Like a Doll

Like a Doll
Eps fanservice (bukan lanjutan)



Episode fanservice antara Vhylen dan Azumi.


Di sini ceritanya mereka udah jadian ya dan lagi mau ngedate buat pertama kali nya


(Bukan lanjutan dari chapter 'I Love You'. Lanjutan nya akan di buat setelah episode fanservice ini berakhir. Gak banyak kok guys, cuma satu atau dua aja mungkin jadi sabar ya, uwu)


.


.


.


.


.


.


Malam itu, aku dan Azumi melakukan nya. Kami sudah resmi pacaran, tapi aku merahasiakan hubungan ini agar Azumi tidak mendapat masalah nantinya dan pengurus di gereja tidak akan tau kalau aku sudah berhubungan badan dengan Azumi. Ya, Azumi menjadi milik ku sepenuhnya. Hanya tinggal menunggu waktu di mana kita akan benar-benar hidup bersama, dengan menikah.


"Vhylen, aku tidak tau kamu bisa main sebrutal itu semalam. Aku sampai tidak bisa berjalan ke toilet, humph."


"Maafkan aku, Azumi. Aku terlalu senang kalau kamu mau berhubungan sama aku."


"Huh, kamu harus traktir aku makan siang kali ini. Sampai jumpa sayang, aku mau balik ke apartemen."


Aku masih belum terbiasa di panggil demikian bahkan saat aku ingin memanggil nya juga seperti itu entah kenapa mulutku jadi kaku. Aku lebih biasa di panggil dengan nama saja.


Besok aku akan mulai sekolah bersama dengan Azumi. Tapi sangat di sayangkan karena kita beda gedung jadi tidak sekelas. Aku ada di gedung siswa laki-laki yang jaraknya hanya bersebrangan dengan gedung siswa perempuan. Kenapa sih harus di pisah segala? Aku jadi kecewa pas tau aku tidak akan sekelas dengan nya dan hanya bisa bertemu saat makan siang berlangsung.


Tapi walau bagaimanapun aku tetap tidak sabar menunggu hari esok. Kata Azumi dia ingin berangkat bareng dengan ku. Hem, aku bahkan tidak punya motor dan juga tidak bisa menyetir, kecuali ada satu sepeda milik sister yang bisa buat berboncengan dengan orang lain. Apa aku pakai itu aja ya? Biar suasana nya romantis. Tapi apa bakalan keburu ke sekolah naik sepeda? Kan dari gereja ke sekolah lumayan jauh jaraknya, aku tidak yakin akan tahan pula melewati jalan yang menanjak. Terlalu berat karena membawa orang lain di belakang. Aku takut saat sudah di puncak kita malah menggelincir kembali ke bawah, atau yang lebih buruk, kita jatuh dari sepeda dan berguling-guling di atas jalan itu sampai ke dasar nya.


"Kenapa sih aku payah banget?!" Tapi setidaknya impian ku agar bisa terus berada di sampingnya pun terpenuhi sudah. Aku satu sekolah dengan nya dan juga aku sudah menjalin hubungan dengan Azumi. Satu-satunya impian yang kupikir akan mustahil terjadi.


.


.


.


.


.


.


Keesokan paginya, aku sudah siap berangkat sekolah. Tinggal menunggu Azumi yang katanya berangkat bareng di hari pertama ku ini. Jujur saja, aku merasa malu karena aku tidak bisa membonceng Azumi naik motor. Kalau naik sepeda pun tetap ada resiko nya yaitu terlambat sampai ke sekolah. Siapa juga yang mau mengayuh berkilo-kilo meter jarak nya. Kalau Azumi yang membawa motor sudah tentu kita akan tiba 15 menit lebih cepat daripada naik mobil pribadinya.


Aku pun menunggunya di depan gereja dengan ransel hitam di punggung ku.


Dari ujung jalan sana aku sudah melihat motor sport merah dan hitam bersama seorang gadis yang mengendarai nya. Azumi memang selalu terlihat keren di mataku. Di manapun dan dalam kondisi apapun, dia sangat keren. Hampir tidak terlihat sisi perempuan nya sama sekali saat membawa motor besar itu. Tapi bagiku, Azumi tetaplah seorang gadis manis milik ku seorang.


"Maaf aku lama, tadi sempat nyari liptint." Tidak hanya itu, dia juga pintar berdandan sesuai dengan personalitinya yang keren. Dia seperti nya habis membeli liptint baru karena yang lama pasti sudah hilang dan dia menyerah untuk mencarinya. Azumi memberikan salah satu helm nya padaku dan aku pun naik ke atas motor.


"Gosah sungkan, sayang. Peluk aja. Ntar terbang kebawa angin aku nya yang repot." Sempat-sempat nya pula dia menggoda dan mengejek di saat yang bersamaan, membuat ku sulit menyembunyikan wajah merah ku. Karena memang aku sudah biasa memeluk nya saat berboncengan bareng, apa boleh buat. Dia ini memang cepat tapi caranya seperti ingin kehilangan nyawa. Cara mengendarai motor nya benar-benar brutal dan memang suka ngebut. Aku saat pertama kali di bonceng nya hampir saja terbang beneran di hempaskan angin.


Hembusan angin di pagi hari terasa segar—selama Azumi tidak membawa motornya dengan kecepatan penuh seperti ini. Dingin banget, aku lupa pakai sweater juga padahal ini memang sedang musim dingin. Betapa bodoh nya aku, karena terlalu antusias aku jadi melupakan hal yang harusnya penting banget untuk kupakai saat ini.


Tidak sampai 10-15 menit kami melaju, sekolah sudah terlihat di depan mata, berdiri kokoh dan terlihat sangat besar jika kita mendekat. Beberapa murid nampak terlihat berhenti di sepanjang halaman sekolah dan juga ada yang sampai memanjat di pagar sekolah. Tidak perlu di tanyakan lagi, mereka ini pasti fans berat nya Azumi yang 'sedikit' gila. Saat kami semakin dekat dengan sekolah, sorak sorai berseru keras memenuhi sekolah saat Azumi melajukan pelan motornya masuk ke dalam lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, mereka juga mengekor motor Azumi membuat ku risih karena salah satu dari mereka tidak sengaja menyentuh bokong ku.


"Eh yang di belakang nya itu siapa sih?"


"Entahlah, adik nya?"


"Tidak, Azumi ini anak tunggal tau. Mana mungkin punya adik?"


"Jangan bilang itu pacarnya?"


"Hah, tidak mungkin. Dia dan Azumi tidak cocok bodoh."


"Ya, tampang nya juga bukan tampang orang berduit."


"Haruskah kita mengerjainya saat jam istirahat?"


"Bagus. Tidak boleh ada seseorang yang mempunyai hubungan dengan Dewi kami."


"Benar."


"Baiklah, kita akan ikuti cowok nya nanti."


"Setuju."


Entah apa yang 3 laki-laki di belakang sana bicarakan, tapi aku merasakan firasat buruk akan hal itu. Azumi pun menghentikan motor nya di parkiran. Walau sudah sampai sini, kerumunan ini masih belum berhamburan ya. Emang apa yang mereka dapatkan dari mengikuti Azumi kemanapun itu?


"Mau aku temani ke kelas gak?"


"Tentu." Setelah Azumi mengambil helm yang aku pakai, dia bergegas menuju gedung siswi bersama kerumunan yang tadi tapi hanya perempuan nya saja. Yang laki-laki, kebetulan, berjalan bersama ku. Walau aku harus waspada karena perasaan tidak enak ini datang dari 3 cowok tadi. Jujur saja, aku takut makanya aku mempercepat langkah ku. Dan yang benar saja, 3 orang tadi mengikuti ku sampai di depan kelas. Saat aku pergoki mereka hanya diam mematung seolah aku tidak melihat mereka. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan nanti? Apa mereka ingin menyakitiku atau bagaimana? Tenang lah Vhylen, jangan panik. Wajar saja mungkin karena aku kenalan Azumi. Bisa saja mereka hanya ingin tau aku siapa nya Azumi. Jadi biarkan saja, jangan negatif terus pada pikiran nya, Vhylen. Tetap fokus buat hari pertama mu sekolah. Aku yakin pasti baik-baik saja kali ini.


.


.


.


.


Akhirnya jam istirahat. Aku mau ke gedung siswi dan mengajak Azumi makan siang bareng sebelum Hanakawa mengajak nya duluan. Tapi saat aku keluar dari kelas, 3 cowok tadi sudah ada di depan kelas ku, menunggu. Tatapan nya seram, membuat ku membeku. Aku ingin kabur saja secepat mungkin tapi dia sudah ada dihadapan ku cukup dekat. Aku terjebak.


"Vhylen Roberto, kan? Bisa kita bicara sebentar?"


"U..uh, ya. Kalian siapa? Ada perlu apa dengan ku?"


"Sudah lah, ikut kami ke belakang. Kalau kita bilang mau bicara, ya bicara." Salah satu dari cowok ini, dia punya perawakan yang sangat tampan juga bergaya nyentrik. Seperti nya dia orang tajir, semua barang nya sangat keren dan hp nya mahal. Eh, bukan saat nya memuji dia, Vhylen bodoh. Kamu harus berpikir buat bisa lari dari masalah ini. Terlebih lagi, cowok ini, dia menarik tangan ku kuat sekali. Aku sampai meringis kesakitan sepanjang perjalanan dan setibanya kami di tempat yang mereka maksud.


Ternyata di tempat itu bukan cuma mereka bertiga, ada dua cowok lagi yang sedang menunggu di depan pohon besar sambil mengisap rokok. Bukan nya sekolah ini di larang buat siswa nya untuk merokok?


"Kita sudah bawa orang nya."


"Bagus." Cowok yang baru saja merokok tadi tiba-tiba menarik rambut ku kemudian aku di banting nya ke tembok sampai terjatuh ke tanah. Mereka berlima pun sekarang berada di depan ku, mengepung ku sehingga tidak ada celah apapun buat menjadi jalur ku untuk kabur. Perasaan tidak enak tadi, ternyata dari ini ya. Aku mau di risak oleh mereka di hari pertama ku sekolah?


"Sebelum nya perkenalkan, aku Thomas, Vhylen. Aku akan mengingat wajah dan namamu di momen kali ini."


"Kami sudah biasa menghajar orang yang mencoba dekat dengan Azumi kami kecuali itu orang terkenal seperti Hanakawa Izumi atau anggota member Rox'iz lain nya. Dan kamu, gak terlihat terkenal sama sekali. Kalau aku, Leon. Ingat itu, anak baru."


"Sudah lama nih gak ada korban. Akhirnya tangan ku bisa meninju sesuatu. Panggil aja gue Zack Lee."


"Kamu lebih suka di tinju atau di tendang, Vhylen? Oh ya, namaku Aeroy. Salam kenal."


"Kalau aku Peter Abbey."


Mereka awal nya menatap tajam ke arah ku. Salah satu yang masih merokok, Zack namanya, dia jongkok di depan ku dan meraih tanganku. Dia menyundutkan rokok nya yang masih menyala ke telapak tangan ku sebanyak lima kali. Aku berusaha menahan tangis ku, namun itu malah tumpah ruah begitu saja. Perih sekali, aku bisa melihat sundutan itu berdarah.


"Nah, keluarin aja. Gak bakal ada yang denger tau." Zack pun lanjut menendang wajah ku sampai mencium tanah. Di susul tendangan dari Peter yang mendarat di perutku dengan keras. Jesus, tolong aku.


"Kamu ini siapa nya Azumi? Kenapa bisa-bisa nya kamu naik motor bareng dengan nya, mana di gonceng lagi. Gak malu apa, kebalik tolol!!!" Leon yang mempunyai badan paling besar lanjut menendang wajah ku sampai aku merasa terdengar suara sedikit retakan dari wajahku. Aku ingin pulang. Azumi, tolong aku.


Tidak sampai di situ juga yang lain mulai menendang tubuh ku hingga berguling-guling di tanah berulang kali sampai seragam yang baru kupakai ini menjadi kotor penuh dengan tanah dan rerumputan. Aku di siksa habis-habisan bahkan salah satu gigi ku ikut terlepas dan menghilang entah kemana. Sentuhan terakhir sambil mengancam diriku agar aku tidak melaporkan kejadian ini ke Azumi langsung, Leon menginjak kelamin ku. Membuat ku menjerit lebih keras dan di buat pingsan karena sakit yang ada di seluruh tubuh ku. Kalau aku melaporkan nya pada Azumi, aku akan di bunuh oleh mereka. Aku tidak ingin mati, makanya, aku bersumpah akan bersikap seolah ini baik-baik saja. Tapi, sepulang sekolah nanti aku harus pergi ke rumah sakit sendirian dan memeriksa alat kelamin ku yang sudah di injak manusia gajah tadi.


.


.


.


.


.


.


Astaga, Vhylen kemana sih? Kan sudah aku bilang gedung siswi tuh cuma di seberang nya aja. Gak mungkin kan dia kesasar padahal tadi dia liat aku jalan ke gedung siswi. Aku susul ke gedung siswa pun gak ada nih anak. Aku jadi khawatir dia benar-benar tersesat.


Saat aku ingin kembali ke kelas, aku melihat Vhylen baru saja keluar dari belakang gedung siswi dengan keadaan yang berantakan. Bajunya penuh dengan tanah kering dan juga sedikit dedaunan dan rumput. Wajah nya banyak memar, pinggir bibirnya juga terlihat berdarah walau sudah kering. Cara dia berjalan pun payah sekali, dan bergetar. Sepertinya dia sangat kesakitan, apa yang terjadi padanya?


"VHYLEN??!!!!"


"A..azu..mi?" Saat aku memanggil namanya dia malah jatuh pingsan di sana. Aku pun berlari kearah nya dan segera membopong tubuh nya ke ruang kesehatan. Astaga, Vhylen, kenapa kamu kacau sekali hari ini? Jangan bilang—


.


.


.


.


"Vhylen?"


"Eem.., di mana aku? A..Azumi? Kamu gak di kelas? Udah bel kan?"


"Bodo amat. Aku udah ijin. Aku butuh pengakuan segera Vhylen. Kamu kenapa?! Dokter bilang padaku alat kelamin mu banyak lecet nya. Apa kamu di bully preman sekolah ini ya?"


Saat aku tanya demikian dia malah diam seribu bahasa seolah dia tidak ingin membahas kejadian ini. Bukan, seperti nya dia di suruh bungkam sama orang yang sudah menghajar nya.


"Terserah. Aku akan kembali ke kelas kalau begitu." Aku harus menjauhi nya terlebih dahulu. Itu pasti benar, dia telah di hajar 5 preman yang selalu menyatakan perasaan nya padaku dengan tindakan yang kurang menyenangkan dan tidak senonoh lain nya. Terakhir aku mendapat surat cinta yang di tulis pake darah nya sendiri. Benar-benar orang gila.


Aku harus menghubungi informan terbaikku yang sudah aku tugaskan untuk mengawasi Vhylen di kelas khusus siswa dan kebetulan mereka satu kelas jadi gampang buat mengawasi.


Bahkan sampai aku di ambang pintu dan meninggalkan nya pun Vhylen masih terdiam dan menunduk. Dia segitu ingin nya menutup ini semua padahal aku sudah tau jelas kalau dia sudah di hajar. Aku akan membalas apapun perbuatan yang di terima Vhylen bahkan jika dia itu cewek sekalipun. Selain aku, tidak boleh ada yang membuat nya menangis kesakitan. Aku akan menghajar orang itu bagaimana cara untuk tidak mengusik kehidupan orang. Kemungkinan besar mereka ini kesal karena aku datang ke sekolah bareng vhylen. Azumi bodoh, harusnya kamu lebih waspada lagi terhadap Vhylen. Memang rada rawan sekolah ini dan aku tidak bisa mengelak. Bisa" nya 5 preman ini ternyata orang-orang yang selalu masuk dalam list orang paling berprestasi di sekolah. Makanya orang-orang tidak mau berani macam-macam dengan mereka begitu mereka sudah memberinya suatu ancaman.