Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Dua Puluh Lima



Sebuah siang di kampus.


"Kau belajar bahasa inggris tidak di dunia peri?" Tanya Jungkook dengan sangat penasaran. Ia duduk di salah satu anak tangga dan Lisa duduk di anak tangga yang lainnya.


"Tentu saja! Kami belajar banyak hal. Kami belajar tentang hal-hal yang ada di dunia manusia juga. Kita perlu memahami kalian, bagaimana pun ada beberapa tugas yang menyangkut dunia manusia."


"Apa itu?"


"Misalnya saja kembaranmu, Peri Kyu, dia bahkan juga ikut menaburkan salju di kotamu."


Lisa menceritakan itu semua dengan ceria dan intonasi yang tidak biasa, sehingga orang-orang mulai melihat ke arah mereka. Mungkin mereka berpikir dua manusia ini sedang berkhayal.


Menyadari hal itu, Jungkook segera berbisik agar Lisa mengecilkan suaranya.


Lisa memonyongkan bibirnya. Sebenarnya Jungkook menjadi sangat gemas dengan ekspresi Lisa saat ini. Tapi dia lebih memilih mengalihkan perhatiannya.


"Kau bilang banyak belajar tentang dunia manusia? Benarkah itu?"


"Apakah kau pikir aku berbohong?!!"


Jungkook mengangguk dengan muka acuh tak acuh. Dia hanya sedang menyembunyikan gugup dan gemas di saat yang sama.


Lisa malah mengingat-ingat pelajaran Bahasa Inggrisnya yang diajarkan oleh guru peri.


"Lalu apa bahasa Inggrisnya annyeong haseyo?" Jungkook bermaksud mengetes Lisa.


"Apa kau bercanda?!! Kau tidak bisa mengetesku dengan kalimat yang lebih rumit lagi??!!"


"Jawab saja kalau memang itu mudah bagimu"


"Dalam bahasa korea, selamat pagi, siang dan malam jarang digunakan, sebagai penggantinya digunakan annyeong haseyo. Maybe how do you do?" Lisa menatap Jungkook.


"Ya boleh juga." Jungkook salah tingkah karena mendadak ditatap oleh Lisa.


Jungkook merasa bahwa Lisa tidak akan menemui masalah jika memutuskan hidup sebagai manusia bukan sebagai peri. Lisa benar-benar cerdas dan satu-satunya peri yang nanti akan bergelar sarjana pertanian. Ya setidaknya itu menurutnya, karena memang hanya Lisa satu-satunya peri yang ia kenal. Tentu saja tanpa menghitung Tinker Bell dan teman-temannya ya. Kan mereka juga hanya khayalan. Jungkook tersenyum sendiri.


"Fairy tell are more than true, not because they tell us that dragons exist, but because they tell us that dragons can be beaten."


"Aigooo," Jungkook berdecak kagum sambil menatap Lisa.


"Itu adalah tulisan Neil Gaiman di bukunya yang berjudul Coraline," senyum Lisa penuh kebanggaan. Dia memang hanya sesosok peri tak jadi, tapi ia adalah peri yang gemar membaca dan mempelanari banyak hal. Dan, Lisa juga mengagumi keceedasan Jungkook. Ia bisa bertanya banyak hal pada lelaki kembaran Peri Kyu ini.


***


Hari-hari telah dilewati Lisa dan Jungkook bersama-sama. Tidak terasa kebersamaan mereka sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Mereka berteman dengan baik. Mereka saling membutuhkan satu sama lain dan begitu cocok bersama. Jungkook merasa bahwa Lisa adalah sosok yang lugu, polos, sederhana, tulus dan juga lucu. Sehingga gadis itu bisa membawa keceriaan dalam hidupnya.


Hingga suatu pagi, ketika Lisa sedang duduk sendirian di taman bunganya, sesuatu muncul begitu mengejutkannya. Kelopak bunga matahari yang besar merekah di hadapannya dan sesuatu tiba-tiba keluar dari sana.


"Peri Jisoo!!" Lisa terpekik kaget dan langsung menatap sekeliling. Ibu dan Ayahnya sedang pergi berbelanja, seharusnya tidak ada orang yang melihat kejadian barusan. Lisa berpikir keadaan sedang aman. Ia tidak mau ada manusia lain yang melihat sesuatu terbang dan keluar dari kelopak bunga. Itu bisa sangat berbahaya bagi Peri Jisoo.


Peri Jisoo yang semula bertubuh sangat kecil sebesar kupu-kupu saja, kini mulai tampak membesar dan semakin membesar ke ukuran manusia normal. Ia pun langsung memeluk sahabatnya.


"Peri Lisa, aku sangat merindukanmu!" Ujar Peri Jisoo dengan air mata haru. Lisa balas memeluknya dengan erat.


"Apa kabarmu, Peri Jisoo? Hei, kau lupa? Aku bukan peri lagi," Lisa merasa sangat senang bisa bertemu dengan sahabat lamanya. Mereka saling bertukar kabar dan bercanda melepas rindu. Suara tawa sesekali terdengar diantara percakapan mereka.


"Kau tampak semakin cantik," puji Peri Jisoo. "Kau bahagia ada di sini?" tanya Peri Jisoo dengan raut muka yang berbeda.


"Terimakasih untuk pujiannya," ucap Lisa. "Entahlah. Aku terus merindukan negeri peri bunga, aku sangat merindukan ibu, tapi aku juga merass nyaman di sini. Mungkin karena memang di sinilah seharusnya aku berada. Banyak orang yang menyukai dan menyayangiku," ujar Lisa.


"Sebenarnya, aku datang ingin menyampaikan sebuah kabar kepadamu." Peri Jisoo mengajak Lisa untuk duduk di sebuah bangku taman. Lisa mengikut Peri Jisoo dan ikut duduk di sampingnya.


"Ibumu sedang sakit, sepertinya ia sangat merindukanmu.."


Mendengar hal itu membuat Lisa tertunduk sedih. Bagaimana pun Ibu Peri tetsplah Ibu yang merawatnya sedari kecil. Bahkan Ia adalah orang pertama di dunia peri yang menerima dan menyayanginya.


"Tapi bukan itu saja, semua peri yang mengenalmu, menganggap Peri Lalisa bukanlah dirimu. Peri Lalit sa tersudutkan karena dianggap sebagai penyihir jahat yang menyamar. Tidak banyak yang bisa ku bantu, bagaimana pun sifatnya memang jauh berbeda dibanding dirimu." Peri Jisoo memulai ceritanya dengan perasaan yang kalut.


"Lalu apakah Raja Peri juga tau?" Lisa menyela.


"Ya.. Hingga akhirnya Peri Lalisa dan Ibumu menceritakan yang sesungguhnya."


"Apakah Ibu dihukum?" Lisa terlihat panik.


"Tidak. Mengingat jasa yang pernah kau lakukan untuk negeri peri bunga, Beliau mengampuni seluruh keluargamu. Dan Raja ingin mengundangmu untuk kembali ke negeri peri bunga. Tentu saja jika kau setuju." Lisa peri? Lisa berpikir keras.


Sepertinya Peri Jisoo mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Lisa. Ia pun melanjutkan, "Raja memiliki ramuan ajaib yang bisa mengubahmu menjadi peri selamanya!" Peri Jisoo mengatakannya dengan sinar mata yang berbinar-binar.


"Benarkah?!" Lisa sama sekali tidak menyangka ada ramuan semacam itu di dunia ini. Entah apakah dia harus senang atau tidak. Lisa masih tidak bisa mengerti apa mau hatinya sendiri. Namun, akan menyenangkan juga jika ia menjadi peri. Ia bisa bertemu dengan Peri Jung, bertemu Ibu Peri dan teman-temannya, bermain bersama Peri Jisoo dengan bebas.


Lisa tampak tercenung. Benaknya melayang pada kebersamaannya dengan Peri Jung. Menaklukkan Monster Salju, memakan lumut es, terbang bersama...


"Bagaimana kabar Peri Jung?" tanya Lisa. Hatinya kini diliputi kegelisahan.


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi. Aku terakhir bertemu dengannya adalah saat memberikan lumut es untuk ayah Peri Taehyun. Itu juga sudah lama sekali."


"Apakah dia masih mengingatku?" tanya Lisa merasa penasaran. Entahlah, kenapa dia bersikap aneh begini. Apakah perasaannya untuk Peri Jung sebegitu istimewanya?


*****