
"Lisa, kekenyangan?" Jungkook menghampiri Lisa yang duduk sendiri di taman.
"Masakan Eomma sangat enak. Aku tidak bisa menahan diri, " Lisa menjelaskan dengan cengiran khasnya.
Jungkook mengusap lembut kepala Lisa. Tatapan matanya begitu teduh. Taman yang hening dengan sinar dari bulan yang lembut membuat suasana menjadi lebih romantis. Degupan jantung Lisa bergemuruh seperti genderang perang. Suasana apa ini? Apakah aku demam? Lisa membatin heran.
Jungkook meraih kedua tangan Lisa dan dibawa mendekat padanya. Ia sudah memantapkan diri untuk membuat Lisa menjadi miliknya. Ia tidak ingin ada Peri Jung lainnya yang berpotensi untuk mengambil Lisa darinya.
"Lisa, ini tentang pertanyaanku tadi." Jungkook sedikit termenung. Ia berusaha mengumpulkan lagi keberaniannya yang sempat menguap.
"Pertanyaan yang mana?" Lisa bingung.
"Bagaimana jika kita pacaran?" Jungkook berdehem untuk mengusir kegugupan. "Aku menyukaimu, Lisa"
Lisa merasa bahagia dan gugup sekaligus. Ada rasa yang membuncah di dadanya. Tak tahan, ia pun menangis haru.
"Hei.. Kenapa menangis? Apakah aku menyinggungmu?" Jungkook menjadi panik.
Lisa menggeleng. Tapi Lisa juga kehabisan kata-kata. Ia masih tidak bisa mencerna serbuan perasaan asing yang memenuhi hatinya. Ia bahagia, gugup, bingung dan takut. Semuanya bertumpang tindih sehingga tidak bisa ia cerna. Kenapa rasanya menjadi begitu rumit?
Jungkook tersenyum. Ia bisa mengerti jika ini adalah pengalaman yang sangat baru bagi Lisa. Mungkin ia hanya membutuhkan waktu sedikit lebih banyak. Mungkin tidak ada konsep kencan dan pacaran di dunia peri? Jungkook juga tidak tahu, tapi menurutnya itu mungkin terjadi.
Lisa menatap mata Jungkook. Ia berusaha mencari kebenaran dan jawaban dari segala pertanyaan di dalam hatinya. Dan Lisa menemukan ketenangan juga keteduhan yang membuatnya sangat nyaman. Inikah rasa suka yang Jungkook maksud? Secara spontan, Lisa memeluk Jungkook. Ia ingin menguasai semua ketenangan dan kelembutan Jungkook hanya untuknya.
"Aku suka, Jungkook"
Mendengar itu, Jungkook semakin mempererat pelukannya. Lisa adalah gadisnya. Dan selamanya akan begitu hingga maut memisahkan.
Ayah dan Ibu Lisa melihat keromantisan putrinya dari teras belakang rumah. Mereka terharu putrinya bisa bertemu dengan seseorang yang begitu baik dan sangat menyayangi Lisa. Mereka hanya bisa mendoakan kebahagiaan putrinya dan Jungkook kedepannya.
***
Jungkook menggeliat di atas kasurnya yang terlihat sangat nyaman. Dengan mata yang memicing ia melihat handphone-nya. Siapa gerangan yang telah mengganggunya sepagi ini.
LISA!
"Oh halo, Sayang.. Selamat Pagi.." Jungkook segera mendudukkan dirinya demi mengangkat telepon dari Lisa.
"Selamat pagi? Jungkook, ini sudah hampir jam makan siang. Bukankah kau berjanji untuk mengajakku berkeliling hari ini?"
Jungkook menepuk kepalanya sendiri. Bagaimana bisa ia tertidur begitu lama. Tapi dia memang sangat lelah. Ia baru bisa tidur sekitar jam tiga dini hari karena harus mengerjakan revisi tugas yang harus ia kirim hari ini.
"Maaf sayang, aku ketiduran. Aku akan menjemputmu. Tiga puluh menit, okay?"
"Apakah kau sangat lelah? Aku saja yang datang kerumahmu,"
"Jangan Lisa, ini adalah kali pertama kita berkencan. Aku tidak bisa merepotkanmu begitu.."
Lisa yang sudah menambah daftar kosakata baru terkait dunia pacaran, maka ia sudah mengerti apa itu kencan dan sebagainya. Hatinya menghangat. Ia begitu spesial kah bagi Jungkook?
"Beri aku waktu tiga puluh menih. Tunggu aku, Lisa," Jungkook bangkit dari tempat duduknya menuju kamar mandi. "I love you. Aku akan mematikan teleponnya,"
Sambungan terhenti. Jantung Lisa pun semakin tidak baik-baik saja. Debarannya semakin menjadi-jadi setelah ungkapan cinta dari Jungkook.
"I love you?" Lisa merona. Dia persis anak SMA yang baru jatuh cinta. Tapi bukankah ini juga yang pertama bagi Lisa?
"Eomma, apakah jantungku akan tetap baik-baik saja?" Lisa bertanya begitu melihat ibunya.
"Ada apa sayang? Apakah kau sakit? Apa yang kau rasakan? Dimana yang terasa sakit? Ibu Lisa menjadi sangat panik karrna pertanyaan Lisa.
"Anio eomma, aku tidak merasa sakit. Tapi di sini berdebar keras sekali.." Lisa menunjuk dadanya.
Ibunya tersenyum. Ia menghampiri Lisa dan mengelus rambut panjang Lisa.
"Apakah Jungkook yang baru saja menelepon?"
"Bukan, Lisa yang menelepon Jungkook," jawab Lisa polos.
Ibu Lisa tertawa dengan kepolosan anaknya. Mereka terus bercerita hingga Jungkook datang untuk menjemput Lisa.
"Eomma, Lisa pergi dulu ya sama Jungkook,"
"Pamit tante,"
Mereka berdua pun pergi berkencan setelah selesai berpamitan.
***
"Jungkook, coba lihat ini," Lisa memanggil Jungkook dari dalam ruang ganti di sebuah pusat perbelanjaan.
"Ada apa?" jawab Jungkook gugup.
"Sini, masuk.." Lisa meminta dengan muka polosnya.
"Boleh?"
"Buruan, Jungkook."
Jungkook masuk dengan gugup.
"Tolong bantu naikin reseleting belakangnya.." Lisa kembali meminta hal-hal yang membuat Jungkook gugup.
Di sana, di punggung Lisa, ada dua buat bekas luka. Itu seperti sayatan memanjang di bagian kanan dan kiri punggung Lisa. Apakah ini bekas sayap yang dibuang paksa? Melihat Jungkook terdiam, Lisa menyadari apa yang menjadi perhatian Jungkook.
"Kau melihatnya?
Jungkook mengalihkan pandangannya pada wajah sendu Lisa. Tapi akhirnya Lisa tersenyum.
"Apakah sakit?" Jungkook membayangkannya merasa ngilu.
"Ya. Sangat sakit." Lisa mengenang bagaimana sayapnya harus dirobek paksa saat ia harus meninggalkan dunia peri. Kala itu, ibu perinya pun untuk pertama kalinya menangis.
Jungkook memeluk tubuh Lisa. Bagaimana bisa tubuh sekecil ini sudah menghadapi berbagai macam hal yang mengerikan? Dan lihatlah bagaimana Lisa masih saja selalu ceria dan tersenyum dengan begitu menawan?
"Its okay, Jungkook." Lisa mengusap lembut punggung lebar Jungkook. "Its okay,"
"Bagaimana dress ini? Bukankah sangat cantik?" Lisa melepaskan pelukan Jungkook dan berusaha mengalihkan topik.
"Cantik. Kau memakai apa pun juga cantik. Pacarku memang sangat cantik." Jungkook tak berhenti memandang wajah Lisa yang sudah memerah.
"Baiklah, kau keluarlah. Aku akan mengganti bajuku kembali,"
Jungkook mengangguk dan segera meninggalkan Lisa di dalam ruang ganti. Selesai berbelanja, mereka memutuskan untuk mencari kafe untuk istirahat. Kaki Lisa sudah sangat pegal.
"Apakah kau menyukai jalan-jalan hari ini?"
"Suka, tapi lain kali kita ga perlu ke mall. Ke taman atau ke bukit akan lebih baik. Bagaimana kalau kita nyobain piknik?"
"Lisa, maaf aku sempat tidak mempercayai ceritamu tentang dunia peri,"
"Ya, Jung. Itu wajar. Bahkan mungkin orang lain sudah menganggap aku gila karena percaya dianggap percaya dongeng,"
Jungkook tersenyum dan menggenggam tangan Lisa. Ia mengusap lembut punggung tangan yang halus itu. Dalam hatinya berjanji untuk melindungi pemilik tangan yang sedang ia genggam ini.
*****