Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Sembilan Belas



"Peri Lisa.. Pastikan kau tidak akan pernah melupakanku.. Ingatlah aku. Aku temanmu, aku Peri Jisoo, temanmu.."


Peri Jisoo menangis sesenggukan. Ia tidak ingin berpisah dengan sahabatnya. Mereka sudah melalui berbagai macam hal berdua. Mereka juga telah sukses menjalankan misi dari Raja. Semua itu, bagaimana itu semua malah berujung pada perpisahan seperti ini? Apakah mereka masih bisa bertemu? Apakah mereka masih bisa berbincang seperti saat ini?


Satu kali lagi Lisa memeluk Peri Jisoo sangat erat. Hantinya pedih harus meninggalkan orang-orang yang sangat mencintainya dan juga ia cintai. Ibu Peri mengingatkan agar mereka segera pergi. Ia takut seorang peri mungkin akan melihat mereka.


Ibu Peri dan Lisa sudah hampir sampai di bibir hutan. Saat mereka menoleh, Peri Jisoo dan Peri Lalisa telah berbalik menuju rumah Ibu Peri. Melihat punggung sahabatnya semakin menjauh, Lisa kembali mengeluarkan air mata.


"Selamat tinggal sahabatku.."


Ibu Peri merangkulnya dan memberikan seluruh kekuatan yang ia punya untuk menguatkan putrinya. Ah, tidak, saat ini Lisa sudah bukan putrinya. Kenyataan itu memukul hati Ibu Peri dan menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya. Genggamannya menjadi semakin erat.


***


Peri Lisa, ah bukan, seharusnya Lisa saja, ia sudah berganti nama menjadi Lalisa. Ia sedang memandangi sebuah pintu yang tertutup dengan tatapan bingung sekaligus terpesona. Berdasarkan peta yang diberikan Peri Lalisa, seharusnya yang di depannya ini adalah tempat tinggalnya.


Ternyata tempat tinggalnya besar dan bagus sekali. Banyak bunga dan tanaman yang tumbuh di halaman rumahnya. Sebagian masih ada yang tertutup salju. Hal itu langsung mengingatkannya pada Peri Jung. Ia menghela napas. Ia tidak sempat berpamitan dengannya.


Seseorang membuka pintu dan Lalisa terpana.


"Pu...putriku...,"


"Eomma,"


Lisa tersenyum canggung. Dunia ini masih terasa asing baginya. Namun, ia sangat senang. Perempuan paruh baya di hadapannya tersenyum senang dengan mata yang berkaca-kaca. Tak berapa lama, sang ibu sudah menarik Lisa ke dalam pelukannya. Di bahunya, Lisa merasakan ibunya menangis. Bahunya bergoncang perlahan.


"Kami sudah mencarimu ke mana-mana, anakku. Kemana saja kau selama ini? Kemana saja kau tiga minggu ini, putriku?"


Tiga minggu? Jadi, Peri Lalisa sudah pergi selama tiga minggu? Apakah benar memang sudah selama itu? Ah ya, Lisa teringat bahwa ada perbedaan waktu antara dunia manusia dan dunia peri.


"Aku baik-baik saja, Eomma." senyum Lisa begitu hangat sehingga mencairkan hati ibunya.


"Eomma sungguh lega sekali," ibunya membelai kepala Lisa.


Lisa merasa tenang karena wangi tubuh ibunya begitu lembut dan menenangkan. Ia sudah langsung menyukai aroma ibunya untuk pertemuan pertamanya ini. Lisa merasa ia pasti akan dengan mudah menyukai ibu barunya ini.


"Apakah kau mengecat rambutmu?" tanya ibunya sambil merangkul tubuh putrinya.


"Ah, iya," ujar Lisa sambil tersenyum. Ibunya begitu senang karena putrinya kini sangat sering tersenyum dan menjawab dengan manis. Walaupun tampak aneh dan asing, perasaan ibunya begitu lega.


"Putriku...," ucap satu sosok lagi yang diduga Lisa adalah ayahnya. Lisa tersenyum. Rambut ayahnya masih basah, mungkin dia habis mandi. Ayahnya memeluknya.


"Appa," Lisa merasakan kasih sayang pada pelukan seseorang yang kini dipanggilnya ayah itu.


Ah, sepertinya, berada di dunia manusia tidak buruk sama sekali. Sepertinya akan menyenangkan. Ia hanya perlu menyesuaikan diri. Lisa mulai tersenyum penuh arti. Perjalanannya yang ditempuhnya dalam sehari semalam rasanya tidak akan jadi sia-sia. Hatinya yang masih sedih karena kehilangan keluarga dan teman-teman yang dikenalnya, sekarang mulai terasa sedikit terobati dengan sambutan penuh kasih sayang dari kedua orang tua barunya.


***


Di sebuah meja kecil tidak jauh dari tempat tidurnya, sudah terhidang susu yang masih mengepul hangat dan roti yang baunya harum sekali. Ada aroma kayu manis yang sangat disukainya dari roti itu. Lisa beranjak bangun.


Lisa menyibakkan tirai berwarna kuning dan putih yang ada di kamarnya. Di rumahnya yang dulu juga ada tirai seperti ini, hanya saja semuanya terbuat dari untaian bunga. Lisa tersenyum dan mendesah mengingatnya.


"Kau sudah bangun?" seraut wajah muncul di ambang pintu. Wajah ibu kandungnya.


"Ne," jawab Lisa lembut.


"Eomma mengganti tirainya yang tadinya berwarna pucat. Apakah kau keberatan?" tanya ibunya. Lisa tertegun sejenak dan menggeleng pelan. Kenapa ia harus merasa keberatan?


"Setahu Eomma, kau tidak suka warna-warna cerah."


Bagaimana bisa seorang peri bunga tidak menyukai warna cerah? Tapi ia teringat perkataan seseorang yang ia lupa siapa. Orang itu mengatakan jika sifat seperti itu bisa muncul jika seorang peri tidak hidup di dunia yang seharusnya. Lisa menarik napas panjang begitu teringat negerinya yang dulu.


"Oh, Eomma, sebenarnya aku menyukai semua warna kok.." Lisa tersenyum canggung kepada ibunya.


Lisa lalu mngalihkan pembicaraan dengan membahas taman bunga di balik jendela kamarnya. Tapi memangnya apa yang mau dibahas dari kebun yang tertutup salju. Ibunya pun tersenyum dan ikut bercerita tentang kebun bunga mungilnya itu.


"Baiklah, ini sudah jam delapan. Bukankah kau harus ke kampus sebentar lagi?"


"Kampus?" tanyanya. Lisa mulai khawatir. Peri Lalisa tidak menceritakan apa pun tentang hal ini.


"Kau sudah tiga minggu tidak masuk kuliah. Akhirnya aku mengajukan cuti pada pihak kampusmu. Sekarang kau harus mengurus perkuliahanmu lagi,"


Lisa masih membayangkan tempat seperti apa kampus itu? Apakah semacam taman bunga yang luas?


"Bisakah Eomma mengantarku ke sana?" tanya Lisa ragu-ragu.


"Kau sudah besar kenapa kau harus bersama Eomma untuk pergi ke sana?" ibu Lisa nampak heran dengan anaknya yang biasanya dingin itu. Tapi saat ini, Lisa nampak ramah dan banyak tersenyum.


"Aku sudah lama tidak bertemu denganmu, Aku masih ingin bersama Eomma lebih lama," Lisa menyembunyikan kegugupannya. Ia tidah tahu hendak beralasan apa.


"Baiklah. Kau mandilah dahulu, lalu habiskan sarapanmu dan kita akan berangkat. Eomma akan mengatarkanmu," ujar ibunya dengan lembut. Ia melihat Lisa mengangguk dengan patuh. Dalam hati ibunya, ia merasa keheranan. Lisa berubah drastis semenjak kepulangannya ke rumah. Ia menjadi lebih manis dan penurut. Walau pun masih terasa aneh, tapi ibunya sangat senang dengan perubahan itu. Tentu saja Ibunya senang putrinya menjadi lebih hangat.


"Baik. Cepatlah bangun dari tempat tidurmu dan bersiap ya. Eomma akan menunggumu di bawah.."


"Oke, Eomma.."


*****