Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Tiga Puluh



Jungkook dan Lisa duduk di atas hamparan rumput di kaki bukit dekat dengan lokasi mobil Jungkook terparkir. Raut wajah mereka tampak rumit. Lisa menunduk. Ia merasa penat. Ia sungguh-sungguh bahagia di sini. Tapi ia benar-benar merindukan teman-teman lamanya, juga ibu peri yang membesarkannya. Dahulu, ia pergi dengan tergesa. Mereka tidak berpamitan dengan benar. Lisa merasa bersalah karena meninggalkan mereka begitu saja.


"Aku memiliki kehidupan yang baik di sini. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kehidupanku akan sebaik ini. Tapi, aku juga merindukan teman-teman ku di sana. Dan aku telah diberi kesempatan, Raja peri dengan baik hati telah memberiku kesempatan untuk kembali menjadi peri seperti dulu. Tapi, saat ini aku belum bisa memutuskan apa-apa."


Jungkook mendengarkan penjelasan Lisa dengan perasaan kalut. Ia merasa takut kehilangan Lisa. Secara tidak sadar, ia mulai benar-benar percaya bahwa Lisa adalah seorang Peri. Meskipun akal sehatnya masih saja berusaha menolak. Namun, hatinya berkata yang sebaliknya.


"Aku harap kau tidak akan kemana-mana Lisa" Jungkook mengatakan nya dengan nada yang sedih. "Aku harap kau tetap di sini" Jungkook tersenyum, ia meraih tangan Lisa untuk membantunya berdiri.


"Kenapa begitu?" tanya Lisa tidak mengerti.


"Karena kalau kau pergi, siapa yang akan membantuku merawat kebun keluarga kim yang sangat luas itu?" Jungkook menyengir jahil. Ia tidak ingin perasaannya menghalangi kebahagiaan Lisa. Lisa berhak memilih apapun sesuai keinginan nya sendiri tanpa tendensi apapun. Terlebih itu dirinya yang masih bukan apa-apa bagi Lisa.


Lisa dengan reflek memukul lengan Jungkook. Jungkook pun mengaduh kesakitan.


"Kenapa kau pukul aku Lisa?!" Lisa berlagak tidak peduli. Ia berusaha menampilkan tampang kesal yang sangat terlihat bahwa itu dibuat-buat, sehingga bukannya seram malah terlihat sangat lucu.


"Kupikir peri tidak akan pernah bisa merasa jengkel loh.." Jungkook kembali berujar dengan isengnya. Lisa kembali melotot dan hendak memukul lengan Jungkook untuk kedua kalinya.


"Baiklah maafkan aku. Ayo pulang. Kau mau es krim?"


"Tentuuu.." dalam sekejap Lisa langsung kembali menjadi periang seperti biasanya.


Jungkook tertawa dan membuka pintu mobilnya untuk Lisa. Lisa masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di sana, menunggu Jungkook membawanya ke kedai es krim terdekat.


"Sungguh hari yang menyenangkan," gumam Jungkook lalu masuk ke dalam mobil menyusul Lisa. Mereka saling tersenyum dan mobil pun melaju tenang membelah jalanan sore.


***


Pagi ini Lisa dikejutkan oleh sesuatu yang berisik dari balik jendelanya. Ia lantas bergegas bangun dan menuju jendela. Lisa benar-benar terkejut sekarang.


"Astaga bagaimana kalian bisa sampai kemari?" Lisa mengelus satu tupai putih dan mengelus bulu-bulunya. Mantel tupai dari negeri salju!


Masih dengan perasaan terkejut dan heran yang belum terjawab, Lisa meneliti tupai-tulai itu dan menemukan sebuah gulungan kecil yang dikalungkan di leher salah satu tupai. Lisa merasa itu adalah sesuatu yang harus di sampaikan padanya. Lisa lalu melepaskan kalung yang dikenaka tupai dan membuka gulungan yang terkait di sana.


"Peri Jung sakit parah. Bisakah kau datang menjenguk? -- Lalisa"


Lisa terdiam di tempatnya. Tupai-tupai itu segera berjajar dan satu-persatu meninggalkan jendela kamar Lisa dan menghilang di balik rimbunnya daun pohon poplar.


"Terimakasih tupai-tupai salju.." teriak Lisa yang justru malah terdengar seperti bisikan itu.


Peri Jung sakit? separah apa sehingga Peri Lalisa memintanya untuk datang ke sana? Lalu, bagaimana pula cara Lisa untuk dapat ke sana sekarang ini? Apakah harus seperti peri Lalisa yang dulu masuk hutan dan akhirnya bisa sampai ke dunia peri? Apakah sesederhana itu? Haruskah ia menjenguk Peri Jung sedangkan dunia mereka sekarang sudah sangat berbeda? Lisa benar-benar khawatir tetapi ia juga bingung. Rasanya bukan gaya Peri Lalisa untuk bercanda dengan hal ini. Sangat tidak mungkin ini pesan main-main saja.


Lisa keluar dan langsung menuju ke taman bunganya. Ia berdiri di depan bunga matahari dan memanggil nama sahabatnya sebanyak tiga kali.


"Peri Jisoo.. Peri Jisoo.. Peri Jisoo.. aku butuh bantuanmu"


Lisa berdiri menunggu. Bunga matahari mendadak merekah dan bergemerincing merdu. Dan sekejap saja Peri Jisoo sudah berada di hadapan Lisa.


"Ada apa? Apakah kau mengalami masalah? Wajahmu terlihat sangat buruk, apakah kau sakit?" Peri Jisoo nampak sangat cemas.


"Kapan pesta pertalianmu dengan Peri Taehyung akan dilangsungkan?" tanya Lisa tanpa menuju langsung ke intinya.


"Bisakah aku datang tanpa harus menjadi peri?" tanya Lisa sedikit ragu. Peri Jisoo tertegun sejenak.


"Maksudmu kau memutuskan untuk tidak menjadi peri selamanya?" ada kekecewaan dalam nada bicara peri Jisoo. Lisa menghela nafas.


"Aku baru saja menerima surat ini," Lisa menyerahkan surat dari Peri Lalisa yang meresahkannya dari tadi.


"Astaga! Kau harus datang. Aku terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan, aku bahkan tidak sempat menanyakan kabar Peri Jung pada Peri Lalisa. Tapi, aku memang sudah cukup lama tidak melihatnya." Peri Jisoo nampak merasa bersalah pada Peri Jung. "Jadi kau hanya ingin menjenguk Peri Jung dan lalu kembali lagi ke sini? Begitukah maksudmu? Peri Jisoo menambahkan.


" Aku merindukan kalian semua. Dan rasanya aku juga belum berpamitan dengan benar. Itu mengganggu pikiranku. Tapi, kehidupan ku di sini juga sangat baik, Peri Jisoo.." Lisa menatap taman bunga yang terbentang di hadapannya.


"Lisa, apakah ada yang datang?" Ibu Lisa datang dari arah mobil terparkir. Ia membawa sekantong sayur-mayur. Sepertinya beliau baru selesai berbelanja untuk makan malam.


"Eh, kau sendirian? Aku jelas mendengar kau sedang bercakap-cakap?" Ibu celingukan di depan Lisa. Tentu saja ia tidak bisa melihat Peri Jisoo yang masih duduk di samping Lisa.


"Aku hanya sedang menghapalkan naskah Eomma, aku ingin ikut drama teater di kampus" Lisa berusaha mencari alasan.


"Ah begitu.." Ibu tersenyum, kemudian melanjutkan, "Jangan lama-lama berada di luar kalau begitu, sebentar lagi kita makan malam." Lisa mengangguk dan ibu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Itu ibumu?" Lisa mengangguk.


"Sepertinya ia sangat baik dan menyayangimu," Lisa kembali mengangguk dan menambahkan bahwa ayah dan ibunya sangat baik.


"Nah, jadi bisakah aku pergi ke dunia peri tanpa menjadi peri?" tanya Lisa sekali lagi.


Peri Jisoo nampak berpikir sebentar. Ia berusaha mengingat Aturan-aturan dunia peri yang pernah dibacanya.


"Aku rasa bisa. Tapi, pasti dunia manusiamu akan kacau. Kau tahu dimensi dunia kita berbeda," ujar Peri Jisoo.


"Hmm..." Lisa berpikir sejenak, rasanya ia juga pernah membaca ini saat ia masih ada di dunia peri. "Bagaimana jika aku di sana beberapa jam saja? yang artinya itu hanya akan memakan waktu satu hari penuh di sini?" Lisa berharap.


"Baiklah, aku akan berusaha membantumu. Aku bisa mengerti keputusanmu Lisa. Yah, aku sedih mendengar kau tidak akan menjadi peri lagi. Tapi aku juga ingin hal-hal yang baik saja bagimu.."


"Maafkan aku Peri Jisoo," Lisa menggenggam tangan Peri Jisoo. "Dan maafkan aku juga tidak ada saat bahagiamu bersama Peri Taehyung, aku akan mendoakan untuk kebahagiaan kalian, percayalah aku sangat menghargaimu." Peri Jisoo mengangguk. Telunjuk Peri Jisoo menunjuk ke suatu tempat.


"Dari balik bukit itu, kau bisa memasuki dunia peri. Di sana ada satu portal yang akan membawamu masuk ke dunia peri. Manusia biasa tanpa undangan seharusnya tidak akan bisa menemukan portal itu, tapi kau sudah mendapatkan undangan dari Peri Lalisa, itu akan membantumu membuka portal dunia kami." jelas Peri Jisoo.


"Apakah itu juga, jalan Peri Lalisa dahulu?"


"Kurasa ya, itu sangat dekat dengan rumah ini bukan?"


"Tapi ingat Lisa, kau tidak bisa berlama-lama di dalam dunia peri kecuali jika kau memutuskan untuk menjadi peri selamanya." Peri Jisoo menggenggam tangan Lisa, "aku akan membantumu. Ada satu ramuan juga yang akan membuat kau baik-baik saja selama berada di dunia peri tanpa terpengaruh kekuatan magisnya. Tapi ramuan itu tidak bertahan lama. Nanti aku akan membawakan kepadamu." Peri Jisoo menjelaskan dengan terperinci.


"Baiklah, besok adalah hari sabtu, di dunia ini itu berarti hari libur. Aku akan mencari alasan untuk dapat pergi selama satu hari penuh pada orang tuaku. Lalu aku akan memanggilmu saat aku siap. Bagaimana?"


"Aku rasa itu ide bagus. Jika begitu aku pamit ya.."


Peri Jisoo kembali ke depan bunga matahari. Ia bersiap untuk kembali ke dunia peri. Lisa menungguinya hingga Peri Jisoo menghilang diiringi suara gemerincing nyaring yang hanya bisa didengar oleh dirinya.


***