
Lisa mendesah kecewa. Di sebuah akar pohon oak tua ia duduk termenung memikirkan cara yang bisa membuat ia dapat mengunjungi Peri Jung.
"Lisa, aku akan masuk terlebih dahulu. Kau tunggulah di sini. Aku akan memberitahukan kedatanganmu pada Peri Jung. Aku yakin dia akan sangat senang dan akan mengutus seseorang untuk dapat menjemputmu,"
Lisa nampak berbinar. Ide Peri Lalisa sangat bagus.
"Ya, aku rasa ide itu sangat baik. Aku akan menunggumu di sini,"
Peri Lalisa mengangguk dan segera masuk ke gerbang kembali. Dan kedatangannya tidak mendapatkan halangan apapun dari para penjaga.
Sambil menunggu, Lisa hanya bersenandung kecil. Lisa bernostalgia dengan kenangan saat ia pernah menjadi peri kala itu. Mungkin karena mendengar senandung Lisa, tupai-tupai salju berdatangan. Sepertinya mereka pun juga merindukan Lisa. Salah satu peri pengawal yang melihatnha tertegun melihat pemandangan itu. Bagaimana orang aneh seperti Lisa dapat sangat akrab dengan para tupai. Peri pengawal itu nampaknya tidak tahu bahwa ada yang namanya manusia. Makanya ia hanya menganggap Lisa sebagai mahluk yang aneh saja.
Tidak lama setelah itu, seorang pelayan istana terbang dengan tergesa menuju Lisa. Sepertinya itu adalah Peri yang diminta Peri Jung dan Peri Lalisa untuk menjemput Lisa. Lisa pun diantar menuju ke ruangan Peri Jung dirawat. Lisa sejenak merasa gugup dan cemas.
Peri Jung menatap kedatangan Lisa dengan pancaran mata yang berbinar. Hatinya merasa sangat bahagia. Ia tersenyum menatap Lisa.
"Bagaimana seorang Peri Salju yang keras dan dingin sepertimu bisa jatuh sakit?" Lisa menatap Peri Jung kemudian menempelkan tangan di dahi Peri Jung. Peri Jung tertawa.
"Akhirnya kau datang," ucap Peri Jung. Lisa mengangguk lalu tersenyum.
"Sakit apa sebenarnya dirimu?" tanya Lisa penuh perhatian.
"Entahlah. Tubuhku terasa lemah dan tidak bisa digerakkan dengan bebas. Rasanya serba salah. Ini sangat sakit." keluh Peri Jung.
Lisa menatap Peri Jung dengan penuh rasa khawatir. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kau tahu bahwa peri jarang sakit. Maka, ketika peri jatuh sakit, wajar jika semua menjadi lebih khawatir. Tapi aku akan baik-baik saja. Terlebih setelah melihatmu. Aku..." Peri Jung menatap Lisa ragu. Ia telah ditinggalkan dalam kebingungan oleh gadis yang sedang berpakaian aneh di depannya ini. Baju itu bukan baju peri seperti yang biasanya Lisa kenakan saat bersama Peri Jung. Tapi, Lisa tetap sangat cantik. Peri Jung merasa tersayat hatinya.
"Ada apa Peri Jung?" Lisa menunggu lanjutan kalimat Peri Jung, tapi sepertinya Peri Jung tidak ingin melanjutkannya.
"Ah, tidak. Itu kau memakai hiasan rambutnya?" Peri Jung melirik kepala Lisa. Ia teringat kenangan itu lagi. Lisa tertawa kecil.
"Aku ingat harus memakainya ketika aku akan ke sini," ujar Lisa.
"Jadi, selama ini kau tidak memakainya?"
"Aku menjaganya agar tetap cemerlang," jawab Lisa, Peri Jung tersenyum.
"Kau memakai mantel berwarna sekarang." komentar Peri Jung saat melihat syal berwarna merah yang melilit di leher Lisa. Lisa tertawa.
"Seseorang memberikannya padaku. Ini benar-benar hangat," jawab Lisa. Peri Jung tersenyum aneh. Matanya menyiratkan rasa cemburu. Ia tahu dari siapa mantel hangat itu.
"Apa kau tidak makan lumut es untuk membantu memulihkan keadaanmu?" tanya Lisa kemudian.
"Sudah. Tapi, itu tidak membantu banyak. Aku tidak tahu kenapa." ujar Peri Jung. "Mungkin karena aku terlalu merindukan seseorang," lanjutnya lirih.
"Apa? Aku tidak mendengarmu dengan jelas Peri Jung," Lisa nampak mengerenyitkan dahinya.
"Peri Lalisa yang mengundangku. Ia mengabariku bahwa kau sakit. Dia terlihat sangat mencemaskanmu. Dia sangat peduli padamu, Peri Jung." Lisa menjelaskan perlahan.
"Terimakasih kau telah jauh-jauh datang untukku. Aku sangat terharu. Aku sendiri tidak pernah mengunjungimu di duniamu yang baru. Maafkan aku.."
"Kau telah datang dalam mimpiku," ujar Lisa dengan nada sedih. "Maafkan aku karena pergi begitu saja. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu," Lisa menambahkan.
"Aku tahu Lisa," Peri Jung menepuk punggung tangan Lisa perlahan. Ia tidak pernah marah pada Lisa. Ia mengerti. Peri Lalisa sudah menjelaskan semuanya.
"Bagaimana duniamu yang baru? Ceritakan padaku."
"Ah di sana sangat menyenangkan. Kedua orang tuaku juga sangat baik dan menyayangiku tanpa batas. Lalu, ada seseorang yang sangat mirip denganmu. Awalnya kupikir ia pun seorang changelling sepertiku dan Peri Lisa. Tapi sepertinya bukan," Lisa menerawang berusaha mengingat awal pertemuannya dengan Jungkook. Tanpa sadar, Lisa tersenyum.
Sangat cantik. Begitu batin Peri Jung. Tapi senyum itu bukan lagi untukku. Bagaimana nasib telah mempermainkan hatinya sedemikian rupa? Peri Jung sangat sedih menerima kenyataan yang ada.
"Lisa, apakah kau bahagia?"
"Ya. Aku sangat bahagia." Lisa terlihat berbinar. "Terkadang aku sangat merindukanmu, merindukan ibunda periku, Peri Jisoo dan semua yang ada di sini. Tapi, kehidupanku yang sekarang juga sangat membahagiakanku. Rasanya sangat hangat dapat di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku seperti itu." Lisa menjelaskan lagi.
Peri Jung menghela nafas. Ia melihat kebahagiaan yang jauh lebih besar pada Lisa yang sekarang. Saat di dunia peri, terlalu banyak peri yang mengucilkannya. Sebagai manusia, tentu jauh di lubuk hatinya dia akan merasa asing dengan dunia peri. Lisa telah menemukan kebahagiaannya, akan sangat egois jika ia memintanya untuk tinggal di sini bersamanya.
"Kau harus cepat sembuh Peri Jung. Seingatku di dunia peri bunga ada madu rosella yang sangat berkhasiat dalam memulihkan seseorang dari sakit. Aku bisa meminta Peri Lalisa atau Peri Jisoo untuk membawakannya untukmu," ucap Lisa. Ia lega karena tidak ada salah paham lagi antara dirinya dan Peri Jung. Selama ini ia merasa tidak enak hati karena telah meninggalkannya begitu saja.
"Baiklah, aku akan menunggu kirimannya datang," ujar Peri Jung.
"Lisa, terimakasih. Aku mendoakan kebahagiaanmu. Dan kau memang harus bahagia atau aku yang akan menjemput mu paksa untuk kubawa kembali ke sini." Ucap Peri Jung serius.
"Tentu saja," Lisa lega, ia yakin Peri Jung akan baik-baik saja meski tanpa dirinya. "Aku tidak bisa lama meskipun aku ingin. Aku harus segera kembali ke duniaku," ujar Lisa menambahkan. Peri Jung mengangguk dengan wajah sedih. Ia masih ingin berbincang lebih lama lagi. Ia masih sangat merindukan Lisa.
"Aku meras jauh lebih baik setelah kau datang Lisa. Sekali lagi terimakasih banyak. Dan, sampaikan salamku untuk seseorang yang telah mencurimu dariku itu," Peri Jung tertawa, berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu menyedihkan. Lisa tertawa kecil dan menatap Peri Jung.
"Cepatlah sembuh dan berbahagialah,"
Sebelum melangkah keluar Lisa terlebih dahulu memanggil Peri Lalisa.
"Peri Jung, kau juga sudah harus mulai memperhatikan sekelilingmu. Ada seseorang yang dengan tulus merawat dan menyayangimu. Apakah kau tidak tahu?"
Peri Lalisa menunduk malu. Peri Jung menatapnya. Benar, selama ini ia telah mengabaikan seseorang yang juga sangat baik padanya. Seseorang yang sabar meski telah diabaikannya.
"Maafkan sikapku selama ini, Peri Lalisa.."
Lisa berpamitan dengan Peri Jung dan Peri Lalisa. Peri Jung juga sudah nampak jauh lebih baik. Mungkin hanya dalam beberapa hari saja ia akan pulih sepenuhnya.
*****