
"Lagi dimana?"
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggam Lisa. Itu dari Jungkook.
Sedari pagi Lisa sudah bersiap. Semalaman ia sudah berjuang membujuk ayah dan ibunya untuk mengizinkannya pergi staycation keluar kota. Lisa beralasan, dia lelah drngan rutinitas kuliahnya. Lisa butuh liburan. Lisa berjanji untuk menjaga diri dengan baik. Kini dia sudah selesai packing dan bersiap untuk pergi.
"Aku akan pergi sebentar"
Balasan pesan dari Lisa untuk Jungkook membuat serentet daftar pertanyaan balasan dari Jungkook. Terlebih kalimat Lisa yang aneh saat mereka terakhir bertemu. Tentang kemungkinan ia bisa kembali menjadi peri.
Lisa tersenyum membaca balasan dari Jungkook. Lisa merasa Jungkook sedikit panik.
"Aku tidak akan lama."
Ia menggendong tas ranselnya dan bersiap untuk keluar. Orangtuanya kembali mengingatkan agar Lisa terus memberi kabar dan agar Lisa selalu berhati-hati. Ada perasaan cemas yang diam-diam menyelip di dalam hati orang tua Lisa.
Selesai memakan sarapannya, Lisa bersiap untuk pergi. Sebuah mobil terlihat memasuki pekarangan rumah Lisa. Dengan terburu-buru terlihat Jungkook seolah tidak ingin terlambat. Kedatangan Jungkook mengejutkan Lisa, tetapi ia disambut hangat oleh orang tua Lisa.
"Apakah kali ini kau akan pergi dengan Jungkook?" Tanya Ibu Lisa. "Ibu jauh lebih tenang jika kau tidak pergi sendiri nak, syukurlah." Ibu Lisa menambahkan.
Jungkook dan Lisa saling berpandangan. Lisa tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin membuat ayah dan ibu nya merasa khawatir, tetapi Lisa juga tidak ingin berbohong. Ah, bukankah dia sendiri juga sudah berbohong tentang alasan kepergiannya?
"Kita pergi dengan mobilku ya?" Jungkook mengalihkan pembicaraan. Lisa mengangguk saja. Ia tidak mungkin menolak ajakan Jungkook yang seperti mendapatkan kesempatan dalam kesempitan itu.
Setelah acara pamitan yang diiringi dengan nasihat yang sudah berpuluh kali Lisa dengar itu, akhirnya mereka berhasil pergi.
"Jadi, kau mau kemana Lisa?" Jungkook nampak cemas.
"Tolong antarkan aku ke bukit terdekat ya,"
Jungkook menatap Lisa berusaha mencari tahu lebih banyak. Lisa membalas tatapan Jungkook dengan sorot mata bertanya.
"Apakah kau akan pergi untuk menjadi peri selamanya?" Tanya Jungkook. "Bukankah kau bilang untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu? Bukankah kau bahagia di sini? Bukankah kau suka dunia manusia?" Jungkook menambahkan dengan ekspresi tidak rela yang sudah tidak bisa ia tutupi lagi.
"Ada seorang temanku di sana yang sedang sakit parah. Kali ini, kurasa, aku harus datang."
Jungkook meremas pegangan kemudi dengan kencang. Ia berusaha menahan semua perasaan tidak rela, takut kehilangan, sedih, bingung dan sebagainya.
Jungkook semakin tidak tahan setelah mendengar penjelasan Lisa. Apakah dirinya masih tidak berarti apa-apa bagi Lisa. Apakah orang itu lebih penting darinya? Batin Jungkook menjerit kalut. Tapi Jungkook tidak tahu apa yang harus dia katakan atau lakukan. Dia hanya berusaha bertahan dan mengemudikan mobil dengan baik.
Di tepian hutan, di kaki bukit yang pernah di tunjuk oleh Peri Jisoo, Lisa dan Jungkook saling berpandangan. Entah kenapa hati Jungkook sangat kesal dan juga sakit. Lisa tersenyum padanya.
"Baiklah, aku pergi ya.."
Lisa berjalan memasuki kedalaman hutan yang rindang dan sejuk. Sementara Jungkook masih kelu di tempatnya semula. Otaknya seolah berhenti bekerja. Saat ia sadar, Lisa bahkan sudah menghilang di balik pepohonan. Jungkook berusaha mengejar Lisa. Tapi seolah Lisa sudah sangat jauh pergi.
Lisa berhenti sejenak dan memandang ke sekeliling. Bukankah ia baru berjalan sebentar? Tapi bahkan jalanan dan Jungkook sudah tidak terlihat sama sekali. Lisa memandang sekeliling. Di dekat sebuah pohon, keadaan tampak begitu tenang dan memiliki kondisi yang nampak janggal. Lisa kemudian berpikir bahwa itulah tempatnya. Lisa kemudian berjalan mendekat ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Halo"
"Kau dimana? aku menyusulmu masuk ke dalam hutan tapi aku sama sekali tidak bisa melihatmu?" Jungkook terdengar sangat panik.
"Aku masih di....." dan tubuh Lisa terlontar ke suatu bagian yang terasa lain. Ponselnya ikut terlontar. Lisa meraih ponselnya dan hanya melihat layar gelap. Ponselnya mati. Lisa berusaha menghidupkannya kembali tapi tidak berhasil. Lisa mendesah. Ia tahu Jungkook pasti mencemaskan dirinya.
"Aku benar-benar tidak akan lama Jungkook," ujar Lisa sendirian. Ia terus berjalan mengikuti kemana kaki mrmbawanya. Ia telah masuk ke pintu dimensi dunia peri. Dulu ia tidak perlu terjengat dan terlontar seperti sekarang ini. Apakah ini karena ia tadi sambil menggunakan ponsel? Lisa tidak mengerti dan ia terus berjalan. Ia harus segera ke Negeri Peri Salju secepatnya.
Salju-salju mulai mencair di kejauhan sana, membentuk warna putih yang mulai belang-belang dari batang-batang pohon yang berwarna coklat. Itu berarti musim salju di dunianya juga akan segera berakhir sebentar lagi, gumam Lisa. Mungkin Monster Salju juga sudah bersembunyi ke kedalaman pegunungan yang masih bersalju. Lisa terus berjalan.
Lisa melewati beberapa bukit, Lisa teringat bahwa ini adalah bukit yang menuju ke negeri peri salju. Ia akan segera sampai ke tempat tujuan. Bukit ini masih sama, hanya saja sudah tidak terlalu tertutup salju. Lisa ingin segera sampai ke tempat tujuannya.
"Kau siapa?" sapa sebuah suara membuat Lisa tampak tekejut. Berbagai pikiran buruk langsung menghantui pikirannya. Apakah itu peri jahat atau monster yang akan mencelakainya?
"Peri Lalisa?!!" Lisa terpekik antara terkejut dan gembira. Kecemasannya menghilang. "Aku hendak menjenguk Peri Jung. Apakah kau juga sama?" Peri Lalisa tersenyum dan segera berlari mendekat ke arah Lisa. Mereka berpelukan sebentar.
"Ya, Peri Jung masih sangat merindukanmu hingga sekarang." Peri Lalisa mengatakannya dengan nada sendu, "Ia pasti sangat gembira mendapatkan kunjungan darimu. Ku harap hal ini akan membantunya untuk segera pulih.." Peri Lalisa menambahkan dengan segala ketulusan dalam hatinya.
Melihat perasaan Peri Lalisa yang tampak sangat sedih dan putus asa membuat Lisa merasa tidak tega. Dan anehnya tidak ada rasa cemburu. Lisa ingin semuanya dapat merasa bahagia.
"Aku mengunjunginya sebagai teman saja. Mari kita pergi bersama." tawar Lisa. Mereka pun berjalan bergandengan. Saling bertukar kabar dan cerita tentang ibu masing-masing yang sangat mereka rindukan juga.
Mereka telah sampai di Negeri Peri Salju yang begitu megah. Peri prajurit dan pengawal yang berjaga di pintu depan segera menghadang mereka. Karena Lisa tampak berpakaian aneh dan tidak bersayap, tentu saja hal itu membuat mereka curiga. Hanya Peri Lalisa yang diizinkan masuk oleh para penjaga. Lisa nampak cemas, apakah perjalanannya akan sia-sia saja? Peri Lalisa juga nampak bingung. Bagaimana pun dia juga bukan rakyat Negeri Peri Salju, tentu ia tidak memiliki kuasa apa pun untuk membawa seorang tamu.
***