Like a Doll

Like a Doll
Hantu Leher Panjang (Bagian 2)



Meski Kuro-sensei tegas, dia juga punya sisi manis. Setelah belajar, dia pasti akan mentraktir ku makan manisan sebagai permintaan maaf nya karena mungkin dia terlalu kasar atau tegas dalam memberikan hukuman. Terkadang kita membeli nya atau hanya makan bersama manisan yang sudah dia buat. Manisan buatan nya pun tidak kalah dari restoran terkenal manapun yang ada di dunia ini. Kalau saja Kuro-sensei mau membuka restoran makanan manis, aku yakin akan cepat populer nantinya apalagi para gadis sangat menyukai nya. Mungkin saja pelanggan nya akan di dominasi gadis-gadis cantik yang ada di kota.


"Ku.. Kuro-sensei, lama tidak jumpa."


"Nih 🍭"


"Anu, kita kan lagi di luar jam belajar?"


"Ucapan selamat datang dariku. Aku membuat nya sampai begadang dan aku sekarang mengantuk sekali. Makan lah bersama saudara mu karena ini terlalu besar." Jadi tatapan nya yang seperti itu karena dia sedang mengantuk? Aku gak sadar. Kuro-sensei memberikan ku sebuah permen yang amat besar. Kali ini bukan yang keras, dia lebih seperti gummy. Baguslah kalau begitu, aku mungkin tidak akan sanggup menggigit permen yang amat tebal jika itu adalah permen keras. Vhylen mencoba menggigit sedikit ujung dari permen gummy nya.


"Enak sekali. Tapi agak unik ya. Ini pakai bahan apa aja?"


"Please, jangan bertanya."


"Aku pake racun tikus di dalam nya."


"Permisi?"


"Racun tikus. Atau yang aku panggil adalah mayonaise."


"Gak nyambung sama sekali hei, Kuro-sensei. Jangan buat bingung Vhylen lah. Lagian, kenapa sih bisa-bisa nya buat permen pake mayonaise?" Aku ingin muntah, tapi sudah setengah habis dan seperti kata Vhylen tadi ini enak pakai banget. Aku tidak tau kalau bakal seenak ini jika di pakaikan mayonaise. Beliau ini memang jenius. Tapi bodoh.


"Disgusting."


"Haha, tapi ini emang enak sih. Hebat banget bisa kepikiran gitu, Kuro-sensei."


Kami semua yang ada di dalam pun terkekeh. Perjalanan dari pelabuhan menuju apartemen ku sangat lah jauh, butuh sekitar 3 jam lamanya jika naik mobil. Jadi di saat jam ke 2 kita berada di mobil, akan berhenti di rest area sebentar agar manager bisa istirahat sebentar dan aku juga Vhylen sudah sangat lapar karena di perjalanan kapal makanan kami terjatuh di laut. Hal yang tidak diharapkan karena kita tidak sengaja menyenggol salah satu mayat di laut saat melaju kencang ke arah barat. Membuat kita menjadi tahan lapar selama 2 jam perjalanan di kapal tadi. Awalnya aku ingin memakan sesuatu saat aku memutar otak bagaimana cara kita pulang tanpa menghubungi manager tapi keburu ketemu duluan, ya sudah lah. Harus di tahan lagi selama 2 jam perjalanan di mobil.


"Huaa, sepi banget. Tau gitu aku minta temani Vhylen tadi. Tapi dia juga keburu ngantuk karena kekenyangan yaudah lah." Entah ini perasaan ku saja atau memang rasanya ada yang memperhatikan ku dari luar pintu toilet. Rasanya ada yang bernafas berat dan terdengar pula suara pintu ini di garuk oleh kuku yang amat panjang. Aku merasa sangat merinding tapi sebisa mungkin aku mengabaikan semua perasaan horor ini. Aku yakin aku sudah terbiasa dengan hal yang diluar nalar.


Sesuatu yang menetes mengenai tengkuk leher ku. Saat aku menyapu nya dengan tangan ku dan melihat nya, itu adalah darah hitam. Apa dia ada di atas? Aku tau dia pasti ada di atas kepalaku sedang menungguku untuk mendongak kan kepalaku ke atas. Aku tidak akan melakukan nya, aku akan mengabaikan mu. Tapi semakin aku mengabaikan nya, dia malah semakin berisik dan yang menetes padaku menjadi semakin banyak. Aku ingin menangis dan berteriak sekarang tapi kalau aku teriak, dia akan tahu kalau aku bisa melihatnya.


Lehernya semakin memanjang dan sekarang kami saling berhadapan satu sama lain. Dia sekarang ada di hadapan ku satu sentimeter lebih dekat dari wajah ku. Bagaimana ini? Suaraku nyaris saja keluar namun aku tahan dengan menggigit bibirku. Penampakan ini hanya melihat saja ke arah diriku. Tampilan nya yang menyeramkan dan beraroma busuk sangat menggangguku. Ayolah, berapa lama lagi kamu harus menatap ku?


"Tidak lihat ya." Suaranya pun seram sekali, aku ingin teriak. Kalau sudah tau aku tidak melihat mu, pergilah. Aku sudah beres buang air tapi jadi tertahan karena kamu mengajak ku main lomba tatap muka. Selang beberapa menit kemudian penampakan itu keluar dan lenyap seketika. Aku bisa lihat kaki nya yang melayang barusan aku lihat di bawah daun pintu pun sudah lenyap. Aku mencoba melihat ke atas, dia pun juga tidak ada. Aku secepat mungkin membereskan semuanya dan langsung naik ke mobil. Sialan, karena makhluk itu aku menjadi tertahan selama 30 menit lebih.


"Lama banget, Mi. Vhylen aja dah nyenyak."


"Maaf manager, terlalu keras."


"Makanya jangan makan mie terus. Sekali-kali makan sayur."


Aku lega makhluknya sudah tidak ada lagi. Tapi, perasaan yang barusan masih ada hingga sekarang. Dia seperti nya mengikuti mobil ini di belakang. Saat aku menoleh, ternyata benar. Makhluk itu menempel di jendela bangku belakang, menatap ku dengan tatapan yang sama saat di toilet tadi.


"Mm, manager, bisa di cepatin mobil nya? Aku ingin dia jatuh."


"Eh, apa nya yang jatuh?"


"Cicak, manager. Dia nempel di belakang mobil. Cicak yang sangat besar."


"Oh, oke. Baiklah."