Like a Doll

Like a Doll
Ruang Hampa



Sejak terlahir di dunia ini, aku tidak pernah mengingat seperti apa keluarga ku, tinggal dan lahir di manakah aku, dan tanggal tepat saat lahirnya aku di dunia ini. Semua itu aku tidak tau. Ingatan yang membekas di pikiran ku hanyalah ingatan mengerikan tentang penampungan anak untuk di jadikan tumbal, tentu dengan bayaran yang sangat tinggi. Siapapun anak yang di pilih untuk di jadikan tumbal, akan mendapatkan uang yang di mana itu akan di gunakan untuk memperluas lapak itu sendiri. Semakin luas tempat itu, semakin banyak anak tidak berdosa yang harus meregang nyawa di tangan orang dewasa yang sangat kotor. Pikiran mereka hanyalah kepuasan diri dan kekayaan, tentu saja dengan kekuasaan nya. Ingatan ku samar, tapi pendiri dari sebuah penampungan anak-anak itu, terlihat tidak asing bagiku. Tapi saat itu aku masih kecil dan begitu sulit bagiku untuk mengingat wajah-wajah orang dewasa yang setiap harinya selalu berganti. Sekarang, kehidupan ku rasanya mulai kacau semenjak aku kenal dengan keluarga ini. Tentu saja, ada perasaan menyesal yang aku rasakan saat ini. Tapi begitu sulit bagiku untuk membencinya. Keluarga ini hanya tidak pernah bisa mengikhlaskan kepergian gadis yang kelihatan nya akan berumur sama dengan ku jika saja dia masih hidup. Begitu aku tahu fakta bahwa Hanakawa sebenar nya sudah lama meninggal—tepat nya bersamaan dengan gadis itu, aku jujur sudah tidak merasa terkejut lagi. Sejak awal aku tidak pernah merasakan aura kehidupan yang nyata. Semua itu hanya kepalsuan yang di buat oleh ibunya, yang dia bilang kakak padahal sebenar nya kakak dia itu adalah Yuuzy. Saat ini, aku berada di ruang hampa dalam diriku bersama dengan jiwa asing yang berusaha mengambil alih tubuh ku juga ingin melenyapkan jiwa ku yang sebenarnya masih ada di tubuh ini. Aku mengajaknya bertarung, tapi karena hal itu, kami malah mengundang roh jahat yang ingin merasuki tubuh ini dan membuat kekacauan. Kami yang awalnya bermusuhan harus bekerja sama untuk mengusir roh ini agar tidak menyakiti tubuh ku saat dia mengendalikan kendali nya.


"Sialan, Roh itu tidak pernah ada ampun nya ya. Untung nya sudah berakhir."


"...."


"Aku tau, ini tubuh mu. Aku juga merasa ada yang aneh, tapi, aku tidak ingat apapun soal kematian atau yang lain. Yang aku ingat hanyalah, aku terbangun di atas ranjang yang penuh dengan darah."


"Apa mau mu?" Aku pasrah karena sudah muak mendengar suaranya yang menggema, memenuhi ruang hampa ini. Mau tidak mau aku menanggapi nya kali ini. Jika saja dia tetap bersikeras mengambil alih tubuh ini, aku tidak akan segan memukul nya hingga tidak sadarkan diri. Di saat itu juga aku akan memikirkan cara untuk mengeluarkan jiwa nya dari tubuh ku. Sejenak dia hanya merenung saja ketika aku bertanya sekali lagi keinginan nya kali ini.