulah. Walau kami sama-sama tidak ingin saling bersinggungan. Selamanya peri matahari dan peri salju tidak bisa menjadi sahabat baik. Yang satu terlalu dingin dan yang satu lagi terlalu panas," Peri Taehyung tertawa.


"Aku cukup banyak tahu soal tanaman obat. Bagaimana kalau ku carikan obat lambung untuk ayahmu?" tawar Peri Jisoo.


"Bagus sekali! Mungkin kami akan menggantikan lumut es dengan obat darimu," ujar Peri Taehyung.


"Mungkin kau harus tetap mencari lumut salju. Semakim banyak obat yang dicoba, kita akan tahu hasilnya. Aku bisa menggunakan daun mint dicampur dengan perasan madu bunga rosella," jelas Peri Jisoo.


"Kau bisa mencarikannya untukku?" tanya Peri Taehyung tampak senang. Peri Jisoo mengangguk. Mendadak menjadi bingung. Di sati sisi ia harus segera bertemu dengan Peri Lisa, di satu sisi ia terlanjur berbicara untuk mencari obat bagi ayah Peri Taehyung.


"Aku rasa kita harus tetap mencari lumut es juga."


"Baiklah. Toh, kita sama-sama ingin menuju negeri yang sama," ujar Peri Taehyung.


"Aku bisa mencari daun mint di sepanjang perjalanan. Untuk madu bunga rosella, kami membawanya kemarin. Masih ada satu botol kecil persediaan kami. Aku rasa itu sudah cukup," ujar Peri Jisoo memberikan keterangan.


Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung pergi. Karena sayap Peri Jisoo sedikit rusak, ia pun terbang dengan bantuan Peri Taehyung yang menggenggam tangannya. Walaupun tangan Peri Taehyung terlalu hangat, tapi Peri Jisoo menyukainya.


***


Peri Lisa tersesat. Ia yakin sekali bahwa dirinua telah tersesat. Jalannya begitu berbeda dengan yang kemarin ia lalui. Ia terlalu bersemangat untuk segera bertemu dengan Peri Jisoo dan ia juga terlalu bersemangat untuk segera pulang sehingga ia tidak memperhatikan arah.


Hari sudah semakin gelap. Padahal saat bersama Peri Jung, rasanya mereka cepat sekali dalam menempuh perjalanannya. Kenapa sekarang terasa lama sekali dan rasanya ia hanya berputar-putar di dalam hutan?


Peri Lisa berhasil melewati tebing Monster Salju dengan baik-baik saja karena begitu hati-hati saat berjalan dan terbang dengan secepat mungkin saat dirinya sampai di bagian tebing. Ia pikir ia tidak akan selamat di area itu. Ia merasa telah selamat dari bencana setelah melewati wilayah itu. Ternyata dugaannya salah!


Hawa yang terasa sungguh tidak enak dan terasa lain. Peri Lisa memandang ke sekeliling yang mulai gelap dan aneh. Kunang-kunang terbang menghampirinya dan memandu langkahnya dalam kegelapan. Peri Lisa merasa terhibur karena hal itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti mendadak.


Ini adalah pohon yang tadi dilihatnya. Kenapa sekarang ada di sini lagi?! Peri Lisa bergidik ngeri. Ia sampai lagi di tempat yang sama untuk kedua kalinya? Atau ketiga kalinya? Peri Lisa tidak dapat mengingat pastinya, tapi ia yakin bahwa ia sudah melihat pohon ini sebelumnya. Pohon tua yang tinggi dengan sulur-sulur akar yang kuat yang menjalar hingga ke bawahnya. Apakah pohon ini hanya mirip saja satu dengan lainnya?


Peri Lisa lalu teringat sesuatu, cerita ibunya. Di kedalaman hutan memang sering terjadi hal-hal aneh dan di luar kebiasaan. Sebelum berangkat, ibunya selalu berpesan agar ia selalu berhati-hati. Ada semacam sihir yang terkadang melingkari area hutan. Sekali saja masuk ke dalam area sihir itu, maka apa pun akan tersesat selamanya.


Dada Peri Lisa berdegup kencang. Apakah dirinya sedang mengalami semacam sihir itu? Apa yang harus ia lakukan? Ia bukanlah peri hebat yang memikiki kekuatan super. Ia hanyalah seorang peri biasa.


Tidak lama untuk menunggu pertanyaan Peri Lisa terjawab, dari balik pohon itu muncul sesosok mahluk yang aneh dan menyeramkan. Peri Lisa sampai berteriak kaget dan jatuh terduduk. Tupai-tupai putih di tubuhnya ikut bergerak, tapi mereka tetap menempel di tubuhnya Peri Lisa.


"Hihihi, akhirnya aku mendapatkan buruan bagus! Hihihi" dengan suara terkikik menyeramkan, sesosok mahluk aneh itu mendekat ke arah Peri Lisa.


"Si-siapa kau?!!" Tanya Peri Lisa dengan suara bergetar. Ia melihat sosok kumal bertopi caping panjang warna hitam dan juga berbaju hitam panjang. Ia membawa tongkat kayu yang ujungnya lebih mirip seperti kepala ular dari pada kayu biasa. Peri Lisa tercekat.


"Kau tidak mengenalku?! Kau peri baru ya? Hihihi."


Nenek dengan tawa melengking itu benar-benar membuat tubuh Peri Lisa tidak berdaya.


"Aku adalah seorang penyihir terkenal di hutan ini. Namaku Black Lady. Hihihi." Si penyihir terang-terangan memperkenalkan dirinya pada Peri Lisa.


Black Lady? Peri Lisa menggumam dalam hati. Biasanya penyihir di hutan memang suka memangsa peri. Para peri itu akan dimasukkan ke dalam panci masakan mereka. Itu mereka lakukan sebagai salah satu pelengkap ramuan. Peri Lisa mulai gentar membayangkan hal itu.


"Kau akan ikut denganku! Kalau kau tidak mau, kau akan ku sihir jadi hewan terang itu dan tidak akan bisa keluar dari tempat ini sekamanya!"


Astaga! Jadi, mereka semua tadi adalah peri?! Batin Peri Lisa. Kenapa penyihir itu tidak menasak peri-peri itu seperti yang dikatakan oleh legenda yang ia tahu?


"Aku sudah menunggu lama kesempatan ini. Peri-peri itu tidak berguna. Mereka bodoh dan jelek. Aku membutuhkan peri yang cantik dan sempurna. Seperti dirimu. Hihihi.."


Dengan angkuhnya, penyihir itu mengungkapkan rencananya. Ia merasa bahwa ia tidak akan gagal kali ini.


"Ayo! Segera ikut je pondokku!" Perintah Black Lady sembari mengancam.


Dengan bimbang, Peri Lisa mengikuti langkah penyihir itu sambil menatap kunang-kunang yang terus mengikutinya, seolah mereka sedang meminta pertolongan Peri Lisa agar menyelamatkan mereka dari kutukan Black Lady. Peri Lisa menghela napas. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya bisa selamat kali ini.


Otak Peri Lisa berpikir keras. Ia berhenti sejenak dan tanpa sedikit pun gerakan mencurigakan, ia berbisik pada sesuatu di tubuhnya.


"Aku yakin kalian tidak terkena sihir sang penyihir karena kalian bukan peri. Sekarang, aku akan melepaskan kalian, pulanglah ke tempat kalian berasal dan sampaikan pada Peri Jung bahwa aku butuh bantuan."


Peri Lisa melepaskan tupai-tupai putih dari tubuhnya dan secara ajaib para tupai itu langsung menghilang. Peri Lisa merasa lega. Entah kenapa ia yakin sekali bahwa ia punya harapan.


*****