Like a Doll

Like a Doll
Perasaan Canggung



"Namaku Kizuka, aku hanya pejalan kaki biasa karena sedang mencari kasus yang ingin ku jadi bahan penyelidikan ku. Aku juga suka memotret sih, maaf jika aku malah ikutan masuk dalam acara ini. Aku tidak tau ini adalah acara resmi untuk para wartawan dan fotografer saja."


"Aku tidak bilang begitu loh. Siapapun kamu, kamu bisa masuk kok. Salam kenal ya, Kizuka. Silahkan nikmati piknik nya. Yang lain, selamat menikmati pula." Pria tampan itu berdiri menyediakan minuman kepada tamu yang lain. Sial, jantung ku malah berdegup parah. Rasanya ingin lari tapi sudah tidak bisa aku hindari lagi. Dia sudah ada di hadapan ku sekarang.


".. nona? Ada apa?"


"Ah, tidak. Maaf. Aku hanya kagum dengan mata anda. Itu terlihat cantik." Dia tersipu malu setelah aku mengatakan hal itu hingga menjatuhkan minuman itu ke baju ku hingga menjadi berwarna merah semua. Waduh, padahal ini kemeja putih detektif kesayangan ku, sekarang jadi ternodai karena minuman. Tapi jika yang menumpahkan itu orang yang tampan dan menarik sepertinya, kayaknya aku gak bakal keberatan jika di siram satu tong sekaligus.


"Wahh, maaf kan kecerobohan yang saya perbuat. Mari ikut saya ke ruang ganti. Nyonya punya beberapa kemeja yang bisa anda pinjam sementara." Pelayan itu membawa ku untuk mengganti baju. Tangan nya menyentuh pundak ku, terasa sangat panas dan aku tidak bisa menahan gejolak dalam diriku hingga tubuh ku menjadi bergetar hebat.


"Anda gemetar nona. Pasti dingin ya. Maafkan saya, sekali lagi."


"Ti..tidak apa kok. Lagian tidak perlu formal seperti ini. Sepertinya kita seumuran. Panggil aku Kizu aja."


"Silahkan gunakan, nona Kizu."


"Ma..makasih. Anu, bisa kamu bantu aku membuka baju nya? Tangan ku tiba-tiba keram dan tidak bisa memegang kancing bajunya." Awal nya dia terkejut dan cuma bisa bergumam eh dengan wajah nya yang memerah, tapi dia tetap memutuskan untuk membantu ku dan dia pun menutup matanya dengan sebuah dasi yang di gunakan nya barusan.


"Baiklah, pe..permisi nona Kizu. Saya akan memulai nya." Tangan nya yang kecil itu satu persatu membuka kancing bajunya. Aku berusaha ikut membantu hanya saja jari-jari ku seakan tidak ingin bekerja sama di saat seperti ini.


"Eh, ahh?!—" tidak tau kenapa dia malah menjerit dan malah mendorong tubuh ku hingga terjatuh ke ranjang. Apa yang membuatnya tersandung seperti itu apa karena aku berdirinya terlalu jauh ya jadi dia kesusahan. Kami berdua terjatuh bersamaan di atas kasur dan aku bisa merasakan kepala dan tangan nya terasa menyentuh dadaku. Dasi nya di saat itu juga spontan terbuka dan melihat ku dengan keadaan yang sangat memalukan ini. Wajah nya dekat sekali, kami nyaris saja di buat ciuman karena dia langsung buru-buru bangun menghindari tatapan dan pukulan yang mungkin saja akan melayang di wajahnya. Walau sebenar nya aku tidak akan melakukan nya sih. Padahal aku merasa tidak masalah jika harus di buat ciuman dengan pemuda tampan sepertinya walau itu karena ketidaksengajaan belaka.


"Maaf. Maafkan aku, aku... Aku akan mengambilkan minum. Silahkan lanjut sendiri. PERMISI!!!" Malah dia yang menjadi merasa bersalah padahal aku yang salah karena memintanya melakukan hal seperti ini. Saat aku melihat label nama di dadanya, tertulis nama dia adalah Rey. Dia adalah satu-satunya pelayan yang paling muda di rumah ini. Dari yang aku tahu, dia saat ini menggantikan posisi seseorang yang sekarang jadi buronan keluarga ini karena telah menjadi seorang penghianat dan pergi membawa lari salah satu anggota keluarga mereka. Kalau di pikir lagi, itu jelas perbuatan yang buruk ya.