
Peri Lisa dan Penyihir memasuki area hutan terdalam. Kanopi pepohonan semakin rapat. Bahkan cahaya bintang dan bulan tidak mampu menembus lebatnya dedaunan. Pohon-pohon yang sangat tua berjejer. Batang pohon yang besar dalam kegelapan terlihat seperti raksasa yang sedang mengepung Peri Lisa.
Kunang-kunang yang masih setia mengikuti Peri Lisa lah yang memberikan sedikit cahaya pada setiap langkahnya. Di depannya, si penyihir berjalan cepat seolah sedang berjalan di jalanan mulus di tengah hari. Namun, saat Peri Lisa berhenti sejenak untuk melepaskan tupai-tupainya, ia mendadak berhenti.
"Apa yang kau lakukan?"
Si Penyihir menoleh dan sedang menatap tajam ke arah Peri Lisa.
"Tidak ada, Saya sedikit lelah"
Peri Lisa menjawab dengan kegugupan yang setengah mati ia tutupi. Untunglah penyihir itu tidak menyadari pakaian yang menghilang dari tubuh Peri Lisa. Ia bergumam dalam hati, sepertinya Black Lady adalah penyihir yang bodoh.
Langkah Peri Lisa semakin terasa berat saat memasuki pondok Black Lady. Aroma busuk dan pengap menguar ke udara, masuk ke indra penciuman Peri Lisa. Sebagai seorang Peri Bunga, tentu Peri Lisa tidak terbiasa dengan aroma ini. Ia lantas mengeryit karena tidak suka dengan sensasi yang baru di hidungnya. Perutnya mulai bergejolak. Ia merasa ingin muntah. Namun, ia harus menahannya agar tidak menimbulkan kemarahan Black Lady. Ia harus bersabar hingga bantuan datang.
***
Lalisa meninggalkan secarik surat di atas meja belajarnya. Dengan alasan pergi ke kampus, seperti biasa ternyata ia pergi secara diam-diam untuk tujuannya sendiri. Ibunya kini sedang membaca surat itu, ketika ibunya hendak meletakkan selimut bersih milik Lalisa.
"Aku pergi kemah selama beberapa hari. Jangan cemaskan aku. Aku akan segera kembali. Maaf tidak memberitahukan kepergianku karena kalian pasti akan melarangku."
Ibu Lalisa menghela napas. Ia memandang jendela kamar putrinya yang bertirai putih dan masih terbuka. Angin musim dingin menerpa wajah penuh kasihnya.
"Sayang, apakah dia akan kembali? Aku sudah merasa seperti kehilangan dengan anak kita satu-satunya.."
Mendengar itu, Ayah Lalisa hanya mendesah dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Ibu Lalisa menahan tangis. Ia segera menutup jendela kamar putrinya dan segera pergi untuk menyiapkan makan malam. Suaminya hanya bisa mengikuti di belakangnya.
***
Lalisa benar-benar melakukan tindakan nekad karena rasa penasarannya. Ia berjalan dengan bersemangat menembus semak belukar dalam hutan liar, tempat ia pernah melihat sesosok tampan yang memiliki sayap. Beberapa pucuk daun telah ditutupi salju. Lalisa telah berjalan jauh dan anehnya ia tidak merasa letih sama sekali.
Peri Jung seperti biasa sedang menaburkan butiran salju ke sisi bukit terakhir yang harus dipenuhinya dengan salju. Karena Negeri Peri Bunga yang luas diperintahkan tidak dituruni salju, maka tugas ini menjadi lebih ringan dab akan lebih cepat selesai. Peri Jung tersenyum mengingat Peri Lisa. Ia lalu bersalto sambil tertawa mengingat wajah cantik dan rambut yang terjalin eksotis milik peri itu
Lalisa mulai berlari-lari kecil di dalam hutan. Entah kenapa hatinya begitu riang dan gembira. Perasaannya terasa lepas dan bebas. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan kenyamanan yang tiada taranya. Ia terus berlari, berputar dan menari hingga ia mulai merasa kakinya tidak lagi menginjak bumi. Lalisa memandang ke bawah.
Lalisa semakim merasa sangat bahagia. Kecurigaannya terhadap latar belakangnya ternyata benar. Ia berputar-putar dan merasakan sesuatu hal lain lagi yang terjadi. Suara kepakan halus terdengar dari punggungnya. Saat ia menoleh...
ASTAGA!
Sekarang dia bahkan punya sayap! Oleh karena itu dirinya dapat terbang. Lalisa terpana. Kenapa punggugnya tidak terasa sakit sama sekali saat sayap itu muncul? Apa karena selama ini ia telah mati-matian menahan rasa sakitnya karena sayap itu sebenarnya sudah seharusnya keluar sejak lama. Tapi mereka tidak bisa keluar saat para peri berada di dunia yang berbeda. Dan Lalisa semakin yakin bahwa dia adalah seorang peri. Bukankah artinya saat ini seharusnya dia sudah masuk ke dunia peri?
Oh, astaga!
Lalisa tak henti-hentinya takjub dan terpesona. Ia sangat ingin berdendang riang dan bernyanyi. Ia telah bertransformasi dari manusia menjadi peri. Bahkan pakaiannya pun ikut berubah menyesuaikan keadaannya. Baju Lalisa berubah menjadi warna hijau toska sedikit transparan yang cantik. Sungguh ajaib!
Pintu dimensi dunia peri telah tertembus dengan begitu mudah oleh Lalisa. Pintu dimensi di hutan itu adalah pintu yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia peri. Karena Lalisa sebenarnya adalah peri sungguhan, maka ia tidak merasakan perbedaan yang cukup berarti ketika ia telah sampai ke dimensi waktu dunia peri.
Sesuatu bergerak dan berisik. Peri Jung menajamkan pendengarannya untuk lebih fokus pada suara yang hadir di sekitarnya. Peri Jung mengembangkan cuping telinganya. Kemudia ia menoleh.
"Peri Lisa!" wajah Peri Jung nampak cerah saat melihat sesosok wajah di hadapannya.
Lalisa tertegun. Itu dia! Ini kejutan yang menarik! Semesta sangat baik kepadanya hari ini. Entah kejutan apalagi yang akan dia temui setelah ini. Tapi, ini benar-benar seperti mimpi. Seperti dongeng. Dan Lalisa benar-benar tidak mau terbangun selamanya dari mimpi seperti ini. Dari dongeng yang indah ini. Lalisa hanya tersenyum kecil dengan wajah yang memerah karena malu.
"Ku kira aku akan lama tidak melihat mu, ternyata baru sehari aku sudah melihatmu lagi.."
Peri Jung nampak senang sekali. Ia berlarian menghampiri Peri Lisa atau yang sebenarnya adalah Lalisa itu. Lalisa masih nampak kebingungan atas perkataan Peri Jung. Dia diam saja di tempatnya hingga Peri Jung tiba tepat di depannya.
Lalisa ingin bertanya apa maksud Peri yang baru saja menghampirinya ini. Bukankah terakhir mereka bertemu sudah cukup lama? Apakah dia salah mengira orang? Apa yang terjadi? Lalisa tenggelam dalam pikirannya sendiri. Belum reda kebingungannya, kejutan belum selesai sampai di sana.
Tak lama kemudian, Peri Jisoo dan Peri Taehyung juga muncul di tempat itu. Melihat Peri Lisa sedang berdiri dengan seseorang di lapangan rumput tengah hutan, Peri Jisoo terpekik senang.
"Peri Lisaaaa..." Peri Jisoo bergegas terbang secepatnya dan memeluk tubuh Lalisa. Lalisa gelagapan. Ia langsung berpikir cepat. Ia dikira peri yang dikenal oleh semua peri yang ada di sini. Ia yakin bahwa ia memikiki wajah dan postur tubuh yang mirip dengan salah seorang peri. Dan secara kebetulan nama mereka terdengar sama. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia akan berpura-pura saja? Tapi, bukankah dia akan cepat ketahuan. Lalu apa yang harus dilakukannya?
*****