
Sebagai Negeri Peri Bunga, peri-peri harus tetap menjaga bunga apa pun tetap tumbuh dan ada. Mereka mulai menyimpan bibit-bibit bunga di dalam botol-botol kaca. Ada beberapa jenis spesies bunga yang tidak mampu mereka selamatkan karena amukan badai dan mereka tidak bisa mendapatkan bibitnya yang baru. Itu membuat penduduk peri merasa sangat bersedih. Mereka kehilangan beberapa jenis bunga yang indah dan hanya negeri mereka yang punya.
Peri Jisoo dan Peri Lisa bersedia melakukan misi untuk menemui pemimpin negeri peri salju, agar mereka tidak meratakan salju di negeri peri bunga. Badai angin dan badai hujan saja telah membuat mereka takut dan hampir mati kedinginan, apalagi salju yang merupakan biangnya dingin dan titik terendah dari cuaca? Mereka pasti tidak akan sanggup bertahan menghadapi musim salju. Selain bunga-bunga yang akan mengering dan mati, para peri penjaga bunga pun akan ikut mati.
Hanya Peri Jisoo dan Peri Lisa yang mampu melakukan misi ini karena mereka memiliki tekad yang kuat. Pemimpin mereka sendiri sepertinya sudah lelah menghadapi berbagai macam hantaman dan badai yang melanda negerinya.
Tapi kini, salju sudah memutih di depan mata.
"Kita benar-benar harus cepat. Ayo!" Peri Lisa mengajak Peri Jisoo untuk terus maju. Mereka terus melawan hawa dingin yang mulai menusuk kulit mereka. Mereka benar-benar kedinginan.
"Kita tidak akan berhasil," keluh Peri Jisoo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Peri Lisa tetap bersikeras bahwa mereka pasti bisa.
Hembusan hawa dingin makin terasa ketika mereka mendekat ke kaki gunung. Peri Salju pasti tidak jauh dari salju yang mereka tebarkan. Angin yang bertiup membuat mereka sempoyongan. Mereka terbang melawan arus angin dan mereka bukannya terbang maju malah terbang semakin mundur.
"Sayapku tidak kuat lagi!" Peri Jisoo jatuh terduduk. Disusul Peri Lisa. Mereka terduduk dengan posisi hampir terjungkal ke depan. Untung saja mereka tidak jatuh terjungkal ke belakang. Sayap mereka bisa rusak parah.
"Kita hanya bisa berjalan kaki sekarang," keluh Peri Lisa. Ia tahu kondisi Peri Jisoo semakin lemah karena cengkraman Siluman Sawi dan demam kemarin. Ia sendiri yang sudah kelelahan harus sanggup bertahan. Kalau tidak, negeri mereka akan hancur dan mereka tidak akan pernah bisa pulang ke kampung halaman mereka lagi.
"Biar aku saja yang pergi. Kau tunggu saja di sini, Peri Jisoo," Peri Lisa meletakkan perbekalannya. Ia akan naik ke gunung itu. Di balik gunung itu pasti ia akan menemukan salah sati peri salju dan memintanya untuk menjauhkan salju dari negerinya.
"Kau yakin akan melakukannya sendirian? Aku benar-benar tidak sanggup lagi berjalan," ucap Peri Jisoo lemah dan tidak bertenaga. Ia sangat kagum pada keberanian Peri Lisa.
Peri Lisa segera mengangguk dan tidak membuang waktu. Ia mulai berjalan kaki. Tidak cukup hanya berjalan kaki, ia harus berlari. Ia pun berlari sambil terengah-engah berharap tujuannya akan langsung ada di depan mata.
Sudah lama sekali sepertinya Peri Lisa terus berlari tapi sepertinya tempat tujuannya sama sekali belum terlihat. Ia merasakan hawa semakin dingin dan seketika angin dingin menerpa wajahnya. Ia melihat pohon-pohon memutih dan ia menutup wajahnya dengan satu tangan. Benda putih itu mulai menjalari kakinya.
"Tidaaaaakkk! Hentikaaaann!!" Peri Lisa berteriak. Ia merasakan tubuhnya membeku ketika butiran-butiran salju putih merayapi bagian bawah kakinya.
Terlambat!
Peri Lisa jatuh terduduk. Hancur sudah harapannya. Semuanya sudah hancur. Peri Lisa menundukkan wajahnya. Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang menutupi sebagian wajahnya. Sayapnya terkena butiran-butiran salju yang keras dan ia tidak tahu berapa lama lagi sayapnya akan bertahan. Ia merasa sayapnya mulai berlubang dan itu artinya ia tidak akan dapat terbang.
"Kau baik-baik saja?" Suara merdu itu terdengar. Peri Lisa mendongak. Menatap pemilik suara. Seorang peri menatapnya penuh cemas. Peri dari jenis yang berbeda. Ini Peri Salju!
"Hentikan saljunya, aku mohon...," wajah Peri Lisa tampak memelas. Peri berwajah putih dingin dan keras itu mengerutkan keningnya. Tapi, karena tekstur kulitnya keras dan dingin, tidak ada satu pun kerutan yang tercipta di dahinya, walaupun ia sudah berusaha dan berniat mengerutkan keningnya.
"Kau siapa?" tanya peri salju itu melakukan antisipasi.
"Aki peri dari negeri bunga. Saljumu akan menghancurkan desaku. Jebal....,"
Peri Lisa mulai memohon. Peri salju itu malah membungkuk dan duduk di hadapan Peri Lisa.
"Kau harus memohon pada pemimpin kami. Aku tidak punya wewenang," ujar peri salju yang berjenis kelamin laki-laki itu. Peri Lisa semakin memohon.
"Aku mohon sampaikan padanya. Aku tidak sanggup berjalan lagi. Aku mohon..."
"Tolonglah, aku mohon, Peri Jung..." pinta Peri Lisa sekali lagi. Peri Jung berjalan mondar-mandir di hadapan Peri Lisa. Belum pernah ia menemui peri secantik peri yang ada di hadapannya. Semua peri kenalannya berwajah keras dan dingin, tentu saja karena mereka semua peri salju. Tapi, wajah Peri Lisa tampak berbeda. Wajahnya lembut dan manis. Bahkan bisa dibilang Peri Lisa adah peri tercantik yang pertama kalinya ditemuinya. Dan, ia merasa langsung tertarik.
"Bagaimana, ya? Perintah Raja untuk menurunkan salju harus menutupi semua lembah dan gunung. Dan, masih ada sekitar dua belas gunung lagi yang harus kami hinggapi." Jelas Peri Jung.
"Dan, gunung ke enam dari sini adalah desa kami. Aku dan temanku adalah utusan dari desa untuk memohon pada kalian para peri salju untuk membebaskan desa kami dari salju." Jelas Peri Lisa.
Selain cantik, ternyata peri ini juga memiliki suara yang merdu, batin Peri Jung.
"Itu sangat sulit dilakukan. Nanti keseimbangan alam menjadi terganggu. Kalian tidak pernah terkena salju sebelumnya?" Tanya Peri Jung tampak tertarik.
"Tidak pernah," Ujar Peri Lisa. Baru kali ini salju ternyata akan meluas sampai desa mereka. Penduduk negeri bunga berharap itu tidak akan pernah terjadi.
Sejurus kemudian Peri Jung merasa kasihan pada Peri Lisa yang tampak lemah tak bertenaga ini. Ia tidak yakin ia bisa membujuk pimpinan mereka untuk menghentikan salju atau membebaskan negeri peri bunga dari salju karena aturan tetaplah aturan. Aturan sudah ditetapkan bahwa salju akan merata di semua tempat untuk tahun ini.
"Sebaiknya kau ikut denganku," Saran Peri Jung memberikan penawaran pada Peri Lisa.
"Kemana?" tanya Peri Lisa
"Menemui Rajaku. Kau sendiri yang akan berbicara padanya. Aku hanya anak buah," ujar Peri Jung.
"Anak buah? Kau semacam peri strawberry atau anggur?" tanya Peri Lisa tidak bisa menangkap maksud Peri Jung dengan baik karena kelelahan. Peri Jung sempat tertegun lalu tertawa.
"Maksudku, aku hanyalah menjalankan tugas. Aku tidak berani menyampaikan pesanmu, Peri Lisa."
"Tapi, aku sangat lemah dan aku meninggalkan temanku sangat jauh di belakang. Bagaimana aku bisa pergi?" Keluh Peri Lisa.
Peri Jung tampak berpikir. Ini kesempatan bagus.
"Aku akan menggendongmu!" Tawarnya tanpa basa-basi dan dengan seringai yang tampak senang.
"Apa?!" pekik Peri Lisa. Digendong? Seperti apa rasanya itu? Bukankah peri diciptakan memiliki sayap dan ia tidak bisa sembarangan meletakkan barang di punggungnya? Bahkan dalam hal pemakaian baju pun tidak boleh sembarangan. Bagian belakang baju harus digunting agar sayap bisa bergerak dengan bebas.
"Aku akan menggendongmu di depan." Peri Jung tampak malu-malu lagi menerangkan idenya yang membuat mata Peri Lisa semakin terbelalak.
Berbagai macam pikiran buruk menghantui kepala Peri Lisa. Bagaimana ia bisa mempercayai Peri Jung yang baru ditemuinya? Tapi, kalau ia tidak cepat, desanya akan segera habis ditutupi salju. Bagaimana ini?
"Baiklah"
Peri Lisa tampak pasrah. Peri Jung langsung tampak senang. Ia benar-benar senang akan idenya sendiri. Peri Lisa melipat sayapnya agar Peri Jung mudah membawanya tanpa merusak sayapnya.
*****