Like a Doll

Like a Doll
Sebuah Harapan



"Aku hanya ingin keluarga ku merelakan ku saja."


"Oh ya? Hanya kamu? Jadi kamu tidak tau kalau adik tiri mu juga sama?"


"Maksud kamu?— ahh, begitu ya. Aku tidak tau lagi sekarang. Ibu dan paman ternyata melakukan hal sekejam itu pada kami. Dan kamu yang tidak tau apa-apa soal masalah kami malah jadi terlibat. Ku mohon, maafkan tindakan mereka." Sekarang dia malah menjadi rapuh seperti itu, padahal sebelum nya, dia melawan ku dengan hasrat benar-benar ingin melenyapkan ku dari tubuhku sendiri. Apa sekarang dia menyadari dan menerima kenyataan yang ada? Bisa kah aku mendapatkan kendali ku kembali? Sebenarnya aku tidak yakin karena sejak tadi, tubuh ini belum sadar juga dan aku tidak bisa mengendalikan nya begitu saja.


"Oh, jadi kamu sadar dengan kejahatan keluarga mu? Berarti kamu bersedia keluar dari tubuh ku ini dan kembali ke alam mu?"


"Sebenarnya, tidak semudah itu. Aku masuk kesini sangat sulit, keluar bahkan akan jadi lebih sulit lagi. Aku tidak tau caranya gimana tapi aku punya firasat buruk jika aku memaksa diriku keluar dari sini."


"Apa kemungkinan terburuk nya?"


"Tubuh mu akan mati. Meskipun kamu ada di dalam, tapi kamu tidak akan bisa mengendalikan ini lagi karena sebelum nya tubuh mu di kendalikan oleh jiwa yang sudah bertahun-tahun di kurung dalam penelitian aneh paman ku." Aku tidak mengerti apa yang di ucapkan gadis ini tetapi itu kedengaran nya menakutkan. Secara tidak langsung, tubuh ini tidak akan mampu menampung dua jiwa yang berbeda sekaligus. Jika salah satunya keluar, tetap saja, tubuh ini akan berakhir mati. Mungkin yang terburuk nya adalah terluka cukup parah. Belum lagi, gejala yang aku rasakan saat jiwa Yuuzy berusaha menerobos paksa ke dalam, aku di rawat saja tidak sampai pulih, kemungkinan besarnya jika Yuuzy meninggalkan tempat ini aku akan tumbang karena luka-luka sebelum nya.


"Bagaimana, Azumi? Apa kamu ada rencana?"


.


.


.


.


.


Sayup-sayup angin berhembus dari arah selatan. Gemercik air mulai terdengar bersamaan dengan munculnya cahaya yang menyilaukan mata. Satu kapal besar yang sudah berumur tua dan juga kapal motor yang terombang-ambing di atas air laut terlihat sunyi seakan tidak ada siapapun yang menaiki nya. Ketika cahaya semakin terang, seseorang meringkuk keluar dari dalam selimut dan melihat sekitar dengan bingung.