
Bunga alamanda yang menjalar di pohon ficus sedang bermekaran. Warna kuningnya yang cerah membuatnya nampak meriah. Jungkook yang sedang duduk di bawahnya nampak berbeda sekali dengan si alamanda. Ia nampak muram.
"Lisa, ada apa denganmu?"
Jungkook menggumam sendiri. Ia seperti sedang sangat bingung. Entah apa yang mengganjal pikirannya hingga ia merasa tidak tenang.
Sedangkan di sebuah kelas, tak jauh dari bunga alamand tumbuh, nampak Lisa sedang serius mengikuti mata kuliahnya. Ia tidak menyadari kemuraman Jungkook. Akhir-akhir ini ia begitu sibuk memikirkan apa yang mungkin terjadi di dunia peri. Bahkan ibu peri nya belum juga datang untuk menjelaskan kalimatnya yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu. Lisa sangat cemas.
Jungkook merasa jengah. Ia akan semakin tenggelam dalam negatif nya pikiran yang semakin lama menggerogoti akal sehat. Ia memutuskan untuk pulang. Jungkook meninggalkan Lisa tanpa pesan. Bahkan, meskipun masih ada satu mata kuliah lagi sore ini, ia sudah sangat lelah. Ia berpikir, mungkin tidur akan membuatnya jauh lebih baik.
Lisa duduk termenung di depan kelas, dimana Jungkook seharusnya menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Tapi setelah semua mahasiswa keluar, tidak terlihat Jungkook sama sekali. Kemana dia? batin Lisa. Padahal ia sudah menunggu selama satu setengah jam di depan kelas itu. Hari ini mereka berjanji untuk ke perpustakaan daerah bersama. Ada satu makalah yang harus Lisa selesaikan minggu ini. Tapi Jungkook kemana? Ia menelepon pun, nomor tidak bisa dihubungi. Lisa yang tidak merasa ada yang salah pun langsung kesal. Bagaimana Jungkook bisa meninggalkannya begini? Ah apakah dia baik-baik saja? Rasa kesal Lisa, berubah menjadi perasaan cemas seketika.
Lisa telah sampai di kediaman Jungkook. Rumah besar itu nampak sangat sepi. Lisa bingung. Haruskah ia masuk sendiri? Ia begitu mencemaskan Jungkook, tapi selama dua puluh menit ia memencet bel tidak ada yang membuka pintu. Merasa tak enak hati ia pun pulang. Yang tidak disadari Lisa adalah, Jungkook sedari awal ada di balik pintu. Ia terlihat kusut dan sembab.
***
Seperti biasa, ia duduk di dekat jendela kamarnya yang besar. Ia nampak termenung. Namun Lisa dikejutkan dengan kemunculan Peri Jung yang tiba-tiba melayang di depan jendelanya. Di saat yang bersamaan, Jungkook yang sedang merasa bersalah karena telah mengabaikan Lisa, sedang membuka pintu kamar Lisa.
Jungkook jelas kaget, Lisa nampak mengobrol dengan ekspresi yang hangat. Anehnya Jungkook bisa melihat Peri Jung. Ia cemburu namun juga sangat takjub. Itukah yang dinamakan peri? Sayapnya gemerlapan meski digelapnya malam.
Peri Jung yang menyadari kehadiran Jungkook di belakang Lisa menunjukkan raut terkejut. Mata mereka sempat bertemu sebelum akhirnya Jungkook pergi dengan tergesa. Itukah Peri Jung? Peri yang menyukai Lisa. Seorang peri yang mirip dengannya.
Kehangatan yang Lisa tunjukkan sungguh sangat alami. Lisa nampak sangat bahagia. Bahagia yang tulus. Seperti kau sedang pulang ke rumah. Kenyamanan dan kebahagiaan yang tidak kau temukan di luar. Jungkook tiba-tiba diserang cemburu. Air mata mendesak untuk keluar bahkan tanpa disadari oleh Jungkook sendiri.
Lisa yang heran dengan raut terkejut yang ditunjukan oleh Peri Jung pun menoleh, mengikuti arah pandangan Peri Jung. Ia tidak sempat melihat Jungkook. Yang ia tahu, pintunya terbuka. Lisa berpikir mungkin ayah atau ibunya sempat masuk sehingga Peri Jung terkejut.
"Jadi, kau akan menikah besok?" Lisa melanjutkan percakapan mereka yang tertunda. "Aku sempat merasa heran, apa yang membawa ibu peri datang ke dunia manusia. Oh ya, apakah kau atau Peri Lalisa yang beberapa hari lalu mengirimkan tupai salju kemari?" Peri Lisa teringat tingkah tupai salju yang aneh itu.
"Tupai salju? Tidak, aku bahkan belum sempat menemui mereka selama persiapan pernikahan yang sangat sibuk ini," Peri Jung menjelaskan. "Ku rasa Peri Lalisa pun juga sama," Peri Jung menutuo kemungkinan yang ada.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Lisa.
"Ah.. Mungkinkah mereka kesepian? Mereka terbiasa bermain denganku. Saat aku sibuk, siapa lagi yang akan mereka cari selain dirimu?" Peri Jung mencoba menelaah.
"Aku dan Peri Lalisa telah sepakat bahwa tak apa jika kau tak datang pada pernikahan kami. Namun, ibu peri sangat menginginkan mu untuk hadir." Peri Jung nampak gusar.
Lisa termenung. Ia bisa mengerti. Ia dan Ibu Peri telah tumbuh bersama sepanjang hidupnya. Telah banyak sekali pengorbanan ibu peri untuknya hanya agar ia tidak ketahuan bahwa ia adalah manusia, bukan peri. Selama ini, Ibu Peri juga telah sangat baik terhadapnya. Ia pun sangat merindukan Ibu Peri. Bahkan jika sekarang telah mendapatkan Ibu kandung yang sama baik dan sayangnya, bagi Lisa itu adalah hal yang berbeda.
"Lisa, aku hanya ingin menyampaikan hal itu. Tapi aku harap kau tidak akan datang ke dunia peri. Kami mencemaskan keselamatanmu," Peri Jung nampak sangat serius dengan kalimatnya.
Lisa menghela napas berat. Ia tahu kedatangannya ke dunia peri akan sangat berbahagia. Namun bagaimana dengan rasa rindu nya?
"Aku akan mengirim tupai salju setiap malam bulan purnama agar kau bisa menitipkan suratmu. Aku yakin hal itu juga akan sangat menghibur ibu peri," seolah mengetahui apa yang Lisa pikirkan, ia memberi jalan tengah yang Lisa rasa itu adalah jalan terbaik bagi mereka saat ini.
***
Jungkook masuk ke dalam kamar tanpa menyalakan lampu. Kegelapan membuatnya semakin gelisah. Seolah hal itu akan segera menelannya. Ia merasa sesak. Apakah tak apa jika ia merasa cemburu pada masa lalu? Jungkook menangis. Ia tidak ingin kehilangan Lisa.
Telepon yang ia biarkan mati semenjak siang, ia nyalakan juga. Begitu banyak rentetan pesan dan panggilan tidak terjawan dari Lisa. Ia pun ingat jika hari ini ia memiliki janji dengan Lisa. Jungkook memukul kepalanya pelan.
Saat Jungkook ingin menelepon Lisa, ia pun mengurungkan niatnya. Ia berubah menjadi sangat tidak percaya diri. Lisa dan Peri Jung. Tatapan itu. Ketawa hangat dan ekspresi cerah Lisa. Semuanya terasa sangat menyakitkan.
Dering telepon mengejutkannya. Setelah lama menimbang, ia mengangkat telepon itu dengan gerakan ragu-ragu.
"Halo..." Suara Jungkook terdengar serak dan lemah.
"Jung apakah kau sakit?" Lisa tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Lagi pula Jungkook nampak sangat aneh hari ini.
"Apakah kau sudah mendapat referensi teori untuk makalahmu?" Jungkook mengalihkan pembicaraan. "Maaf aku tak mengantarmu," Jungkook melanjutkan.
"Jung, kau baik-baik saja? Kau terdengar aneh, seperti bukan dirimu," Lisa benar-benar cemas kali ini. Jungkook tidak tahan untuk menahan tangisnya.
*****