
"Suatu hari aku melihat Peri Salju ini melintasi bukit dekat rumahku," Lalisa menunjuk pada Peri Jung. "Aku bertekad akan menemuinya. Maka di sinilah aku sekarang ini.
Peri Jung masih kaget dengan pernyataan Lalisa. Begitu pula dengan Peri Jisoo. Ia masih memikirkan tentang gosip yang selama ini beredar.
"Hei.. Ku rasa dia benar.. Kita harus segera menemukan dimana Peri Lisa yang sesungguhnya.."
"Ya kau benar Peri Taehyung. Paling tidak para tupai ini tidak akan berbohong. Kau bisa menjaga peri yang mirip dengan Peri Lisa ini Peri Jisoo?"
Peri Jung menatap penuh harap kepada Peri Jisoo. Ia juga segera berjanji akan membawa Peri Lisa pulang dengan selamat. Ia tahu bahwa ia harus bergegas.
Peri Jisoo hanya mengangguk pasrah. Ia masih memikirkan apakah berarti benar bahwa sayap Peri Lisa itu hanyalah implan dari ibunya? Apakah itu artinya Peri Lisa selama ini adalah seorang manusia biasa? Peri Lisa memang sangat berbeda. Tapi Peri Jisoo tidak ingin percaya. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya.
"Kurasa kita bisa mencari tahu kebenaran dari ceritaku dengan mendengar penjelasan dari ibu Peri Lisa. Mungkin dialah yang menukarku?" Lalisa menatap Peri Jisoo tanpa emosi.
Lalisa merasa ditolak di dunia dimana seharusnya dia hidup selama ini. Tentu saja hal itu membuatnya sedih. Tapi dia tetap merasa harus tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.
Peri Jisoo diam tak bergerak.
"Maaf, tapi bagaimana dengan lumut es nya Peri Jung?"
Sesaat sebelum Peri Jung pergi, Peri Taehyung berusaha menahannya. Ia teringat misinya dan nyawa ayahnya juga penting. Peri Jung ingat bahwa Peri Taehyung juga membutuhkan bantuannya.
"Aku akan melakukan kontak telepati dengan temanku Peri Salju lainnya. Nanti dia yang akan membawakanmu lumut esnya. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar harus pergi."
Peri Taehyung tersenyum lega mendengar apa yang dikatakan oleh Peri Jung. Ia juga mengucapkan agar Peri Jung lebih hati-hati. Lalu Peri Jisoo mendadak maju menghampiri Peri Jung.
"Aku ikut denganmu," Peri Jisoo memandang ke arah Peri Jung tanpa keraguan. Peri Taehyung menjadi tertegun.
"Maafkan aku Peri Taehyung, aku hanya bisa membantumu sampai sini saja. Aku harus menyelamatkan sahabatku."
"Tidak apa-apa. Itu memang sudah seharusnya.."
Peri Taehyung tersenyum lembut kepada Peri Jisoo. Matanya memancarkan kebijakan seorang pangeran. Hal itu membuat Peru Jisoo semakin mengagumi sikap dan sifat dari Peri Merah itu.
Lalisa hanya terdiam di tempatnya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan rasa sakit hatinya. Ia bertekad untuk menemukan kebenarannya sendirian.
"Aku tidak tahu apakah yang kau katakan adalah kebenaran atau bukan. Saat ini, aku merasa nyawa Peri Lisa jauh lebih penting. Ku harap kau bisa mengerti.." Peri Jisoo tersenyum samar, lalu melanjutkan, "Oh ya, siapa namamu?"
"Lalisa.."
"Baiklah.. Dan aku adalah Peri Jisoo. Aku akan pergi, kau bisa menungguku atau pergi duluan, terserah saja.."
Peri Jisoo dan Peri Jung pergi meninggalkan Lalisa dan Peri Taehyung. Tidak berapa lama terlihat beberapa peri salju yang menghampiri Peri Taehyung. Seperti janji Peri Jung, mereka mengantarkan beberapa lumut salju untuk diberikan kepada Peri dari negeri peri matahari itu.
Peri Taehyung harus pamit dan meninggalkan Lalisa sendirian di padang rumput itu. Hingga akhirnya, dengan bisikan hatinya, ia berjalan ke satu arah yang dia yakin di sanalah negeri peri bunga berada. Dalam perjalanannya, untuk pertama kalinya Lalisa menangis.
Di dunia peri ini, Lalisa seperti menjadi orang yang berbeda. Seolah ada sesuatu yang ada di dalam dirinya, memaksa keluar, sesuatu yang terpendam sangat dalam. Mungkin itu adalah dirinya yang sejati. Yang tidak mungkin bisa muncul saat dia masih diasingkan di dunia yang berbeda. Dirinya yang masih sangat kecil kala itu, tahu bahwa dia tidak diinginkan. Seperti sekarang. Karena itukah dia kehilangan perasaannya? Entahlah. Yang pasti, air matanya masih sangat deras mengalir di pipinya, bersamaan dengan hatinya yang semakin terasa nyeri.
***
"Aku tidak habis pikir kenapa wajahnya begitu mirip. Aku benar-benar tidak menduga bahwa dia bukan Peri Lisa. Aku tadi sangat senang saat bertemu dengan dia. Sampai-sampai tidak mengenali keanehan yang ada padanya,"
Peri Jung bercerita kepada Peri Jisoo tanpa diminta. Dia masih merasa aneh dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Peri Jisoo masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Ia memikirkan nasih Peri Lisa selanjutnya. Jika rumor yang beredar benar bahwa Peri Lisa adalah manusia yang ditukar, maka dia akan diusir dari dunia peri.
"Apakah kita tadi tidak terlalu kasar? Menuduhnya macam-macam tanpa tahu kepastian kebenarannya?"
Peri Jung masih saja bergumam sendiri. Mencoba memikirkan kejadian tentang Lalisa yang seperti kembaran Peri Lisa. Oh ataukah sekarang dia juga bisa kita sebut Peri Lalisa? Inj membingungkan.
"Apa pun itu. Ayi kit bergegas menuju ke tempat Peri Lisa. Ku rasa dia benar-benar dalam bahaya sekarang.."
Peri Jung mengangguk. Peri Jisoo benar. Semuanya bisa dicari tahu setelah menyelamatkan Peri Lisa. Apa pun yang terjadi, bagaimana pun nyawa Peri Lisa lah yang paling penting. Paling tidak bagi dirinya. Dia berharap Peri Lisa tidak sampai kenapa-kenapa.
Tupai-tupai salju yang berwarna putih bersih dengan bulu-bulu yang lebat berlarian sangat cepat. Peri Jung harus menggandeng Peri Jisoo yang sayapnya sedikit terluka. Dia berusaha agar tidak tertinggal oleh para tupai itu. Atau dia akan kehilangan jejak Peri Lisa.
Peri Jisoo sekuat tenaga mengerahkan semua tenaga yang tersisa untuk tidak menjadi beban Peri Jung. Dia tidak ingin niat baiknya untuk menolong Peri Lisa malah menjadi penghambat atas misi penyelamatan ini. Dalam hatinya, dia tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Peri Lisa.
***
Lalisa terbang cukup tinggi. Dari atas sana dia bisa melihat sebuah taman yang sangat indah dan luas. Berbagai macam bunga yang berwarna-warni tumbuh subur dan cantik. Dia yakin, di sanalah negeri peri bunga berada. Ia merendahkan terbangnya. Dia memutuskan untuk melanjutkan sambil berjalan kaki. Dia ingin melihat lebih dekat negerinya
Hutan yang tadinya sangat lebat dan memiliki kanopi yang rapat mulai menipis. Pohon-pohonnya mulai berjejer jarang-jarang. Tidak terlalu banyak semak yang dapat Lalisa temukan. Udara pun sudah tidak selembab sebelumnya. Artinya Lalisa sudah sangat dekat dengan pinggir hutan. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai ke negerinya.
Kini di hadapannya terhampar padang rumput yang cukup luas. Ia melihat beberapa peri yang sedang bermain dengan ceria di sana. Lalisa masih bersembunyi di pinggir hutan. Ia merasa takut disalah pahami lagi seperti tadi. Ia masih menimbang apakah dia akan berjalan terus arau kembali saja. Apakah dia akan kehilangan sayap-sayap ini jika dia kembali ke dunia manusia?
*****