Like a Doll

Like a Doll
Eps fanservice part 2 (tamat)



"Zen, apa kamu merekam kejadian itu?"


"Tenang, nona Azumi. Aku dengan keberanian penuh merekam kejadian mereka hingga usai. Bagian akhir keliatan ngilu, apa dia baik-baik saja."


"Tidak mungkin dia baik-baik saja. Perlihatkan padaku."


Pria yang ada di hadapan ku menyalakan ponsel nya dan memperlihatkan video yang aku minta tadi. Memang benar, Vhylen di hajar 5 preman itu, terutama si badan besar sialan yang melukai area paling sensitif di antara yang lain. Aku pastikan dia akan merasakan hal yang sama 10x lipat dari yang sudah dia lakukan. Besok pagi, aku akan benar-benar melakukan nya, lihat saja.


"Bangsat. Aku tidak akan memaafkan mereka semua seumur hidup." Aku memukul meja ini sangat keras hingga menimbulkan retak. Ya, saat ini aku ingin menghajarnya tapi sekarang ini aku sedang di cafe bersama informan berbakat dan sangat profesional yang aku punya, Zen Bernadette. Dia lelaki tinggi dan seorang kutu buku yang aku kenal sejak SD. Juga, dia adalah penggemar pertama ku saat aku manggung dulu. Dia sangat menyukai album ku dan dengan cara itulah aku membayar jasanya. Dia bisa mengoleksi semua album ku tanpa membayar sepersen pun uang yang akan di keluarkan nya asal pekerjaan yang di lakukan nya membawa hasil sesuai yang aku harapkan sebelum nya. Selama ini pekerjaan nya selalu bagus dan tidak ada cacat sedikit pun. Makanya, selama bertahun-tahun jasanya sangat berharga.


Informan yang aku maksud ini biasanya soal para penggemar yang terkadang tingkah nya begitu meresahkan. Sebagai sesama penggemar, aku mengutus nya untuk selalu mencari informasi. Juga cara agar terhindar dari kebiasaan penggemar ku yang terkadang membuat aktivitas ku menjadi terganggu. Terakhir kali ada stalker yang mengikuti ku dan memasang penyadap di tas sekolah. Dia akhirnya di tangkap berkat kerja keras Zen. Memang dia ini adalah pria yang bisa di andalkan.


"Azumi, tenang lah. Kamu bisa jadi perhatian pengunjung lain. Apa kamu akan membalas nya?"


"Tentu saja. Tolong buat salinan video ini lebih banyak lagi dan sadap semua televisi sekolah lalu hubungkan ke ponsel mu. Lalu, saat preman sialan itu mulai mendekati Vhylen lagi untuk memberi ancaman, putar saja videonya. Biar semua orang tau dan menghajar mereka semua."


"Emm, aku sebenarnya penasaran Azumi. Maaf kalau aku lancang. Vhylen ini pacar mu kah?"


"Ya. Sebagai informan kamu berhak tau ini, tapi sebisa mungkin simpan lah buat dirimu sendiri. Bahkan anggota ku yang lain belum ku beritahu."


Pria di hadapan ku mengangguk mantap kemudian menatap sekitar. Jika di lihat lebih dekat dia cukup tampan dengan kacamata bundar nya yang besar. Aku penasaran, buku seperti apa yang dia baca, hal apa yang membuatnya sangat tertarik hingga menjadi kutu buku. Terkadang seorang kutu buku bisa mengeluarkan aura luar biasa seperti itu. Kalau dia punya pacar, dia akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia menurutku.


"Ada apa Azumi?"


"Tidak. Aku hanya baru sadar kamu keliatan tampan untuk ukuran kutu buku."


"Se..sebisa mungkin aku menganggap itu pujian, nona. Nona Azumi juga cantik seperti biasanya, walau terlalu kuat. Aku ingat terakhir kali kamu menghajar murid perempuan saat pertama kali aku menjadi informan mu, haha." Benar sekali. Aku pernah menghajar murid perempuan yang cemburu padaku saat hari valentine tahun pertama di sekolah. Aku mendapat coklat dari semua murid di sekolah bahkan dari gedung siswa pun ikut memberikan coklat padaku. Sampai satu loker saat aku buka pagi harinya, aku malah terkubur coklat itu saking banyak nya. Bisa di bilang murid di gedung siswi ada 300 dan gedung siswa 450 orang. Jika di total, kecuali aku, ada sekitar 748 coklat yang aku dapat. Ya, kurang satu. Satu murid yang aku hajar ini lah yang waktu itu tidak memberikan ku apapun. Sebenarnya aku tidak terlalu memusingkan itu, tapi pemberian yang dia berikan padaku sangat di luar nalar. Dia memberiku surat ancaman ingin membunuh ku dan dia juga menambahkan bangkai kepala kucing di sebelah surat itu. Aku benar-benar marah saat itu sampai-sampai loker penyimpanan ku sendiri hampir hancur di hajar oleh ku.


Sebelum aku memenuhi permintaan yang dia buat di surat yang bersamaan dengan ancaman pembunuhan itu, aku mencari seseorang untuk mencari informasi apapun tentang gadis ini. Sekecil apapun itu, baik kelemahan atau kelebihan yang mungkin saja bisa ku manfaatkan saat bertemu dengan nya nanti. Dan kemudian aku pun bertemu Zen di gedung siswa sambil membawa salah satu album pertama yang aku buat bersama anggota Rox'iz yang lain. Ya, saat itu dia menemui ku untuk minta tanda tangan secara langsung dan di taruh di atas album nya. Hal yang biasa aku temui di sekolah sih, jadi aku tidak heran lagi.


Setelah Zen menemukan semua apa yang aku ingin kan, aku pun mulai memberikan nya hadiah sebagai bentuk terimakasih ku pada hasil kerjanya. Namanya adalah Zyly Olivia, 19 tahun kelas 2. Dia lebih tua 2 tahun dengan ku saat itu dan kelebihan yang dia punya adalah kemampuan bela diri dan badan nya yang besar. Alasan kenapa dia benci dan ingin membunuh ku adalah karena dia tidak suka di banding-bandingkan soal kekuatan nya dengan kekuatan ku. Tapi dia punya kelemahan yang sebenarnya tidak boleh ada di balik kekuatan nya. Yaitu dia terlalu serakah dan tidak pernah bisa mengontrol emosi. Banyak kasus patah tulang saat pertandingan bela diri karena tempramental yang di miliki Zyly sangat berlebihan jika sudah berada di ambang kekalahan. Saat aku berpikir mungkin aku akan mengalami hal yang sama jika aku menghadapi nya tanpa persiapan, jadi sebelum bertemu dengan nya di tanggal yang sudah di tulis di kertas itu, aku melatih kekuatan ku sekali lagi dan berusaha terus menggenggam penuh tempramental nya. Memang itu akan merepotkan, tapi tidak semua sifat nya itu membuat dia berhasil mengalahkan lawan nya. Justru itu kelemahan yang harus di buang agar tidak terbiasa menyakiti orang lebih buruk lagi. Bisa saja dia akan didiskualifikasi dan jelas akan merugikan dirinya sendiri.


"Ya, Zyly benar-benar gadis yang merepotkan saat itu. Aku sampai keseleo di buat nya."


"Kekuatan Azumi memang tidak ada bandingan nya di banding gorilla itu."


"Ya, pada akhirnya dia menangis memohon untuk memberinya maaf dariku. Dia hanya iri melihat tubuh ku yang kurus, jadi dia ku sarankan ikut program diet yang aku rekomendasi kan dari dokter terbaik yang manager ku sarankan hari itu."


"Benar, Zyly pun menjadi terlihat lebih cakep dalam waktu 6 bulan saja. Dia bukan lagi gorilla bengis yang aku kenal, haha. Memang hebat, nona Azumi ini." Ya, semua nya akan indah pada waktunya sih. Walau harus melibatkan lebih banyak energi karena sebelum itu aku harus bertarung dengan nya selama setengah jam.


Setelah pertemuan ini berakhir, seperti biasa aku tutup dengan memberikan album baru dari band kami dengan tanda tangan eksklusif tiap member nya kepada Zen. Mata nya yang berkilauan menatap album itu membuat hatiku pun turut puas. Tidak ada orang lain seberuntung dia yang masih menjalankan kerja sama yang saling menguntungkan dengan ku. Kali ini aku sedang malas naik motor, jadi pelayan ku yang menyetir mobil kali ini. Karena lelah, aku memutuskan untuk berbaring sejenak sambil menyusun rencana balas dendam yang akan kulakukan langsung besok di sekolah. Tidak boleh terlalu santai untuk tragedi yang otomatis menjadi salahku sendiri karena terlalu ceroboh terhadap Vhylen


"Bang, ke gereja yang biasanya ya. Aku mau ketemu Vhylen." Kira-kira Vhylen bakal tutup mulut lagi gak ya kali ini. Tadi siang pun dia memutuskan untuk pulang sendiri naik taksi online, tapi aku yang memesan dan membayarkan nya karena dia masih kesulitan soal memesan taksi online di ponselnya sendiri. Sifat payahnya emang manis, tapi itu tidak nampak karena dia begitu kacau sekali hari ini. Aku akan mengingat ini dan aku sebisa mungkin harus membalikkan keadaan agar Vhylen bisa bersekolah dengan tenang dan pulang pergi bersama ku tanpa takut di hajar lagi oleh orang-orang yang ada di sini. Aku akui, para penggemar pasti kebanyakan akan iri melihat hubungan kami yang ternyata adalah pasangan kekasih. Tapi setiap aku di tanya orang lain, aku hanya tinggal bilang kalau dia adalah saudaraku dari tempat yang jauh. Tidak mungkin juga hubungan ini aku beberkan begitu saja. Mungkin kedepan bakal lebih bahaya lagi selain Vhylen yang di hajar. Bisa saja dia seperti masa lalu ku yang dulu, ada orang yang ingin membunuh nya.


Mobil ini pun berhenti di sebuah gereja dan aku pun bergegas keluar dari mobil dan menemui Vhylen di dalam. Tapi, aku melihat gereja nya di kunci dengan gembok yang sangat besar. Apa mereka sedang tidak ada di gereja? Saat aku menelfon ponsel Vhylen yang aku dengar malah nada dering nya di lantai atas gereja yang terdengar keras sampai di luar. Kamar Vhylen tepat di atas yang di pasangi jam raksasa. Apa Vhylen meninggalkan ponselnya di kamar atau dia memang ada di situ? Kalaupun memang ada, kenapa dia tidak mengangkat nya? Sampai kapan sih nih anak tutup mulut padahal aku sudah punya bukti-bukti yang bisa saja aku gunakan untuk menjatuhkan kelima preman sekolah yang sudah menghajarnya.


"Mungkin lain kali, lah." Aku pun masuk lagi ke dalam mobil dan kami pun melaju kembali ke apartemen. Kalau keadaan nya sudah baik, aku akan menemuinya lagi saat di sekolah nanti. Tapi kemungkinan besar besok dia tidak akan hadir jadi ini kesempatan besar bagiku untuk balas dendam tanpa sepengetahuan Vhylen. Anak itu gampang sekali khawatiran kalau tau aku berkelahi dengan seseorang apalagi yang jadi lawan ku kali ini adalah lima laki-laki brengsek yang sudah berani menghajar nya. Saat kejadian bersama Zyly waktu itu, dia sempat menceramahi ku panjang lebar, mengatakan padaku kalau wanita itu tidak baik berkelahi. Aku harus jadi wanita yang anggun dan lemah lembut, begitu. Tapi ya, tetap tidak kupedulikan juga sampai sekarang karena tanpa kekuatan ini juga aku tidak bisa berbuat apapun jika kejadian seperti ini terulang lagi.


Azumi tadi datang ya?


Aku yakin dia di bawah sana pasti mendengar suara ponsel ku. Tapi dia langsung pergi begitu saja, mungkin dia berpikir aku meninggalkan ponsel ini di kamar tapi aku nya sendiri tidak ada di dalam kamar. Aku ingin angkat tapi aku tidak enak karena tidak bisa membiarkan Azumi masuk ke gereja. Pengurus dan yang lain sedang pergi ke gereja lain jadi gereja baru pertama kali nya ini tutup untuk umum. Aku masih kesulitan jalan dan buang air karena luka-luka ini. Kata dokter aku tidak boleh banyak bergerak karena bergesekan sedikit saja, sakitnya sangatlah luar biasa. Jadi aku lebih menghabiskan waktu di atas kasur saja sambil membuka-buka sosial media. Aku saat ini melihat akun Sagram dari Azumi. Aku sangat ingin melihatnya tapi karena aku cuekin saat dia bertanya kejadian hari ini, aku jadi tidak ingin.


"Dia siapa? Kayaknya Azumi tadi habis ketemuan sama cowok lain. Kira-kira mereka ngapain ya?"


Aku melihat fotonya sedang berada di cafe bareng di Sagram nya. Ini baru saja dia post tadi berarti dia tadi baru saja bertemu dengan laki-laki itu. Kenapa jantung ku malah terasa panas ya? Bisa saja dia hanya teman sekolahnya yang lain dari gedung siswa atau hanya penggemarnya saja. Buat apa kamu cemburu, Vhylen Roberto.


Tapi jika di lihat lebih dekat mereka sangat cocok satu sama lain jika berfoto berdua seperti ini. Sang cowok pun terlihat gagah dengan kacamata itu.


"Kapan terakhir kali aku merasa cemburu seperti ini ya?" Sayang nya aku tidak bisa sekolah dulu besok karena aku masih trauma atas kejadian ini dan aku masih belum pulih sepenuh nya dari luka ini. Jadi nya aku tidak bisa pula bertanya pada nya siapa pria yang tengah berada di samping nya saat itu.


Aku menyentuh nya, dan masih terasa sakit. Berada di atas ranjang terus memang membosankan, tapi aku pun sebenarnya tidak bisa berbuat apapun dengan keadaan ku yang sekarang.


"Apa aku telfon saja Azumi buat mengusir kebosanan ini?"


Dengan keberanian yang ada, aku pun menelfon nomor ponsel Azumi. Sekalian saja sih aku tanya soal pria itu.


"Halo?"


"Azumi? Ada apa, kamu menelfon ku sebanyak itu?"


"Maaf, aku benar-benar mengkhawatirkan mu. Hari ini saja, gereja baru pertama kalinya tertutup untuk umum. Apa kamu ada di gereja?"


"Ya, tentu. Aku di dalam kamar dan ketiduran. Aku tidak mendengar suara ponsel ku berdering."


"Be..begitu ya. Emm, kamu istirahat aja lagi kalau gitu. Besok masih izin kan? Nanti aku bawakan surat izin nya."


"Makasih, Azumi-san."


Azumi pun menutup ponselnya di sana. Hem, aku sangat ingin berlama-lama berbincang dengan nya, tapi aku sangat tau kalau dia pasti sedang sibuk dengan latihan band nya jadi waktu kita memang sesingkat itu. Tiba-tiba saja aku merasa lapar. Di atas meja sudah ada makanan untuk makan siang, tapi, aku bangun saja buat mengambilnya pun sulit. Bagaimana caranya agar aku bisa memakan nya?


"Vhylen, kamu dah sadar nak?" Sister Sofi datang menghampiri ku sambil membawa jus jeruk dan juga obat-obatan yang harus ku minum setelah makan. Aku benci banget yang namanya minum obat pahit, tapi lebih menyakitkan menahan luka ini daripada meminum setidak nya 2-4 pil lain nya.


"Sister. Kamu gak ikut kah?"


"Gak. Siapa yang akan menjaga mu nanti kalau sendirian. Lagian, kamu ini sudah lah susah bangun, jalan pun gak bisa kan? Aku benar-benar emosi sama orang yang sudah menghajarmu seperti itu Vhylen. Siapa sih mereka?" Sister Sofi duduk di sofa yang ada di dekat ranjang dan dia mulai menyuapi ku makan siang yang tadinya aku merasa kesusahan ketika mengambilnya. Untunglah jika ada orang lain di sini, tapi seandainya aku tau, mungkin aku akan meminta sister Sofi membukakan gerbang—oh iya lupa, pintunya di gembok dari depan ya. Astaga, mau ada berapa orang pun percuma aku rasa.


"Sudah nafsu makan nya kan?"


"Begitu lah, sister. Oh iya, menurut mu, apa seorang idola bisa selingkuh?"


"Apa maksud pertanyaan mu itu? Haha. Kenapa? Apa Azumi-san selingkuh darimu?"


"Ka..kan aku cuma bertanya. Bukan berarti dia selingkuh, sister!!"


"Hemm, menurut ku semua berita yang ada pasti gak jauh-jauh dari kata perselingkuhan apalagi yang melibatkan orang terkenal termasuk idola. Hati-hati aja, ayang mu di patok artis lain, haha."


"Sister!!"


"Iya, maaf, maaf."


Setelah selesai makan siang, satu jam nanti baru aku meminum semua obat yang ada dan setelah satu jam lagi pengurus gereja dengan yang lain akan pulang dan di situ juga pengurus membawa dokter terapi untuk memeriksa kelamin ku.


Keesokan paginya, aku pergi ke gereja lagi dan mengambil surat izin dari Vhylen. Hari ini aku merubah penampilan ku agar rencana ku berjalan dengan lancar. Akan aku pastikan mereka akan menerima pukulan mematikan dari seorang pacar yang sakit hati. Lihat saja kalian lima preman sekolah brengsek, status kalian sebentar lagi akan berakhir di tangan ku.


Di gereja sudah ada beberapa sister yang membersihkan halaman depan. Aku melihat Vhylen juga yang terduduk di kursi roda sedang sarapan dan di suapi oleh sister Sofi.


"Selamat pagi semuanya."


"Pagi, nona Azumi."


"Pa..pagi, eh, siapa ini? Kamu kakak nya Azumi kah?"


"Ngawur lu!! Ini gue lah, Azumi."


"Waduh, bahkan cara bicaranya pun berubah?! Ada apa ini sebenarnya Azumi? Kamu kesetrum apa selama kita gak ketemu seharian kemarin?!"


"Tidak ada kok. Gue emang pengen ngubah penampilan walau bicara nya gak sesuai dengan penampilan feminim ku yang sekarang." Yes, Vhylen pula terkejut melihat penampilan ku yang berubah dan bahkan sempat berkata kalau aku ini orang lain. Yah, walau sebenarnya kuncir ala idol dan rok pendek serta stoking panjang ini sebenarnya bikin gak nyaman buat aku. Serta kontak lensa yang aku pakai tak lupa jepit rambut pita buat menyisir poni ku yang ada di sebelah kiri dan yang biasanya cuma pake sebelah anting, kini menjadi dua dan anting-anting emas berbentuk hati yang aku beli kemarin. Serta liptint yang agak sedikit kemerahan dan juga rona pipi yang biasanya tidak pernah aku pakai karena bikin wajah ku berat saja padahal sudah memakai bedak.


Ya, aku berpenampilan feminim hari ini, walau pas aku lihat di cermin itu justru merubah caraku bicara. Seperti seorang cabe-cabean, menurut ku?


"Astaga..."


"Sssttt... Ada kalanya cewek mau merubah penampilan ya Vhylen sayang. Mana sini surat nya, gue telat nanti lu yang gue marahin bentar." Semua yang ada di gereja terkekeh termasuk Vhylen. Syukur lah, seperti nya aku tidak perlu khawatir dengan nya kalau dia sudah bisa tertawa lebar seperti itu. Yup, setelah mengambil surat dari Vhylen, aku pun menyalakan motor ku—kali ini hanya motor matic biasa karena motor besar itu tidak mensupport penggunaan rok yang terlalu pendek—kemudian melaju kencang menuju sekolah.


Setibanya, orang yang selalu mengikuti ku kini semakin ramai dan berisik. Banyak yang bertanya-tanya soal penampilan ku yang berubah drastis serta motor gede itu sudah tidak bersama dengan ku. Mereka kagum sambil terus menanyakan pertanyaan yang sama.


Aku melihat kelima orang yang sudah menghajar Vhylen kemarin dari kaca spion. Mereka liar seperti biasanya. Untuk saat ini aku tidak akan mendekati mereka dulu kalau ingin rencana ini berjalan sempurna.


Setelah memarkirkan motor, aku ke gedung siswa dulu dan bertemu dengan Zen sambil memberikan surat izin ini padanya. Aku rasa dia sudah melakukan apa yang aku minta tempo hari saat pertemuan kedua kita di luar jam sekolah di cafe. Di sekolah ini terdapat banyak televisi yang menggantung tiap koridor sekolah. Itu biasanya hanya untuk memaparkan beberapa informasi karena kita tidak memakai sistem berbicara lewat pengumuman seluruh sekolah dan di gantikan dengan siaran televisi ini. Kadang juga itu menampilkan daftar prestasi yang sudah di raih beberapa siswa—termasuk namaku yang terlalu sering di tampilkan di televisi itu. Kali ini aku meminta Zen membajak sistem mereka dan kemudian menyambungkan nya dengan ponsel nya agar yang terpampang di situ hanyalah tampilan dari ponsel Zen sendiri.


"Apa Zen sudah ada di kelas?"


"Ada kok Chieko. Dia lagi 'mainan' sama laptop nya. Programmer emang sulit di dekati jadi awas terkena bahasa robot darinya ya, haha." Selain informan yang berbakat, dia juga adalah hacker sekaligus programmer terbaik yang pernah ku kenal seumur hidup ku. Mungkin ini karena kebiasaannya baca buku yang sangat brutal, setiap kata pasti di serap langsung kepalanya dan dia terapkan sendiri dengan bakat-bakat yang ia miliki.


"Pagi Zen."


"Pagi, nona Azumi."


"Buset, gak usah lah panggil gue pake nona segala. Nama aja dah cukup."


"Walah, kamu nampak berbeda


Ada apa ini?"


"Ini pun bagian dari rencana, ok. Zen, apa yang ku suruhkan telah selesai di laksanakan?" Dia sibuk sekali mengetik random keyboard laptop nya dan pandangan itu juga tidak pernah lepas dari layar yang saat ini menampilkan tulisan-tulisan acak hijau dengan latar serba hitam. Bunyinya berisik banget. Apa ini yang dia lakukan setiap aku memberinya tugas? Hebat sekali. Mungkin dia juga bisa benerin laptop ku yang ke restart kemarin.


"Aku sedang melakukan nya. Sekitar 1 menit lagi dia akan beres. Sekarang ayo kita keluar dan mengecek layar televisi di depan kelas kita."


Saat ini kami memperhatikan layar televisi itu dan dalam sekejap, berganti menjadi wallpaper ponsel milik Zen. Seketika seluruh sekolah heboh dengan perubahan massal pada televisi ini. Aku dan Zen hanya bisa terkekeh pelan di balik layar.


"Emang mantap si Zen ini. Kamu berhak dapat traktiran makan siang dariku."


"Dengan senang hati aku akan menerimanya, hehe. Kebetulan lagi bokek, syukurlah dapat makan gratis dari idola sendiri."


"Halah lebay lu, Zen. Haha. Yasudah, jam istirahat nanti kamu baru dah putar videonya." Aku kembali ke gedung siswi karena 5 menit lagi bel akan berbunyi. Eh, tapi sebelum itu aku harus pergi ke kelas para bajingan ini untuk mengundang nya ke tempat mereka pernah menghajar Vhylen beramai-ramai.


"Zack? Anu, tunggu sebentar."


"E..ehhh? AZ..azzzum...Zumi? Ada apa, ehm, anu.. eheheh. Kamu ke gedung siswa sendirian ngapain?"


"Oh habis nitip surat izin dari Vhylen. Dia itu kan saudaraku, jadi sudah seharusnya aku melakukan hal itu kan?"


"Ah, hahaha, kamu memang kakak yang baik. Tumben banget tampilan mu berbeda?"


"Sengaja. Apa kamu gak suka?"


"U..uuhh, bukan begitu. Kamu yang begini keliatan lebih manis, aku jadi ingin 'menikmati' mu."


"Jangan atau ku tendang. Oh ya, aku ingin mengundang mu bersama 4 teman mu yang lain buat ketemuan di belakang gedung siswi jam istirahat nanti, bisa?" Saat aku bertanya demikian, tingkah Zack langsung berubah seolah dia tidak mendengarkan apapun yang keluar dari mulut ku. Bisa di bilang dia kayak nya ketakutan saat aku bilang ketemuan nya di belakang gedung siswi, di mana mereka menghajar habis-habisan Vhylen. Apa dia tiba-tiba teringat dengan itu apalagi aku habis menyebutkan kalau Vhylen itu saudara ku, dia langsung tersedak sama minuman yang dia minum.


"Baiklah, nanti aku sampaikan." Kami pun berpisah dan aku kembali ke gedung siswi. Di sepanjang jalan aku masih melihat televisi itu berada dalam kendali Zen dan tidak ada perubahan yang berarti sedikit pun dari aksinya kali ini.


"Bisa kan, Rikka-senpai?"


"Apapun yang membahayakan keluarga Azumi harus segera di hajar habis-habisan. Kami semua akan membantu mu. Ayo, kita ke TKP."


Aku meminta bantuan anggota lain karena sangat mustahil aku menghancurkan preman sekolah itu seorang diri apalagi aku paling susah menaklukkan orang berbadan besar yang ada di salah satu kumpulan itu.


Terutama Leon. Dia adalah dalang dibalik luka serius yang ada di bagian bawah tubuh dari Vhylen. Dia akan menjadi yang terakhir yang akan ku injak juga barang miliknya.


Jam istirahat pun di mulai, semua televisi mulai menampilkan video kekerasan dari lima orang juara sekolah ini di gedung siswa yang kelasnya berada di bagian barat dekat tangga yang menuju ke lantai bawah. Setelah video itu terputar, semua nampak menikmati video itu lantas menjadi geram dan mulai mendatangi preman-preman itu. Leon, yang paling besar mulai di datangi satu persatu siswa lain yang lebih besar badan nya sambil di lempari batu dan segala macam. Pokok nya, perjalanan kelima orang ini menuju tempat pertemuan kita kali ini benar-benar tidak bagus dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa seperti melawan karena jumlah mereka kalah banyak dengan siswa satu sekolah bahkan dari gedung siswi sekali pun.


"Wah, akhirnya datang juga. Rikka senpai."


"Selamat datang." Si ketua, Rikka datang maju terlebih dahulu dan mulai menendang mereka semua dengan tendangan maut nya yang sanggup merubuhkan tubuh besar Leon sekalipun.


Mereka pun bangkit dan di sambut tendangan lagi dari ku. Di bawah sepatu ku sudah ku pasang banyak sekali duri tajam yang jika mengenai kulit akan berlubang seketika. Mereka jadi terluka di wajah mereka karena sepatu yang aku kenakan.


Anggota yang lain memegangi mereka dari belakang, aku serta ketua yang menghajar habis-habisan mereka hingga babak belur dan tidak sanggup memberikan perlawanan.


Di akhir mereka kehabisan tenaga dan ambruk di tanah. Sebagai penutup, aku menginjak satu persatu 'barang' mereka hingga terdengar suara teriakan indah keluar dari bibirnya.


"Makanya, jangan macam-macam sama saudara ku. Bersiap lah, polisi akan datang dan menangkap kalian. Aku harap kalian akan merenungi ini di balik jeruji nanti."