Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Empat Puluh Satu



Jungkook dan Lisa sedang duduk di sebuah kafe yang nampak sepi. Design interior yang simple, dengan beberapa ambience lampu berwarna warm membuat suasana kafe terasa nyaman. Alunan denting piano samar terdengar mengisi kesunyian. Lisa sengaja mengajak Jungkook ke sini untuk mencari tahu alasan di balik keanehan Jungkook hari ini.


"Apa yang ingin kau pesan?" Lisa menatap Jungkook sambil menunjukkan buku menu.


"Americano saja," Jungkook menjawab cepat tanpa melihat menu sama sekali. Ia telah kehilangan nafsu makan.


"Kau tidak akan makan malam?" Lisa heran dengan pesanan Jungkook.


"Aku masih kenyang," Jungkook terasa sangat dingin. Keruwetan pikirannya benar-benar merusak moodnya. Dia pun tidak mengerti. Setiap rasa tidak nyaman ini harus diapakan. Dia ingin marah atas keanehan Lisa dan kedekatannya dengan Peri Jung. Tapi rasanya itu terlalu kekanakan. Bahkan ia masih belum jelas masalah yang Lisa hadapi, sehingga membuat Lisa nampak murung dan gusar seminggu ini. Jungkook juga khawatir Lisa akan kembali ke dunia peri. Terlalu banyak kecemasan yang Jungkook miliki. Namun, ia kesulitan untuk menguraikan setiap rasa yang tumpang tindih di hatinya.


Keheningan kembali merebak di antara Lisa dan Jungkook. Melihat Jungkook yang begitu dingin hari ini, membuat Lisa merasa bingung. Namun, ia juga tidak tahu harus memulai darimana. Begitu juga dengan Jungkook. Tapi sikap diam mereka semakin membuat tidak nyaman satu sama lain.


"Oppa," Lisa memberanikan diri untuk memecah keheningan.


Jungkook mendongak. Ia menatap Lisa. Ia menunggu apa yang akan Lisa katakan. Lisa sangat cantik malam ini. Jungkook merasa semakin sedih. Ia sungguh tidak ingin kehilangan Lisa.


"Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggumu? Aku merasa kau sedang gusar," Lisa memberanikan diri.


Jungkook menghela napas kasar. Ia tidak tahu harus memulai darimana. Ia begitu ingin bertanya juga menjelaskan segalanya. Terlebih, ia ingin meluruskan segala kerumitan pemikirannya tentang Lisa.


"Lisa, biarkan aku yang lebih dahulu bertanya padamu," Jungkook berusaha menguraikan benang kusut satu per satu. "Apakah kau akan kembali ke dunia peri? Aku merasa kau sangat gusar akhir-akhir ini. Apakah kau tidak bahagia di sini? Apakah peri itu lebih berarti dibandingkan aku?" secara tidak sadar Jungkook mengatakan itu semua. Kekalutan tergambar jelas di wajahnya. Ia takut juga sedih. Namun ia benci untuk merasa tidak percaya diri.


Lisa menghela nafas. Ia merasa bersalah karena tidak segera menceritakan secara lengkap kepada Jungkook. Bagaimana pun segala kesalah pahaman ini bermula darinya.


"Kau ingat ketika ibu peri mengunjungiku? Sejak hari itu, ada beberapa hal aneh yang datang dari dunia peri, itu membuatku berpikir yang tidak-tidak. Terlebih saat tupai-tupai salju datang ke kamarku tanpa informasi apa pun. Hal-hal itu membuatku mencemaskan jika ada hal-hal buruk yang mungkin terjadi di dunia peri."


"Beberapa waktu lalu, akhirnya, Peri Jung mengunjungiku. Ia menjelaskan banyak hal. Intinya, dia akan menikah dengan Peri Lalisa."


"Peri Lalisa adalah seseorang yang berganti denganku dari dunia manusia ke dunia peri. Kau ingat?"


Lisa menarik napas dalam. Ia menjelaskan sepelan mungkin guna menghindari kesalah pahaman lainnya. Seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Lisa menyeruput minumannya. Rasanya tenggorokannya mulai mengering.


"Ibu Peri sangat merindukan aku. Beliau berharap aku bisa hadir dalam pernikahan Peri Lalisa."


Jungkook terkejut. Dadanya bergemuruh gugup. Apakah ketakutannya akan menjadi nyata. Apakah Lisa akan kembali menempuh bahaya dan menyebrang ke dunia peri kembali?


"Tenanglah oppa," Lisa tersenyum. Ia melihat dengan jelas kecemasan di mata Jungkook.


"Aku tidak akan kembali ke dunia peri."


Kalimat terakhir Lisa bagaikan oase di tengah gurun pasir. Sangat menyejukkan hati Jungkook. Kebahagiaan membuncah di dadanya.


"Baiklah, aku lapar. Sebaiknya kau juga pesanlah makananmu," Lisa tahu Jungkook sudah bisa merasakan lapar.


***


Di teras rumah Lisa, Jungkook nampak gusar. Lisa sendiri nampak dengan santainya menyeruput teh hangat yang baru disuguhkan oleh mamanya.


"Bukankah kita baru pulang dari cafe, udah haus lagi?" Jungkook merasa gemas.


Lisa mengedikkan bahunya. Kadang memang gak perlu merasa haus untuk minum. Entah kenapa, Lisa juga merasa gugup. Ia merasa Jungkook sangat aneh selama perjalanan pulang tadi.


"Lisa,"


Jungkook menunduk. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk dapat mengatakan semuanya pada Lisa. Lisa yang menunggu kalimat Jungkook merasa semakin resah.


"Aku menyukaimu, Sungguh."


Lisa semakin berdebar. Pipinya telah merona. Kegugupan menyelimuti mereka berdua.


"Aku ingin kau menjadi pasanganku. Jika menikah terlalu cepat, mungkin kita bisa berpacaran?"


Jungkook meraih tangan Lisa. Matanya memancarkan ketulusan yang besar. Lisa tahu, Jungkook menyayanginya. Secara reflek, Lisa menganggukan kepalanya. Lisa merasa takjub. Bahkan hatinya seolah tidak sabar untuk dapat bersama dengan Jungkook kah?


Jungkook tersenyum. Ia merasa semakin gemas dengan tingkah polos Lisa. Reaksinya masih sangat jujur namun malu-malu. Tangannya mengusap kepala Lisa lembut.


"Jadi, kau adalah pacarku mulai sekarang," Jungkook menarik Lisa ke dalam pelukannya. Senyuman mengembang di bibir kedua muda mudi yang sedang dimabuk asmara ini.


Bahagia terus ya kita...


*****


------------ TAMAT -------------