
"Aduh tubuhku rasanya remuk,"
Peri Jisoo mengeluh sambil jatuh terduduk di bawah pohon. Peri Lisa bahkan masih terus saja memegangi lembaran daun sawi.
"Baiklah kita istirahat saja dahulu di sini.. Kau duduklah baik-baik aku akan mencari minuman.."
Dari kejauhan terdengar bagaimana Siluman Sawi tersebut masih merintih-rintih. Terdengar sangat memilukan.
"Aku lapar.."
"Aku tidak pernah makan daging peri.."
"Aku ingin makan daging peri.."
"Hei dasar kau peri sialan..!! Kau merusak kesempatanku mendapatkan makan malam"
"Huhuhu"
Siluman Sawi yang cengeng dan sangat menyebalkan. Rupanya ia juga adalah siluman tukang cari perhatian. Tapi kedua peri tersebut tidak perduli sama sekali. Sementara Sang Siluman sedang meratapi keadaannya, Peri Lisa sedang berpikir harus mencari makanan kemana.
"Malam ini kita menginap di sini saja.."
Peri Lisa sudah kembali sambil membawa semangkuk air. Ia memberikan minum kepada Peri Jisoo. Tapi ia tidak mendapatkan makanan. Peri Jisoo mengangguk menanggapi usul Peri Lisa untuk menginap. Ia merasa tidak akan kuat lagi jika masih harus berjalan jauh.
"Perbekalan garam dan bubuk pedas kita masih ada bukan?" tanya Peri Jisoo. Peri Lisa menunjukkan semuanya di tasnya.
"Aku akan buat kimchi"
Peri Jisoo berkata dengan santai. Peri Lisa heran, apa yang bisa dibuat kimchi. Melihat sahabatnya seperti belum menyadari bahwa sedari tadi dia masih menyeret lembaran daun sawi yang sangat besar, Peri Jisoo tertawa geli. Sesangkan Peri Lisa masih keanehan sendiri.
"Hei.. Kau tidak sadar dengan apa yang ada di tanganmu??!!"
"Aahhh.."
Peri Lisa melempar daun tersebut sekenanya. Ah pantas saja ia dari tadi kesulitan berjalan. Dia pikir dia hanya lelah. Tapi rupanya karena daun sawi sialan ini.
"Kau gila, Jisoo..!! Kau memasak tubuh siluman??!"
"Tidak. Ini hanya daun.."
Peri Jisoo menunjuk daun sawi yang sudah dipotong-potong yang tergeletak di hadapan mereka. Beralaskan daun pisang, Peri Jisoo mengolah potongan sawi super besar itu menjadi kimchi yang lezat.
"Tapi tetap saja. Apakah itu akan enak jika hanya diberi garam dan diberi bubuk pedas?"
Peri Lisa mulai tertarik. Peri Jisoo tertawa geli. Mereka berdua sangat lapar. Peri Jisoo bermaksud membuat kimchi dari lembaran lembaran sawi segar dan besar itu. Selain itu rupanya Peri Lisa menemukan beberapa umbi manis yang tersembul dari dalam tanah di sekitar mereka duduk.
Pantas saja kau cakap sekali mengolah semua makanan ini," Puji Peri Lisa.
"Walaupun Sawi ini sudah dipotong, tapi dia masih sangat lebar, rasanya kita bisa membuat jaket dari daun sawi ini"
Mendengar Peri Jisoo ingin membuat jaket dari daun sawi membuat Peri Lisa tertawa. Akhirnya makanan telah siap. Mereka duduk di bawah pohon pisang sambil menyantap makanan seadanya itu.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk beristirahat. Peri Jisoo nampak menggigil dan tidak seceria sebelumnya. Melihat itu Peri Lisa menjadi khawatir. Ia meletakkan tangannya ke dahi Peri Jisoo.
"Kau demam. Badanmu panas," Ujar Peri Lisa semakin khawatir. Ini gawat. Peri jarang sekali terkena demam. Jika seorang peri sudah terkena demam itu artinya... Ah, Peri Lisa menepis pemikirannya yang berlebihan. Peri Jisoo pasti bisa bertahan. Ia dikenal sebagai peri yang paling kuat dan pintar.
"Kau bisa mencarikanku daun kaki kuda?"
Peri Jisoo bertanya pada Peri Lisa. Peri Jisoo sudah semakin mengantuk akibat demam yang ia derita. Peri Lisa langsung menghamparkan lembaran sawi yang tidak dimasak ke atas rumput agar Peri Jisoo bisa berbaring di atasnya.
"Daun kaki kuda?"
Kening Peri Lisa berkerut. Ia baru mendengar nama tumbuhan itu dari Peri Jisoo. Ternyata Peri Jisoo memang terkenal peri yang pintar dan cerdas.
"Aku membacanya di perpustakaan desa kita. Aku mengingat bentuknya dan aku pernah mencarinya untuk melakukan penelitian. Daunnya seperti tapak kuda, hijau segar, tumbuh merayap menutupi tanah." Info Peri Jisoo selengkap mungkin.
Peri Lisa segera bergegas. Ia mengunyah umbi manisnya yang masih panas. Bagaimana pun tadi dia baru makan kimchi saja. Umbinya baru matang. Jadi dia masih lapar. Ia harus bergegas, ia harus segera menolong Peri Jisoo yang sedang demam. Sebelum pergi ia memberikan Peri Jisoo Umbi dan air agar ia makan lebih banyak.
"Aku pasti akan menemukannya. Kau tunggu saja di sini." Peri Lisa berjalan mantap.
Peri Jisoo menatap kepergian sahabatnya dengan tersenyum senang. Peri Lisa memang teman seperjalanan yang luar biasa dan bisa diandalkan. Peri Jisoo mulai sangat mengantuk dan ia mulai tertidur dengan pulas.
Sementara itu, Peri Lisa terus berjalan merambah hutan dan menuju ke sungai sambil menelusuri tanah pijakannya. Ia berharap akan langsung menemukan tumbuhan yang dimaksud Peri Jisoo.
***
Mereka adalah peri dari negeri bunga. Mereka sangat banyak tahu tentang tumbuhan, walau tentunya mereka lebih banyak tahu tentang tumbuhan bunga ketimbang tumbuhan obat. Tapi, bukankah sama saja? Terkadang tumbuhan bunga pun bisa jadi obat. Mereka adalah peri penjaga bunga. Agar bunga-bunga selalu sehat dan segar, tumbuh sesuai musimnya dan menghiasi dunia yang indah.
Peri merupakan mahluk yang sangat menyukai tempat yang indah dan berbunga sehingga kadang digambarkan tidur di atas bunga, tinggal di hutan dan menjaga pohon-pohon, serta bermain dengan hewan-hewan yang hidup di sekitar hutan tersebut. Peri dalam kisah anak-anak selalu digambarkan berwajah cantik, bersayap kupu-kupu, dan mengeluarkan kemilau yang indah dari seluruh tubuhnya. Penampilan mereka begitu anggun dan menawan.
Peri Lisa berambut panjang coklat bergelombang dan berponi, bermata lentik, bersayap dengan semburat warna merah, bergaun kelopak-kelopak bunga tulip yang menutupi bagian lengan hingga lututnya.
Peri Lisa memutuskan untuk mengikuti misi ini bersama Peri Jisoo karena ingin menghindari gosip di desanya mengenai dirinya yang disebut Peri Palsu. Sungguh menyakiti dirinya begitu dalam. Ibunya meyakinkan dirinya bahwa ia bukanlah apa yang dituduhkan penduduk desa. Ia benar-benar terlahir dari rahim ibunya, bukan yang lain. Namun, pikiran bahwa ia bukanlah peri sejati selalu menghantuinya.
Ia terlahir dengan kulit bersih dan cantik. Rambut para peri yang biasanya berwarna cerah, ia tidak memilikinya. Peri Lisa memiliki rambut asli hitam kelam dan bergelombang. Namun akhirnya ia mengecatnya menggunakan daun pacar yang ia tumbuk diam-diam. Sehingga kini ia memiliki rambut warna kecoklatan dan bergelombang. Sesungguhnya keadaannya itu justru membuat Peri Lisa menjadi Peri paling eksotik di antara peri-peri yang lain. Kekuatan sayapnya tidak sekuat peri yang lain. Tapi, ia tetap berusaha tidak berbeda. Ia berusaha sekuat tenaga agar terlihat dan menjadi sama seperti peri yang lainnya. Dengan mengikuti misi ini, setidaknya dia bisa sedikit melupakan persoalan itu. Peri Jisoo pun sama sekali tidak pernah membahas perihal peri palsu, mungkin untuk menjaga perasaannya.
*****