
Seisi ruangan tunggu ini pun menjadi sangat heboh, semua orang mulai melakukan gerakan menganggukkan kepala mengikuti apa yang di lakukan Azumi di panggung. Hei, setau ku band ini tidak seperti ini. Member yang lain malah bermain biasa saja dan tidak memperdulikan apa yang di lakukan Azumi seorang diri di bagian tengah panggung.
Setelah kehebohan yang singkat itu, Azumi kembali bermain normal seperti biasanya. Tapi tiba-tiba saja dia muntah darah dan mengotori seluruh panggung karena dia juga mulai terbatuk-batuk parah. Semua penonton mulai panik dan berkeliaran keluar dari ruangan, pemain yang lain mulai menghentikan permainan nya dan mulai merespon ada yang tidak beres dengan penampilan Azumi kali ini. Aku panik juga dan pergi berlari menghampiri nya tapi mama malah menahan ku.
"Belum saatnya ya nak. Nanti dia malah makin shock melihat mu. Muntah darah itu, harusnya kamu tahu kan itu efek kalau ingatan dia terganggu sama ingatan orang lain yang bukan milik nya. Di mulai dari muntah darah yang cukup parah di serta batuk, sejam kemudian mimisan sampai keluar belatung dan yang terakhir adalah sakit kepala yang amat mengganggu. Kamu jangan malah tiba-tiba simpati padahal kamu sudah tau itu semua kan?" Mama benar, harusnya aku tau kalau itu efek samping dari yang semua sudah aku lakukan. Berarti ingatan Azumi mulai di usik oleh ingatan kakak yang berusaha memaksa masuk ke dalam otak nya sampai terjadi lah hal semacam ini. Maafkan aku Azumi, bahkan ketika kamu mati sekalipun aku tidak peduli. Aku hanya ingin kakak Yuuzy kembali padaku.
Member Rox'iz bersama manager Alice pun pergi membawa Azumi keluar dan memasukkan nya ke dalam ambulance yang sudah datang lebih dulu. Tiba-tiba aku merasakan ada aura membunuh di sekitar sini, apa kah itu bocah melayang sialan yang saat ini menyamar menjadi hantu menyeramkan di sudut ruangan sana? Sejak awal masuk ruangan aku sudah tau dia berdiri di situ cukup lama, memperhatikan ku dengan tatapan marah serta suara erangan nya itu terdengar sangat mengganggu di telinga ku. Dia ingin menghampiri ku tapi karena dia lebih khawatir pada Azumi ketimbang harus melawan ku terang-terangan di sini, dia pun berlalu pergi bersama dengan deru ambulance melaju ke arah timur.
"Ayo kita pulang. Kasihan pak kepala menunggu lama nanti." Tenang lah Izumi, kenapa hati ku menjadi tidak tenang sekarang karena melihat Azumi yang sedang sekarat tadi. Seharusnya itu lah hal yang aku ingin kan untuk memastikan kalau yang ku lakukan setidak nya ada yang berhasil bekerja di bagian yang tidak bisa aku lihat pakai mata batin sekalipun. Setibanya nanti aku harus menenangkan diriku, tapi dalam perjalanan si wibu ini malah membuat ku kerepotan karena dia mual setelah melihat orang muntah darah di atas panggung. Payah banget, bahkan itu sampai kena ke sepatu kesayangan ku yang membuat nya menjadi terkena tamparan maut dariku.
Setibanya di mansion, aku segera masuk ke dalam dan pergi ke kamar. Aku capek dengan semua yang aku lihat hari ini dan makhluk yang bernama Isabella ini malah memilih untuk mengikuti ku sampai di mansion. Yang lain di bawah sedang membawa barang mereka dan juga barang ku. Setelah pelayan memasukkan barang ku ke dalam kamar, aku pun benar-benar sendiri bersama makhluk berleher panjang yang menjijikkan ini. Dia duduk tepat di samping jendela besar kamarku, masih dengan tatapan yang sama seperti saat di ruang tunggu tadi. Sebenarnya apa yang dia ingin kan dengan mengikuti ku sampai kemari!? Apa dia tau semua yang sudah aku lakukan pada Azumi? Mau balas dendam?
"Kembalikan Azumi seperti semula!!"
Jadi hanya itu yang dia lakukan. Sayang nya aku tidak punya kemampuan mengembalikan sesuatu seperti semula. Lagian rencana ini sudah mencapai tahap kedua, mana bisa aku melakukan nya? Bahkan Ryo-sensei yang merupakan dalang di balik semua ini pun seperti nya tidak akan bisa melakukan apa yang kamu mau.
"Kamu terlambat mencegah ku, Isabella. Tapi, aku akan memberikan hadiah padamu karena berani menginjak mansion suci ku ini. Aku akan membeberkan rahasia di balik kematian mu? Aku tau kamu ini mengetahui segala hal yang ada tapi kamu tidak tau sendiri alasan di balik kematian mu kan?" Kali ini aku berhasil membuatnya terdiam. Dia sempat berpikir dengan wajah seram nya. Lalu menoleh padaku dengan anggukan yang meragukan pula.
"Baiklah."