Lisa & Lalisa (Liskook)

Lisa & Lalisa (Liskook)
Bab Tiga



Peri Lisa sudah sampai di sungai berair jernih. Ia mengambil semangkuk air untuk minum. Ia juga mengisi kendi airnya sebagai bekalnya. Ia terus melirik ke sana kemari memperhatikan apakah ada daun seperti tapak kuda? Sambil mengisi penuh kendi airnya, Lisa menatap ke sekitarnya. Hutan ini rindang dan sejuk.


Tapi, ia dan Peri Jisoo sudah dikejutkan oleh Siluman Sawi tadi di hutan sebaik ini. Apalagi kejutan dalam hutan ini? Tiba-tiba Peri Lisa langsung merinding. Mengingat Peri Jisoo yang sedang lemah telah ia tinggalkan sendirian. Dan, ia juga sendirian. Lisa memandang sekeliling dan ia berharap segera menemukan apa yang ia cari.


"Bunga-bunga cinta bermekaran di musim semi... Harum sepanjang hati... Mewarnai hatiku... Mempercantik dunia....,"


Karena kepanikan yang melanda, Lisa berusaha menghibur dirinya sendiri dengan bernyanyi. Itu adalah lagu kebangsaan negerinya.


"Bunga-bunga cinta bermekaran di musim semi... Harum sepanjang hari... Mewarnai hatiku... Mempercantik dunia...,"


Tubuh Peri Lisa mendadak tegang karena ia mendengar suaranya sendiri. Riuh dan ramai, tapi suara itu tidak berasal dari mulutnya. Peri Lisa terdiam. Meneliti.


Apakah ada gua di sekitar sini yang bisa memantulkan suaranya? Tapi, suara gema dari gua seharusnya tidak seperti yang barusan didengarnya. Terdengar riuh dan ramai.


"Suara apa itu?"


Peri Lisa mengulang untuk memancing. Sebenarnya ia sangat takut, tapi ia memberanikan diri.


"Suara apa itu?"


Suara ulangan terdengar lagi. Peri Lisa menajamkan telinga dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, ke air sungai, ke rerumputan dan ke dahan-daham pepohonan. Mungkinkah itu? Peri Lisa nampak tertegun.


Burung Lyre berjejer sangat rapi di atas pepohonan. Jumlahnya banyak sekali. Rombongan burung berbulu kecoklatan itu tengah terlihat Peri Lisa yang takjub memandangi mereka. Salah satu burung itu bahkan menjelurkan lehernya untuk menggoda Peri Lisa.


"Aha! Aku tahu tentang kalian!"


"Aha! Aku tahu tentang kalian!"


Kicauan ramai terdengar, tiruan dari suara Peri Lisa yang merdu. Peri Lisa tertawa geli dan mereka menirukan lagi. Peri Lisa juga seorang pembaca buku di perpustakaan di desanya. Lyrebird adalah salah satu jenis burung yang hidup di hutan rimba. Burung ini memiliki seribu macam suara tapi tidak memiliki suara asli. Mereka pandai menirukan berbagai macam suara dan bunyi.


Ternyata, mereka sangat terpesona dengan suara Peri Lisa sehingga mereka tampak tenang dan akan bersuara ketika Peri Lisa bersuara. Indah sekali.


"Baiklah, aku harus cepat menemukan daun tapak kuda untuk temanki. Kalian bisa membantu?"


Lisa menunggu. Mungkin barisan burung itu menganalisis terlebih dahulu sebelum menirukan suaranya.


"Baiklah, aku harus cepat menemukan daun tapak kuda untuk temanku. Kalian bisa membantu?"


Peri Lisa sadar akan kelakuannya. Tapi, ini menyenangkan. Ia menatap barisan burung yanh setia menunggunya bersuara.


"Aku tau kalian tidak bisa membantu. Tapi, kalian sangat menghiburku," Ujar Peri Lisa yang kemudian langsung diikuti kawanan burung-burung itu.


Karena hati yang gembira dapat mempengaruhi apa pun yang kau lakukan, Peri Lisa akhirnya berhasil menemukan daun yang dimaksud Peri Jisoo tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Terimakasih karena telah menghiburku, sampai jumpa!" Peri Lisa melambaikan tangannya.


"Terimakasih karena telah menghiburku, sampai jumpa!"


Peri Lisa terkikik geli. Ia melangkah meninggalkan sungai dan menuju ke tempat semula. Daun tapak kuda ini nanti akan ditumbuknya dan diberi air lalu diminumkan pada Peri Jisoo. Semoga ia lekas sembuh dan mereka langsung bisa melanjutkan perjalanan lagi. Peri Lisa sendiri sudah tampak lelah dan letih.


***


Cuaca semakin dingin menusuk. Peri Jisoo yang sudah membaik dari demamnya memandang sekeliling.


"Kita harus bergegas, sepertinya cuaca mulai tidak baik,"


Peri Jisoo berkata dengan nada yang sedikit lemah. Peri Lisa turut memandang sekeliling. Merasakan apa yang dirasakan oleh Peri Jisoo. Mereka benar-benar kedinginan.


Peri Lisa memotong kimchi yang masih tersisa dengan potongan yang lebih kecil lagi agar dapat dimasukkan ke dalam wadah bekal mereka yang sudah kosong. Mereka telah terbang selama seharian kemarin dan berjalan selama dua hari. Kelelahan membuat bekal mereka cepat sekali menipis.


"Aku simpan sisa kimchi di sini. Pulangnya kita akan lewat jalan ini lagi. Kita bisa memakannya nanti," Ujar Peri Lisa.


"Ide bagus. Ayo berangkat!"


Peri Jisoo dengan pancaran matanya yang bercahaya mengajak Peri Lisa segera pergi.


Karena kekuatan mereka sedikit demi sedikit mulai pulih, mereka pun mencoba terbang dengan sayap di tubuh mereka. Peri Jisoo sebagai penjaga bunga berwarna-warna cerah seperti putih dan kuning, memiliki sayap yang memiliki cahaya putih dan kuning ketika sayap transparannya terkena sinar matahari. Sedangkan Peri Lisa sebagai penjaga bunga berwarna lebih gelap seperti merah dan ungu, memiliki sayap dengan semburat warna merah marun pada setiap garis-garis di sayapnya. Mereka terbang bersisian.


Peri Jisoo langsung berhenti terbang dan mendarat di dahan sebuah pohon ketika ia melihat sesuatu di kejauhan sana. Hal itu membuat Peri Lisa juga ikut mendarat pada dahan pohon didekat Peri Jisoo mendarat.


"Terlambat!" Pekiknya. Peri Lisa turut terkejut mendengar teriakan Peri Jisoo yang tiba-tiba. Peri Lisa akhirnya mengikuti arah pandangan Peri Jisoo.


"Musim dingin telah sampai di kaki gunung itu!"


Peri Jisoo menunjuk kaki gunung di kejauhan yang sudah berwarna putih. Pertanda salju telah menutupi wilayah itu. Dan, sebentar lagi, salju yang tidak disukai oleh para penduduk negeri peri bunga akan sampai di tempat mereka berdiri saat ini.


"Bagaimana ini?" keluh Peri Jisoo. Ia merasa seluruh usahanya sia-sia. Ia memandang cemas pada Peri Lisa. Peri Lisa pun kebingungan. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Merasa sangat sedih dan bingung secara bersamaan.


Mereka telah melakukan perjalanan begitu jauh, menempuh segala rintangan dan bahaya. Rintangan kehabisan perbekalan, kedinginan, bertemu mahluk aneh, bahkan dirinya hampir jadi mangsa Siluman Sawi. Mereka terlambat sehari dan salju hampir menutup semua gunung dan dataran.


Dulu, karena kebaikan musim, musim salju tidak pernah melanda negeri peri bunga. Mereka hidup damai dan tenteram selama berabad-abad. Namun, seiring berjalannya waktu dan perputaran poros bumi, lambat laun negeri mereka mulai terkena badai angin dan badai hujan. Bahkan, badai angin dan hujan itu memporakporandakan bunga-bunga yang mereka jaga.


*****